"Kamu yakin mau ke sini?" tanya Fattan berungkali.
Khadijah tiba-tiba mengajaknya kabur dari kelas hanya untuk berputar-putar di pusat perbelanjaan. Setelah itu, Khadijah tidak tahu lagi harus kemana. Tapi ketika wanita yang memakai kemeja hitam yang memperlihatkan perut ratanya itu melihat club malam, tiba-tiba sebuah ide muncul.
"Yakin. Emang kenapa sih? Dikira aku nggak pernah main ke tempat kayak gini?" sungut Khadijah.
Fattan tersenyum misterius. Kesempatan bagus untuk membuat Khadijah menerima cintanya. Dengan secepat kilat, Fattan membimbing wanita itu untuk masuk ke dalam tempat yang penuh dengan pemilik otak-otak kotor.
Sekumpulan pria dengan logat bahasa yang tidak menentu, melihat ke arah Khadijah. Fattan mencoba menghalangi pandangan mereka pada mangsanya.
Khadijah tentu mengetahui apa yang sedang dipikirkan Fattan. Wanita itu mengisyaratkan Fattan untuk mendekat, "Apa yang kamu pikirkan nggak akan semudah itu kamu dapatkan, Tan."
"Maksudnya?" tanya Fattan bingung.
Khadijah menghendikkan bahu, "Wanita pada umumnya."
"Sial! Percuma dong aku ikutin mau kamu?"
"Hm, mungkin," ejek Khadijah.
Fattan menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Sungguh menyebalkan. Padahal dalam bayangannya dia dan Khadijah akan melakukan hal romantis, minimal kissing-kissing cantik. Tapi zonk! Salah besar!
"Bayarin aku minum, tapi jangan alkohol. Soda ya?" desak Khadijah.
"Bukannya kamu udah tahu kalau di club nggak ada minuman soda? Emang warung pinggir jalan?"
Khadijah mendesis kesal, "Aku juga tahu."
"Aku antar pulang saja ya?"
Terlihat jika mood Fattan memburuk gara-gara Khadijah. Pria itu bahkan tidak lagi berniat melakukan sesuatu pada Khadijah.
"Ke rumah Raisa saja," putus Khadijah. Dia berpikir jika dia pulang ke rumah orangtuanya malah semakin memperpanjang masalah. Bukan karena dia takut Khoirul, tapi dia menghargai orangtuanya.
"Oke."
Fattan tidak bertanya apa-apa lagi. Dia tidak ingin tahu alasan Khadijah menginap di rumah Raisa ketimbang ke rumah orangtuanya.
Perjalanan ke rumah Raisa hanya memakan waktu tiga puluh menit. Begitu Raisa melihat batang hidung Khadijah, wanita itu terkejut.
"Tumben malam-malam datang. Ada acara apa?" tanya Raisa bingung.
Khadijah menggeleng lesu, "Malam ini aku menginap ya? Malas pulang."
Khadijah menyapa orangtua Raisa sembari meminta ijin untuk menginap. Orangtua Raisa yang sudah mengenal Khadijah lama, tidak akan berpikir panjang untuk mengijinkan Khadijah. Malah beliau senang karena sudah lama tidak melihat Khadijah.
Wanita berusia lima puluh tahun itu membawa nampan berisi buah dan susu segar ke kamar putrinya. "Makan dulu, Dijah."
"Terimakasih, Tan."
"Kamu kemana akhir-akhir ini? Kayak dipingit saja, jarang muncul," ucap Tanti, Mama Raisa, yang selalu ramah jika menyambut tamu.
Khadijah menyunggingkan senyum tipis, "Em, sibuk, Tan."
"Skripsi?"
"Iya, Tan."
"Semangat ya. Raisa juga sudah waktunya fokus pada skripsi. Tante permisi dulu ya, kalau ada apa-apa minta saja ke bawah. Selamat bersenang-senang," tukas Tanti.
"Tentu, Tan, terimakasih," ucap Khadijah.
Setelah Tanti pergi, Khadijah memasang mode serius. Dia menghela nafas berat.
"Ada apa sih?" tanya Raisa. Dia bersiap mencerca sahabatnya tapi ada halangan yang harus dia selesaikan, "tunggu sebentar! Aku mau ke kamar mandi. Jangan tidur dulu ya! Awas!"
"Iya, iya."
Khadijah menatap layar ponselnya yang belum berkedip sejak tadi. Timbul banyak pertanyaan di kepalanya. Apa yang dilakukan suaminya sampai tidak ada pesan untuk dirinya? Tidakkah Khoirul merasa bersalah telah membentaknya? Apa jangan-jangan hatinya memang terbuat dari batu?
Belum selesai pemikiran-pemikiran Khadijah, bunyi ponsel Raisa terdengar. Penasaran Khadijah mencari dimana benda itu berada. Khadijah menemukannya di atas meja rias. Dia mengambil benda tersebut, sedikit mengendap-endap.
