Suasana diKapolres Malang sedang ramai dan sibuk malam itu. Banyak anggota polisi yang disiapkan untuk berjaga jaga. Semua anggota dalam keadaan siap siaga. Pasalnya sebuah laporan masuk bahwa beberapa Pos dan Polsek sudah hangus terbakar. Yang anehnya pada setiap tempat kebakaran ditemukan serpihan kain loreng.
"Kita tidak boleh lengah, apapun yang terjadi jangan sampai terpancing!" ujar kapolres bapak Hendardi.
"Saya sudah koordinasin dan cek dengan Dandim, mereka tidak tau menahu..yang penting kita semua siaga!" lanjutnya.
"Pak lapor!" tiba tiba seorang penjaga pos lari dengan kencang dengan nafas terengah enggah.
"ya ada apa pak sobirin?"
"Saya dan beberapa anggota menemukan sosok mayat didekat tong sampah!"
"Lho ko bisa ada mayat?!"
"Masalahnya pak..ini bukan sembarang mayat! Ini adalah Pak Nasirun, mantan wakapolda Jawa Timur pak!" Kata Sobirin dengan suara terputus putus.
"Hah!! Bagaimana bisa??!"
"Sebaiknya bapak periksa sendiri, saya yakin itu bapak Nasirun saya kenal wajah beliau"
"Hari ikut saya..Ayo kita periksa!"
Mereka langsung berlari kearah belakang, ternyata disana sudah berkerumun para anggota polisi.
"Awas! Jangan ada yang menyentuh!" teriak Hendardi Kapolres itu.
Ia kaget ketika melihat wajah Nasirun tergeletak disana. Tapi ditangan ya ia menggenggam sebuah sapu tangan berwarna hijau muda.
Dengan menggunakan sebuah ranting kayu Hendardi menarik sapu tangan itu yang ternyata adalah sapu tangan tentara.
"Hari, ambil kantong plastik dari kamar Saya Ada dirak paling kiri sebelah atas, cepat bawa kesini"
"Siap pak!" Hari langsung lari.
Hendardi bingung kenapa Pak Nasirun memegang sapu tangan ini? Masalah menjadi kacau, kenapa semuanya tertuju kepada TNI ?
Ia langsung mengontak Kapolda di Surabaya melaporkan apa apa yang terjadi.
...~...
"Kita berhenti dan ganti badan kita. Itu liat ada sumur tua, kita kesana!" ucap Alexir sambil menunjuk kebawah.
Alexir dan Kondiring turun, belum sampai Tanah mereka telah berubah menjadi 2 sosok santri lengkap dengan kopiah dan sarung yang disampaikan dipundak.
"Kita tunggu disini, sebentar lagi pasti ada santri yang lewat"
"Setelah itu,akan kita taro dimana?"
"Kita letakkan didepan mushola kecil depan itu"
"Beres..eh, ada yang datang kayanya"
Mereka berdua bersembunyi dibalik sebuah pohon. Benar saja seorang santri sedang berjalan kearah sumur. Mungkin dia mau buang air kecil ditoilet sebelah sumur.
Santri itu berjalan santai, namun baru saja ia menginjak kaki dipintu toilet. Ia sempat melihat seperti seseorang berlari dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang dan berteriak..
"Siapa ya? Jangan takut takutin aku! Ga takut aku sama hantu!"
Tidak ada satupun yang keluar, ia yakin dan merasakan tadi ada yang lari. Aah pasti temannya yang mencoba bermain.
Iapun masuk melangkah kedalam toilet, ketika ia membalikkan badan untuk masuk kedalam toilet tiba tiba dihadapannya sudah ada seseorang. Salah satu tangan orang itu terangkat dan memegang sebuah golok yang terlihat sangat tajam.
Dengan sekali ayun, golok tajam itu langsung menebas leher santri. Namun seperti disengaja, leher itu tidak sampai putus. tubuh santri yang Malang itu jatuh ketanah tanpa mengeluarkan satu suarapun.
"Kondiring gendong dan bawa dia kedepan!" teriak alexis yang keluar dari balik pohon.
Kondiring menengok kekiri dan kanan, suasana didepan mesjid nampak tenang..ia melihat ada 2 santri yang sedang merokok dipojokan dekat sebuah bedug besar.
Kondiring melayang dan menjatuhkan mayat santri didekat tanaman disamping mesjid.
Alexis tiba tiba muncul dan berteriak teriak, diikuti Kondiring yang berlari kencang kedepan mesjid.
