"Raisa. Saya sama Raisa, Pak," jawab Khadijah.
"Jangan membuat perdamaian kita menjadi bumerang lagi, Dijah. Saya tahu kamu nggak pergi sama Raisa. Ayo, bicara sama saya! Kamu pergi sama siapa? Fattan?" tuduh Khoirul. Sikapnya memang tenang tapi mengandung banyak tekanan di dalamnya.
"Kan bapak yang mulai. Bisa nggak kita nggak mencampuri urusan masing-masing, Pak? Saya lelah kalau selalu bertengkar dengan bapak. Masa bapak nggak lelah bertengkar dengan saya?"
"Justru karena saya lelah, saya mau kamu bersikap seperti istri. Jangan asal bermain dengan pria lain. Saya pun bisa cemburu," ucap Khoirul.
"Saya sikapnya juga begini-begini saja, Pak. Saya juga masih istri bapak."
Istri bapak? Malunya, batin Khadijah.
"Kalau begitu, saya ingin kamu membuat saya seperti suami kamu."
"Maksudnya?"
Khoirul mendekatkan wajahnya pada Khadijah. Refleks yang bagus dari Khadijah karena wanita itu menarik kepalanya hingga lengannya beradu dengan pinggiran sofa. Mata mereka saling beradu.
"Apa kamu nggak tertarik dengan saya?" tanya Khoirul dengan suara tercekat.
"Em, sebagai dosen..,"
"Bukan sebagai dosen, tapi sebagai pria," sela Khoirul tidak sabar.
"Em, bapak mau saya..,"
Lagi-lagi Khoirul menyela, "Jujur."
"Em, kurang lebih hampir seperti kakak untuk saya. Kalau dibilang tertarik, saya memang tertarik. Maksudnya tertarik karena bapak dosen jadi saya bisa dapat nilai bagus. Tapi kalau tertarik sebagai pria, mungkin belum," jelas Khadijah panjang lebar.
Jujur Khoirul merasa terintimidasi dengan kalimat Khadijah. Perhatian yang dia tunjukkan tidak ada bedanya dengan perhatian seorang kakak pada adiknya. Lalu untuk apa selama ini dia berusaha menjadi suami yang baik?
"Siapa bilang kamu bisa dapat nilai bagus hanya dengan cuma-cuma?" sinis Khoirul.
"Loh, bapak tadi bilang begitu. Saya bisa dapat nilai B plus kalau saya bantu bapak mengerjakan tugas-tugas bapak. Ini nggak adil dong, Pak," sungut Khadijah. Untuk apa dia mengerjakan tugas Khoirul dengan sungguh-sungguh tadi?
"Kan saya belum selesai bicara. Kalau hasil pengerjaan kamu bagus, nilai kamu juga akan mengikuti," kilah Khoirul.
"Alah, bapak hanya beralasan. Bilang saja kalau bapak pelit," ketus Khadijah.
Bibir wanita itu mulai merengut, pertanda jika sebentar lagi amarah itu akan memuncak. Khoirul dengan sigap meminta Khadijah untuk mengambil laptop miliknya, "Saya koreksi dulu."
Khadijah tidak menjawab. Dia hanya menatap kesal. Seperempat jam kemudian, pria itu selesai mengoreksi. Dilihatnya Khadijah tidak bereaksi apapun. Kedua kelopak mata mungil itu terpejam.
Manisnya, batin Khoirul.
Tidak ada satu laki-laki pun yang bisa menahan diri jika melihat keindahan yang tersaji di hadapannya. Khoirul juga sama. Dia laki-laki normal. Pantas kalau jantungnya bergemuruh hebat ketika mendekati Khadijah.
Khoirul mengamati wajah mungil istrinya. Betapa indah ciptaan Tuhan satu ini. Tidak henti-hentinya Khoirul bersyukur karena telah mendapatkan seorang wanita secantik Khadijah.
Perlahan, jari-jarinya merambah ke permukaan wajah Khadijah. Awalnya dia ragu karena dia berpikir Khadijah pasti marah.
Apa dia benar-benar tidur? Atau jangan-jangan hanya mencoba menggodaku? Batin Khoirul waspada.
Tapi kepalang tanggung. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Dijah pasti mengerti kalau aku butuh dirinya sebagai istri yang sesungguhnya, batin Khoirul kembali.
Keyakinan diri itu semakin naik. Khoirul memberanikan diri untuk mengusap wajah Khadijah. Khoirul juga memberikan sensasi cubitan kecil di sana. Pria itu tersenyum geli.
Khadijah mulai bergerak. Kelopak matanya terbuka dan berkedip-kedip tidak sabaran. Dia belum menyadari situasi. Kedekatan di antara mereka terlampau menyiksa.
Khadijah berniat menggerakkan bahunya untuk mengimbangi tinggi Khoirul, tapi Khoirul menahannya. "Ada apa, Pak?"
Duh, suaraku mirip tikus kejepit, batin Khadijah malu. Salah sendiri kenapa duduknya terlalu dekat? Khadijah pasti gemetar bukan main.
"Kamu bisa diam nggak?" tanya Khoirul, lebih tepatnya memaksa.
Khadijah menggeleng, "Suasananya terlalu canggung, Pak."
"Biarkan saja. Namanya juga suami istri," tukas Khoirul santai. Dia memulai usapannya lagi, kali ini ke arah bibir merah muda Khadijah. "Tolonglah, sekali saja saya mau meminta hak saya."
"Saya masih tanggal merah, Pak," elak Khadijah.
"Bohong. Saya lihat di kamar mandi nggak ada benda itu lagi. Wajah kamu juga lebih cerah. Kamu juga nggak sakit. Jangan coba-coba mengelak ya, Dijah? Dosa kalau kamu menolak saya," tukas Khoirul.
Duh, ketahuan! Batin Khadijah.
"Nggak bisa ngomong lagi kan? Kamu mau menerima perlakuan saya atau saya marah lagi sama kamu? Saya nggak akan mau pulang ke rumah. Biarkan saja kalau kamu cari-cari saya," ancam Khoirul.
Alis Khadijah saling bertautan, "Bapak meracau? Bisa-bisanya mengancam saya dengan ucapan begitu. Bapak nggak pulang juga terserah. Mau ke ... em ..,"
Tarikan tiba-tiba di area tengkuk Khadijah membuat wanita itu tidak bisa mengelak lagi. Keterkejutan itu tidak bisa terelakkan. Khadijah tidak bisa melakukan apapun selain menutup mulutnya rapat-rapat. Dia menolak apapun yang dilakukan Khoirul.
Khoirul sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya nihil. Dia mengurai jarak. "Bukalah!"
Khadijah menggeleng cepat.
"Apa saya harus cari pelampiasan di tempat lain?" tanya Khoirul putus asa.
Khadijah menggeleng.
"Lalu?"
Khadijah merasa dirinya keterlaluan. Melihat keputusasaan Khoirul membuat hatinya tersentuh. Haruskah dia lakukan sekarang? Di tempat ini? Di tempat yang dia gunakan untuk mencari ilmu? Bersama dosennya? Oh, Tuhan, ini dilema untuk mahasiswi seperti dirinya.
Khoirul mulai tidak sabaran. Diletakkannya laptop miliknya, diarahkan bahu Khadijah untuk sepenuhnya mengarah padanya. "Apa yang kamu pikirkan?"
"Semuanya," gumam Khadijah. Wajahnya menunduk, "bapak jangan memaksa saya dong. Saya masih kecil."
"Kecil? Biasanya seusia kamu pasti ingin merasakan sesuatu yang baru kan? Yang saya lihat wanita yang sudah pubertas nggak pernah ragu pergi ke club. Dua puluh lima tahun kok dibilang kecil? Mau segedenya usia berapa? Tiga puluh tahun? Saya harus menunggu kamu lima tahun, Dijah? Oh, Tuhan," cerca Khoirul.
Khadijah berkedip-kedip persis orang bodoh. "Bapak sering begini kalau sama pacar-pacar bapak?"
"Saya nggak pernah pacaran," tukas Khoirul.
"Pokoknya saya belum siap. Lain kali saja, Pak."
Khadijah bangkit tergesa-gesa. Kesalahan yang dia buat adalah kenapa dia tidak melihat ke bawah sana. Di saat kakinya terantuk kaki meja, tubuhnya pun ikut merosot. Khadijah terpekik.
Khoirul dengan sigap mengambil alih tubuh istrinya. Lalu sudah pasti yang terjadi bisa ditebak. Pelukan sedingin es itu telah berubah menjadi pelukan hangat yang memabukkan.
Khadijah tidak siap untuk menolak, dia menerima perlakuan suaminya yang manis. Ketika mereka sama-sama berambisi untuk saling melengkapi, Khadijah sudah tidak ingat lagi apa itu penolakan.
Setengah bahunya terbuka, lalu perjalanan indah itu berakhir pada penyelesaian yang manis. Keringat membanjiri, menambah gejolak hati yang membara. Lalu, setelahnya Khadijah baru menyadari bahwa dia telah memberikan semua miliknya pada Khoirul.
Aku sudah nggak perawan, batin Khadijah.
°°°
Tok tok tok!
"Pak Khoirul, anda belum pulang dari kemarin? Ada titipan untuk bapak," suara satpam kampus mengejutkan dua manusia yang sedang berpelukan di atas sofa.
Oh tidak!
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
jadi belah duren dikampus,agak laen emang....
2023-09-29
0