Khadijah berniat memberikannya pada Raisa tapi melihat nama yang tertera di layar membuat hatinya berdesir. Khoirul.
"Kenapa dia menelepon Raisa? Yang istrinya aku atau Raisa sih?" gumam Khadijah.
Ingin rasanya Khadijah memaki namun di kepalanya tercetus sebuah ide. Panggilan tersebut ditolak mentah-mentah. Ditekannya tombol off pada sisi kanan ponsel hingga layar di depannya menggelap. Setelah itu, Khadijah membawa benda itu masuk ke dalam kolong ranjang, memanipulasi agar Raisa tidak bisa menemukannya.
Sejujurnya Khadijah takut jika Raisa membocorkan dimana dia berada. Terakhir kali Raisa bercerita bahwa ada dosen yang menghubunginya malam-malam hanya untuk bertanya dengan siapa dia bermain. Saat itulah otak Khadijah bekerja. Dia mencurigai Khoirul.
Tidak ada yang tidak mungkin. Khoirul pasti punya seribu cara agar dia bisa ditemukan.
Beberapa saat kemudian, Raisa muncul dengan wajah lega. Dia melangkah menghampiri Khadijah, "Ayo, cerita padaku, Sayang! Apa yang membuat kamu tiba-tiba muncul di depan pintu rumahku. Ngomong-ngomong kamu diantar siapa tadi?"
"Fattan," jawab Khadijah.
"Hah? Fattan? Yakin?"
"Hm," gumam Khadijah.
"Gara-gara debat dengan Pak Khoirul tadi, kamu jadi frustasi begini?" tanya Raisa tidak percaya.
"Malu dong, Sa. Aku segede ini, dimarahi di depan kelas. Kalau kamu jadi aku, kamu pasti kesal."
"Jelaslah, aku juga pasti kesal. Tapi aku juga tahu diri. Kamu sih nggak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Pantaslah kalau Pak Khoirul marah," ucap Raisa enteng.
Khadijah bersiap menjitak kepala Raisa tapi Raisa berhasil mengelak.
"Yee, aku kan nggak salah," elak Raisa.
"Kamu sahabat siapa sih? Aku atau Pak Khoirul?"
"Ya kamulah, tapi aku kan realistis."
Khadijah mencibirnya, "Bantu mengerjakan tugas ya?"
"Bisa bayar berapa?" canda Raisa.
"Em, traktir besok siang deh."
"Oke. Tapi aku cari ponsel dulu ya. Kamu lihat nggak?" tanya Raisa bingung. Dia mencari di meja rias bahkan di laci tapi tidak menemukan apapun.
Sementara Khadijah berpura-pura tidak tahu dan ikut mencari. Sampai akhirnya, Khadijah mengurungkan niatnya dan memaksa Raisa melupakan ponselnya dengan alasan lapar.
°°°
Di tempat lain, ada orang yang kebingungan dengan tingkah istrinya.
"Nggak ada, Nak Khoirul. Ada apa? Khadijah kabur?" tanya Ratna bingung.
Sial! Khadijah marah besar padaku, batin Khoirul. Pria itu sudah menghubungi Raisa tapi panggilannya ditolak.
"Bukan begitu, Ma. Mungkin Khadijah masih di kampus. Tadi katanya ada tugas. Kalau begitu aku cari dulu di kampus, Ma," jawab Khoirul.
"Kamu nggak bohong kan?"
"Tentu saja nggak, Ma."
"Ya sudah. Kalau Khadijah sudah pulang suruh hubungi mama!" titah Ratna.
"Baik, Ma."
Khoirul menutup panggilannya. Helaan napas berat terdengar menyesakkan. Ketegasannya akhirnya membawa dampak buruk. Siapa suruh Khadijah tidak mau mengindahkan peringatannya?
Bik Sani sejak tadi melihat kekhawatiran Khoirul. Wanita itu menghampiri majikannya, "Nyonya belum pulang, Tuan?"
"Belum, Bik. Sedang banyak tugas makanya pulang malam." Khoirul sebisa mungkin menyembunyikan permasalahan mereka.
"Oh, tugas ya, Tuan? Kalau boleh bibi bicara, Nyonya kan masih dalam tahap adaptasi ya dengan Tuan. Apa tidak sebaiknya Tuan bersikap lebih lunak pada Nyonya?"
"Memangnya saya terlalu keras ya, Bik?" tanya Khoirul pelan.
"Kalau boleh jujur sih iya, Tuan."
"Em, begitu ya?"
"Iya, Tuan. Maaf sebelumnya kalau saya harus bicara seperti ini. Saya permisi dulu kalau begitu, Tuan," ucap Bik Sani. Dia melipir ke belakang.
Khoirul mengambil ponselnya dan memanggil kontak Khadijah. Percobaan pertama sudah pasti tidak membuahkan hasil. Baru percobaan kelima, Khadijah menerima panggilannya. Tapi ...
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments