Khadijah menelan ludah, gugup.
Aku harus jawab gimana ya? Kalau aku bilang nggak, dia kan suamiku. Mau nyosor juga nggak apa-apa. Tapi kalau aku bilang iya, rasanya kok aku mirip wanita yang suka minta jatah ke suami. Tapi Pak Khoirul nggak cocok sama aku, kalau teman-teman tahu, bisa mati kutu. Gimana ini? Oh tunggu, aku kan sedang datang bulan, batin Khadijah menyeruak.
Sebagai ganti kebingungan hatinya, mata Khadijah berkedip-kedip, persis boneka yang dua kelopak matanya bisa dinaik turunkan.
Khoirul menyunggingkan senyum tipis melihat kegugupan wanita di hadapannya. Dia membelai puncak kepala Khadijah, "Di rumah ya?"
"Bapak mau saya jawab apa? " tanya Khadijah semakin gugup. Getaran di dalam hatinya membuat wanita itu tidak tahu harus mengatakan apa. "Saya kan sedang datang bulan."
Astaga, aku lupa, batin Khoirul. Terlalu berambisi membuat otaknya kurang terkontrol dengan baik.
Khoirul menggaruk hidungnya, malu, "Saya lupa."
"Makanya, bapak itu jangan keseringan nonton film kurang bahan," cela Khadijah. Dia memberikan ruang pada mereka dengan sedikit menggeser kursi. Setelahnya, wanita itu mengaduh kesakitan. Jarinya mencengkeram perut, matanya menyipit.
"Kenapa? Sakit lagi? Minum dulu," tukas Khoirul sembari mengangsurkan minuman kemasan tadi.
Khadijah enggan meminumnya tapi dia terpaksa mengikuti keinginan suaminya. Tanpa banyak bicara Khoirul membawa Khadijah untuk berbaring di sofa yang tidak terlalu panjang.
"Berbaringlah sebentar. Saya ada urusan di kantor dekan. Saya kunci pintunya dari luar ya biar nggak ada yang masuk," ucap Khoirul.
"Hm."
Khadijah masih sempat melihat Khoirul keluar dari ruangan dan mengunci pintu. Wanita itu memaksa matanya terpejam agar rasa sakitnya agak berkurang.
°°°
Dua jam kemudian ...
Khadijah membuka matanya, berkedip bingung. Kenapa dia bisa ada di kamarnya? Kapan Khoirul memindahkannya? Bagaimana caranya pria itu membawanya keluar dari ruangannya?
Duh, kalau ada orang lain yang tahu gimana? Pak Khoirul nggak mungkin ceroboh kan? Batin Khadijah.
Wanita itu turun dari ranjang, celingukan ke kamar mandi. Tidak ada suaminya di sana. Khadijah memutuskan untuk mandi terlebih dahulu setelah membersihkan diri. Dia turun ke dapur untuk mencari makan malam.
Di saat wanita itu sibuk menyapa Bik Sani, muncul Khoirul dari arah halaman samping. Khoirul mendekat padanya dan bertanya apa dia baik-baik saja.
"Baik," jawab Khadijah pendek. Dia ingin mengambil satu potong nugget buatan sendiri, tapi Khoirul mencegahnya, "kenapa?"
"Duduk yang benar!" perintah Khoirul. Dia menarik Khadijah untuk duduk di salah satu kursi meja makan, lalu menaruh sepiring nugget, nasi dan sambal kentang. "Makan yang benar. Duduk yang manis kalau mau makan. Nggak baik."
Khadijah sudah membuka mulut untuk mengelak, Khoirul kembali melanjutkan, "Bukannya menggurui tapi menjelaskan. Kalau kamu nggak dibilangin, kamu pasti ngenyel. Ya kan?"
"Nggak juga," jawab Khadijah malas. Dia mulai menyuapkan makanannya. Rasanya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Wanita itu semakin mempercepat proses penyerapan karbohidrat ke dalam perutnya.
"Pelan, Dijah. Emang ada yang ngejar kamu?"
"Nggak. Biar cepat saja, Pak. Saya kan mau tidur lagi."
"Tugasnya belum dikerjakan? Besok bukannya ada kelas saya?"
Khadijah memutar bola matanya, "Saya ijin ya, Pak."
"Nggak bisa!"
"Kenapa?"
"Karena kamu harus bertanggung jawab. Saya akan membantu kamu menyelesaikan skripsi kalau kamu jadi anak baik," ucap Khoirul. Melihat Khadijah makan dengan lahap, Khoirul merasa lapar juga. Dia mendekatkan wajahnya, "boleh minta beberapa suap?"
"Saya ambilkan ya?" Khadijah menolak makan satu piring dengan Khoirul.
"Nggak. Saya mau kamu yang suapin."
"Tapi, Pak," tolak Khadijah. Dilihatnya Bik Sani tersenyum malu melihat tingkah mereka berdua.
"Saya akan pergi, Nyonya. Tugas saya sudah selesai. Kalau ada apa-apa panggil saya di belakang ya," sela Bik Sani, lalu segera menyingkir.
Khoirul memberikan isyarat agar Khadijah tidak beralasan lagi. Dia belum pernah bertingkah manja tapi menghadapi wanita keras kepala macam Khadijah, dia perlu mencoreng sifat tegasnya.
Khadijah mendesis pelan, lalu menyuapkan satu sendok penuh, "Buka mulut, Pak."
"Emangnya saya ini sapi? Gede banget suapannya," keluh Khoirul.
"Biar cepat kenyang, Pak. Pak Khoirul ini repot amat. Mau disuapin nggak sih?"
"Iya, ya. Begitu saja marah."
Khoirul menerima suapan yang terlampau besar itu. Beberapa butir nasi terlempar ke lantai dan wajah pria itu. Khadijah tertawa terbahak-bahak melihat rupa suaminya yang terlihat konyol.
Khoirul merengut sembari mengunyah. Dalam hati dia merasa aneh ketika melihat Khadijah. Dia seperti tersihir oleh senyuman manis istrinya. Andai saja dia berani menyentuh istrinya setidaknya meminta kecupan yang untuk pertama kali dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Ketika selesai mengikrarkan janji sehidup semati, Khoirul hanya memberikan kecupan yang seringan bulu. Dia belum tahu jika sudah tinggal bersama, semuanya terasa lebih indah.
"Puas belum?" tanya Khoirul.
Khadijah mengangguk, dia mengusap ekor matanya yang mengembun, "Sudah."
"Bersihin!"
"Nggak ah," tolak Khadijah. Dia mengambil sendoknya lagi, tapi Khoirul menghalangi.
"Mau bantu bersihin atau saya cium?"
"Coba saja kalau berani, Pak."
Khoirul menarik dagu Khadijah, lalu memberikan kecupan yang tidak terduga pada wajah wanitanya.
Cup!
Mata Khadijah mendelik, "Pak Khoirul."
"Saya kan sudah peringatkan tadi." Khoirul berusaha tenang meskipun dalam hati dia bersorak karena mendapat kesempatan juga.
"Curang," keluh Khadijah. Dia membuang muka. Sial! Hatinya bergemuruh hebat.
"Selesaikan makannya. Saya mau tidur dulu."
"Tunggu, Pak," cegah Khadijah. Dia terpaksa membalikkan wajahnya lagi, "bapak tadi bawa saya pakai apa?"
"Mobil."
"Bukan itu maksudnya, Pak. Tapi waktu saya tidur di ruangan bapak."
"Saya gendong. Emangnya orang tidur bisa jalan sendiri?" jelas Khoirul. Jawabannya selalu tidak mau to the point. Khadijah harus banyak menerka. Menyebalkan!
"Ya kali saya didorong sampai parkiran. Maksudnya apa orang-orang nggak curiga? Bapak kan dosen, tiba-tiba bawa mahasiswinya keluar kampus kan aneh."
"Suasananya sepi, Dijah. Saya bisa leluasa bawa kamu."
"Yakin, Pak?"
"Yakin."
Khadijah masih belum percaya dengan alibi Khoirul. Tapi dia juga tidak punya alasan untuk tidak percaya. Matanya tertutup rapat dan dia terbang ke alam mimpi. Dari pada berkonsentrasi dengan Khoirul yang sekarang dia tahu sifatnya tak ubahnya seperti anak SMA, Khadijah hanya mengangguk.
Dia mulai berpikir bagaimana caranya menentramkan hatinya yang tiba-tiba berubah.
Pak Khoirul emang biang masalah, batin Khadijah.
°°°
Pukul 23.15 ...
Khadijah merasakan perutnya melilit. Dia belum sempat terbang ke alam mimpi tapi perutnya bergejolak. Gelombang di bawah sana semakin menjadi-jadi. Khadijah sudah meremas perutnya dengan sekuat tenaga tapi dia tidak mampu menahan perih.
Keringat dingin menyeruak ke seluruh wajahnya. Khadijah hendak mengambil obat di nakas tapi dia kesulitan. Wanita itu tidur di sofa karena tadi melihat Khoirul terlelap nyaman di ranjang. Dia akhirnya mengalah.
"Ayolah," gumamnya.
Obat yang dibeli Khoirul tadi, sengaja diletakkan di sana agar Khadijah mudah menggapai. Tapi perkiraan manusia tentu tidak seindah yang dibayangkan. Ketika wanita itu bangkit, tubuhnya limbung dan kesadarannya menurun.
Brukk!
"Khadijah!"
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments