Dario berjalan didampingi Monica, dihalaman depan rumah yang sangat luas itu berbagai pohon rindang yang terlihat diatur rapih. Dario terkejut melihat keindahan Taman yang dipenuhi dengan segala macam bunga yang berwarna warni.
Laki laki tegap itu tidak mengetahui bahwa sebetulnya Monica telah meminta lord Karatzi agar merubah seluruh rumah beserta halamannya menjadi sebuah ilusi pandangan yang menakjubkan. Mata Dario kini telah tersihir, ia telah masuk dalam perangkap setan.
Dari balik sebuah jendela besar dilantai 2 sepasang mata merah memandang, bibirnya bergerak gerak seakan sedang membaca sepotong Kata mantra.
"Ayo Dario kita masuk, papa pasti sudah menunggu kita didalam" ujar Monica sambil menarik tangan kanan Dario.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya ia mengikuti langkah Monica. Ia melihat lantai marmer yang mengkilap dan tanaman tanaman kecil menghiasi ruang teras didepan. Bahagia sekali perasaannya dan tidak habis habisnya memuji kerapihan dan keindahan penataannya.
Ketika ia masuk, Dario tercengang melihat ruang tamunya yang megah, berbagai lampu kristal tergantung dan sofa sofa besar yang terbuat dari kulit, nampak sangat mahal harganya.
"Kamu duduk dulu ya, aku panggilkan papaku" ucap Monica dan berlari keatas tangga yang Ada diujung ruangan.
Dario duduk disebuah kursi kulit, matanya memperhatikan sekeliling ruangan. Bagaimana bisa ditengah sebuah desa ada Istana seperti ini? Pikirnya, ia melihat sebuah ukiran naga besar disebuah tembok, keren sekali apalagi disoroti dua buah lampu kecil dibawahnya membuat ukiran itu seakan hidup.
Dario berdiri dan menghampiri ukiran itu, ia mengamati detailnya. Karena kagum akan halusnya ukiran kayu itu Dario mencoba memegangnya. Tiba tiba sebuah bisikan masuk..
"Dario jangan pegang ukiran itu!"
"Nuri? Kenapa kamu ada disini?! Ucap Dario sedikit jengkel.
"Dario! Cepat keluar dari tempat ini! Kamu sudah dihipnotis. Ini sarang setan!"
"Aah! Sudahlah jangan ganggu aku!" bentak Dario.
Pada saat itu terdengar langkah kaki turun dari lantai dua. Angin luar menghembus kedalam ruangan dan sejenak Dario bisa mencium aroma Wangi.
"Selamat datang kawan" terdengar suara berat dari atas tangga.
Dario terperanjat, ia menoleh disana didekat Anak tangga paling bawah berdiri sosok laki laki tinggi. Kumisnya tipis menghiasi bibirnya yang agak pucat.
"Dario, kenalkan papaku.."
Dario beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah laki laki tinggi itu. ternyata laki laki ini tidak mirip orang Indonesia, ia lebih mirip orang dari daratan Eropa.
"Oh halo bapak, kenalkan nama saya Dario" ucapnya sambil mengulur tangan kanan.
Laki laki itu membalas uluran tangan sambil melepaskan senyum kecil.
"Halo Dario, saya Thomas Hendricks papanya Monica" jabatan tangannya terasa kencang ditangan Dario.
"Papa, aku mau ajak Dario keliling rumah ya" ucap Monica.
"Silahkan..papa mau baca majalah dikamar kerja..silahkan ajak Dario keliling ya"
...~...
Setelah tidak berhasil memberikan peringatan kepada Dario, Nuri langsung terbang dengan cepat kearah padepokan tempat Kiyai Rohmat.
"Maafkan aku Yayi" ucap Nuri sambil mengatubkan kedua tangannya didada.
Saat itu, Kiyai Rohmat sedang berbincang dengan Kiyai Dandung dan pasukannya dan Ada juga Syeh Muso juga kedua penguasa suku Wajak.
"Ada apa Nuri?"
"Aku tadi ketempat wanita itu, Dario Ada disana keliatannya ia sudah masuk perangkap mereka. Aku coba memberikan peringatan tapi dia justru marah kepadaku..ini bahaya sekali Yayi"
Kiyai Rohmat diam mendengar itu, ia mengelus elus janggutnya.
"Maaf Yayi, mungkin sebelum terlambat kita serang saja sekarang" ucap Kiyai Dandung.
"Jangan..jangan sekarang, saya masih mendeteksi mereka tidak akan membunuh anak muda itu..tapi aku justru mempunyai firasat mereka akan memporakporandakan dulu tatanan manusia"
"Maksudnya bagaimana?" Tanya Kiyai Dandung bingung.
"Syeh Muso, apa yang anda rasakan?" Tanya Kiyai Rohmat.
"Benar jangan serang malam ini,tapi amankan Kota ini..aku punya firasat mereka akan membunuh hanguskan pos pos polisi lebih dahulu, dan mereka akan menebar fitnah bahwa tentara yang membuat kerusuhan itu. Kiyai Dandung bawa seorang wakilnya kearah barat, pos polisi Sana akan dibakar, kirim juga beberapa pasukanmu kearah padepokan padepokan didaerah Tumpang. hal yang sama juga akan terjadi disana kekacauan!" ucap Syeh Muso.
"Baik segera Saya berangkat..Kiyai Ruso ayok Bantu aku dan kirim 2 atau 3 pasukanmu kearah Tumpang" jawab Kiyai Dandung seraya berdiri memberi hormat dan langsung menghilang.
Kiyai Rohmat memandang kearah wajah Syeh Muso.
"Keliatannya mereka akan menebar Kan fitnah yang terkeji..mereka akan mengadu dombakan diantara kita. Kekacauan akan terjadi dimana mana"
"Betul sekali, ini gaya mereka..dari semenjak dahulu kala mereka selalu demikian, dan manusia selalu kalah karena ego dan emosi yang didahului mereka tanpa menggunakan akal pikiran yang jernih. Aku ingat dulu para setan iblis juga melakukan demikian di tanah Arabia." jawab Syeh Muso.
"Setelah semua pasukan kembali,mungkin langkah kita adalah perang habis habisan dengan mereka..setuntas tuntasnya!" ujar Kiyai Rohmat.
"Setuntasnya saya sendiri tidak bisa yakin karena kalau tuntas berarti kiamat..Dunia ini akan hancur lebur dan seperti Kiyai ketahui itu adalah ruangan nya yang mulia Mehdi. Beliaulah yang diberikan tugas oleh Allah untuk perang terahir melawan penguasa ruang gelap yaitu setan iblis. Namun untuk menghancurkan Karatzi dan anteknya itu bisa kita lakukan"
Kiyai Rohmat terlihat manggut manggut, ia mengelus jenggot panjangnya dan menerawang kearah depan, seakan mencari solusi yang terbaik.
"Baik..saya mengerti, kita akan hancurkan anak setan ini dan para anteknya.." ucap Kiyai Rohmat.
...~...
Pada hari kedua setelah Karatzi memberikan rencana penyerangan, kedua Roro Ganggeng bersama 2 anak buahnya Ni Srintil dan Ni Pulung berangkat menuju kedaerah Kepanjen dimana Ada sebuah kantor polisi.
"Kalian tebarkan api dari arah belakang, kita akan tebarkan didepan..Ayo cepat!" ucap Roro Ganggeng utara kepada kedua anak buahnya.
Seorang anggota polisi jaga yang sedang santai merokok sempat melihat ada sekelebatan sosok diatas atap kantor polisi, kemudian seperti meteor sebuah sinar merah meluncur deras.
Seperti jatuhnya sebuah bom, sinar merah itu berubah menjadi bola api. Kemudian dua dan tiga kali jatuh kembali pas diatas lobi kantor. Api berkobar dengan ganas membakar genteng dan ahirnya genteng itu roboh kebawah.
"Kebakaran! Kebakaran!!" teriak polisi tadi. Serentak semua anggota polisi yang berjaga meninggalkan senjata mereka dan berlarian keluar pos mereka.
"Cepat telepon ambulan! Apinya terlalu besar!!
Hilir mudik mereka mencoba mematikan kobaran api dengan alat portabel pemadam kebakaran.
mengambang diudara Ni Srintil dan Ni Pulung mulai melemparkan bola bola apinya. Sebuah pohon kelapa yang berdiri disamping tembok sengaja dibakar. 2 buah kedalam kecil mengenai genteng atap bangunan belakang.
Tidak memakan waktu lama, seluruh atap kantor polisi berkobar api.
"Hihihi!!" jerit ketawa kegirangan terdengar dari suara kedua Jin itu.
...~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments