Air didalam telaga itu pelan pelan bergerak, beberapa tanaman didalamnyapun ikut bergerak. Ikan ikan yang tadinya santai berenang kini seakan panik, mereka rupanya mempunyai indera yang tajam. Wujud Alexir yang halus dapat mereka rasakan berada didalam air.
"Paduka Usumeni.." bisik Alexir pelan ketika ia sudah berjarak 5 meter dari sosok yang duduk bersila itu.
Sosok yang dipanggil Usumeni membuka sedikit matanya yang sebelah kanan. Wajahnya masih menunduk menghadap kedasar telaga. Gerakan awal yang pertama ia lakukan adalah menggerakkan bahu baunya yang besar seakan hendak melepaskan tumbuh tumbuhan dan tanah yang melekat.
Sudah hampir 1000 tahun Usumeni berdiam didasar telaga. Ikan ikan ditelaga memandang dirinya hanyalah sebagai bongkahan batu yang besar, bahkan banyak dari mereka menjadikan sebagian tubuh Usumeni sebagai tempat tinggal mereka.
Usumeni memang tidak pernah keluar, ayahnya setan iblis yang tinggal dibenua Amerika selatan bersabda 1000 tahun yang lalu agar ia berdiam dipulau Jawa, Usumeni adalah pemimpin tertinggi para setan dan keturunan mereka. Ia keluar apabila dalam keadaan gawat.
"Sudah seribu tahun aku tidur, aku berharap inilah hari kehancuran bagi Dunia!" suaranya bergetar dengan keras, banyak ikan yang ada disekitar itu langsung mati.
Alexir mendekat dan duduk bersila dihadapannya, ia menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Ampunkan saya baginda Usumeni, Saya hanyalah seorang prajurit..ini perintah lord Karatzi penguasa dunia malam. Beliau meminta agar baginda bisa membantu memerangi kaum langit" ucap Alexir dengan nada sedikit ketakutan.
"Hmm segitu pentingnya sampai aku harus bangun??"
"Setau saya..mereka telah membawa sosok putih dari tanah Arabia, dan seluruh pasukan Putih juga sudah siap perang"
"Apa gunanya kalian menjaga dunia?!" tiba tiba ia berteriak, seorang dengan itu Usumeni bangkit dari duduknya.
Alexir terkejut ketika melihat sosok Usumeni bangkit. Ternyata ia berbadan sangat besar dan tinggi. Usumeni berdiri, gerakan yang dibuat menyebabkan air telaga terkuras. Bak air bah, seluruh air telaga membanjiri dataran disekitar telaga.
Kondiring yang sedang mengapung langsung terbang jauh..ia kaget melihat kemunculan raksasa yang maha besar berdiri ditengah telaga yang banyak airnya telah terbuang keluar.
"Katakan pada Karatzi, aku akan menghancurkan Kota ini dan seluruh pulau Jawa. Sudah waktunya aku bangkit!"
"Baik baginda saya sampaikan..Saya ijin pulang dulu"
"Pergi dari sini setan ga berguna!" teriak Usumeni.
Tanpa buang waktu, Alexir Naik keatas permukaan telaga. Ia terbang dengan cepat meninggalkan Kondiring yang masih terpana melihat kemunculan Usumeni.
...~...
Dario dapat merasakan adanya semilir angin lembut bergerak disekitar pipinya. Kedua Mata ia buka, meskipun tidak terlihat siapa siapa. Namun Dario bisa merasakan adanya sosok Nuri didekatnya.
"Nuri..Nuri kamu didekatku?"
"Aku ada disini, kepalamu ada dipangkuanku..bagaimana perasaanmu?"
Memang Dario bisa merasakan kepalanya serasa ringan tidak mengantuk dan pusing lagi, bahkan mual diperutnya sudah hilang.
"Maafkan aku Nuri..selama ini entah bagaimana..aku seakan tersihir, aku telah melupakan semuanya,aku lupakan kamu dan juga yang lainnya,pikiranmu hanya tertuju kepada sosok wanita itu..maafkan aku"
"Sukurlah apabila kamu sudah sadar..sudah beberapa kali aku mencoba menembus pikiran dan perasaanmu,tapi selalu saja tidak bisa"
"Ngeri sekali..aku melihat wujud setan dirumah itu! Ada satu kamar disana, baunya sangat menyengat..kamar apa itu??"
"itulah Karatzi..dulu kita hampir menghancurkan dan bahkan aku pikir dia sudah hilang ternyata dia telah kembali..mengenai kamar itu aku sendiri tidak tau"
"Apakah aku berada dirumah Kiyai Rohmat? Kemanakah beliau saat ini?"
"Kiyai Rohmat dan semua pasukan Jin Muslim berangkat ke Malang. Akan Ada peperangan besar didunia astral antara kami yang dari Islam dan mereka dari bangsa setan dan Jin..tapi.."
Nuri hendak berbicara lagi namun saat itu Ada seseorang yang datang..
"Assalamualaikum.." terdengar suara seorang santri.
"Njjih monggo masuk mas" ucap Dario, ia bangkit dari rebahan dan duduk bersila.
"Ada tamu pak, muridnya Kiyai Rohmat yang dari kepolisian"
"Ooh suruh masuk mas, itu pasti Pak Narto"
...~...
"Weleh..Pak Dario Ada disini tho, Saya cariin..lho ada mbak Nuri" ucap Pak Narto yang memang sanggup melihat Nuri.
"Masuk Pak.. Alhamdulillah kita ketemu disini"
"lha Kok mukanya pucat gitu..kemana Pak Yayi?"
Nuri menceritakan apa yang sedang terjadi dan kenapa Dario ada dipadepokan. Laki laki setengah tua itu kaget mendengar ceritanya.
"Nah pas Kali gitu, soalnya saat ini keadaan Kota Malang mencekam pak, sudah dua malam kebakaran dimana mana dan hari ini seluruh pasukan TNI yang dikota Malang juga bersiap siap, entah bersiap untuk apa. Tapi denger denger adanya is bahwa pihak kepolisian akan menyerbu"
"Lho ko bisa begitu? Apakah ini ulah dari Karatzi dan kelompoknya?"
"Keliatannya demikian..ini memang bahaya sekali dan pesan mbah Yayi tadi bahwa kita harus tetap disini tidak boleh kemana mana" Kata Nuri memberi masukan.
"Aku kemarin juga sempet kerumah kakek, beliau meninggalkan pesan bahwa sebentar lagi akan ada goro goro dikota Malang. Beliau sempatkan kirim dia agar pak Dario selamat dari marabahaya"
"Terima kasih..kasihkan kakek pasti cari aku"
"Lha waktu aku kerumah itu datang juga temanmu..siapa itu namanya? Pokoknya teman barumu..keliatannya dia sedang kesulitan, wajahnya muram dan sedih entah ada apa?"
"Pasti itu mas Sugik..hmm apa ya?"
"Yah kita mending disini saja dulu, agar aman..satu satunya yang bisa mengabarkan keadaan kota Malang adalah Pak Narto. Mungkin pak Narto Nanti bisa pantau bagaimana disana" Kata Nuri.
"Iya, Nanti saya mau liat bagaimana disana"
...~...
Saat ini formasi kelompok Putih dipimpin Kiyai Rohmat sudah berjejer rapih diatas awan.
Mata mereka memperhatikan langit dan bumi.
"Kiyai Ruso perintahkan beberapa wakilmu kesemua hutan dan undang semua penguasa yang kira kira berteman dengan kaum kita..perintahkan penjagaan disemua hutan dan lereng gunung"
"Njjih Yayi, saya akan lakukan" ujar Kiyai Ruso.
"Kiyai Dandung kirimkan hujan agar semua API yang masih berkobar dipadamkan"
"Saya akan turun kemarkas tentara dan kepolisian menjelaskan semua kejadian..Syeh Muso tolong gantikan posisi saya sebentar"
"Mohon secepatnya kembali kebarisan..Saya mendeteksi adanya gerakan gerakan keras yang datang dari sebuah danau..entah apa itu"
"Baik secepatnya!" Kiyai Rohmat langsung terjun kebawah. Ia harus secepatnya menemui Mayor Jendela Sutomo sebagai kepala Kostrad dan juga AKBP Hendardi Harianto Kapolres Malang.
...~...
Selepas Kiyai Rohmat turun kebumi, Syeh Muso yang memang sudah merasakan keanehan memerintahkan semua pasukannya bersiap siaga.
"Syeh! Saya juga merasakan! Lihat diutara sana!" teriak mbah Wersigeni sambil menunjuk kedepan.
Semuanya menoleh kearah utara, cahaya Merah keunguan terlihat menarik nari dilangit seperti asap bergumulan diudara.
"Hati hati! Itu Usumeni!! Setan iblis sudah dibangunkan!!" teriak Syeh Muso.
Syeh Muso terlihat menutup kedua matanya sambil berdoa.
"Siapkan kekuatan yang ada didiri kalian! Ini pertempuran mati atau hidup! Kita jangan terlalu jauh berpisah, setiap kali menyerang kembali kebarisan..semua harus dalam satu rantai jangan sampai berpisah!! Bismillahirohmanhim!!"
...~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments