berangkat keTulungagung

"Hi Dario" suara merdu terdengar diujung line telepon.

"Monica! Ya ampun..aku sudah menunggumu dari kemarin, kapan kita bisa ketemu?" jawab Dario berdiri dan melangkah kearah jendela. Jantungnya berdebar kencang mendengar suara Monica, bak seorang anak muda yang baru saja kedatangan pacarnya.

"Hihi kamu kenapa? Kangen sekali gitu? emang mau apa kita?"

"Aduuh aku kangennya luar biasa, dari semenjak kamu pergi kemarin aku ga bisa tidur! Bisa ketemu hari ini?"

"Yuk ketemuan..hmm aku juga kangen sekali, kita makan siang di Kampung telaga sambil liat ikan koi, kamu mau?"

"Waah boleh dong, mau banget! Jam berapa disana?" Dario nyerocos ga tahan ingin berjumpa.

"Ya jam setengah dua belas..oya aku mau traktir kamu jadi ga usah takut masalah pembayaran hehe"

"Ah yang bener..masa cowo ditraktir? Ya udah jam setengah dua belas disana ya"

"Oke sampe Nanti..bye ganteng!"

Jantung Dario terus berdegup, ia gembira sekali sebentar lagi akan ketemu Monica. Hari masih pagi, ia masuk kekamar mandi dan mulai membersihkan bulu bulu kecil yang mulai tumbuh dibawah dan atas mulut. Ia ingin terlihat kelimis apalagi Monica tadi bilang ganteng.

Nuri yang dari tadi memperhatikan percakapan antara Dario dan Monica merasa cemas, ia tau Monica sedang menembakkan juris mautnya. Ia ingin membisikkan sesuatu tapi nampaknya Dario sudah kegilaan dengan semuanya.

"Biarkan ia pergi ketemu dengan wanita itu, kita ikuti dan pantau saja arah yang akan mereka lakukan" terdengar suara Kiyai Dandung yang berdiri disamping Nuri.

"Aku takut Yayi, aku tau Dario sedang berada didepan pintu masuk kedaerah yang berbahaya..tapi saat ini aku tidak bisa mengubah pikirannya" ucap Nuri kawatir.

"Malam ini akan ada pertemuan antara Kiyai Rohmat dan guruku, kita wajib hadir disana. kita akan pantau kemana mereka pergi dan laporkan kepada para Kiyai"

"Baik Yayi"

Dario tau dengan jelas bahwa pertemuan seharusnya pada jam setengah dua belas tapi, jam sebelas pagi Dario sudah siap duduk dilobi restauran. Hari ini sengaja ia memakai baju kaos terbaiknya dan tidak lupa menyemprotkan parfum kedada dan lehernya. Pokoknya semua serba meyakinkan, bahkan gadis penerima tamupun sampai tergetar hatinya melihat ketampanan dan harumnya wangi yang keluar dari tubuh tegap Dario.

Jam setengah dua belas tepat Monica berjalan masuk kerestauran. Ia mengenakan kaos agak kebesaran berwarna hijau Tosca dan celana ketat berwarna hijau tua. Wajahnya yang sangat cantik membuat beberapa pengunjung mengira ia adalah seorang artis papan atas.

Melihat kedatangan Monica Dario langsung berdiri, ia mengembangkan kedua tangannya dan sekaligus melemparkan senyum.

"Halo cantik" bisiknya sambil mengecupkan cuman mesra kepipi kiri dan Kanan Monica.

"Hai juga mas gantengku" terdengar suara merdu ditelinga Dario, yang membuat jantung Dario berdetak lebih kencang.

Semua mata tertuju kepada dua orang yang terlihat sedang jatuh cinta itu.

Mereka tidak sadar Nuri berdiri diujung ruangan memperhatikan keduanya. Tangan kanannya mengepal, ingin ia berteriak kepada Dario tapi ia tak kuasa. Nuri hanya tertunduk lemas, kini bukan saja ia ingin menyelamatkan Dario dari marabahaya tapi diam diam ia telah jatuh cinta kepada sosok Dario. Ia tidak rela Dario jatuh ketangan istri setan iblis itu.

Air matanya tiba tiba menitik membasahi kedua pipinya, ia membenci semuanya..oh Tuhan kenapa aku harus mati? Kenapa aku harus jatuh cinta?

Tiba tiba ada yang menyentuh pundaknya, ia menoleh ternyata disampingnya berdiri Syeh Muso At Tabyah. Nuri terkejut dan membungkukkan tubuhnya sekaligus mencium tangan Syeh Muso. Nuri tidak sadar air matanya menyentuh tangan suci Syeh Muso.

