Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri

Malam pertama?

Khadijah semakin malu mendengarnya. Dia terlalu gugup padahal biasanya dia bisa melawan ucapan dosennya. Sembari melepaskan diri dan melontarkan gumaman tidak jelas, Khadijah masuk ke dalam kamar mandi. Tapi dia keluar lagi untuk beberapa saat.

Khoirul masih terdiam di tempatnya tadi dengan jari-jari menggenggam ponsel, "Baju-baju kamu ada di almari bagian kanan."

"Dari mana bapak tahu saya mencari baju?"

"Ya karena kamu keluar lagi. Saya nggak perlu waktu seharian untuk mencari tahu."

"Em, baiklah," gumam Khadijah. Yang namanya orang jenius pasti banyak tahu dari pada dirinya. Wanita itu berjalan ke arah almari yang panjangnya mungkin hampir lima meter. Dia membuka bagian paling kanan dan menemukan baju-baju miliknya tersusun rapi. Iseng dia membuka pintu sebelahnya dan isinya masih miliknya. Dia membuka mulutnya, speechless. Underwearnya tampak jelas terlihat. Semoga Khoirul tidak berniat melirik tempat rahasia ini.

Khadijah mengambil underwear dan pakaian rumahan yang agak tertutup, lalu beralih ke kamar mandi. Dia menyampirkan pakaiannya di tempatnya. Tadinya dia berusaha bersikap santai tapi setelah hanya ada dirinya di dalam ruangan itu, dia menjadi orang yang berbeda.

Khadijah menatap riasan wajahnya yang simpel. Dia menghembuskan napas perlahan. Hari ini menjadi hari terpanjang dalam sejarah hidupnya. Pernikahan yang tiba-tiba, calon suami yang tidak terduga dan tinggal di rumah pria yang menjadi suaminya. Entah dia harus bersyukur atau menyesal.

Melihat wajah orangtuanya yang sumringah, tak urung membuat dirinya juga bahagia. Hal yang dia lakukan pasti bisa membuat mereka damai dalam hidup. Khadijah juga akan berusaha menjadi putri yang berbakti.

"Semangat, Dijah," gumam Khadijah. Dia akhirnya menyelesaikan penghapusan riasannya dan memakai pakaian yang lebih layak. Ketika dirinya keluar dari kamar mandi, Khoirul tidak ada di sana. Kemana pria itu?

Penasaran Khadijah melihat-lihat tempat itu. Ada satu pintu yang bersebrangan dengan pintu kamar mandi. Dia pikir tadinya tempat itu tempat penyimpanan ternyata bukan. Suara pintu terbuka terdengar nyaring. Khadijah terkejut melihat Khoirul sedang berkutat pada laptopnya.

Kemeja pria itu telah terganti dengan t-shirt longgar yang terlihat lusuh. Benarkah dia Khoirul? Dosen D minus itu mana mungkin memakai pakaian yang apa adanya. Di kampus, Khoirul terkenal rapi.

"Ada apa?" tanya Khoirul.

Refleks Khadijah memegang dadanya karena terkejut dengan panggilan itu, "Eng, eng, enggak, Pak. Saya permisi."

"Hem. Tutup pintunya." Kalimat perintah itu terdengar angkuh dan tidak ada sorot mata yang menyusuri langkah Khadijah. Wanita itu menutup pintu dan terpaku. Apa yang harus dia lakukan? Diam saja? Atau dia menunggu Khoirul untuk tidur? Tapi bukannya dia seakan mengharapkan mereka tidur bersama? Astaga rumit sekali.

Khadijah memutuskan untuk duduk di sofa bed yang letaknya di belakang jendela. Ada sandaran sofa yang dia gunanya untuk menopang punggungnya.

Entah apa yang dia pikirkan sampai dia tidak ingat kalau dia tertidur. Dia baru terbangun setelah mendengar suara dengkuran halus dari sampingnya. Siapa?

Wanita itu membuka matanya dengan paksa dan menoleh. Jujur dia terkejut melihat sosok yang asing di matanya. Seingatnya dia duduk di sofa tadi. Sekarang sudah pukul berapa?

Setengah dua belas, gumam Khadijah.

Hatinya bergemuruh melihat ketampanan wajah Khoirul dari dekat. Dia tidak menyangka jika pria itu bisa semenawan itu. Kemana saja dirinya? Selama beberapa tahun dia sibuk mengumpati dosennya tanpa tahu apa saja yang dia hadapi.

Apa yang harus Khadijah lakukan? Sikap Khoirul tidak welcome padanya. Kalau saja dia bisa mencari tahu kenapa harus Khoirul menjadi calon suaminya, mungkin dia bisa mengambil sikap.

Khadijah melihat ke arah langit-langit kamar. Tiba-tiba saja tenggorokannya kering. Dia beringsut dari sana, lalu keluar dari ranjang. Wanita itu turun ke lantai satu, mencari dapur yang belum sempat dia lihat tadi.

Dengan perlahan dia menginjakkan kakinya di lantai marmer berwarna kecoklatan itu. Di sisi kiri, terdapat satu set meja makan yang berdekatan langsung dengan kitchen set.

Khadijah beralih ke kulkas, mencari air putih dan menuangkannya ke dalam gelas kaca di atas meja. Beberapa teguk telah habis. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana. Di rumah sebesar itu dia tidak bisa berpikir jernih.

Belum selesai Khadijah berpikir, suara batuk seseorang mengejutkannya. Wanita itu hampir menjatuhkan gelasnya jika saja pria di hadapannya tidak melongokkan tubuh dan memegang benda kaca itu.

"Hati-hati," ucap Khoirul.

"Ma-maaf, Pak."

Khadijah merasa buruk karena dia selalu tertangkap basah oleh suaminya.

"Tolong ambilkan juga buat saya!" pinta Khoirul sembari mengulurkan kembali gelas di tangannya. Khadijah berniat mengambil gelas lain tapi Khoirul menginterupsi, "pakai ini saja."

"Tapi, Pak, ini bekas saya," ucap Khadijah.

"Nggak apa-apa. Memangnya kenapa? Kamu punya penyakit menular?"

Khadijah menggeleng, "Tentu saja nggak. Memangnya saya suka jajan di luar?"

"Memangnya kamu nggak pernah beli bakso? Ayam goreng di pinggir jalan?" tanya Khoirul dengan nada bercanda.

"Pernah dong, Pak."

"Lha terus kenapa kamu bilang nggak pernah jajan di luar?"

Ini maksudnya apa sih? Pria macam apa ini? Heran deh aku, batin Khadijah geram.

"Terserah bapak sajalah." Khadijah menuang kembali gelas tersebut dengan air putih, lalu menyodorkan pada Khoirul.

Khadijah speechless ketika melihat Khoirul menelan habis air putihnya tanpa rasa jijik atau semacamnya. Wanita itu heran setengah mati. Tidak mungkin seorang Khoirul bisa minum di gelas bekas miliknya. Apalagi mereka bukan orang yang saling mengenal sejak awal. Aneh!

"Kenapa melihat saya begitu?" tanya Khoirul.

"Nggak apa-apa, Pak. Saya pamit ke kamar dulu."

"Tunggu! Mau bicara sebentar?"

Kesempatan bagus, batin Khadijah. Dia bisa bertanya mengenai hubungan aneh mereka.

"Boleh, Pak. Dimana?"

"Di meja makan saja."

Khoirul mendahului Khadijah menarik kursi yang tidak jauh dari posisinya. Sementara Khadijah menyusul. Beberapa detik mereka diam, lalu Khoirul memulai pembicaraan.

"Perkenalkan saya Khoirul, meskipun kamu sudah tahu siapa saya. Usia saya tiga puluh dua tahun," ucap Khoirul.

Hah? Tiga puluh dua tahun? Kenapa wajahnya setua itu? Batin Khadijah.

"Memang wajah saya terlihat tua. Sudah bukan rahasia umum," sela Khoirul.

Duh, salah bicara, batin Khadijah lagi.

"Ya saya kira bapak nggak sadar diri."

"Oke, point selanjutnya. Saya dua bersaudara, punya adik sama seperti kamu masih kuliah tapi bedanya dia sudah hampir lulus. IQ-nya di atas rata-rata dan sebentar lagi akan mendaftar S2 di London."

"Em, sepertinya masalah adik bapak saya nggak perlu tahu sedetail itu," ketus Khadijah. Sama saja Khoirul mengejek dirinya yang belum lulus juga di usia dua puluh lima tahun.

Khoirul tertawa kecil, hampir tidak terlihat oleh mata, "Siapa tahu kamu penasaran. Point ketiga, saya berkepentingan menikah dan kebetulan keluarga saya dan kamu memiliki koneksi yang nggak kamu tahu. Untuk lebih jelasnya, kapan-kapan lagi saya jelaskan. Kita lanjutkan tidur saja!"

"Tidur? Saya boleh minta kamar lain, Pak?" tanya Khadijah.

"Kenapa? Kamu takut saya mendengar dengkuran kamu?"

Dosen sialan! Batin Khadijah.

°°°

Terpopuler

Comments

Tita Puspita Dewi

Tita Puspita Dewi

biasanya ditiap novel tokohnya yang terlihat muda dari umurnya ini malah kebalik. kayaknya seru ni.

2023-09-28

0

Nayaka

Nayaka

cerita nya asik kak,bahasanya juga ringan

2023-09-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Pak Muka Killer
2 Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3 Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4 Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5 Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6 Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7 Bab 7 - STOP!
8 Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9 Bab 9 - CUP!!!
10 Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11 Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12 Bab 12 - Kabur
13 Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14 Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15 Bab 15 - One vs One
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17 Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18 Bab 18 - Hanya Oke?
19 Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20 Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21 Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22 Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23 Bab 23 - Bapak Berdarah
24 Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25 Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26 Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27 Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28 Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29 Bab 29 - Oh, Tidak!
30 Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31 Bab 31 - Terpaksa
32 Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33 Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34 Bab 34 - Mantan Toxic
35 Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36 Bab 36 - Positif
37 Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38 Bab 38 - Mereka Tahu
39 Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40 Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41 Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42 Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43 Bab 43 - Buletin Sialan!
44 Bab 44 - Keputusan Final
45 Bab 45 - Tekanan Batin
46 Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47 Bab 47 - Rencana Pindah
48 Bab 48 - Mulut Marwah
49 Bab 49 - Bikin Rusuh
50 Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51 Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52 Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53 Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54 Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55 Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56 Bab 56 - Kabur!
57 Bab 57 - Pelacakan
58 Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59 Bab 59 - Salah Sangka
60 Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 - Pak Muka Killer
2
Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3
Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4
Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5
Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6
Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7
Bab 7 - STOP!
8
Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9
Bab 9 - CUP!!!
10
Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11
Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12
Bab 12 - Kabur
13
Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14
Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15
Bab 15 - One vs One
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17
Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18
Bab 18 - Hanya Oke?
19
Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20
Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21
Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22
Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23
Bab 23 - Bapak Berdarah
24
Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25
Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26
Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27
Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28
Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29
Bab 29 - Oh, Tidak!
30
Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31
Bab 31 - Terpaksa
32
Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33
Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34
Bab 34 - Mantan Toxic
35
Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36
Bab 36 - Positif
37
Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38
Bab 38 - Mereka Tahu
39
Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40
Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41
Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42
Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43
Bab 43 - Buletin Sialan!
44
Bab 44 - Keputusan Final
45
Bab 45 - Tekanan Batin
46
Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47
Bab 47 - Rencana Pindah
48
Bab 48 - Mulut Marwah
49
Bab 49 - Bikin Rusuh
50
Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51
Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52
Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53
Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54
Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55
Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56
Bab 56 - Kabur!
57
Bab 57 - Pelacakan
58
Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59
Bab 59 - Salah Sangka
60
Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!