Empat puluh menit yang lalu ...
Khoirul mengerutkan keningnya melihat ponselnya yang berkedip-kedip. Nama Ratna muncul setelah nama Samsul yang menghubunginya tadi.
"Ada apa ya?" gumam Khoirul.
Khoirul menerima panggilan dari mama mertuanya itu. "Iya, Ma. Gimana kabar, Mama?"
"Mama baik, Khoirul. Ada yang mau mama tanyakan sama kamu."
"Ada apa, Ma?"
"Kamu di kampus?"
Khoirul mengangguk perlahan, "Di kampus sejak pagi tadi. Mama mau mampir?"
"Sibuk nggak?"
"Nggak."
Khoirul kebingungan dengan sikap Ratna. Pertanyaan yang tidak langsung menjurus ke intinya selalu menyebalkan untuk didengar.
"Bisa tolong mampir ke rumah sebentar? Rumah mama. Em, ke rumah kamu juga nggak masalah. Tolong ambil pakaian untuk Khadijah sama itu, kamu tahu kan bantal yang buat datang bulan wanita? Kalau di rumah nggak ada, beli aja di supermarket. Jangan yang aneh-aneh, yang normal saja. Sizenya agak panjang sedikit. Ngomong-ngomong kamu paham kan apa yang mama katakan?" tanya Ratna. Dari nada bicaranya sepertinya Khoirul belum terlalu paham dengan penjelasannya.
Awalnya Khoirul memang kebingungan tapi dia ingat dengan iklan di televisi yang selalu dia lihat. Setelahnya pria itu menjawab pertanyaan mama mertuanya.
"Paham, Ma. Yang normal tapi agak panjang. Lalu baju ganti. Setelah itu, Ma?"
"Em, ice bag. Isi dengan air hangat. Punggung bawah Khadijah selalu sakit kalau masa-masa begini. Hati-hati ya dia pernah pingsan soalnya, Khoirul. Sakitnya luar biasa."
"Baik, Ma. Aku akan segera bergerak."
"Terimakasih ya," sahut Ratna.
Khoirul mengiyakan. Dia menyimpan ponsel di saku lalu mengambil kunci mobil. Membawa baju ganti tidak masalah untuk Khoirul, tapi membeli barang yang diperlukan Khadijah belum pernah dia lakukan. Dia berniat meminta Bik Sani untuk membelikannya tapi pasti Khadijah menunggu terlalu lama.
Pria itu akhirnya membulatkan tekad. Dia masuk ke supermarket yang tidak terlalu besar, lalu bergerak ke arah perlengkapan wanita. Dia melihat cukup lama sampai akhirnya menjatuhkan pilihan pada benda berbungkus warna merah muda tersebut yang menurutnya berukuran panjang dan berbentuk normal.
Khoirul membawanya ke kasir. Wanita dengan pakaian merah hitam tersebut melihat ke arah Khoirul dengan senyum dikulum.
"Semuanya tiga puluh ribu, Pak," ucap sang kasir.
Khoirul memberikan uang lima puluh ribuan dengan senyum simpulnya. Dia bukannya malu tapi dia belum terbiasa.
"Buat istri atau pacar, Pak?" tanya sang kasir lagi.
"Istri, Mbak."
"Mau minuman pereda juga tidak?"
"Bisa buat pereda nyeri?" tanya Khoirul penasaran.
"Tentu saja bisa, Pak. Obatnya juga ada kalau mau."
Obat? Khoirul berpikir sejenak. Kalau untuk obat-obatan dia lebih suka membeli di apotik. Pria itu menggeleng, "Itu saja, Mbak."
"Baik, Pak. Saya total dulu ya."
Khoirul mengangguk.
°°°
Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Khoirul mempercepat kendaraannya setelah keluar dari tempat parkir apotik. Dia bergegas ke ruangannya untuk meletakkan pakaian dan juga obat-obatan.
Awalnya pria itu ingin menenteng barang yang dia beli di supermarket tapi kalau ketahuan mahasiswa lain, dirinya bisa dianggap dosen yang tidak punya moral. Dia membawa tasnya ikut serta dan juga membawa jaketnya.
Khoirul tidak pernah berlari melewati lorong-lorong universitas. Dia mendapat perhatian penuh dari mahasiswa-mahasiswinya. Pria itu sedikit membalas sapaan mereka lalu melambatkan langkah ketika melihat kelas Khadijah.
Samar-samar terdengar suara laki-laki dan perempuan sedang berbicara, lebih tepatnya saling adu argumen. Firasat Khoirul mengatakan bahwa Khadijah bertemu lagi dengan pria itu.
Melihat Khadijah dipaksa keluar membuat dirinya marah. Dia berlari ke arah mereka, mencoba melerai tapi kenyataannya dia masih bisa berpikir logis. Dengan sedikit adu pendapat, Khoirul berhasil mengusir Fattan.
"Dari mana bapak tahu kalau saya butuh itu semua?" tanya Khadijah dengan pandangan bertanya.
Khoirul menautkan jaket miliknya ke arah lingkaran perut Khadijah, "Mama Ratna. Mama nggak bisa datang dan menyuruh saya mengantarkan ini sama kamu."
Khadijah mendesis tanpa suara. Khoirul membawa tas Khadijah dan meminta wanita itu untuk jalan lebih dulu. Tapi Khadijah berbalik, mengambil tasnya.
"Kalau bapak yang bawa bisa-bisa saya dicurigai," tukas Khadijah.
"Oke."
Khadijah berjalan lebih dulu, disusul Khoirul beberapa menit setelahnya. Wanita itu masuk ke ruangan suaminya dan melihat satu paper bag besar di atas meja.
"Lebih baik kamu ganti baju saja di sini. Saya akan keluar. Kalau sudah selesai berikan tanda," ucap Khoirul.
"Nggak bisa, Pak. Harus di kamar mandi supaya bersih," tegas Khadijah.
"Em, baiklah," gumam Khoirul. Dia menggaruk kepalanya, bingung harus bagaimana. Dia hanya diam melihat Khadijah membawa barang-barang itu keluar.
Khoirul merasa harus mengawasi istrinya. Dia membuntuti Khadijah dengan jarak satu meter di belakangnya. Pria itu baru berhenti ketika Khadijah masuk ke dalam toilet wanita.
Lima belas menit kemudian ...
"Bapak masih ada di sini?" tanya Khadijah bingung. Dia membawa paper bag tersebut dengan erat, takut terlihat oleh Khoirul dan baunya sampai kemana-mana.
"Menunggu kamu. Ke ruangan saya sebentar."
"Tapi saya mau pulang, Pak."
"Tempat kamu pulang, sama dengan tempat saya pulang, Dijah. Jadi, menurutlah!" perintah Khoirul.
"Baiklah."
Khoirul melihat ke kanan kiri sebelum masuk ke dalam ruangannya. Semoga tidak ada yang melihat mereka masuk bersama.
"Duduklah!"
Khadijah duduk di kursi tamu tapi Khoirul membawanya duduk di kursi miliknya yang lebih lembut. Dia mengeluarkan ice bag lalu meminta Khadijah untuk menunduk.
"Letakkan kepala kamu di atas meja!" pinta Khoirul.
"Oke."
Khadijah menjadi lebih penurut hari ini. Khoirul menempelkan ice bag ke punggung bawah hingga menyentuh pinggang istrinya. Dia berjongkok di samping kursi dengan lutut menopang tubuhnya.
"Gimana?" tanya Khoirul. Dia penasaran apakah yang dia lakukan membuat Khadijah lebih baik. "Kalau belum baik juga, minum obat dulu ya. Saya beli obat di apotik tadi sama minuman pereda nyeri."
"Em, nanti sajalah, Pak," gumam Khadijah.
Khoirul memastikan Khadijah nyaman dalam perhatiannya. Perlahan digerakkan ice bag hot pack tersebut ke arah yang semestinya. Wanita itu diam, memejamkan mata menikmati sentuhannya.
Ketika kening Khadijah mengerut, Khoirul mengusapnya. Wanita itu terkejut karena mendapat perhatian yang tidak terduga.
"Jangan main sentuh dong, Pak," keluh Khadijah.
"Kenapa? Dari tadi kan saya menyentuh kamu."
Khadijah mulai berpikir bahwa Khoirul benar. Dia menunduk malu. Taringnya seketika menumpul. Dia tidak bisa mengelak.
Melihat Khadijah tidak berkutik, membuat Khoirul semakin ingin menggodanya. Diusapnya pipi wanita itu hingga ronanya berubah menjadi merah. Lututnya terasa nyeri karena menopang tubuhnya terlalu jauh.
Oh Tuhan, kenapa Khadijah manis sekali sih kalau lagi begini? Batin Khoirul menyeruak.
Keinginan hatinya untuk melakukan lebih justru membuat pria itu mundur. Ditariknya lengannya lagi, lalu fokus pada apa yang dia lakukan.
"Pak, saya haus," ucap Khadijah.
"Mau minum apa?"
"Minuman tadi aja. Mana?"
Khoirul mengobrak-abrik paper bag di atas meja, membuka penutup botolnya dan menyerahkan pada Khadijah. Khadijah sedikit menegakkan tubuh, tapi dia terlalu terburu-buru sampai akhirnya isi minuman tersebut mengenai wajahnya.
Refleks Khoirul mengambil tisu untuk membersihkan tetes airnya. Hatinya yang sudah bergemuruh semakin tidak karuan. Apalagi jarak wajah mereka yang tidak bisa dianggap enteng.
"Dijah, apa saya boleh meminta hak saya?" tanya Khoirul dengan suara parau.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments