Pagi hari yang cerah, kalau dilihat dari sudut pandang mata orang lain. Khadijah bangun dengan tubuh remuk. Semalaman dia tidak bisa tidur, menjaga diri agar tidak terdengar mendengkur tapi malah terlalu menahan diri. Dia juga tidak bergerak agar tidak mengganggu suaminya.
Sampai pukul tiga pagi, ketika Khadijah mendengar Khoirul mendengkur halus, dia baru bisa menutup mata. Alhasil, mata setengah terpejamnya akhirnya terbuka kembali pukul sembilan pagi.
Khadijah belum terbiasa mengatasi getar jantungnya yang menggila. Dia hampir tidak bisa bernapas dengan benar. Astaga, Khoirul benar-benar telah membuat dirinya tidak waras.
"Sial! Terlambat satu jam," teriak Khadijah.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa ke kamar mandi, hanya mencuci muka tanpa membasuh tubuhnya. Dia memakai make up tipis seadanya dan berpakaian santai, setidaknya rapi dilihat orang lain.
Buku-buku yang sudah Khadijah masukkan ke dalam tas, diambil paksa dengan tenaga ekstra. Dia berlari turun ke bawah, membalas sapaan asisten rumah tangga dengan lambaian tangan. Bik Sani yang tidak bisa membiarkan orang lain kelaparan, memburu Khadijah.
Bik Sani memotong jalan Khadijah sembari menyodorkan kotak bekal, "Sudah saya siapkan nasi goreng, Nyonya. Nyonya bisa pakai mobil Tuan yang warna putih ini. Kalau mau supir bisa tapi syaratnya Nyonya harus punya SIM dulu."
Khadijah mana punya SIM? Dia saja berangkat kuliah naik taksi atau angkutan umum. Mobil yang keluarganya miliki hanya mobil keluaran lama yang lebih banyak digunakan orangtuanya menyelesaikan pesanan ojek online. Tapi satu tahun belakangan mobil tersebut terjual karena kondisi ekonomi yang kurang stabil.
"Saya naik taksi saja, Bik," jawab Khadijah.
Dia mengambil kotak bekalnya lalu berlari ke jalan. Sial memang tidak pernah ada dalam kalender bulanannya. Sekitar lima belas menit, taksi yang dia tunggu baru terlihat.
Khadijah sudah berpikir bahwa dia tamat hari ini. Apalagi Khoirul adalah dosen pertama pada mata kuliah jam delapan tadi. Bisa habis dia diberi nilai D minus lagi. Kalau saja Khoirul punya belas kasihan pada istrinya, harusnya dia tidak perlu memberikan nilai jelek.
Khadijah turun dari taksi setelah membayar ongkosnya. Wanita itu berlari sekuat tenaga, persis orang kesurupan. Lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian karena pakaian minimnya melambai semakin kentara. Para pria memasang mata baik-baik agar bisa melihat wanita secantik Khadijah.
Pintu kelasnya terlihat di depan mata. Seperti biasa, Khadijah menghentikan langkah dan mengatur napas. Pada hitungan ketiga dia membuka pintu perlahan.
Semoga masih ada keuntungan aku punya suami dosen, batin Khadijah.
Ceklek!
Sontak semua pandangan mata tertuju pada bagian belakang. Suara Khoirul yang menjelaskan di depan sana pun terhenti. Matanya menilik pada Khadijah yang juga menatap matanya.
Ampun, Suamiku, batin Khadijah memohon.
"Kamu ini sudah berulangkali terlambat di kelas saya. Memangnya rumah kamu jauh dari kampus? Kalau jauh pun memangnya kamu tidak bisa bangun lebih pagi?" hardik Khoirul.
Aneh, nggak biasanya si tuan beku ngomel, batin Khadijah.
"Maaf, Pak," jawab Khadijah.
"Mau nilai F minus apa tugas dari saya?"
"Kalau bisa tidak dua-duanya gimana, Pak?" canda Khadijah.
"Kalau begitu keluar dari kelas saya!" tegas Khoirul.
Seisi kelas tidak berani tertawa. Mereka hanya tersenyum penuh ejekan melihat kesialan Khadijah.
"Ya sudah kalau begitu tugas saja, Pak," sela Khadijah akhirnya.
"Baik. Saya chat nanti. Dikumpulkan dua hari lagi. Ada sekitar lima puluh soal esai dan penjelasan minimal lima baris kalimat. Kamu paham kan?"
"Hah?" Khadijah sukses melongo. Bagaimana mungkin? Dua hari? Memangnya mata kuliah Khoirul semudah itu? Oh tidak! Benar-benar dosen menyebalkan. Khadijah akan memberikan ultimatum pada suaminya itu.
Awas saja kalau sudah sampai rumah, batin Khadijah geram.
"Paham tidak?" ulang Khoirul.
"Paham, Pak."
"Duduk!"
"Baik, Pak."
°°°
"Pak, saya ini istrinya bapak loh. Kenapa bisa-bisanya bapak memberikan tugas sebanyak itu?" hardik Khadijah ketika dia pulang dan melihat Khoirul sedang menikmati kopinya.
Khoirul tidak pernah ambil pusing dengan sikap Khadijah yang terkadang asal bicara. "Kenapa nggak bisa? Katanya nggak mau semua orang tahu? Tapi kenapa kamu protes? Kalau saya tiba-tiba baik sama kamu, mahasiswa lain pasti curiga. Saya benar kan?"
Khadijah juga berpikir begitu tapi harus ada toleransi sedikit pada wanita yang baru menjadi istrinya selama dua hari itu. Dengan hentakan keras, Khadijah menaiki tangga.
Bodo amat! Malas berdebat dengan Khoirul.
°°°
"Nggak makan dulu?" tanya Khoirul di ambang pintu kamar.
"Nggak."
Khadijah sedang dalam mode merajuk. Dia hanya bermain ponselnya sejak pulang dari kampus. Salah sendiri Khoirul tidak bisa mengerti dirinya.
"Mau mengerjakan tugas?"
"Nggak!"
"Mau dapat nilai F minus?"
"Bodo amat, Pak. Mau F minus, H minus atau Z minus sekalipun saya juga nggak peduli."
Khoirul menghela napas panjang, "Yang sopan bicara pada orang yang lebih tua, Khadijah."
"Maaf, Pak Khoirul," jawab Khadijah dengan suara yang sengaja dibuat-buat. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Saya ini suami kamu kalau di rumah. Kalau di kampus kamu masih bisa seenaknya sama saya."
"Oh, jadi kalau di kampus saya boleh kurang ajar sama bapak? Kalau begitu besok saya datang terlambat lagi saja," tantang Khadijah.
Wanita itu tidak mengerti bahwa lawan bicaranya sedang menahan diri. Melihat istrinya yang hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, tentu akan menonjolkan hal yang tidak-tidak. Tapi pria itu tidak akan mungkin menyentuh Khadijah jika istrinya belum siap.
"Coba saja kalau berani. Nilai kamu nggak akan saya turunkan," ancam Khoirul. Pria itu berbalik, berniat keluar sebentar untuk mencari udara segar. Tapi dia membalikkan tubuhnya dalam hitungan detik, "bangun lebih awal. Saya ada kelas pagi kalau kamu mau ikut saya!"
"NGGAK! Saya naik taksi saja, Pak!" tolak Khadijah.
"Salah sendiri supir dianggurin," jawab Khoirul santai.
"Ya, karena saya nggak terbiasa pakai supir."
"Pilihannya hanya ada dua. Sama supir atau sama saya."
Khadijah memutar bola matanya, "Bapak ini kenapa memaksa? Kalau bapak lebih baik sikapnya sama saya kalau di kampus, saya mungkin akan menurut pada bapak."
"Itu bukan pilihan yang saya ajukan."
"Saya nggak mau berdebat, Pak. Saya mau tidur," tukas Khadijah yang bergegas menyesuaikan tubuhnya agar bisa tidur dengan nyaman. Selimut berwarna putih bersih tersebut ditarik sampai ke leher, lalu tubuhnya berbalik membelakangi Khoirul.
"Oke. Tidurlah! Kalau tengah malam lapar, saya nggak tanggung jawab. Saya mau makan malam dulu."
"Hm."
Khadijah mendengar Khoirul melangkah turun. Wanita itu menghembuskan napas lega dan menurunkan selimutnya. Dia menatap jendela yang telah tertutup rapat dengan mata nyalang.
Bagaimana ini? Khadijah tiba-tiba merasa lapar. Kalau dia turun malah terlihat aneh. Apa semalaman dia harus menahan perutnya agar tidak berbunyi?
°°°
Prediksi Khoirul benar. Khadijah terjaga sampai tengah malam. Pria itu belum bisa tidur karena mendengar rintihan pelan dari wanita yang tidur di sampingnya.
Dasar keras kepala, batin Khoirul.
Khoirul menoleh, "Masih ada ayam goreng di dalam air fryer kalau kamu mau makan."
"Nggak. Siapa yang bilang mau makan?"
"Saya hanya memberi tahu. Selamat malam," ucap Khoirul. Dia berusaha menutup telinga dan tidur. Sementara Khadijah sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri. Tapi wanita itu memutuskan untuk turun dan makan dua potong ayam goreng dan satu piring penuh nasi.
Sekitar pukul setengah dua pagi, Khadijah kembali naik dan tidur di sofa. Dia lebih nyaman berada di sana hingga sebuah sentuhan membuat dirinya terbangun. Wajah Khoirul yang tepat di hadapannya membuat dirinya terkejut. Refleks, wanita itu bangun dan mendaratkan dahinya pada dahi Khoirul.
"Aduh, Dijah," pekik Khoirul.
°°°
Ketika berada di kampus, Raisa -sahabat Khadijah- yang juga satu fakultas dengannya terkejut melihat dahi Khadijah.
"Abis kejedot apa?" tanya Raisa bingung. Belum sempat Khadijah membalas, wanita itu melihat ke arah Khoirul yang melewati koridor. Dia membelalakkan matanya, "kok Pak Khoirul juga dahinya sama kayak kamu. Jangan-jangan..,"
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments