Marwah menatap Khadijah dari atas ke bawah. Wanita itu tidak menyangka akan mendapat kejutan setelah Khoirul pergi.
"Ada apa? Ingat ada janji dengan saya?" sindir Marwah.
"Tentu saja saya ingat, Mama. Saya tadi ada janji dengan teman," elak Khadijah santai.
"Oh, janji dengan teman? Khoirul berbohong pada saya kalau begitu. Dia beralasan bahwa kamu sedang di kampus, sibuk belajar. Benar-benar suami yang baik karena menutupi aib istrinya."
Khadijah termenung. Dia salah bicara. Tapi dia tidak akan mengikuti apa yang mertuanya inginkan. Jika dia menjadi menantu yang penakut, maka selamanya dia akan diinjak-injak. Dengan berbekal keinginan yang kuat, Khadijah menyunggingkan senyum sok manis, "Mama, saya memang pergi ke kampus awalnya tapi kemudian saya ada janji dengan teman. Saya sudah beritahu Pak -eh- Mas Khoirul kok. Tanya saja sama orangnya."
Khadijah celingukan. Rumah itu sepi. Kemana penghuninya?
"Ngomong-ngomong, Ma, di mana Mas Khoirul?" tanya Khadijah bingung.
"Ini yang namanya suami istri? Kok kamu nggak tahu kalau anak saya sudah pulang?"
Lagi-lagi sindiran pedas Marwah mengejutkan Khadijah. Lalu kemana suaminya kalau di rumah orangtuanya saja tidak ada?
"Lebih baik kamu pergi," ucap Marwah. Dia melipat kedua tangannya di depan, "percuma datang. Makan malam sudah selesai."
"Mama," tegur Raden dari arah belakang. Pria itu menyapa Khadijah, kemudian menggelengkan kepalanya pada Marwah, "menantu kita kok diusir? Masuk dulu, Dijah. Sudah makan atau belum?"
"Sudah, Pa," jawab Khadijah.
"Tadi Khoirul cuma sebentar di sini. Mungkin kepikiran kamu. Emangnya di rumah nggak ada?"
"Nggak ada, Pa. Keluar sebentar barangkali," jawab Khadijah.
"Paling dia marah sama kamu karena nggak bisa datang. Tadi saja mukanya ditekuk melulu," sela Marwah.
Apa iya? Batin Khadijah.
Rasa bersalah itupun muncul. Khadijah memutuskan untuk pamit dan mencari suaminya. Tapi dia tidak tahu kemana harus mencari Khoirul. Hanya dua rumah itu yang dia tahu. Kalau di kampus sepertinya tidak mungkin.
"Bapak tahu kemana biasanya Pak Khoirul pergi?" tanya Khadijah pada supirnya.
"Maaf, Nyonya, Pak Khoirul jarang pergi kalau malam-malam begini. Sehabis dari kampus, ya pulang. Kalau tidak pulang ya pasti ke rumah orangtuanya. Saya kira Pak Khoirul ada di rumah tadi tapi ternyata tidak ada," jawab pria paruh baya yang sibuk menyetir itu.
Khadijah juga berpikir begitu. Tapi dia tidak menemukan Khoirul di rumah. Bagaimana ini?
°°°
"Bik Sani yakin nggak tahu di mana Pak Khoirul?" tanya Khadijah berulangkali.
Pulang dari rumah keluarga Khoirul, dia mencari ke segala arah menuju rumah Khoirul tapi tidak menemukan apapun. Setibanya di rumah, dia terus mencerca Bik Sani. Dia sangat yakin asisten rumah tangga itu mengetahui sesuatu.
Bik Sani yang sedang membersihkan kotak kulkas mengangguk yakin, "Yakin, Nyonya. Tuan juga tidak bilang mau kemana. Saya juga tidak berani bertanya karena takut Tuan marah. Kenapa Nyonya tidak telepon saja?"
Bukan masalah telepon, Khadijah malu karena ketahuan tidak menepati janji. Kalau bicara langsung wanita itu bisa menjelaskan secara rinci, tapi minus tentang Richard. Bagaimana kalau Khoirul berpikir dia selingkuh? Dia dan Richard hanya kebetulan saling bertemu.
"Em, itu, baterai saya habis, Bik," elak Khadijah.
"Pakai telepon rumah atau hape Bibik aja, Nyonya," tukas Bik Sani tidak ambil pusing.
"Nggak usah, Bik. Nanti saja kalau baterainya penuh. Saya naik dulu ya."
"Iya, Nyonya."
Bik Sani menggelengkan kepalanya, "Dua majikanku sama-sama gengsi."
°°°
Pukul 23.00 ...
Tidak terdengar suara mobil masuk ataupun kendaraan yang melewati rumah Khoirul. Khadijah sudah terjaga sampai malam hanya untuk menunggu suaminya, tapi tidak ada tanda-tanda Khoirul pulang.
"Tidur sajalah," gumam Khadijah akhirnya. Besok dia akan mencari di kampus jika memang Khoirul benar-benar tidak pulang. Khoirul tidak mungkin melewatkan jam kuliahnya. Dosen sedisplin itu mana mungkin mangkir dari tugas?
°°°
"Pak Khoirul belum pulang juga, Bik?" tanya Khadijah bingung.
Tempat tidur sampingnya kosong, di ruangan lain juga tidak ada. Khadijah membulatkan tekad untuk menghubungi namun tidak ada sambutan. Pikiran wanita itu sudah melayang kemana-mana.
Apa mungkin terjadi sesuatu di jalan? Batin Khadijah.
Bik Sani menggeleng, "Belum, Nyonya. Sudah ditelepon belum?"
"Sudah tapi nggak dijawab."
"Tunggu saja sampai nanti siang, mungkin Tuan pulang."
"Baiklah kalau begitu," ucap Khadijah malas. Dia membalikkan tubuhnya tanpa berniat menyentuh sarapannya.
"Sarapan dulu, Nyonya," teriak Bik Sani.
"Nggak lapar, Bik."
"Tunggu sebentar! Saya siapkan kotak sarapan dulu, Nyonya. Mau belajar tapi perut kosong nggak mungkin bisa."
Khadijah terpaksa berhenti. Dia juga tidak mungkin pergi kuliah dengan perut keroncongan. Pagi ini, saat dia terbangun, dia merasa ada sesuatu yang kurang. Walaupun hubungannya dan Khoirul tidak sedekat itu, tapi rasanya aneh kalau tidak melihat Khoirul.
Sesampainya Khadijah di kampus, dia dikejutkan lagi dengan kemunculan Richard. Kira-kira apa yang dilakukan pria itu sampai harus bolak-balik ke kampus? Khadijah juga tahu kalau dia tidak boleh meminta Richard untuk jauh-jauh dari tempatnya menimba ilmu. Fakultas itu juga bukan miliknya.
Khadijah sudah berusaha untuk mengelabui Richard, tapi sayangnya pria itu tahu keberadaannya.
"Hai lagi," sapa Richard dengan senyum lebarnya.
Khadijah celingukan, berharap tidak berpapasan dengan Khoirul, "Hai juga, Kak. Ada apa?"
"Kamu ini kenapa setiap bertemu denganku selalu bilang ada apa? Emangnya aku nggak boleh datang ke sini?"
Richard mengeluarkan jurus merengutnya. Para wanita tidak mungkin bisa bersikap biasa jika sudah melihat manusia setampan Richard.
"Bolehlah. Suka-suka kakak."
"Mau aku traktir makan pagi?"
Khadijah mengeluarkan kotak bekalnya, "Aku bawa makanan, Kak."
"Wah, ini baru namanya keren. Tapi kalau makan perlu minum kan? Aku belikan ya? Mau apa? Teh hangat, lemon tea dingin, teh hijau atau kopi hitam?"
Khadijah menggeleng, "Bukannya aku sudah bilang sama kakak kalau aku nggak bisa berhubungan lebih dari sekedar teman? Aku sudah dijodohkan, Kak."
"Bukannya aku juga sudah bilang kalau aku nggak apa-apa kalau kamu sudah bertunangan sekalipun? Selama janur kuning belum melengkung, aku akan tetap berusaha."
Speechless! Harusnya Richard datang sebelum dia dijodohkan dengan Khoirul. Dengan begitu, dia bisa memilih Richard ketimbang Khoirul. Richard jelas-jelas lebih menyukainya dari pada Khoirul. Perbandingan yang tidak adil.
"Selamat berusaha, Kak, tapi aku ada kelas. Sampai jumpa," elak Khadijah. Dia berlari sekuat tenaga, menghindari pemburu yang siap menangkapnya.
°°°
"Lihat Pak Khoirul nggak?" tanya Khadijah kesekian kalinya.
Wanita itu sudah berjalan ke sana-kemari hanya untuk bertanya dimana suaminya. Tapi batang hidung Khoirul belum juga terlihat. Bahkan kelas yang harusnya dia datangi tetap saja nihil. Mahasiswa-mahasiswinya saja sampai heran kenapa Khoirul sampai bisa absen.
Khadijah lelah. Dia tidak ingin lagi bermain petak umpet. Bodo amat mau Khoirul kabur ke ujung dunia sekalipun.
Khadijah memutuskan untuk mengakhiri pencariannya. Dia pulang dan tidak bertanya apapun pada Bik Sani. Biarkan saja!
Sampai pukul 17.00 ...
Dering ponselnya berbunyi, Khadijah berlari ke arah tempat tidur. Hatinya sungguh berharap bahwa yang menghubunginya adalah Khoirul. Tapi ternyata Raisa.
"Ada apa, Sa?" tanyanya lesu.
"Kamu cari Pak Khoirul kan? Aku lihat tadi dia masuk ke ruangannya, sepertinya baru datang. Cepetan kalau kamu mau konsultasi. Keburu orangnya pergi lagi!"
Aku nggak akan pergi, batin Khadijah bertekad.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments