"Pak Khoirul?"
Khadijah kehilangan keseimbangannya, dia hampir limbung. Dengan susah payah dia menghirup oksigen yang tersisa di ballroom itu. Demi apa? Khadijah tidak pernah punya pandangan bahwa dia menikah dengan Khoirul.
Wanita itu duduk di samping Khoirul. Khoirul menyematkan cincin tanpa permata lalu Khadijah mencium telapak tangan pria yang telah sah menjadi suaminya. Setelahnya, untuk pertama kalinya Khoirul mengecup kening Khadijah yang berlapis make up.
Tidak ada kata yang terucap. Keduanya diam sembari mendengarkan petuah dari sang pemimpin doa. Lima belas menit kemudian, acara khidmat itu selesai.
Pasangan beda usia yang beberapa menit lalu resmi menjadi suami istri tampak sibuk mendatangi tamu-tamu. Khadijah agak malas harus mendengarkan ucapan selamat dari teman-teman Khoirul.
Ketika wanita itu hendak menguap, tidak sengaja matanya menangkap sosok pria paruh baya yang sangat dia kenal. Sontak saja wajahnya menunduk karena takut ketahuan.
Sial, kenapa harus ada Pak Samsul sih? Batin Khadijah kesal.
Jangan-jangan suaminya sengaja mengundang dosen agar semua orang tahu bahwa mereka sudah menikah. Diam-diam wanita itu melirik Khoirul yang sedang bersalaman dengan Samsul.
Samsul melirik pada Khadijah sembari menyunggingkan senyum, "Khadijah?"
Khadijah berdehem, lalu membuat suara kecil yang sama sekali bukan suaranya. "Maaf, anda salah orang. Nama saya Mawar."
Hampir saja Samsul tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Khadijah. Dia tahu Khadijah adalah salah satu mahasiswi di universitas tempatnya mengajar jadi dia menyapanya tadi. Dia juga tahu kapan harus merahasiakan hubungan antara dosen dan mahasiswi itu.
"Kamu ini lucu sekali. Berapa tahun kita saling bertemu di kelas, Dijah? Kenapa kamu pura-pura lupa?" canda Samsul.
Khadijah mendesis tanpa suara. Dia terpaksa mendongak dengan cengiran malunya. "Maaf, Pak. Nanti kalau timbul gosip di kampus, bapak juga yang kena kan?"
"Memangnya kenapa kalau mereka semua tahu? Kamu malu?" Samsul berkata sambil melirik Khoirul.
"Ya iyalah, Pak. Saya kan masih muda. Saya mana bisa menikah dengan dosen? Nanti dikira kongkalikong lagi," keluh Khadijah.
"Hei, jangan malu. Siapa bilang Khoirul ini sudah berumur? Kamu belum tahu saja usianya berapa. Lagi pula kelebihan Khoirul ini banyak salah satunya..," ucapan Samsul terhenti karena Khoirul menekan lengannya, tanda untuk diam.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Saya ke sini hanya untuk mengucapkan selamat pada salah satu teman saya sejak beberapa tahun yang lalu," ucap Samsul yang kemudian beralih pada Khoirul, "selamat ya. Jangan galak-galak dengan istri kamu ini. Dia bisa takut satu ranjang nanti. Kamu tenang saja karena saya akan merahasiakan pernikahan ini. Selamat menempuh malam pertama."
Meskipun suara Samsul sengaja direndahkan, tapi Khadijah mendengar apa yang diucapkan oleh dosennya. Malam pertama? Tidak mungkin. Mana mungkin Khoirul mau melakukan malam pertama tanpa mengenal dirinya lebih jauh?
Harusnya pacaran dulu baru melakukan hubungan suami istri. Wajah Khadijah memerah membayangkan hal yang tidak semestinya.
Sampai pesta private itu selesai, Khadijah belum mampu untuk memanggil nama suaminya. Wejangan dari orangtuanya bahwa dia harus patuh pada suaminya dan tidak membantah. Lalu wanita itu digiring ke lokasi lain.
Khadijah buta akan informasi dari Khoirul. Dia tidak tahu dimana dosennya itu tinggal, dari keluarga mana dan bagaimana pribadinya. Dia juga masih penasaran kenapa tiba-tiba Khoirul yang dipilih jadi suaminya. Lalu balas budi apa yang dimaksud? Ah, kepala Khadijah pusing memikirkan banyak hal.
Khadijah tertidur untuk beberapa saat sampai sebuah deheman membuat dirinya membuka mata. Tampak bangunan berlantai dua dengan akses tempat parkir yang luas, membuat Khadijah sedikit merenung. Mungkin rumah itu milik Khoirul dan akan mereka tinggali untuk beberapa tahun ke depan.
"Turun!" perintah Khoirul. Suara bariton pria itu menyadarkan Khadijah lagi.
Khadijah membuka pintu dengan perlahan, sembari mengamati sekitar dia mengikuti langkah suaminya. Rasanya Khadijah belum terbiasa dengan sebutan itu.
Pintu bercorak gold bercampur dengan coklat muda terbuka tanpa diketuk. Seorang wanita paruh baya yang sedang memakai celemek memberi salam pada Khoirul.
"Perkenalkan nama saya Bik Sani, Nyonya. Saya asisten rumah tangga di rumah ini. Kalau ada apa-apa bisa bicara pada saya," ucap Bik Sani.
"Terimakasih, Bik," jawab Khadijah.
Khoirul melenggang begitu saja selagi Bik Sani menjelaskan apa yang ada di rumah itu. Khadijah melihat seisi rumah dan tidak menemukan benda-benda yang berlebihan.
Semua perabotan pas di tempatnya dan tidak asal memenuhi ruangan. Khadijah pikir Khoirul tipe anak konglomerat yang memiliki banyak ide untuk membuat rumah mewah. Meskipun sekilas dilihat rumah itu tampak mewah dari depan tapi di dalamnya tidak ada yang spesial.
Bik Sani membawa Khadijah naik ke lantai dua. Wanita itu melihat Khoirul lebih dulu masuk ke sebuah ruangan yang Khadijah pikir kamar mereka. Apa mereka benar-benar akan tidur bersama seperti kata Samsul?
Wajah Khadijah bersemu merah. Dia bahkan malu membayangkan bahwa dirinya akan saling terbuka dengan dosennya. Begitu Baik Sani pergi, Khadijah menolak untuk masuk. Dia berdiri di ambang pintu.
Khoirul membuka jas dan menoleh, "Masuk!"
"Baik, Pak, eh," ucapan Khadijah terhenti. Dia bingung harus memanggilnya apa.
Mas? Sayang? Pak dosen suamiku? Geli sekali harus bicara begitu, batin Khadijah.
"Masuk!" Perintah kedua kalinya itu sontak membuat Khadijah tergerap. Dia berlari dan hampir menubruk tubuh Khoirul. Khadijah mengambil dua langkah ke belakang untuk mengantisipasi.
"Ganti baju!"
"Dimana? Di sini? Bapak gila?"
"Kamu istriku kan?" tanya Khoirul dengan nada perlahan namun penuh penekanan.
"I-iya secara nggak langsung, Pak, eh, Mas, eh, saya harus panggil apa ya?" Khadijah membuang muka.
"Panggil terserah saja. Apapun yang kamu suka. Mulai malam ini, kita resmi menjadi suami istri. Saya harap kamu bisa lebih menghargai saya sebagai suami dan untuk masalah kuliah..,"
"Saya nggak mau ada orang lain yang tahu pernikahan ini, Pak," sela Khadijah. Dia harus mengatakannya lebih dulu sebelum Khoirul berpikir yang bukan-bukan.
"Kenapa? Kamu malu?" Khoirul membuka dua kancing kemeja putihnya sembari melihat Khadijah dengan sorot mata penuh kekesalan. Sejak tadi wanita itu seolah malu pada dirinya padahal Samsul jelas-jelas mengatakan bahwa dia bukan tipe pria yang bisa membuat dirinya malu.
"I-iya, Pak. Bisa dibilang begitu. Tapi bukan karena fisik ya, Pak. Bapak dan saya kan bagai bumi dan langit, kalau tiba-tiba tersiar kabar bahwa saya istri bapak, saya bisa terkena masalah. Kelulusan kuliah saya malah menjadi bumerang."
"Menikah dengan saya atau tidak juga tidak ada hubungannya dengan kelulusan kamu. Kamu saja sampai usia dua puluh lima tahun belum lulus juga. Otak kamu yang perlu dipermasalahkan bukan saya," ejek Khoirul.
Khadijah tidak terima. Dia termasuk mahasiswi yang lumayan berprestasi. "Bapak jangan asal bicara!"
"Kenapa memangnya? Kenyataan kan?" tantang Khoirul.
Khadijah mengambil langkah seribu untuk pergi dari tempat itu. Biar bagaimanapun dia agak sungkan kalau harus berhadapan dengan dosennya. Pandangan matanya selalu terarah pada dosen killer yang memberinya nilai D minus.
Tapi setelah dipikir-pikir, bukannya tadi Khoirul berkata bahwa mereka adalah suami istri. Dia berhak membela diri. Dengan cepat dia kembali dan berniat menendang kaki Khoirul tapi Khoirul mengelak. Pria itu bahkan menangkap pergelangan tangan Khadijah. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.
"Apa kamu mau kita melakukan malam pertama sekarang?"
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments