"Istri kamu mana?" tanya Marwah -Mama Khoirul- dengan muka masam. Wanita dengan pakaian serba santai, atasan lengan sesiku yang dipadukan dengan rok panjang, tidak mengira akan mendapatkan penghinaan dari menantunya. "Dia berani nggak datang?"
"Khadijah masih di kampus, Ma. Sebentar lagi juga muncul," elak Khoirul.
Marwah mengejek ucapan Khoirul, "Enak saja kamu bilang sebentar lagi muncul. Anak itu mana mungkin di kampus? Kalau dia serajin itu, dia nggak mungkin terlambat lulus. Mahasiswa abadi kok sampai dua lima tahun. Kamu juga kenapa bisa suka sama dia? Cari itu pasangan yang lebih selevel sama keluarga kita. Bukannya mama nggak mau menerima orang dari kalangan bawah, tapi kalau modelan Khadijah banyak di luar sana."
Khoirul meletakkan sendoknya. Hatinya kesal karena Khadijah dijelek-jelekkan. "Ma, aku nggak mau berdebat. Aku sudah selesai makan. Lebih baik aku pulang. Lain kali aku datang bersama Khadijah."
"Kamu jadi nggak sopan kan semenjak hidup dengan anak itu?" sindir Marwah.
"Mama," tegur Raden -Papa Khoirul- halus.
"Kenapa? Mama benar kan? Khoirul nggak pernah pergi dari rumah ini kalau nggak terburu-buru untuk rapat. Pokoknya mama jadi nggak suka sama Khadijah," sela Marwah.
Suasana sudah tidak lagi mendukung. Apalagi kalau sampai didengar oleh adiknya -Kinan- yang beruntungnya sedang ikut les online untuk kuliah S2nya. Khoirul yang terkenal disiplin, tidak akan pernah terlihat buruk di mata adiknya.
"Aku pamit, Ma, Pa," ucap Khoirul.
Selama perjalanan, Khoirul tidak mencoba menghubungi Khadijah. Dia terlanjur kesal dan tidak ingin berdebat untuk sekarang ini. Dia hanya berharap Khadijah sudah di rumah, dengan begitu dia bisa mendengar alasan istrinya.
Tapi siapa sangka jika Khoirul harus menelan kekecewaannya.
"Belum pulang, Bik?" tanya Khoirul kecewa.
"Belum, Tuan."
"Siapkan kamar tamu, Bik. Kalau Khadijah pulang, kabari saya tapi jangan beritahu dia kalau saya ada di rumah. Tanyakan juga apa dia punya janji makan malam dengan keluarga saya atau tidak," jelas Khoirul. Wajahnya kusut, rambutnya acak-acakan. Bahkan t-shirt yang dia pakai tidak teratur bentuknya.
"Baik, Tuan. Tuan mau saya buatkan kopi?"
"Boleh, Bik."
"Tunggu sebentar, Tuan."
Bik Sani meluncur ke kamar tamu untuk menata sedikit perlengkapan tidur Khoirul. Lalu wanita itu beralih ke dapur untuk membuat kopi dengan setengah sendok teh gula. Melihat Khoirul yang menatap jauh di luar jendela sana, bik Sani tidak ingin mengusiknya. Wanita itu keluar setelah berpamitan.
Khoirul menghela napas berat. Kamar tamu yang dia gunakan saat ini terletak di lantai satu yang mengarah pada pagar depan. Dia bisa tahu kalau ada seseorang yang datang.
Apa sih yang kamu cari dari pernikahan kita, Dijah? Saya tahu pernikahan kita tiba-tiba dan kamu pasti tidak punya perasaan apapun pada saya. Tapi alangkah baiknya kamu kenali saya dulu perlahan-lahan. Satu per satu kebaikan saya pasti akan terlihat. Jangan hanya memikirkan diri kamu sendiri, batin Khoirul putus asa.
Tidak ada yang bisa Khoirul salahkan. Dia juga yang bersalah. Sebelum dia mengenal Khadijah, dia lebih dulu mengenal keluarga istrinya, terutama Burhan.
Burhan adalah supir online yang menjadi langganannya ketika membawa barang-barang penting miliknya yang tertinggal di rumah. Ada kalanya Khoirul malas menyetir dan menggunakan jasa Burhan sebagai supir pengganti.
Hubungan mereka cukup dekat. Hingga sebuah insiden mengharuskan Khoirul menolong. Burhan dan Khoirul yang kala itu terjebak dalam sebuah kecelakaan karena kakinya yang tidak sanggup menginjak rem mobil, membuat dia harus membayar mahal biaya kerusakan yang ditimbulkan.
Terlebih ada satu korban seorang pria paruh baya yang harus dibiayai proses pemakamannya serta ganti rugi, membuat Burhan tidak bisa lari begitu saja.
"Berapa semuanya, Pak? Biar saya yang ganti," ucap Khoirul pada petugas kepolisian yang mendata beberapa kerusakan itu.
"Jangan, Pak! Saya tidak mau merepotkan dan punya banyak hutang," tolak Burhan.
"Pak Burhan nggak perlu bayar. Saya juga kan naik mobil ini," tukas Khoirul. Saat itu, dia memang sedang menaiki puncak karirnya sebagai dosen. Lagi pula dia dari keluarga mampu yang bisa membelikan mereka semua kendaraan baru.
"Jangan, Pak. Saya nggak bisa."
"Kalau begitu, bapak bisa bayar kembali dengan suatu hal tapi nanti jika saya membutuhkan," ucap Khoirul dengan nada bijak. Sejujurnya dia tidak bermaksud macam-macam dan tulus membantu. Tapi suatu hari dia melihat Khadijah berhadapan dengan Burhan dan dia akhirnya tahu siapa Khadijah, membuat Khoirul mempunyai niat lain.
Tidak apa-apa memanfaatkan asal tujuannya baik. Khoirul ingin menikahi Khadijah. Khadijah bukan tipe idamannya tapi hatinya berdegup kencang saat melihat wanita itu. Sungguh mendebarkan! Tantangan baginya untuk membuat wanita itu tunduk padanya.
Pikiran larut Khoirul sirna ketika mendengar deru mesin mobil dari arah depan. Pria itu mendekat pada tiang besi jendela, menyibak gordennya.
Beberapa saat kemudian, muncul Khadijah yang melangkah dengan mengendap-endap.
"Dengan siapa dia pulang?" gumam Khoirul. Tingkah Khadijah persis seperti maling yang hampir tertangkap basah.
Khoirul tidak berniat melakukan apapun. Dia hanya diam dan mendengar suara Bik Sani yang menyapa Khadijah. Lalu pria itu melangkah ke arah pintu untuk mendengar lebih jelas lagi.
°°°
"Nyonya Dijah?" sapa Bik Sani.
"Eh, em, iya, Bik. Ada apa?" tanya Khadijah terbata-bata.
"Baru pulang, Nyonya?"
"Iya, Bik. Ada tugas kampus."
"Saya lihat tadi Tuan pergi untuk makan malam dengan keluarga Tuan, Nyonya tidak ikut?" tanya Bik Sani lagi. Dia menginterogasi Khadijah seperti suruhan Khoirul.
"Em, itu, saya," gumam Khadijah tidak jelas. Dia tidak enak hati karena tidak bisa menepati janji. Bukan salahnya karena Richard memaksanya untuk ikut dia terbang ke sana kemari. Malah dia dapat traktiran makan malam. "Pak Khoirul mana, Bik?"
"Tuan belum pulang, Nyonya. Kemungkinan menginap di rumah orangtuanya," jelas bik Sani.
"Em, ya udah, Bik. Saya ke kamar dulu."
"Mau saya siapkan makan malam, Nyonya?"
Khadijah menggeleng, "Saya sudah kenyang, Bik."
"Baiklah kalau begitu."
Khadijah buru-buru menaiki tangga. Dia membuka pintu kamar dan terasa ada yang berbeda. Tidak ada suaminya di dalam sana. Khadijah menaruh tasnya di atas meja sembari berpikir. Apa dia perlu menelepon Khoirul? Atau dia harus mendatangi Khoirul di rumah mertuanya?
Bagaimana ini? Khadijah tidak bisa tidur nyenyak kalau dia sampai tidak berbaikan dengan Khoirul. Dia menyadari bahwa dirinya bersalah. Harusnya dia tidak meladeni Richard. Tapi dia sungkan kalau harus menolak Richard. Seniornya terlalu baik.
"Ah, bodo amatlah. Mandi dulu!" gumam Khadijah.
Lima belas menit kemudian ...
Khadijah melihat pantulan dirinya di permukaan cermin. Rona merah di wajahnya sangat mendominasi. Apa ini karena sikap Richard yang terlalu manis, yang tidak bisa dia dapatkan dari suaminya? Tapi dua orang tidak mungkin punya sifat yang sama kan?
"Masa aku suka sama Richard?" tanya Khadijah pada dirinya sendiri.
Wanita yang sudah menikah tapi menyukai pria lain bukannya itu termasuk perselingkuhan?
Khadijah menolak untuk mengakuinya. Dia akhirnya turun ke dapur, mencari Bik Sani. Ketika asisten rumah tangga itu tidak ada, Khadijah mencari di bagian belakang rumah.
"Bik, tahu alamat rumah orangtua Pak Khoirul?" tanya Khadijah to the point.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
sampai sini masih ilfeel sama dijah
2023-09-29
0