Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!

"Raisa. Saya sama Raisa, Pak," jawab Khadijah.

"Jangan membuat perdamaian kita menjadi bumerang lagi, Dijah. Saya tahu kamu nggak pergi sama Raisa. Ayo, bicara sama saya! Kamu pergi sama siapa? Fattan?" tuduh Khoirul. Sikapnya memang tenang tapi mengandung banyak tekanan di dalamnya.

"Kan bapak yang mulai. Bisa nggak kita nggak mencampuri urusan masing-masing, Pak? Saya lelah kalau selalu bertengkar dengan bapak. Masa bapak nggak lelah bertengkar dengan saya?"

"Justru karena saya lelah, saya mau kamu bersikap seperti istri. Jangan asal bermain dengan pria lain. Saya pun bisa cemburu," ucap Khoirul.

"Saya sikapnya juga begini-begini saja, Pak. Saya juga masih istri bapak."

Istri bapak? Malunya, batin Khadijah.

"Kalau begitu, saya ingin kamu membuat saya seperti suami kamu."

"Maksudnya?"

Khoirul mendekatkan wajahnya pada Khadijah. Refleks yang bagus dari Khadijah karena wanita itu menarik kepalanya hingga lengannya beradu dengan pinggiran sofa. Mata mereka saling beradu.

"Apa kamu nggak tertarik dengan saya?" tanya Khoirul dengan suara tercekat.

"Em, sebagai dosen..,"

"Bukan sebagai dosen, tapi sebagai pria," sela Khoirul tidak sabar.

"Em, bapak mau saya..,"

Lagi-lagi Khoirul menyela, "Jujur."

"Em, kurang lebih hampir seperti kakak untuk saya. Kalau dibilang tertarik, saya memang tertarik. Maksudnya tertarik karena bapak dosen jadi saya bisa dapat nilai bagus. Tapi kalau tertarik sebagai pria, mungkin belum," jelas Khadijah panjang lebar.

Jujur Khoirul merasa terintimidasi dengan kalimat Khadijah. Perhatian yang dia tunjukkan tidak ada bedanya dengan perhatian seorang kakak pada adiknya. Lalu untuk apa selama ini dia berusaha menjadi suami yang baik?

"Siapa bilang kamu bisa dapat nilai bagus hanya dengan cuma-cuma?" sinis Khoirul.

"Loh, bapak tadi bilang begitu. Saya bisa dapat nilai B plus kalau saya bantu bapak mengerjakan tugas-tugas bapak. Ini nggak adil dong, Pak," sungut Khadijah. Untuk apa dia mengerjakan tugas Khoirul dengan sungguh-sungguh tadi?

"Kan saya belum selesai bicara. Kalau hasil pengerjaan kamu bagus, nilai kamu juga akan mengikuti," kilah Khoirul.

"Alah, bapak hanya beralasan. Bilang saja kalau bapak pelit," ketus Khadijah.

Bibir wanita itu mulai merengut, pertanda jika sebentar lagi amarah itu akan memuncak. Khoirul dengan sigap meminta Khadijah untuk mengambil laptop miliknya, "Saya koreksi dulu."

Khadijah tidak menjawab. Dia hanya menatap kesal. Seperempat jam kemudian, pria itu selesai mengoreksi. Dilihatnya Khadijah tidak bereaksi apapun. Kedua kelopak mata mungil itu terpejam.

Manisnya, batin Khoirul.

Tidak ada satu laki-laki pun yang bisa menahan diri jika melihat keindahan yang tersaji di hadapannya. Khoirul juga sama. Dia laki-laki normal. Pantas kalau jantungnya bergemuruh hebat ketika mendekati Khadijah.

Khoirul mengamati wajah mungil istrinya. Betapa indah ciptaan Tuhan satu ini. Tidak henti-hentinya Khoirul bersyukur karena telah mendapatkan seorang wanita secantik Khadijah.

Perlahan, jari-jarinya merambah ke permukaan wajah Khadijah. Awalnya dia ragu karena dia berpikir Khadijah pasti marah.

Apa dia benar-benar tidur? Atau jangan-jangan hanya mencoba menggodaku? Batin Khoirul waspada.

Tapi kepalang tanggung. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Dijah pasti mengerti kalau aku butuh dirinya sebagai istri yang sesungguhnya, batin Khoirul kembali.

Keyakinan diri itu semakin naik. Khoirul memberanikan diri untuk mengusap wajah Khadijah. Khoirul juga memberikan sensasi cubitan kecil di sana. Pria itu tersenyum geli.

Khadijah mulai bergerak. Kelopak matanya terbuka dan berkedip-kedip tidak sabaran. Dia belum menyadari situasi. Kedekatan di antara mereka terlampau menyiksa.

Khadijah berniat menggerakkan bahunya untuk mengimbangi tinggi Khoirul, tapi Khoirul menahannya. "Ada apa, Pak?"

Duh, suaraku mirip tikus kejepit, batin Khadijah malu. Salah sendiri kenapa duduknya terlalu dekat? Khadijah pasti gemetar bukan main.

"Kamu bisa diam nggak?" tanya Khoirul, lebih tepatnya memaksa.

Khadijah menggeleng, "Suasananya terlalu canggung, Pak."

"Biarkan saja. Namanya juga suami istri," tukas Khoirul santai. Dia memulai usapannya lagi, kali ini ke arah bibir merah muda Khadijah. "Tolonglah, sekali saja saya mau meminta hak saya."

"Saya masih tanggal merah, Pak," elak Khadijah.

"Bohong. Saya lihat di kamar mandi nggak ada benda itu lagi. Wajah kamu juga lebih cerah. Kamu juga nggak sakit. Jangan coba-coba mengelak ya, Dijah? Dosa kalau kamu menolak saya," tukas Khoirul.

Duh, ketahuan! Batin Khadijah.

"Nggak bisa ngomong lagi kan? Kamu mau menerima perlakuan saya atau saya marah lagi sama kamu? Saya nggak akan mau pulang ke rumah. Biarkan saja kalau kamu cari-cari saya," ancam Khoirul.

Alis Khadijah saling bertautan, "Bapak meracau? Bisa-bisanya mengancam saya dengan ucapan begitu. Bapak nggak pulang juga terserah. Mau ke ... em ..,"

Tarikan tiba-tiba di area tengkuk Khadijah membuat wanita itu tidak bisa mengelak lagi. Keterkejutan itu tidak bisa terelakkan. Khadijah tidak bisa melakukan apapun selain menutup mulutnya rapat-rapat. Dia menolak apapun yang dilakukan Khoirul.

Khoirul sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya nihil. Dia mengurai jarak. "Bukalah!"

Khadijah menggeleng cepat.

"Apa saya harus cari pelampiasan di tempat lain?" tanya Khoirul putus asa.

Khadijah menggeleng.

"Lalu?"

Khadijah merasa dirinya keterlaluan. Melihat keputusasaan Khoirul membuat hatinya tersentuh. Haruskah dia lakukan sekarang? Di tempat ini? Di tempat yang dia gunakan untuk mencari ilmu? Bersama dosennya? Oh, Tuhan, ini dilema untuk mahasiswi seperti dirinya.

Khoirul mulai tidak sabaran. Diletakkannya laptop miliknya, diarahkan bahu Khadijah untuk sepenuhnya mengarah padanya. "Apa yang kamu pikirkan?"

"Semuanya," gumam Khadijah. Wajahnya menunduk, "bapak jangan memaksa saya dong. Saya masih kecil."

"Kecil? Biasanya seusia kamu pasti ingin merasakan sesuatu yang baru kan? Yang saya lihat wanita yang sudah pubertas nggak pernah ragu pergi ke club. Dua puluh lima tahun kok dibilang kecil? Mau segedenya usia berapa? Tiga puluh tahun? Saya harus menunggu kamu lima tahun, Dijah? Oh, Tuhan," cerca Khoirul.

Khadijah berkedip-kedip persis orang bodoh. "Bapak sering begini kalau sama pacar-pacar bapak?"

"Saya nggak pernah pacaran," tukas Khoirul.

"Pokoknya saya belum siap. Lain kali saja, Pak."

Khadijah bangkit tergesa-gesa. Kesalahan yang dia buat adalah kenapa dia tidak melihat ke bawah sana. Di saat kakinya terantuk kaki meja, tubuhnya pun ikut merosot. Khadijah terpekik.

Khoirul dengan sigap mengambil alih tubuh istrinya. Lalu sudah pasti yang terjadi bisa ditebak. Pelukan sedingin es itu telah berubah menjadi pelukan hangat yang memabukkan.

Khadijah tidak siap untuk menolak, dia menerima perlakuan suaminya yang manis. Ketika mereka sama-sama berambisi untuk saling melengkapi, Khadijah sudah tidak ingat lagi apa itu penolakan.

Setengah bahunya terbuka, lalu perjalanan indah itu berakhir pada penyelesaian yang manis. Keringat membanjiri, menambah gejolak hati yang membara. Lalu, setelahnya Khadijah baru menyadari bahwa dia telah memberikan semua miliknya pada Khoirul.

Aku sudah nggak perawan, batin Khadijah.

°°°

Tok tok tok!

"Pak Khoirul, anda belum pulang dari kemarin? Ada titipan untuk bapak," suara satpam kampus mengejutkan dua manusia yang sedang berpelukan di atas sofa.

Oh tidak!

°°°

Terpopuler

Comments

Tita Puspita Dewi

Tita Puspita Dewi

jadi belah duren dikampus,agak laen emang....

2023-09-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Pak Muka Killer
2 Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3 Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4 Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5 Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6 Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7 Bab 7 - STOP!
8 Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9 Bab 9 - CUP!!!
10 Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11 Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12 Bab 12 - Kabur
13 Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14 Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15 Bab 15 - One vs One
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17 Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18 Bab 18 - Hanya Oke?
19 Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20 Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21 Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22 Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23 Bab 23 - Bapak Berdarah
24 Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25 Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26 Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27 Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28 Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29 Bab 29 - Oh, Tidak!
30 Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31 Bab 31 - Terpaksa
32 Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33 Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34 Bab 34 - Mantan Toxic
35 Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36 Bab 36 - Positif
37 Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38 Bab 38 - Mereka Tahu
39 Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40 Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41 Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42 Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43 Bab 43 - Buletin Sialan!
44 Bab 44 - Keputusan Final
45 Bab 45 - Tekanan Batin
46 Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47 Bab 47 - Rencana Pindah
48 Bab 48 - Mulut Marwah
49 Bab 49 - Bikin Rusuh
50 Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51 Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52 Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53 Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54 Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55 Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56 Bab 56 - Kabur!
57 Bab 57 - Pelacakan
58 Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59 Bab 59 - Salah Sangka
60 Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 - Pak Muka Killer
2
Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3
Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4
Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5
Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6
Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7
Bab 7 - STOP!
8
Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9
Bab 9 - CUP!!!
10
Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11
Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12
Bab 12 - Kabur
13
Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14
Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15
Bab 15 - One vs One
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17
Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18
Bab 18 - Hanya Oke?
19
Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20
Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21
Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22
Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23
Bab 23 - Bapak Berdarah
24
Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25
Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26
Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27
Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28
Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29
Bab 29 - Oh, Tidak!
30
Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31
Bab 31 - Terpaksa
32
Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33
Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34
Bab 34 - Mantan Toxic
35
Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36
Bab 36 - Positif
37
Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38
Bab 38 - Mereka Tahu
39
Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40
Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41
Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42
Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43
Bab 43 - Buletin Sialan!
44
Bab 44 - Keputusan Final
45
Bab 45 - Tekanan Batin
46
Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47
Bab 47 - Rencana Pindah
48
Bab 48 - Mulut Marwah
49
Bab 49 - Bikin Rusuh
50
Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51
Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52
Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53
Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54
Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55
Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56
Bab 56 - Kabur!
57
Bab 57 - Pelacakan
58
Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59
Bab 59 - Salah Sangka
60
Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!