"Mampus kau bedebah!!" teriak Alexis.
"Hiaaa!" Kondiring berlari mendekat kearah 2 santri yang sedang santai sambil mengacungkan goloknya.
2 santri itu ketakutan melihat Kondiring yang berlari membawa golok, mereka juga kaget melihat Alexis yang berteriak keras didekat mayat santri.
"Tolong!!" teriak 2 santri itu lari terbirit birit masuk kedalam mesjid. Seisi mesjid kaget dan melongok dijendela kaca melihat ada apa diluar.
2 santri itu masuk kedalam mesjid sambil terus berteriak..
"Ada 2 orang gila bawa golok! Tolong!!" teriak mereka.
"Ayo siapa yang berani lawan aku pendekar NU!!" teriak Alexis dari luar mesjid.
"Haha?! Pendekar NU??"
"Kenapa dia ngantuk gitu? Ayo kita serbu dia!!" ucap seorang santri yang berbadan tegap.
Seluruh isi mesjid berhamburan keluar, ada yang membawa sapu, ada yang membawa palang pintu dan lain lain.
"Aku dari Darul Musabah siapa yang berani maju!!" teriak Kondiring.
"Kurang ajar!! arek Darul Musabah!! Serbu!!" teriak seorang santri.
Alexis dan Kondiring memutar badan mereka dan berlari kencang kebelakang sisi kanan mesjid dan menghilang dikegelapan.
Santri santri yang sudah tersulut amarah berlarian mengejar. Salah satu dari mereka kaget melihat ada mayat tergeletak dekat pohon.
"Ya Allah! Ada mayat! Ada mayat!!" teriaknya, seketika semuanya berhenti lari, dengan lampu senter mereka menerangi area dimana tergeletak mayat seorang santri yang lehernya hampir putus.
"Ya Allah ini siUjang anak Bogor! Ya Allah!!" teriak salah satu santri.
"Panggil ustad Hashim! Ada pembunuhan!! bungkusan kentongan!!"
Seluruh padepokan itu gempar, semua oasien berteriak teriak dan kini masyarakatpun ikut datang masuk kearea mesjid melihat apa yang terjadi.
"Kita sekarang berangkat ke Darul Musabah, kita Cari 2 orang itu!!"
"Ayo kita serbu mereka!!"
Ustad Hashim yang baru saja sampai menjadi bingung dan tidak tau apa yang harus diperbuat. Satu satunya arahan adalah mengangkat mayat santri dan dibersihkan untuk dimandikan. Ia tidak sadar sekitar 30 pemuda sudah menyiapkan golok dan tombak.
Suara motor digeber kencang kencang, mereka berteriak teriak kesetanan.
"Ayo kita serang Musabah, kita serang!!"
Ustad Hashim mencoba menyenangkan para santri, tapi mereka sudah marah dan darah muda mereka mendidih. Orang orang NU itu memang suka provokasi, inilah waktunya mereka untuk gigi apalagi salah satu santri mereka terbunuh secara keji.
Beberapa preman pasar yang melihat kegaduhan ikut bersama mereka. Sambil membawa segala macam senjata mereka menaiki motor dan ikut konvoi dibelakang para santri. Sekitar 40 motor keluar dari area pesantren Al Yutbi, suara deru mesin motor memecah keheningan malam.
Alexis dan Kondiring tertawa terkekeh kekeh dari atas sebuah pohon rambutan.
"Hehe misi kita selesai! Ayo kita lihat bagaimana keadaan di Darul Musabah"
"Bagus juga kalau kita tebas Salah satu santri mereka dan bilang kita dari Al Yutbi"
"Itulah yang aku pikiran..Ayo cepat kita kesana"
Kedua sosok setan itu terbang dengan cepat kearah pesantren Al Yutbi.
Sementara itu, 40 motor sudah mulai bergerak. Ustad Hashim langsung mengontak polisi setempat.
"Pak tolong pak! Baru saja Ada pembunuhan ditempat kami. Kemungkinan yang bunuh adalah santri Darul Musabah! Dan sekarang banyak santri kami sedang menuju ke Darul Musabah untuk menyerang mereka! Tolong pak!!"
"Sabar dulu..pelan pelan ceritanya, siapa yang dibunuh dan bagaimana sampai tau pembunuhnya dari Darul Musabah"
Ustad Hashim menyerahkan telepon kepada salah satu santri yang tidak ikut penyerangan. Satu demi satu diceritakan kronologinya.
"Baik kita kesana segera!" ucap pak polisi.
...~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments