Malam pertama?
Khadijah semakin malu mendengarnya. Dia terlalu gugup padahal biasanya dia bisa melawan ucapan dosennya. Sembari melepaskan diri dan melontarkan gumaman tidak jelas, Khadijah masuk ke dalam kamar mandi. Tapi dia keluar lagi untuk beberapa saat.
Khoirul masih terdiam di tempatnya tadi dengan jari-jari menggenggam ponsel, "Baju-baju kamu ada di almari bagian kanan."
"Dari mana bapak tahu saya mencari baju?"
"Ya karena kamu keluar lagi. Saya nggak perlu waktu seharian untuk mencari tahu."
"Em, baiklah," gumam Khadijah. Yang namanya orang jenius pasti banyak tahu dari pada dirinya. Wanita itu berjalan ke arah almari yang panjangnya mungkin hampir lima meter. Dia membuka bagian paling kanan dan menemukan baju-baju miliknya tersusun rapi. Iseng dia membuka pintu sebelahnya dan isinya masih miliknya. Dia membuka mulutnya, speechless. Underwearnya tampak jelas terlihat. Semoga Khoirul tidak berniat melirik tempat rahasia ini.
Khadijah mengambil underwear dan pakaian rumahan yang agak tertutup, lalu beralih ke kamar mandi. Dia menyampirkan pakaiannya di tempatnya. Tadinya dia berusaha bersikap santai tapi setelah hanya ada dirinya di dalam ruangan itu, dia menjadi orang yang berbeda.
Khadijah menatap riasan wajahnya yang simpel. Dia menghembuskan napas perlahan. Hari ini menjadi hari terpanjang dalam sejarah hidupnya. Pernikahan yang tiba-tiba, calon suami yang tidak terduga dan tinggal di rumah pria yang menjadi suaminya. Entah dia harus bersyukur atau menyesal.
Melihat wajah orangtuanya yang sumringah, tak urung membuat dirinya juga bahagia. Hal yang dia lakukan pasti bisa membuat mereka damai dalam hidup. Khadijah juga akan berusaha menjadi putri yang berbakti.
"Semangat, Dijah," gumam Khadijah. Dia akhirnya menyelesaikan penghapusan riasannya dan memakai pakaian yang lebih layak. Ketika dirinya keluar dari kamar mandi, Khoirul tidak ada di sana. Kemana pria itu?
Penasaran Khadijah melihat-lihat tempat itu. Ada satu pintu yang bersebrangan dengan pintu kamar mandi. Dia pikir tadinya tempat itu tempat penyimpanan ternyata bukan. Suara pintu terbuka terdengar nyaring. Khadijah terkejut melihat Khoirul sedang berkutat pada laptopnya.
Kemeja pria itu telah terganti dengan t-shirt longgar yang terlihat lusuh. Benarkah dia Khoirul? Dosen D minus itu mana mungkin memakai pakaian yang apa adanya. Di kampus, Khoirul terkenal rapi.
"Ada apa?" tanya Khoirul.
Refleks Khadijah memegang dadanya karena terkejut dengan panggilan itu, "Eng, eng, enggak, Pak. Saya permisi."
"Hem. Tutup pintunya." Kalimat perintah itu terdengar angkuh dan tidak ada sorot mata yang menyusuri langkah Khadijah. Wanita itu menutup pintu dan terpaku. Apa yang harus dia lakukan? Diam saja? Atau dia menunggu Khoirul untuk tidur? Tapi bukannya dia seakan mengharapkan mereka tidur bersama? Astaga rumit sekali.
Khadijah memutuskan untuk duduk di sofa bed yang letaknya di belakang jendela. Ada sandaran sofa yang dia gunanya untuk menopang punggungnya.
Entah apa yang dia pikirkan sampai dia tidak ingat kalau dia tertidur. Dia baru terbangun setelah mendengar suara dengkuran halus dari sampingnya. Siapa?
Wanita itu membuka matanya dengan paksa dan menoleh. Jujur dia terkejut melihat sosok yang asing di matanya. Seingatnya dia duduk di sofa tadi. Sekarang sudah pukul berapa?
Setengah dua belas, gumam Khadijah.
Hatinya bergemuruh melihat ketampanan wajah Khoirul dari dekat. Dia tidak menyangka jika pria itu bisa semenawan itu. Kemana saja dirinya? Selama beberapa tahun dia sibuk mengumpati dosennya tanpa tahu apa saja yang dia hadapi.
Apa yang harus Khadijah lakukan? Sikap Khoirul tidak welcome padanya. Kalau saja dia bisa mencari tahu kenapa harus Khoirul menjadi calon suaminya, mungkin dia bisa mengambil sikap.
Khadijah melihat ke arah langit-langit kamar. Tiba-tiba saja tenggorokannya kering. Dia beringsut dari sana, lalu keluar dari ranjang. Wanita itu turun ke lantai satu, mencari dapur yang belum sempat dia lihat tadi.
Dengan perlahan dia menginjakkan kakinya di lantai marmer berwarna kecoklatan itu. Di sisi kiri, terdapat satu set meja makan yang berdekatan langsung dengan kitchen set.
Khadijah beralih ke kulkas, mencari air putih dan menuangkannya ke dalam gelas kaca di atas meja. Beberapa teguk telah habis. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana. Di rumah sebesar itu dia tidak bisa berpikir jernih.
Belum selesai Khadijah berpikir, suara batuk seseorang mengejutkannya. Wanita itu hampir menjatuhkan gelasnya jika saja pria di hadapannya tidak melongokkan tubuh dan memegang benda kaca itu.
"Hati-hati," ucap Khoirul.
"Ma-maaf, Pak."
Khadijah merasa buruk karena dia selalu tertangkap basah oleh suaminya.
"Tolong ambilkan juga buat saya!" pinta Khoirul sembari mengulurkan kembali gelas di tangannya. Khadijah berniat mengambil gelas lain tapi Khoirul menginterupsi, "pakai ini saja."
"Tapi, Pak, ini bekas saya," ucap Khadijah.
"Nggak apa-apa. Memangnya kenapa? Kamu punya penyakit menular?"
Khadijah menggeleng, "Tentu saja nggak. Memangnya saya suka jajan di luar?"
"Memangnya kamu nggak pernah beli bakso? Ayam goreng di pinggir jalan?" tanya Khoirul dengan nada bercanda.
"Pernah dong, Pak."
"Lha terus kenapa kamu bilang nggak pernah jajan di luar?"
Ini maksudnya apa sih? Pria macam apa ini? Heran deh aku, batin Khadijah geram.
"Terserah bapak sajalah." Khadijah menuang kembali gelas tersebut dengan air putih, lalu menyodorkan pada Khoirul.
Khadijah speechless ketika melihat Khoirul menelan habis air putihnya tanpa rasa jijik atau semacamnya. Wanita itu heran setengah mati. Tidak mungkin seorang Khoirul bisa minum di gelas bekas miliknya. Apalagi mereka bukan orang yang saling mengenal sejak awal. Aneh!
"Kenapa melihat saya begitu?" tanya Khoirul.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya pamit ke kamar dulu."
"Tunggu! Mau bicara sebentar?"
Kesempatan bagus, batin Khadijah. Dia bisa bertanya mengenai hubungan aneh mereka.
"Boleh, Pak. Dimana?"
"Di meja makan saja."
Khoirul mendahului Khadijah menarik kursi yang tidak jauh dari posisinya. Sementara Khadijah menyusul. Beberapa detik mereka diam, lalu Khoirul memulai pembicaraan.
"Perkenalkan saya Khoirul, meskipun kamu sudah tahu siapa saya. Usia saya tiga puluh dua tahun," ucap Khoirul.
Hah? Tiga puluh dua tahun? Kenapa wajahnya setua itu? Batin Khadijah.
"Memang wajah saya terlihat tua. Sudah bukan rahasia umum," sela Khoirul.
Duh, salah bicara, batin Khadijah lagi.
"Ya saya kira bapak nggak sadar diri."
"Oke, point selanjutnya. Saya dua bersaudara, punya adik sama seperti kamu masih kuliah tapi bedanya dia sudah hampir lulus. IQ-nya di atas rata-rata dan sebentar lagi akan mendaftar S2 di London."
"Em, sepertinya masalah adik bapak saya nggak perlu tahu sedetail itu," ketus Khadijah. Sama saja Khoirul mengejek dirinya yang belum lulus juga di usia dua puluh lima tahun.
Khoirul tertawa kecil, hampir tidak terlihat oleh mata, "Siapa tahu kamu penasaran. Point ketiga, saya berkepentingan menikah dan kebetulan keluarga saya dan kamu memiliki koneksi yang nggak kamu tahu. Untuk lebih jelasnya, kapan-kapan lagi saya jelaskan. Kita lanjutkan tidur saja!"
"Tidur? Saya boleh minta kamar lain, Pak?" tanya Khadijah.
"Kenapa? Kamu takut saya mendengar dengkuran kamu?"
Dosen sialan! Batin Khadijah.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
biasanya ditiap novel tokohnya yang terlihat muda dari umurnya ini malah kebalik. kayaknya seru ni.
2023-09-28
0
Nayaka
cerita nya asik kak,bahasanya juga ringan
2023-09-18
0