Khoirul tidak mengindahkan masalah Fattan. Dia justru fokus pada ucapan Khadijah yang menurutnya terlalu kasar, "Bicara yang sopan! Saya ini bukan teman kamu. Pakai kata yang lebih baik maknanya, Dijah."
Khadijah memutar bola matanya, "Pak, dalam situasi genting mana bisa saya menggunakan kata-kata yang santai? Lagian bapak ini bukannya ikut panik."
Khoirul mulai melajukan kendaraannya, "Kenapa harus panik? Bicara saja kalau kamu sudah berangkat. Pantas saja kamu nggak lulus-lulus. Kinerja otak kamu kurang tiga puluh persen, Dijah. Inilah kenapa saya menginginkan kamu banyak belajar."
Wanita yang mengenakan setelah dengan warna sama itu merengut. Dia seperti sedang mengikuti kuliah pagi. Bedanya ruangan yang dia gunakan saat ini hanyalah kendaraan roda empat.
Khadijah menguap, sengaja agar Khoiri berhenti bicara, "Sudah lima menit, Pak. Bapak nggak bosan ngomel dari pagi ke pagi?"
"Ini nih yang saya kesal pada mahasiswi jaman sekarang. Ngeyel terus kalau dikasih tahu. Sekarang lebih baik kamu hubungi saja Fattan, bilang kalau kamu sudah berangkat," perintah Khoirul.
Khadijah menepuk dahinya, "Hampir lupa. Gara-gara bapak ngomel mulu."
"Saya lagi yang salah."
Khadijah ingin mencibir suaminya lagi tapi dia mengurungkan niatnya. Dia menghubungi Fattan dan menjelaskan apa yang dikatakan Khoirul tadi. Wanita itu hampir mengumpat karena Fattan masih saja memaksa ingin menjemputnya. Kalau saja Khoirul tidak mendelik padanya, semua sumpah serapah itu akan terdengar.
"Sudah?" tanya Khoirul.
"Sudah. Tolong menepi, Pak!"
"Kenapa?"
"Saya nggak mau terlihat bersama bapak," jawab Khadijah cepat. Dia sudah menenteng tasnya.
"Ini masih jauh, Dijah. Nanti saja setelah satu kilometer dari kampus," tolak Khoirul.
"Pak Khoirul," tegas Khadijah.
"Apa?"
"Tolonglah!"
"Nanti!"
"Ish, setiap hari selalu begini," gumam Khadijah. Hari kedua yang menyebalkan malah semakin menyebalkan berkat Khoirul. Perutnya memang sudah membaik tapi fasenya belum berakhir. Haruskah dia marah-marah?
"Setiap hari juga akan sama kalau kamu masih nggak mau mendengarkan suami kamu ini," sela Khoirul. Sebelum Khadijah menyahut, pria itu melanjutkan, "satu hal lagi. Saya nggak akan pernah malu punya istri kamu meskipun kamu mahasiswi abadi, Dijah. Silahkan kalau kamu malu soal saya, saya nggak peduli."
Khadijah bukannya malu, tapi dia takut dibully banyak orang. Tidak jaman lagi menikah karena perjodohan.
"Baiklah, saya menyerah. Terserah bapak saja."
Khadijah membuang muka. Khoirul melihat sekeliling dan menepikan mobilnya. "Tunggu sebentar!"
Pria itu turun dari mobil, berlari ke depan. Kedua matanya melihat ke segala arah, mencari taksi yang melewati arah jalan tersebut. Tangannya melambai dengan cepat, menyetop kendaraan umum itu.
"Tunggu sebentar, Pak," ucap Khoirul pada supir taksi. Dia berlari ke arah pintu penumpang, membukanya, "keluarlah!"
Khadijah menurut ketika Khoirul mendesaknya untuk masuk ke dalam taksi. Khoirul juga membayar biaya taksinya dan berpesan untuk berhati-hati pada pria paruh baya itu.
"Telepon kalau sudah sampai di kampus," ucap Khoirul.
"Iya, Pak."
"Ya sudah."
Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Ketika Khadijah mengeluarkan ponselnya, supir taksi itu bertanya padanya.
"Laki-laki tadi suaminya, Mbak?"
"Kenapa, Pak?"
"Perhatian sekali, Mbak. Mbak beruntung punya suami seperhatian itu. Mbak pasti bahagia," ucap supir taksi.
"Apa iya, Pak?" tanya Khadijah dengan suara pelan. Dia belum menemukan kebahagiaan yang dibicarakan pria paruh baya itu. Kehidupannya malah terkesan jungkir balik karena pernikahan tiba-tiba yang tidak dia kehendaki.
"Iya, Mbak. Sudah perhatian, ganteng, baik lagi. Idaman sekali pokoknya."
"Semoga saja begitu, Pak."
°°°
"Tumben kamu berangkat tepat waktu, Khadijah," ucap Fattan yang memburu Khadijah setelah melihat wanita itu berjalan ke arah koridor gedung universitasnya.
"Kenapa? Nggak boleh?" sungut Khadijah.
"Buru-buru sekali."
Khadijah tetap berjalan cepat tanpa memperdulikan Fattan, "Kamu sendiri bilang kan kalau aku berangkat tepat waktu. Sebentar lagi masuk. Please, minggir!"
"Nanti malam ada acara?"
"Nggak ada," ucap Khadijah tapi dia baru ingat kalau dia tidak tinggal di rumah orangtuanya lagi. Dia tiba-tiba berhenti, "aku sibuk. Ada acara sama Raisa."
"Oh, ya? Tapi bukannya bilang nggak ada?"
"Baru ingat."
"Aku nggak menerima penolakan. Nanti malam aku jemput."
"Nggak bisa, Fattan!" tegas Khadijah.
"Bisa."
"Nggak!"
"Kalau begitu, makan siang sama aku," paksa Fattan.
Khadijah berpikir sejenak. Lebih baik kalau dia makan siang dengan Fattan dari pada pria itu datang ke rumahnya. Bisa gawat!
"Oke."
Fattan memeluk paksa Khadijah, membuat wanita berontak. Pemandangan yang terlihat romantis itu mengundang perhatian. Salah satu orang bersiul, bahkan ada yang mengabadikan momen tersebut untuk dibagikan di grup kampus.
Khadijah merenggangkan pelukan mereka, "Apa-apaan sih kamu? Nggak sopan."
"Kenapa kalian masih ada di sini? Kelas sudah mau dimulai!" suara Khoirul menginterupsi. Tatapan tajamnya terfokus pada Fattan yang masih berusaha memeluk Khadijah lagi. "Kamu fakultas mana? Kenapa bisa ada di sini?"
"Saya, Pak? Saya fakultas bisnis, Pak. Saya ada keperluan dengan Khadijah, Pak," jawab Fattan.
"Kembali ke gedung kamu!"
"Baik." Fattan mengalah. Dia masih menatap sinis pada Khoirul yang selalu ada ketika dia dan Khadijah sedang bersama.
"Jangan-jangan dia hantu," gumam Fattan.
Sementara Khadijah kabur dari pandangan tajam Khoirul. Dia tidak menyangka jika seorang pria bisa sangat menyeramkan, lebih seram dari nilai D minus yang diberikan.
Ketika kelas dimulai, Khoirul memanggil Khadijah ke depan. Wanita itu tentu saja kebingungan.
Ada apa tiba-tiba panggil? Bikin jantung lompat-lompat, batin Khadijah.
"Mana tugas yang saya berikan tempo hari?" tanya Khoirul.
Astaga! Khoirul benar-benar meminta tugasnya. Khadijah pikir suaminya akan lebih melunak karena semalam dia sampai masuk rumah sakit. Ternyata sifat dan kelakuan Khoirul tidak ada bedanya seperti orang asing.
Untuk apa ikatan pernikahan itu ada kalau kenyataannya Khadijah masih dianggap mahasiswinya? Khadijah kesal. Raut wajahnya yang semula santai berubah mengeras dan tajam.
"Belum saya kerjakan, Pak," jawab Khadijah dengan berani.
"Keluar dari kelas saya!" Khoirul membuka laptopnya tanpa melihat wajah istrinya. Sudah bisa dipastikan bahwa Khadijah sedang membuat rencana untuk membalas dendam pada dirinya.
Tapi Khoirul tidak peduli. Dia kesal karena Khadijah masih saja berhubungan dengan Fattan dan bahkan saling memeluk di tempat umum. Untuk apa Khadijah sampai panik tadi?
Apa hal itu pantas dilihat? Istri macam apa yang bebas memeluk satu sama lain apalagi dengan pria lain. Khoirul tidak akan terima.
"Baik, Pak Khoirul yang terhormat," tukas Khadijah. Dia kembali ke mejanya, mengambil tas dan berlalu dari sana.
"Emang aku takut? Keluar dari mata kuliahnya aja aku berani," gerutu Khadijah. Dia mengambil ponselnya di dalam saku, menghubungi Fattan, "mau bolos nggak?"
"Siap. Kita mau kemana?" tanya Fattan antusias.
"Kemana saja asal nggak di kampus."
"Oke. Tunggu aku di tempat parkir. Aku meluncur dari sini."
"Oke," jawab Khadijah. Dia berjalan cepat menuju tempat parkir. Hanya satu yang dia ingat, dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat terkutuk itu. "Dasar manusia nggak punya perasaan!"
°°°
Pukul 20.00 ...
"Khadijah di rumah mama?" tanya Khoirul pada Ratna. Dia terpaksa menghubungi mertuanya karena tidak tahu lagi harus mencari Khadijah dimana.
"Nggak ada, Nak Khoirul. Ada apa? Khadijah kabur?"
Sial! Khadijah marah besar padaku, batin Khoirul.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Lies Atikah
Dijah jadi cewe gatel kalau sama Patan dipeluk pura2 gak mau padahal senang pura 2 jutek padahal
2025-03-31
0