"Halo?"
Raisa? Batin Khoirul panik.
Pria itu berdehem untuk mengubah suaranya. Tidak ada pilihan lain. Raisa tidak boleh tahu siapa yang menelepon Khadijah. Tapi kira-kira nama apa yang disimpan Khadijah di kontak nomornya? Kalau sampai nama Khoirul ada di sana, Raisa pasti akan berkoar-koar.
"Halo," jawab Khoirul dengan suara lebih ringan.
"Ini cewek apa cowok sih? Kecil banget suaranya," gumam Raisa. Wanita itu terdengar menjawab pertanyaan Khadijah di suara latar belakang. "Bentar ya. Dijah sedang makan."
Syukurlah, dia nggak mengenaliku, batin Khoirul.
"Dijah sama kamu?"
"Iya."
Diam-diam Khoirul menghela napas lega. Keberadaan Khadijah sudah ditemukan dalam keadaan yang tidak kekurangan apapun. Apalagi wanita itu sedang makan. Itu berarti mood hatinya sudah jauh lebih baik.
"Ngomong-ngomong kok nama kontaknya Mister K? Suara mister emang sekecil ini? Mister siapanya Dijah? TTM?" tanya Raisa bingung. Dia masih belum menyadari siapa yang diajak bicara.
"Iya. Dari lahir. Bisa minta tolong? Berikan alamat rumah kamu karena saya ada perlu dengan Khadijah," ucap Khoirul.
"Enak saja. Orang asing mana boleh asal tanya? Kalau mau tahu, tanya saja Dijah. Sudah ya? Nanti telepon lagi kalau penting, itupun kalau bukan nomor asal acak. Selamat malam," jelas Raisa.
Klik!
Khoirul tidak habis pikir kenapa sifat dua orang itu sama? Apa karena mereka sahabat jadi sifatnya sama-sama menyebalkan? Apapun itu tidak masalah yang terpenting Khadijah aman bersama Raisa.
Pria itu memutuskan untuk menunggu Khadijah pulang dari pada dia harus menyeret istrinya dari rumah Raisa.
°°°
"Siapa yang telepon?" tanya Khadijah dengan mulut penuh makanan.
Raisa membawa ponsel Khadijah dan meletakkan di atas meja, "Mister K. Siapa sih?"
"Siapa? Mister K?" teriak Khadijah, isi mulutnya hampir terjun kemana-mana. Manik matanya mendelik tajam. Seluruh tubuhnya membeku tapi anehnya dia malah berkeringat.
Duh, Raisa pakai angkat telepon lagi, batin Khadijah ketakutan. Bagaimana ini?
"H-m. Siapa? Gebetan kamu? Gantinya Fattan? Tapi kok Mister? Tua ya? Cerita dong, Dijah, aku penasaran," desak Raisa.
"Bicara apa aja kamu, Sa?"
"Nggak banyak. Dia cuma tanya kamu ada di sini? Mau minta alamat tapi aku nggak ngasih. Kalau dia berniat buruk gimana?" kelas Raisa.
Khadijah menghela napas lega, "Syukurlah."
"Apanya yang syukurlah? Syukur karena aku nggak ngebocorin alamat rumah ini atau apa?"
"Ya pokoknya syukurlah. Habis ini aku mau tidur," tukas Khadijah.
"Turunin dulu itu makanan baru tidur. Dasar tukang molor," ejek Raisa. Wanita itu juga ikut mencomot makanan Khadijah, "besok kuliah nggak?"
"Nggak! Mau bolos."
"Dijah, Dijah, kamu ini nggak bisa belajar dari pengalaman?"
Khadijah juga bingung, apa yang dia cari sebenarnya. Dia juga ingin lulus tepat waktu tapi apa daya ketika dia berada di dalam kelas, yang ada di kepalanya hanyalah keluar dari situasi yang tidak menyenangkan. Mendengarkan orang bicara adalah hal yang menyebalkan.
Apalagi sekarang alasan kedua dia malas kuliah karena ada Khoirul. Khoirul, Khoirul dan Khoirul. Semua orang yang bernama Khoirul akan selalu menyebalkan di matanya.
"Pengalamanku banyak," sahut Khadijah asal.
"Pokoknya besok berangkat. Suka atau nggak, aku bakal menyeret kamu," ancam Raisa.
"Tumben kamu memaksaku?"
"Karena aku malulah. Masa punya teman kuliah tapi nggak lulus-lulus."
Khadijah mencibirnya, "Yang ngomong juga sama aja kan?"
"Beda dong. Aku kan masuk kelas terus, jarang absen. Gara-gara skripsi ditolak melulu makanya aku jadi mahasiswa abadi," jelas Raisa.
Khadijah tidak lagi mengindahkan ucapan Raisa. Hatinya berbunga-bunga hanya karena Khoirul menghubunginya. Pasti pria itu sedang sibuk mencarinya dan kebingungan harus bagaimana untuk membawanya pulang. Enak saja! Khadijah tidak akan pulang sekarang.
°°°
Paginya ...
Khadijah baru selesai mandi ketika ponselnya berdering. Wanita itu berlari ke luar kamar mandi untuk menerima panggilannya. Dia pikir panggilan tersebut dari Khoirul tapi ternyata bukan.
"Iya, Ma," jawabnya asal.
"Kamu dimana ini?"
"Rumahlah."
"Rumah siapa?" cerca Ratna.
"Suamiku, Mama."
"Coba mama mau bicara sama Khoirul," tukas Ratna.
Mampus! Khadijah tidak bisa menunjukkan buktinya.
"Em, Pak Khoirul ada di kamar mandi, Ma. Ini aja aku habis mandi," alibi Khadijah. Pasti Ratna kan berpikir bahwa dia dan Khoirul sedang menunaikan tugas sebagai suami istri.
"Masa sih?" tanya Ratna tidak percaya.
"Tanya sendiri saja sama orangnya."
Jangan, jangan, jangan, Please! Batin Khadijah.
Ratna terdiam. Kemungkinan besar wanita paruh baya itu sedang berpikir. Betapa tidak sopannya jika bertanya di saat yang tidak tepat. Kalau yang dibicarakan Khadijah benar, dia bisa malu karena mengganggu pengantin baru.
"Baik, mama percaya. Tapi sikap kamu harus diperbaiki. Bisa tidak panggil suami kamu dengan sebutan Mas atau Sayang?"
"Kadang aku juga memanggilnya begitu, Ma. Tapi panggilan Pak Khoirul adalah panggilan kesayanganku untuk suamiku," jelas Khadijah. Dia kemudian mengakhiri panggilan tersebut, takut jika mamanya kembali bertanya.
"Sudah siap belum?" tanya Raisa dari luar kamar.
"Sudah. Tunggu sebentar!"
Khadijah berjalan tergesa-gesa mengekori langkah Raisa. Sejujurnya dia tidak ingin pergi tapi Raisa pasti akan mendumel sepanjang waktu kalau permintaannya tidak dituruti.
"Kamu nggak punya baju lain? Ini terlalu panjang buatku," keluh Khadijah ketika mereka sudah duduk manis di belakang setir mobil. Cara berpakaian Raisa memang jauh berbeda dari Khadijah. Raisa lebih dominan memakai celana jeans panjang dari pada Khadijah yang lebih suka celana pendek di atas lutut.
Raisa mendelik pada sahabatnya, "Berisik! Pakai yang agak sopan nggak mungkin buat kamu jadi jelek."
"Aneh saja rasanya."
"Mau protes? Sana bawa baju dari rumah. Siapa suruh nginep tapi nggak bawa baju. Jangan-jangan kamu marahan sama bokap nyokap kamu ya?"
"Nggak!" elak Khadijah.
"Atau sama Mister K?"
"Mungkin," jawab Khadijah.
"Awas, kalau sampai kamu nggak mau ngasih tahu siapa dia. Aku bakal bocorin ke semua orang biar mister K diserbu TTM kamu."
"Yee, aku nggak punya TTM. Udah insyaf," tukas Khadijah.
"Udah insyaf kan kamu, yang cowoknya masih ngejar-ngejar," ucap Raisa.
"Ya salahkan mereka."
Khadijah juga tidak mau dinomorsatukan oleh para pria itu. Mungkin pesonanya terlalu menyilaukan sampai mereka tidak bisa berpaling.
°°°
"Sa, Sa, parkir di sebelah sana saja," tukas Khadijah cepat.
Raisa sudah memutar arah ke kanan tapi Khadijah memaksanya untuk belok ke kiri. Wanita itu kesal, "Kenapa sih? Sama aja kan parkir sana sini!"
"Udahlah, ke kiri aja. Di sebelah kanan banyak mobil. Nanti mobil kamu kegores," alibi Khadijah. Sebenarnya dia melihat Khoirul baru turun dari mobil. Dia tidak mau berpapasan dengan suaminya itu.
Meskipun kesal, Raisa tetap mengikuti permintaan Khadijah. Dia menghela napas bingung melihat kelakuan Khadijah yang tiba-tiba mengendap-endap masuk ke dalam gedung fakultasnya.
"Kesambet mungkin," gumam Raisa. Dia melangkah tergesa-gesa mengikuti ritme jalan sahabatnya.
Lorong-lorong fakultas telah ramai oleh orang-orang. Kebanyakan dari mereka yang mengenal Khadijah, menyapa wanita itu dengan lambaian penuh semangat. Khadijah hanya membalas dengan anggukan singkat. Dia menilik ke kanan kiri dengan ekor matanya, takut jika Khoirul tiba-tiba muncul.
Semoga aku aman. Masa bodohlah seperti pencuri. Aku sedang nggak mood melihat Pak Khoirul, batin Khadijah.
"Ehem, ehem," suara deheman itu membuyarkan suara batin Khadijah.
Sial!
"Ikut saya ke ruangan saya! S-E-K-A-R-A-N-G!"
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments