rencana ke Jogja.

"Bagaimana pak? Ayo sambil minum Kopi kita duduk dibawah pohon sana" ucap Dario sambil menunjuk kepekarangan depan rumah.

Pak Narto menggelar nafas panjang sebelum memulai ceritanya.

"Pertama datangnya 2 malam yang lalu, saya padahal baru mau tidur. Sampe agak loncat saking kagetnya. Soalnya sudah agak lama Dia menghilang iya kan? Dia bilang..Pak kemana Dario? Saya bilang lho kan sedang pulang kerumah kakeknya diMalang..kenapa ga langsung saja kontakan?"

"Lho ya sama,aku juga sudah lama ga dapet berita apa dari dia" ucap Dario sambil nyruput Kopi panas.

"Katanya dia ga bisa kontak, entah kenapa pokonya ga bisa kontak..dia bilang gini..itu iblis turun lagi bahkan sekarang mengadopsi seorang wanita menjadi pemimpin barunya dan dia berada disini"

"Maksudnya disini dimana?"

"Aku terus tanya kan kepadanya, disini itu dimana? Katanya dia bilang ya dikota Malang..lha, ko kebetulan kita sedang diMalang, dia bilang wanita ini jauh lebih berbahaya dari yang sebelumnya bahkan dia seperti ratunya dibumi!"

"Wah brengsek! Padahal aku lagi baru cuti!"

"Lha..aku ya sama..Nuri bilang bahwa sekarang berbeda dengan yang dulu, ini benar benar sudah dikawinkan dialam halus mereka,.iih mengerikan!"

"Apa Ada ciri cirinya? Bagaimana kita tau dimana orang ini berada?"

"Kata Nuri, Dario sendiri akan menemuinya kalau waktunya tiba"

"Hmm gitu? aneh ya.."

"Aneh dan mengerikan. Nah pada bisikan ke dua Nuri bilang bahwa sampeyan musti sangat berhati hati, dia juga bilang aku juga berhati hati karena kali ini adalah waktu pembalasan mereka. Mereka dendam karena dalam pertempuran kemarin kita menggagalkan"

"Pak Narto..guru sampeyan ada dimana? maksudnya posisinya ada dimana?"

"Beliau diJogja, sebagai ustad biasa membimbing murid murid SMP belajar mengaji, kenapa?"

"Aku perlu ketemu dengan beliau minta petunjuknya"

"Itu memang langkah Bagus! Nggeh kalau ada kesempatan besok kita kesana bagaimana? keJogja ketempat beliau"

"Boleh, kita pake kereta saja kesana besok"

...~...

Mulai siang, sore hingga larut malam mereka terus membahas mengenai setan iblis dan ratunya yang menurut Nuri berasal dari manusia biasa.

Menjelang subuh ahirnya pak Narto ijin istirahat tidur, Dario sendiri masih belum bisa menutup mata dan tidur, pikirannya kepada sosok setan yang akan melakukan penyerangan kepadanya tapi yang lebih aneh kenapa Nuri tidak bisa menghubungi dirinya?

Jam 7 tepat pagi itu pak Narto bangun ia sempat bertemu dengan kakeknya Dario yang akan berangkat kepasar.

"Mbah, Saya dan Pak Dario akan ke Jogja mau sowan ketempat guru ngaji saya..pamit nggeh"

"Oh ngeten nggih, ya silahkan biar Ada kegiatan positip juga buat Dario. Hanya saja, Saya perlu mengambil sesuatu dari dirinya"

"Ambil apa mbah?" Tanya pak Narto.

"Semenjak Dario bercerita tentang kisah kerjanya dulu di Surabaya saya telah menanamkan sebuah jimat dibadannya agar dia tidak bisa diganggu ielh mahluk halus"

Dheg..Pak Narto baru sadar kenapa Nuri tidak bisa menghubungi Dario. Ya karena adanya penghalang yang ditempatkan pada tubuh Dario.

"Oalah mbah..hehe, apa bisa dicabut mbah, soale Dario akan ke pesantren takutnya guru Saya menolak kehadiran Pak Dario apabila menyimpan sesuatu ditubuhnya"

"Bisa, saya bisa mencabutnya..coba Saya ta bicara sama Dario agar jimat bisa ditarik keluar"

Pak Narto langsung membangunkan Dario dari tidurnya.

'Pak Dario, bangun pak"

Ia memutar tubuhnya diatas tempat tidur, perasaannya masih agak males. tapi setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 7.30 ia langsung bangun.

"Ada sesuatu pada dirimu pak, barusan Saya ngobrol sama simbah"

"Maksudnya apa?"

"Ternyata kenapa Nuri tidak bisa kontrakan karena simbah menaruh jimat ditubuhmu. Simbah rupanya memagari tubuhmu agar tidak bisa diganggu mahluk halus'

"Pantesan Nuri Ga bisa datang, rupanya ini penyebabnya..Baik, aku siraman sebentar" ucap Dario sambil mengucek ucek rambutnya.

Dengan langkah gontai Dario berjalan kearah kamar mandi.

...~...

Rumah diatas bukit itu terasa terasing dari rumah penduduk lainnya. bangunan tua yang berlantai 3 berdiri diatas sebuah tanah berukuran 800 meter.

Dihalaman depan tumbuh berbagai macam pohon besar, ada beberapa pohon jati yang umurnya mungkin sudah tua terlihat dari batang pohonnnya yang besar dan ada juga tertanam sebuah pohon beringin yang akarnya menjulur kemana mana dari jauh apabila malam tiba pohon itu seperti raksasa yang sedang berdiri.

Beberapa area disekitar pohon pohon besar itu nampaknya tidak terurus banyak sekali rumput liar menjulang tinggi, menambah suasana agak menyeramkan.

Pintu gerbang depan untuk masuk kepekarangan juga terlihat tua, warna catnya sudah pudar dan hanya ada penerangan satu lampu disudut pager pintu gerbang itu. Sebuah lampu yang redup bukan lampu yang terang.

Banyak warga disekitar situ tidak berani lewat depan rumah besar itu, apabila hendak melewati mereka lebih baik berjalan memutar daripada harus melewati depan rumah itu.

Mereka menyebutnya rumah hantu merah karena memang cat tembok rumah itu semuanya berwarna merah tua. tidak ada satupun warga yang tau kapan bangunan itu dibangun, bahkan Pak Taji sebagai orang yang paling tua tinggal didesa itu mengatakan bahwa semenjak jaman belanda rumah itu sudah ada.

Tanpa dapat terlihat orang diluar rumah, siang itu seorang wanita sedang berjalan kearah halaman belakang. Ia mengenakan pakaian semacam gaun panjang berwarna ungu. Sebuah blazer berwarna hitam dikenalkan menutupi kaos polo hitam.

Wajahnya cukup cantik namun pucat, bibirnya terlihat kering seperti orang yang sedang melakukan puasa. Ia tidak mengenakan make up dan rambutnya digelung keatas sekenanya.

Dikebun belakang ia memotong 3 tangkai bunga Melati merah dan juga beberapa bunga Bouganville.

Dengan langkah santai kembali masuk kedalam rumah, didapur ia mengeluarkan sebuah vas kaca dan mengisinya dengan air keran. Semua bunga bunga itu ia atur divas hingga terlihat cantik dan diletakkan diatas meja makan.

Wanita itu berjalan kearah sebuah kran yang ada didekat dapur, dengan sebuah gelas ia mulai mengalirkan cairan dari kran.

Cairan itu berwarna merah kental, setelah kurang lebih gelas berisi setengahnya. Ia meminumnya perlahan lahan.

Aaahh...terdengar suaranya puas.

Seakan sebuah minuman segar, cairan berwarna Merah tua itu ia teguk sepenuhnya. Dengan menggunakan bagian atas tangannya ia menyeka bibirnya.

Ia berjalan melewati sebuah tangga yang terlihat menuju kebawah, sedikit melirik ia tersenyum, Namun mengabarkan untuk turun kebawah.

Masih dengan langkah santai ia menuju kearah kamar mandi.

Disana ia melepaskan semua pakaiannya dan berdiri didepan kaca besar, seakan kagum dengan bentuk tubuhnya ia menghampiri sebuah bathtub besar diujung kamar mandi dan mulai mengalirkan air hangat.

Seluruh tubuhnya ia basuh dengan air hangat yang sudah tercampur dengan campuran bunga melati. Ia merendamkan tubuhnya kedalam air hingga semuanya berada didalam bahkan wajahnyapun ikut tenggelam.

Entah kenapa ia tidak merasa tenggelam, kini sudah lima belas menit ia tenggelam didalam air. Seakan tubuh yang mati wanita itu berdiam didalam air, sekali sekali gelembung udara naik keatas permukaan air dan pecah keudara mengeluarkan bau wangi.

"Bangunan istriku" terdengar suara berat dan serak dikamar mandi...

...~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!