Pangeran Batu Jajar.

Belom lama Kiyai Rohmat pergi, tiba tiba ia telah kembali dari kamar shalat Namun Kali ini ia membawa masuk Dario menemui Pak Hendardi.

Kopi yang ia buat masih panas, asapnyapun masih mengepul dan ketika ia melihat Kiyai Rohmat masuk bersama Dario. Saking kagetnya hampir saja ia melepaskan cangkir kopi kelantai.

Dario dan pak Hendardi saling menatap muka, ternyata mereka saling kenal. Sebelum ia diangkat menjadi Kapolres baru Pak Hendardi sudah mengenal Dario waktu bertugas di Jakarta tempo hari.

Dario langsung mendekat dan berjabat tangan dengan erat.

"Ya Allah kita ketemu lagi disini!" ujar Pak Hendardi.

"Wah kalau tau Kapolres baru adalah Pak Hendardi saya sudah main kesini!" jawab Dario.

"Ayo silahkan duduk, ceritakan lagi apa yang kamu Alami..dari awal"

"Jadi begini Pak.." Dariopun mulai menceritakan kejadian dari awal dulu ketika ia ditugaskan ke Surabaya untuk menumpas kelompok pembunuh yang ternyata dalangnya adalah sosok yang sama yang kini sedang beraksi di kota Malang.

"Waah..berarti cerita Kiyai Rohmat benar adanya" ucap pak Hendardi.

Ia menoleh kearah Kiyai Rohmat seperti mencari solusi yang tepat.

"Begini pak...Saya dan pasukan putih sedang bersiap akan bertempur diruang ghoib, ketika itu terjadi akan datang hujan dan badai yang hebat. Perintahkan dari sekarang kepada seluruh jajaran kepolisian untuk melindungi diri dari badai yang akan datang"

"Apakah akan berdampak buruk bagi gedung dan infrastuktur kota pa Kiyai?"

"Insya Allah tidak Ada, saya akan mencoba menggiring mereka kelaut. Jadi apabila Ada imbasnya akan jatuh kelaut bukan kekota..doakan agar kami menang"

"Baik pak"

"Kalau begitu saya pamit dulu, beritahukan sekarang juga kepada seluruh anggota kepolisian dan kalau bisa siarkan diradio bahwa akan terjadi badai..kontak BKMG mereka yang memantau pergolakan bumi"

Tidak lama kemudian Kiyai Rohmat dan Dario keluar dari kamar kerja Pak Hendardi dan menghilang.

Tangan Pak Hendardi tiba tiba gemetar, sepanjang sejarah karirnya sebagai polisi baru kali ini ia merasakan takut yang mendalam. Padahal ia dulu pernah ditugaskan ke Aceh ketika ada pergolakan dan juga ke Kalimantan ketika terjadi pertimaian antara suku Dayak dan Madura. Semuanya ia hadapi dengan tenang dan berani, Namun kini ia serasa menjadi anak kecil lagi..ketakutan dan kecemasan merasuki kedalam kalbunya.

Tapi, ia sebagai kepala polisi di kota Malang harus bisa mengatasinya, tidak boleh terlihat lemah. Ia menarik ponsel dari kantong bajunya dan menelpon semua wakilnya. Mereka harus hadir dikantornya untuk pengarahan selanjutnya secepat mungkin.

...~...

Pak Narto yang tidak bisa istirahat semenjak kepergian Kiyai Rohmat dan Dario sudah menghabiskan 3 cangkir kopi tanpa gula. Pikirannya melayang, apakah yang terjadi diluar sana?

Menjelang magrib ia melihat setitik cahaya turun diujung taman belakang. Dengan sigap ia bangkit dari duduknya.

"Nuri! Apakah itu Yayi?"

Nuri ikut bangkit, pandangan ya ia fokuskan kedepan, Namun ia menggelengkan kepala.

"Bukan pak..bukan Yayi, entah siapa itu??"

"Positip atau negatip auranya?!" Tanya pak Narto.

"Positip Pak!"

Pak Narto agak relax mendengar itu, lambat lain cahaya putih itu mewujudkan sosok seorang laki laki.

"Assalamualaikum maaf mengganggu..apakah Yayi sudah kembali?" Tanya sosok laki laki muda itu, langkahnya pasti dan tubuhnya memancarkan aura seperti seorang pendekar.

"Oh kami juga sedang memantau, dengan siapa saya bicara?"

"Maaf sampai lupa, saya Batu Jajar..pangeran Batu Jajar dari Alas Purwo ayah saya penguasa alas Purwo. Saya ditugaskan menjemput Kiyai Rohmat oleh Syeh Muso karena pihak sana sudah mulai masuk kearena pertempuran" ucap laki laki itu sambil melirik kearah Nuri.

Sebetulnya Nuri kagum dengan penampilan pangeran Batu Jajar, tubuhnya yang tinggi dan berotot. Rambutnya ia ikat satu kebelakang, ia mengenakan baju berwarna cokelat muda seperti dari bahan sutera dan bercelana panjang yang dibalut selendang hitam. Nuri juga tertarik melihat sebuah pedang panjang berwarna Merah terselip dipinggangnya.

Tapi sayang hatinya sudah tertambat di Dario. Segalanya yang ia miliki adalah untuk Dario bukan siapa siapa.

"Sebaiknya kita tunggu disini, saya rasa tidak lama lagi Kiyai Rohmat akan datang..lho itu! Lihat diawan!"

Ketiganya menatap keatas langit, satu cahaya putih melesat kencang kebawah.

"Assalamualaikum.." ucap Kiyai Rohmat. Nampak juga Dario yang dituntun Kiyai Rohmat.

"lho ada tamu rupanya?" ucap orang tua itu.

Nuri mendekat dan menggenggam tangan kiri Dario.

"Perkenalan ini pangeran Batu Jajar dari Alas Purwo Yayi, beliau putra daripada penguasa disana" ucap Pak Narto.

"Ya Allah, aku kenal sekali ayahmu..Gandung Jalaka raja yang sangat arif bijaksana, Ada apa pangeran?"

Pangeran Batu Jajar menunduk dan memberi salam.

"Salam perkenalan Kiyai, saya ditugaskan Syeh Muso untuk menjemput..peperangan akan segera dimulai" ucap laki laki gagah itu.

"Njjih..saya akan ganti pakaian dulu..monggo duduk sebentar"

sepeninggal Kiyai Rohmat kekamar untuk ganti pakaian kesempatan itu dipakai Pak Narto untuk mengadakan pembicaraan dengan pangeran Batu Jajar.

"Dengan akan terjadinya peperangan ghoib apa yang harus kita lakukan disini?"

"Sebaiknya kalian menutup pintu dan jendela rapat rapat, karena tanda tandanya akan nyata sekali..pertama hujan deras diikuti petir dan kilat setelah itu badai yang hebat..doakan kami saja agar masalah ini cepat tuntas"

"Wah bahaya sekali.."

"Kami akan kirim beberapa pengawal menjaga disini jangan sampai ada penyerangan apalagi teman anda ini yang menjadi kunci keseluruhan" ucap pangeran Batu Jajar sambil menunjuk dengan jempol kearah Dario.

"Usahakan agar kamu menjaga temanmu baik Baik, jangan sampai dia diculik..pertahankan apapun juga yang akan terjadi" lanjutnya sambil melirik kearah Nuri.

Sang pangeran mengeluarkan sesuatu dari balik selendang panjangnya, benda itu bersinar merah tua meskipun tidak begitu panjang namun mempunyai dua ujung dan gagangnya ditengah.

"Nuri kamu pegang ini, gunakan untuk menjaga dirimu dan temanmu ini. Hanya digunakan apabila ada penyerangan. Ini adalah pusaka kerajaanku umurnya sudah sangat tua..jauh lebih tua dari nusantara" ia menyerahkan benda itu kepada Nuri.

Gemetar Nuri menerimanya, benda itu seperti ada nyawanya.

"Simpanlah sampai nanti ketika kamu benar benar telah berpulang ia akan kembali kepadaku dengan sendirinya" ucap pangeran Batu Jajar.

Bersamaan waktunya ketika Nuri menerima Benda itu Kiyai Rohmat keluar dari kamarnya.

"Alhamdulillah kamu serahkan senjata pusaka ayahmu kepada Nuri, namun bukankah Ada 2?" Tanya Kiyai Rohmat.

"Benar Kiyai apa katamu, Benda ini ada pasangannya. Satu lagi saya pegang" ucap pangeran sambil mengeluarkan benda yang mirip dengan yang ada ditangan Nuri.

"Ya aku ingat pedang pendek itu telah turun temurun semenjak nenek moyangmu..baiklah kita berangkat sekarang..Narto jaga Dario dan juga padepokan ini..doakan kami agar dapat menyelesaikan secepatnya"

Kiyai Rohmat duduk bersila dan disampingnya pangeran Batu Jajar. Dalam hitungan detik kedua sosok itu langsung menghilang.

...~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!