"Khadijah!"
Suara orang terjatuh membangunkan Khoirul. Dia tidak benar-benar tidur, entah kenapa. Dia mengetahui Khadijah masuk kamar dan tidur di sofa tapi dia tidak mengatakan apapun. Karena kecupan singkat yang dia lakukan tadi, malah membuat dirinya linglung. Dia baru akan tidur ketika suara Khadijah terdengar gelisah.
Khoirul memburu Khadijah, membawa wanita itu naik ke tempat tidur. Ditepuknya wajah Khadijah tapi tidak ada respon. Khoirul panik, dia memeluk tubuh istrinya dan membawanya turun.
Berat badan yang jelas-jelas tidak seringan itu membuat Khoirul harus melakukan tenaga ekstra.
"PAK, TOLONG SIAPKAN MOBIL!" Teriak Khoirul pada supirnya.
Semua orang yang ada di rumah itu mulai panik. Khoirul tidak segan-segan marah pada mereka yang terlalu lamban melakukan perintahnya. Bik Sani juga ikut terbangun. Wanita paruh baya itu tidak sempat mengumpulkan nyawa dan langsung memburu Khoirul.
Bik Sani membuka pintu mobil, membantu Khoirul menempatkan Khadijah di pangkuannya. Supir melajukan mobil dengan kecepatan sedang namun menyalip beberapa kendaraan. Ketika mereka sampai di UGD, Khoirul berteriak pada perawat untuk segera membawakan brankar.
"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Khoirul pada dokter setelah beberapa saat paramedis menangani istrinya.
"Tidak apa-apa, Pak. Hal ini sering terjadi ketika wanita sedang dalam masa datang bulan. Kami akan memberikan obat pereda nyeri agar kondisinya membaik," jelas dokter.
"Apa perlu menginap, Dok?"
"Tidak perlu, Pak. Setelah pasien sadar, pasien boleh pulang."
"Terimakasih, Dok," ucap Khoirul. Dia memburu Khadijah yang masih terlelap. Dengan sentuhan lembut dia mengusap dahi istrinya. Dia tidak menyangka jika Khadijah separah itu. Harusnya dia tadi lebih perhatian pada istrinya bukannya malah diam. "Maafkan aku, Dijah."
°°°
Tiga puluh menit kemudian, Khadijah membuka matanya. Wanita itu menatap Khoirul dengan bingung, "Saya kenapa, Pak?"
"Pingsan. Gimana? Sudah lebih baik?"
Khadijah berpikir sejenak, perutnya sudah tidak sakit lagi. "Lumayan, Pak."
"Kalau begitu, saya bicara pada dokter dulu. Katanya kamu boleh pulang kalau sudah sadar."
Tidak seperti biasa, Khadijah mencegah suaminya pergi, "Sebentar lagi ya, Pak. Saya masih belum ingin pulang."
"Kenapa?" tanya Khoirul bingung.
"Ingin saja."
Khadijah merasa inilah kesempatannya untuk mangkir dari tugas yang diberikan oleh Khoirul. Dia juga bisa beralasan bahwa dia sakit dan tidak boleh banyak berpikir.
Khoirul seakan tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya, "Kamu mau bolos kuliah?"
"Bukannya mau, Pak, tapi kan emang saya sakit. Bapak mau saya pingsan di kampus?"
"Dokter sudah meresepkan obat pereda nyeri, diminum sebelum berangkat ke kampus. Jadi nggak ada alasan kamu pingsan. Nanti saya akan pantau kamu selama di kampus," jelas Khoirul.
Skakmat! Khadijah tidak bisa berkutik. Satu alasan sudah dibabat habis oleh suaminya. Mau tidak mau dia menuruti keinginan Khoirul untuk pulang. Tapi yang namanya Khadijah mana mungkin membiarkan Khoirul tenang. Ada saja yang dia lakukan agar suaminya marah padanya.
Entah itu minta handuk hangat, minta air minum atau makan snack. Khadijah tidak mengindahkan waktu yang sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Kamu mau begadang semalaman? Saya ada rapat jam delapan besok. Kalau saya nggak tidur, saya bisa terlambat datang," keluh Khoirul.
Khadijah menaikkan bahunya, acuh, "Ya sudah tidur saja, Pak. Saya juga sudah mau tidur."
"Awas, jangan macam-macam! Kalau kamu bangunkan saya sebelum subuh, saya akan melakukan segala cara agar kamu diam," ancam Khoirul.
Seketika Khadijah mengkerut, dia ingat kecupan yang tidak terduga tadi. Oh, tidak!
Wanita itu memasang selimut dan menutup mata. Khoirul tersenyum simpul melihat ketakutan Khadijah. Dia sendiri ikut terbang ke alam mimpi bersama istrinya.
°°°
"OH MY GOD!" teriak Khadijah.
Pagi-pagi dia mendapat kejutan yang tidak terduga. Wajahnya dan wajah suaminya terlalu dekat, bahkan salah satu kaki Khoirul ada pada pinggang Khadijah.
Khadijah yang belum siap dengan keadaan itu, mendorong Khoirul ke arah berlawanan. Dia tidak menggunakan tenaga dalam, hanya dorongan kecil pada bagian bawah Khoirul.
Khoirul berteriak pelan sembari menyentuh miliknya yang berharga. Sepasang matanya mendelik pada Khadijah, "Apa yang kamu lakukan pada saya?"
"Seharusnya saya yang bertanya begitu pada bapak. Ngapain bapak peluk-peluk saya?" tantang Khadijah.
"Urusan pelukan bukan hal yang penting di sini. Kamu lihat apa yang telah kamu lakukan? Kalau meleset sedikit saja, kita nggak bisa punya anak. Saya nggak mungkin bisa memuaskan kamu, Dijah. Kalau mau balas dendam harusnya pikir logika dulu," hardik Khoirul. Dia bangkit dengan ringisan pelan.
Beruntung dia masih selamat pagi ini. Kalau tidak, bisa-bisa semua apa yang dia impikan tidak akan pernah terwujud.
Khadijah membuang muka, "Ini masih pagi tapi bapak bahasnya yang bukan-bukan."
"Salah sendiri kamu main kasar. Awas saja nanti di kampus, nggak akan saya beri ampun."
"Bapak ini rese! Saya istri bapak loh. Ingat?"
Khadijah mana mungkin mengalah. Kata kunci yang selalu bisa membuat Khoirul terdiam adalah istri.
"Kamu memang istri saya tapi belum sepenuhnya. Kita belum malam pertama," tantang Khoirul. Dia menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Khadijah pura-pura tidak mendengar, "Saya mau mandi."
°°°
"Dijah, bisa tolong ambilkan handuk?" teriak Khoirul dari dalam kamar mandi.
Khadijah yang sedang menyisir rambutnya menggumam kesal, "Di almari kan ada, Pak. Jangan buat alasan agar saya bisa masuk ke dalam sana ya?"
Kepala pria itu melongok di celah pintu, "Belum dibereskan Bik Sani. Handuk yang kamu pakai kamu taruh di dalam keranjang kotor, nggak ada handuk lagi."
"Sebentar, saya ambil di bawah dulu!"
"Cepat sedikit. Saya sudah terlambat!"
"Iya, Pak Khoirul."
Khadijah meminta handuk pada Bik Sani sembari mengomel panjang lebar. Dia kembali naik, mengetuk pintu kamar mandi, "Ini, Pak."
"Tunggu!"
Tanpa diduga, Khoirul membuka pintu hampir separuh dan menarik Khadijah untuk masuk. Wanita itu menjerit histeris, menutup matanya dengan telapak tangan. Dadanya bergemuruh. Belum pernah dia berada dalam satu ruangan dengan pria apalagi tanpa pakaian lengkap.
"Bapak apa-apaan?" teriaknya kesal.
Khoirul tersenyum manis. Dia ingin sekali mengerjai istrinya, "Buka mata kamu, Dijah. Kita sudah suami istri kenapa kamu malu-malu?"
"Bapak amnesia? Saya sedang masa libur ini. Jangan pikir saya menerima permintaan bapak ya. Bapak emang suami saya, tapi saya nggak mau terjerumus dalam lubang hitam. Dosa!"
Senang sekali melihat reaksi Khadijah yang menurut Khoirul menggemaskan. Pria itu merapikan anak rambut Khadijah yang berantakan, "Oh, begitu? Nggak tertarik? Yakin?"
"Yakin seratus persen."
"Baik," jawab Khoirul enteng.
"Tolong keluarkan saya!"
"Buka mata kamu. Saya sudah berpakaian kok dari tadi," ucap Khoirul.
"Bohong."
"Makanya lihat."
Khadijah ragu. Jangan-jangan dia diusili lagi oleh suaminya. Apa dia langsung keluar saja? Pintu ada di sebelah kirinya, tinggal dibuka saja lalu dia lari. Tanggung amat kalau dia harus mengikuti kemauan Khoirul.
"Balik kanan dulu, Pak!"
"Sudah," jawab Khoirul.
Khadijah meraba pintu, setelah menemukan kenopnya, dia lari terbirit-birit. Khoirul ternganga melihat kelakuan Khadijah. Benar-benar tidak bisa diprediksi.
°°°
Pukul 07.00 ...
Khadijah dan Khoirul siap untuk berangkat ketika ponsel Khadijah berdering.
Khadijah melihat nama yang tertera di sana, Fattan.
"Siapa?"
"Fattan, Pak."
"Jangan terima!" perintah Khoirul.
"Nggak bisa, Pak. Saya selalu penasaran dengan telepon orang."
"Kenapa waktu itu kamu nggak penasaran dengan telepon saya?" cela Khoirul.
"Karena saya tahu bapak mencari saya. Tolong diam sebentar ya, Pak!" Khadijah menerima panggilannya. Dia tidak menyapa Fattan dengan kalimat basa-basi dan to the point dengan tujuan pria itu.
Khadijah membulatkan matanya setelah mendengar ucapan Fattan, "Hah? Di rumahku? Untuk apa?"
Khadijah menutup panggilannya dan mendelik pada Khoirul, "Mampus saya, Pak!"
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
astaga pak dos, sejauh itu.... 😁😁😁
2023-09-29
0