"Anakku Nuri, jangan Kau menangis..hmm tidak baik nak. Kamu jatuh cinta pada laki laki itu?" Tanya Syeh Muso sambil tersenyum.

"Ya Allah..maafkan Saya telah mengotori suci Syeh" Nuri mencoba membersihkan.

Syeh Muso justru mengangkat dagu Nuri dan melayang membersihkannya.

"Biarkan..tidak apa apa nak, Syeh akan berusaha mendapatkan hatinya untukmu nak..Namun Ada satu hal yang kamu harus ketahui dan liat, sekarang ikut dengan aku"

Nuri bingung, ia menoleh kearah Dario yang sedang kasmaran.

"kamu tidak usah takut,Biarkan mereka..dan Dario tidak akan dibunuh. paling tidak bukan dalam minggu minggu ini, Ayo ikut bapak sekarang" ucap Syeh Muso sambil kembali melemparkan senyum yang menyejukkan.

Nuri mengganggukan kepalanya, Syeh Muso kemudian menggandeng tangan kiri dan meninggalkan tempat makan itu.

Dengan sekali hentak mereka telah berada diudara.

"Kita kemana Syeh?"

"Aku akan bawa kamu kesuatu tempat seribu tahun yang lalu, kita akan menembus ruang dan waktu. Karena kamu bukan lagi manusia maka perjalanan tembus menjadi lebih mudah"

"Oh kenapa Syeh? Kenapa kita menembus waktu?"

"Aku ingin bertemu dengan Cilawagi dari dirimu yang bersemayam di daerah Tulungagung, ia berasal dari suku Wajak"

"Cilawagi? Suku Wajak? Aku tidak mengerti Syeh"

"Hmm..Cilawagi adalah sebuah sebutan nama bagi orang tua buyutmu. Mbah Wersigeni dan mbok Tsumargi adalah cikal bakalmu, mereka adalah kelompok pasangan terahir yang berasal dari suku Wajak, cikal bakal orang Jawa"

"lalu..apa hubungannya dengan semua ini?"

"Aku telah melihat keberadaan setan iblis yang menjadi kepala mereka..namanya lord Karatzi..ia kini menjabat sebagai kepala pemimpin seluruh setan dinegeri ini, agak sudah untuk menghancurkan dia tapi Cilawagimu dulu adalah pasangan yang membunuh bapak lord Karatzi..rahasia kelemahan iblis itu dioegang oleh Cilawagimu..itulah sebabnya aku ingin bertemu mereka, sekaligus memperkenalkan dirimu kepada mereka"

"Oo..Saya mengerti sekarang"

"Sekarang tutup matamu, kita akan melintas dan menyebrangi kealam mereka"

Ketika Nuri memejamkan kedua matanya, ia mendengar desis angin disekitar tubuhnya. Ia tidak berani membuka matanya sampai Syeh mengatakan buka. Tubuhnya tiba tiba merasakan dingin, ia serasa masuk kedalam ruangan es.

"sekarang buka matamu"

Nuri terkejut melihat keadaan dimana ia berada, sejauh mata memandang hanya pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak ada satupun bentuk rumah atau kendaraan.

"lihat diujung sana!" Kata Syeh Muso.

Dikejauhan nampak empat titik berkilauan terbang dengan kecepatan kikat menuju kearah Nuri dan Syeh Muso.

"Apa itu Syeh?"

"Mereka telah hadir, mereka tau kita datang dan mereka datang menyambut"

"Siapakah mereka dan apakah mereka melayang seperti kita?"

"Tidak mereka tidak melayang, mereka berbentuk manusia..ingat kita masuk kedunia nyata bukan seperti dunia kita yang halus..biasanya mereka naik kendaraan semacam mobil kalau didunia modern tapi kendaraan mereka sebetulnya lebih canggih"

"Uluk Salam..danyang" ucap salah satu dari empat sosok yang hadir.

Nuri memperhatikan ke empat orang itu, pakaian mereka boleh dibilang sangat bagus dengan berbagai macam renda dan warna. Wajah mereka juga beda dengan wajah bangsa Jawa, orang orang ini mempunyai tubuh yang tinggi dan tegap bahkan mirip tubuh orang barat atau bule. Kulit mereka sawo matang tapi sangat bersih.

Kendaraan mereka berbentuk segi empat seperti sajadah tapi diujung ya seperti ada bermacam macam tombol.

"Bapak dan ibu hendak kemana?" ucap orang itu lagi.

"Tolong antar kami kehadapan mbah Wersigeni dan mbok Tsumargi"

"Monggo..kami Jalan duluan silahkan ikut kami"

... ...

...~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!