Pertempuran dahsyat.

Ada satu kejanggalan yang terjadi ketika Kiyai Rohmat dan pangeran Batu Jajar meninggalkan mereka.

Dario terlihat bingung, berkali Kali ia menoleh kearah pak Narto.

"Nuri??" suara Dario terdengar nyaring sambil memandang kearah Nuri. berkali kali ia mengusap matanya, takjub ia bisa melihat Nuri seutuhnya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia bisa melihat gadis cantik itu berdiri dihadapannya. bukankah ia sosok halus??

"Dario? Kamu bisa melihat aku??" gantian Nuri yang bingung.

"Bisa! Jelas seperti layaknya!" entah kenapa tiba tiba Dario mendekat dan memeluk tubuh Nuri.

"Oh bahagianya aku!" ucap Dario sambil mengelus rambut Nuri.

Pak Narto ikut gembira mengetahui Dario bisa melihat Nuri seutuhnya, meskipun iapun bingung kenapa Dario kini secara tiba tiba bisa melihat sosok ghoib itu.

"Bagaimana bisa ini terjadi? apa yang terjadi dengan diriku?"

Nuri melepaskan pelukan Dario,ia berkata..

"Aku rasa karena senjata yang diberikan pangeran Batu Jajar, secara tidak sengaja telah membuka mata bathinmu..kini batas tipis antara kita telah terbuka, sukurlah kamu bisa melihat aku"

Dario kembali menarik tubuh Nuri dan ia memeluknya dengan erat seakan tidak mau melepaskan selamanya.

"kita tidak boleh berpisah, aku ingin bersamamu selamanya..maafkan aku Nuri telah mengabaikan dirimu"

Nuri membalas pelukan Dario dengan merapatkan tubuhnya. Ia letakkan kepalanya didada Dario yang bidang itu. Ia bahagia, Namun dalam kebahagiaan itu, direlung hati yang terdalam ia terbentur oleh kesedihan. Apakah ini akan menjadi selamanya..bukankah aku sudah mati? Pikirnya. Ya Tuhan..sandingkan aku dengan priya ini selamanya.

Memang jelas senjata yang berada dipinggang belakang tubuh Nuri bersinar semenjak diberikan pangeran Batu Jajar. Senjata itu bagaikan satu bagian tubuh Nuri, ia langsung melekat.

"Oo..mungkin ada benarnya..Sebab tidak mungkin Pak Dario bisa melihat sosok Nuri kalau bukan karena senjata pusaka ini" ucap Pak Narto.

"Apakah pak Narto bisa melihat Nuri juga?' Tanya Dario.

Pak Narto menggelengkan kepalanya..

"Sayang aku tidak mampu melihat Nuri, secara bathin aku bisa melihat tapi secara lahiriah tidak..aku bisa melihat saat ini Nuri memakai kain putih panjang, rambutnya tergerai sebahu, hidungnya bangur dan ada lesung pipit dipipinya" Kata Pak Narto.

"Betul sekali Pak Narto! Aah sayang sekali, berarti orang lain tidak bisa melihat. Hanya aku saja yang bisa melihat secara utuh! Aneh ya?!"

"Tidak apa..yang penting Pak Dario bisa melihat Nuri..itu yang terbaik diberikan Tuhan.. Alhamdulillah"

"Alhamdulillahirohmannirohim.." ucap Dario sambil terus memeluk tubuh Nuri dan mengusap rambutnya berkali kali.

...~...

Beberapa saat setelah Kiyai Rohmat meninggalkan padepokan, kini ia dan pangeran Batu Jajar sudah berada diangkasa.

Dari jauh Syeh Muso sudah bisa melihat dua titik putik mendekat secara cepat.

"Buka Tabir barat! Kasih Jalan masuk pada Kiyai Rohmat dan pangeran Batu Jajar!" teriaknya.

4 sosok macan putih penjaga daerah barat mengaum keras, asap hitam bercampur putih langsung sirna..sebuah Lobang terbuka disanalah Kiyai Rohmat menggandeng tangan pangeran Batu Jajar menembus masuk.

"Syeh! Bagaimana keadaan?"

"Diujung sana kita melihat bergumpal awan berwarna Merah dan ungu saling berebut untuk mendekat! Mereka adalah pasukan berani mati dari Gunung arjuno!" Kata Syeh Muso sambil menunjuk kedepan.

"Baiklah..Kiyai Ruso! Siapkan anak panah kalian! Pada jarak 1 kilometer lepaskan!! Jangan kasih ampun lepaskan anak panah Runjanamu!"

"Kami siap Yayi! Pasukan!! Panah Runjana siapkan!!" teriak Kiyai Ruso.

Serentak sepuluh Jin Muslim mengeluarkan anak panah daris ebuah kotak besi berwarna putih. Anak panah Runjana adalah salah satu senjata andalan pasukan Kiyai Ruso. Terahir digunakan ketika sultan bahadar Singh dari kerajaan Jin India meminta bantuan Jin Muslim nusantara dalam peperangan di dataran Gunung Kasmir melawan Jin raksasa dari Gunung Machapucari.

Kurang lebih 2 menit terlihat seratus pasukan Jin mendekat, Syeh Muso melihat bendera dan panji panji setan telah dikibarkan. Warnanya bermacam macam nampak seram apalagi wajah mereka sangat bengis. Semuanya mengendarai kuda berwarna hitam legam. Kuda kuda itu bukan kuda biasa..diatas mata mata kuda tersembul sebuah tanduk berwarna merah.

"Sabar..sabar, tunggu sedikit lagi" terdengar suara Kiyai Rohmat.

"Tembak!! Tembak sekarang!!" teriak Kiyai Rohmat sambil mengacungkan keris pusakanya keatas.

Beratus ratus anak panah berwarna emas melesat tinggi diudara. Ketika sampai pada titik tertentu setiap anak panah memecah diri menjadi 5 anak panah. Itulah kecanggihan anak panah Runjana.

Dalam hitungan detik panah panah itu menghujam kencang kebawah.

Seratus pasukan Jin itu meledak ketika anak panah itu menancap didada mereka.

Sang kepala yang bernama Ungkar langsung berteriak kencang..

"Mundur! anak panah Runjana turun!!" teriak satu sosok kepala Jin berani mati.

Tapi sia sia, meskipun ia sudah berteriak berulang Kali..ternyata telat, tubuh tubuh Jin sesat itu meledak satu persatu ketika terkena ujung anak panah.

ledakan demi ledakan membahana diangkasa dan pada setiap hancurnya tubuh para Jin itu memuncratkan sinar beragam warna. Bagi orang yang melihatnya seperti suara petir saling bersautan.

"Mak!! Takut mak!!" teriak seorang anak kecil sambil berlari ketika mendengar ledakan ledakan itu.

Banyak orang juga menyaksikan langit yang tadinya hanya gelap biasa berubah menjadi gumpalan gumpalan merah.

Setelah ledakan bertubuh tubi kini turunlah hujan kebumi, tidak tanggung tanggung langsung deras.

Ni Kri Blorong melihat itu menjadi sangat murka, ia berteriak kearah Ungkar yang kebetulan adalah salah satu panglima perangnya.

"Mbah Ungkar mundur! pulang kelaut! aku yang hancurkan mereka!!" tubuh ular berkenalan wanita itu tegak lurus diudara. Ia menutup kedua matanya dan mulai membacakan mantra sakti.

Kiyai Rohmat melihat dari kejauhan sosok berwarna jingga tegak lurus diudara, sisi sisi sosok yang tegak lurus itu mengeluarkan sinar dan asap tebal.

"Awas! Itu mantra laut selatan! Kiyai Ruso kirim penjaga laut, mbok baruna tarung dengannya! Sekarang! sebelum terlambat!!" teriaknya.

Sosok yang disebuah mbok Baruna adalah sosok tinggi bertubuh indah. Seluruh tubuhnya bersisik berwarna emas.

"Ayoh kita tarung! Sudah lama aku dendam dengannya Ni Blorong!" ia langsung meliukkan tubuhnya berubah menjadi seekor naga berwarna emas.

Seluruh langit berubah warna menjadi kuning..

Sebelah Mata Ni Blorong mengintip, kenapa ia merasakan Hawa panas.

"Kurang ajar! Wanita itu mau tarung dengan aku?? hahaha!!" teriaknya ketika melihat seekor naga emas meliukkan tubuhnya diatas awan.

Dari jarak jauh Alexir memandang pertempuran yang baru saja digelar. Disampingnya Karatzi memandang dari atas kuda hitamnya.

"Siapkan pasukan Roro utara dan barat sekarang, aku akan perintahkan Usumeni membangunkan Buriah"

"Buriah??! Dunia ini akan hancur apabila Buriah muncul!" teriak Alexir kaget.

"Biar sekalian hancur bumi nusantara ini! Aku sudah terlanjur!! Perintahkan kedua Roro menyiapkan pasukannya! Cepat jangan banyak bicara!!"

Alexir langsung terbang kebawah menuju sebuah gua ditepi laut. Karatzi mengacu kuda hitamnya dan melaju dengan cepat diawan yang gelap.

...~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!