Mampus aku, batin Khadijah.
Wanita itu berusaha tetap tenang. Tidak mungkin Raisa menyadari bahwa mereka suami istri yang pagi tadi saling menubrukkan dahi.
"Ya, mana aku tahu," jawab Khadijah asal.
Raisa bukan tipe pemikir, jadi keraguannya menghilang seiring dengan pengalihan pembicaraan. Khadijah membawanya ke kantin, berniat memberikan sogokan.
"Eh, tunggu deh, Dijah," ucap Raisa.
"Apalagi?"
"Kamu punya mobil baru?"
"Nggak. Siapa yang bilang?" tanya Khadijah dengan perasaan campur aduk. Jangan-jangan Raisa tahu kalau tadi dia diantar oleh supir Khoirul.
"Tadi kok aku lihat kamu turun dari mobil mewah warna putih. Aku pikir keluarga kamu kembali membaik keuangannya."
"Oh itu, tadi aku nebeng sama tetangga. Searah jalannya jadi ya ikut saja sekalian. Lagi pula mana mungkin orangtuaku membeli mobil semewah itu? Ada-ada saja kamu," jelas Khadijah.
"Siapa tahu kamu punya bisnis mendadak."
"Semoga saja begitu."
Khadijah ingin cepat-cepat masuk kelas agar pembicaraan dengan Raisa tidak lagi berujung pada mobil. Ketika dia dan Raisa duduk di salah satu kursi, seorang pria yang sangat dia kenal duduk di sampingnya.
Sontak Khadijah menyingkir. Dia menghembuskan napas kesal, "Ada apa? Kenapa kamu harus duduk di sini?"
"Dijah, kenapa kamu jadi jutek? Kalau karena kesalahanku waktu itu, aku minta maaf ya. Aku janji akan lebih baik lagi sama kamu," ucap pria yang dulu sangat mengidolakan Khadijah. Fattan, mahasiswa jurusan bisnis yang memiliki banyak segalanya dalam hidup.
Khadijah adalah mahasiswi jurusan ekonomi yang lebih memilih menyingkirkan orang kaya dalam hidupnya. Bukan tanpa alasan karena dia pernah sakit hati waktu itu. Sejujurnya Fattan orang yang baik, tapi sikapnya yang berlebihan seakan menganggap Khadijah adalah kekasihnya yang membuat Khadijah malas.
Permasalahan yang dianggap Fattan sebagai alasan ketidaksukaan Khadijah terlalu sepele. Fattan tidak sengaja membuat Khadijah pergi ke cafe, merancang pesta kejutan untuk menjadi kekasih hatinya. Saat itu, suasana hati Khadijah sedang tidak baik-baik saja. Jadi apapun yang dilakukan Fattan tidak ada gunanya.
"Bukan karena itu. Aku lagi nggak mood ngobrol sama kamu," tegas Khadijah. Dia mengambil tisu yang ada di atas meja, mengusap wajahnya yang berkeringat. Belum sempat Khadijah membuang tisu tersebut, Fattan lebih dulu melakukannya dan memberikan tisu yang baru.
Khadijah menghela napas berat, ditatapnya Fattan dengan gelengan kepala, "Sudahlah. Aku pikir kita emang nggak berjodoh."
"Siapa bilang? Sebelum janur kuning melengkung, aku masih punya banyak kesempatan," tekad Fattan.
"Ish, puitis amat," komentar Raisa.
"Diam kamu. Ini urusanku sama Khadijah."
Raisa memutar bola matanya, "Iya, ya. Selalu ditolak masih aja mengharapkan."
"Memangnya kenapa? Peluangku masih panjang," tukas Fattan.
Andai dia tahu kalau Khadijah sudah menikah pasti Fattan terkejut. Tapi Khadijah tidak akan memakai mulutnya untuk bicara apapun.
"Aku ke toilet dulu, Sa," ucap Khadijah. Dia berniat bangkit, tapi pergelangan tangannya ditarik paksa oleh Fattan. Tingkah laku pria itu terekam banyak pasang mata. Kantin berisi beragam makanan itu tidak sepi pengunjung, jadi mereka menjadi pusat perhatian.
"Lepas!" pinta Khadijah.
"Nggak. Dengarkan aku dulu."
"Lepas, Fattan!"
"Nggak, Khadijah. Tolong terima cintaku!" ucap Fattan, penuh paksaan.
"Lepaskan dia!" Seruan itu sontak membuat dua orang yang bersiteru saling menoleh. Khadijah menegang melihat Khoirul sedang menatapnya sangat tajam, tidak seperti biasanya.
"Ini bukan urusan bapak," jawab Fattan.
Raisa merasa hawa di sekitar tempat itu menjadi lebih dingin karena kedatangan Khoirul. Apalagi tatapan mata pria itu.
"Urusan saya karena saya ada perlu dengan Khadijah," sahut Khoirul santai. Dia kemudian melanjutkan dengan nada tegas tidak terbantahkan, "Khadijah, tolong pesankan saya batagor. Bawa ke ruangan saya. Tagihannya biar saya bayar nanti. S-e-k-a-r-a-n-g!"
"Ba-baik, Pak!" Khadijah melepas paksa tarikan Fattan dan berjalan cepat ke arah gerobak penjual batagor. Wanita itu sempat melirik tempatnya tadi. Ternyata Khoirul sudah menghilang. Tinggal Raisa dan Fattan yang tetap ada di sana.
"Bu, bisa tolong cepat sedikit," pinta Khadijah sebelum Fattan berlari padanya. Berselang lima menit, akhirnya wanita itu bisa terbebas sepenuhnya.
Tok tok tok!
"Ini saya, Pak," ucap Khadijah.
"Masuk!"
Khadijah membuka pintu tersebut. Ruangan yang tidak seberapa luasnya itu sudah pernah dia datangi berulangkali. Bukan kali pertama Khadijah mengalami masalah dengan dosen satu itu.
Khadijah menaruh piring batagor di atas meja, lalu berniat pergi. Lagi pula dia tidak punya urusan dengan Khoirul. Dilihat sekilas Khoirul juga sibuk sepertinya.
"Nggak ada ucapan terimakasih?" tanya Khoirul tanpa mendongak.
"Terimakasih, Pak."
Khadijah kembali ingin berbalik, tapi Khoirul menghalangi.
"Duduklah!"
"Untuk apa, Pak?"
Mendengar nada ketus Khadijah, barulah Khoirul melepaskan pandangan dari laptopnya, "Apa susahnya menurut pada suami?"
"Iya, iya," jawab Khadijah malas. Dia menarik kursi lumayan keras, sengaja agar Khoirul marah. "Saya sudah duduk, Pak. Ada apa perlu apa ya?"
"Tolong suapin saya!"
"Saya?" Khadijah menunjuk dirinya.
"Siapa lagi? Di sini hanya ada saya dan kamu."
"Bapak punya tangan kan?" cerca Khadijah. Seenaknya menyuruhnya melakukan adegan suap menyuap. Memangnya mereka pasangan suami istri yang penuh kemesraan?
"Punya tapi sedang saya pakai semua. Apa salahnya sih menyenangkan hati suami?" tandas Khoirul.
Skakmat!
Khadijah tidak bisa berkutik. Dia mengambil sendok dan mencoba mencari potongan batagor yang paling kecil. Dia kemudian mengarahkan sendok tersebut ke arah Khoirul.
"Buat kamu saja," ucap Khoirul.
"Hah? Bapak mengejek saya atau mengerjai saya sih? Kenapa saya dibuat bingung begini?" tanya Khadijah dengan sungutan kesal.
"Kamu belum makan siang kan?"
"Ya belumlah, Pak. Ini aja baru jam berapa."
"Ya udah makan saja buat kamu."
"Kalau begitu saya bawa keluar saja," tukas Khadijah. Dia mengalah. Orang yang memiliki kewarasan lebih banyak harus tahu diri.
"Makan di sini!"
"Di luar saja, Pak."
Dengan mata elangnya, Khoirul menegaskan, "Makan di sini!"
"Oke, oke."
Dengan kekesalan yang berapi-api, Khadijah menyuapkan potongan makanan itu ke dalam mulutnya dalam ritme cepat. Dia seperti sedang melakukan lomba makan dan yang berhasil menang boleh keluar dari ruangan dosen D minus itu.
Khoirul menyodorkan gelas berisi air putih yang masih penuh, "Minum dulu!"
"Nggak perlu, Pak. Saya terbiasa makan tanpa minum," ucap Khadijah. Suaranya teredam oleh makanannya sendiri. Baru beberapa detik berlalu, wanita itu tersedak. Tanpa basa-basi dia menghabiskan air putih di hadapannya.
Melihat perutnya yang agak melilit, Khadijah menghentikan makannya, "Saya kenyang, Pak."
"Oke."
Khadijah membawa piring tersebut tapi lagi-lagi diperingatkan oleh Khoirul, "Taruh saja di meja."
"Mau saya kembalikan ke kantin, Pak."
"Masih banyak itu kok, Dijah. Kamu itu gimana? Biar saya yang habiskan," sungut Khoirul. Tangannya terulur untuk menerima kembali piring itu.
Sementara Khadijah tampak kebingungan melihat sikap Khoirul. Bagaimana bisa orang lain mau menyuapkan makanan sisa ke mulutnya? Khoirul gila atau Khadijah yang tidak bisa berpikir positif?
"Bapak mau makan bekas sisa saya?"
"Kalimat bekas dan sisa menjurus pada hal yang sama. Belajar lagi yang benar," koreksi Khoirul. Dia menyudahi ketikannya dan mulai menyelesaikan makan yang tertunda tadi. "Lagi pula kamu bukan orang lain untuk saya. Semua suami juga akan bersikap seperti ini pada istrinya."
Khadijah merasa dirinya terbang karena kalimat itu. Dia berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi keterkejutannya terhenti melihat seseorang berdiri di ambang pintu. Raisa.
"Apa maksud istrinya? Kamu istrinya Pak Khoirul, Dijah? WHAT?"
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments