Rombongan setan mulai mendekat.

"Ya bapak mau kemana?" Tanya seorang petugas jaga dipos Kostrad.

"Selamat malam, saya Kiyai Rohmat mau ketemu sama teman lama saya Pak Sutomo"

"Loh bapak Kiyai belum tau?"

"Maksudnya bagaimana?"

"Tadi sekitar jam 3 siang Pak Jendral meninggal dunia"

Dheg..jantung Kiyai Rohmat serasa berhenti mendengar berita itu.

"Maaf saya dari luar kota jadi tidak tau..sakit apa?"

"Kami juga belum tau..menurut berita sih beliau kena serangan jantung. Rencana besok pagi akan jenazah akan dibawa keSemarang..Pak Jendral aslinya 'kan Semarang"

"Innalillahi Wainnailaihi Rojiun, baiklah kalau begitu saya pamit dulu pak"

"Njjih pak monggo, tapi mungkin ada yang penting?"

"Tidak Pak, Saya hanya sowan saja..permisi njjih"

Kiyai Rohmat cepat melangkahkan kaki setelah oamitan dengan penjaga, keluar gedung Kostrad dan menuju kesebuah jalan gang yang tidak jauh dari sana. Setelah melihat kekiri dan kanan tidak ada orang ia langsung menghilang. Tujuan selanjutnya kantor Kapolres.

Tidak berapa lama kemudian ia telah muncul disebuah Tanah lapang dibelakang kantor Kapolres. Dari arah belakang itu ia bisa melihat sebagian besar gedung kantor polisi yang hangus terbakar.

"Selamat siang..apakah Pak Hendardi ada didalam?"

"Selamat siang dengan bapak siapa?" ucap seorang brimob penjaga pintu gerbang.

"Saya Kiyai Rohmat Baqo dari padepokan Al Hikmah Jawawi teman lama Pak Hendardi"

"Oh njjih monggo duduk dulu pak saya kontak kedalam sebentar"

Tidak berapa lama penjaga pos mempersilahkan Kiyai Rohmat masuk kelantai 1 kamar kerja Pak Hendardi.

"Assalamualaikum selamat siang pak"

"Mualaikumsalam masuk pak Kiyai masuk, maaf saya lagi ditelepon..silahkan duduk dulu"

Kiyai Rohmat masuk dan duduk disebuah sofa panjang, matanya mengelilingi dinding ruang kerja pak Kapolres. Keliatannya agak sedikit Ada perubahan dinding. Dulu disana terpampang foto pak Kapolres dengan Kapolri sekarang sudah tidak ada.

"Halo pak Kiyai maaf saya Saya tadi sedang bicara dengan wakil pimpinan Kostrad. Sangat disayangkan pak Jendral meninggal dunia pagi ini" ucap pak Kapolres dengan wajah sedih.

"Iya betul, saya tadi juga dari sana..kaget mendengarnya..Kok tiba tiba sekali"

"Oh pak Kiyai sudah tau ya, gimana pak ada yang bisa dibantu?"

"Pak Hendardi, seperti yang bapak ketahui beberapa hari yang lalu telah terjadi huru hara dikota Malang, bahkan kantor bapakpun juga menjadi sasaran..kebakaran telah terjadi bukan saja disini tapi juga di Kostrad"

"Nah itu pak Kiyai..kami terus melakukan pengecekan dan sebetulnya banyak dari anggota kami yang ingin menyerang Kostrad karena diduga pelakunya adalah mereka.. Alhamdulillah saya bisa tahan mereka, satu pleton brimob juga sudah diturunkan dari Surabaya untuk membantu kami disini"

"Hmm..gini pak, Biarkan saya cerita kenapa dan bagaimana kejadian demi kejadian terjadi..ini masalahnya rumit, masalahnya tidak segampang yang banyak orang pikir..ini sangat berbahaya..Mungkin bapak juga tau bahwa beberapa pesantren juga terbakar dan diisukan dilakukan para santri dari NU..ini sudah merupakan penghasutan yang gila gilaan"

"Oo begitukah? Cerita Pak..Saya akan dengarkan"

Kiyai Rohmat bercerita secara detil kejadian demi kejadian, ia memohon agar pak Kapolres mengerti dan meyakini apa yang sedang terjadi.

Dan ternyata Pak Hendardi percayai, ia geleng geleng kepala kaget mendengar cerita Kiyai Rohmat.

"Bapak bisa perlihatkan kepada saya sedikit bukti tentang akan adanya sebuah peperangan ghoib?"

"Hmm..apakah pak Hendardi siap? Sebab apabila saya perlihatkan kepada pak Hendardi sanggupkah menerimanya?"

"Insya Allah sanggup pak Kiyai"

"Saya akan bawa seorang reserse polisi yang kebetulan sebagai pemeran utamanya..dia sedang istirahat dipadepokan saya. Insya Allah akan saya bawa dia kesini dalam waktu beberapa menit"

"Oh apakah itu Pak Dario yang dari Jakarta?"

"Betul sekali pak"

"Pak Dario ada diMalang?"

"Ada dan sekarang dipadepokan..Saya minta ijin semedi sebentar..apakah ada kamar kosong?"

"Monggo pake saja kamar shalat saya"

Kiyai Rohmat berdiri dan dioersilahkan masuk kesebuah kamar berukuran kecil. Disana Kiyai Rohmat langsung memusatkan pikiran dan terbang ketempat padepokan.

...~...

Sementara itu diangkasa Kiyai Dandung yang sedang memantau arah barat melihat berpuluh puluh cahaya merah melintas dilangit.

"Syeh! Mereka menuju kesini dalam jumlah besar!" teriaknya.

Syeh Muso mendengar teriakan itu dan bersamaan juga Kiyai Ruso sudah kembali, ia membawa 5 raja Jin dari hutan Alas Purwo di Banyuwangi dan Alas Ketongo di Ngawi.

"Kiyai Ruso persiapan pasukanmu! Mereka sudah terbang menuju keposisi kita!" teriak Syeh Muso sambil mengibas ngibaskan tasbehnya.

"Njjih..kami sudah siap semua!!" balas Kiyai Ruso.

"Ya Allah..ini waktunya peperangan akan tiba..berikan kami disini kekuatan dan keselamatan agar bisa menang melawan mereka!"

Syeh Muso membentangkan kedua tangannya, kilat dan petir tiba tiba saling menyambar diudara. Kilat dan petir kemudian membentuk 2 tombak bersinar sangat terang dan meluncur kearah Syeh Muso.

Dengan sigap Syeh Muso menangkap ke dua petir itu. Seluruh tubuhnya bersinar terang, bahkan Kiyai Ruso dan Kiyai Dandung serta semua pasukan Putih tidak sanggup melihat tubuh Syeh Muso yang sangat terang dan menyilaukan.

"Jaga posisi kalian, ingat setiap selesai tempur kembali keposisi kalian disampingku!!" teriak Syeh Muso.

Setelah 2 menit cahaya cahaya Merah itu terlihat mulai mendekat,.Hawa panas kini menyelimuti langit.

...~...

Pak Narto mengambil dua cangkir dari lemari dan menyeduh teh panas. Satu cangkir diberikan kepada Dario. Ia mengajak Dario duduk diteras belakang rumah kayu Kiyai Rohmat.

Dario meneguk sedikit teh panas, matanya menerawang jauh kedepan ia menghirup nafas panjang, Hari sudah hampir sore. Burung burung mulai berterbangan mengelilingi sebuah pohon yang menjulang tinggi disebrang kali seberang sana.

Pak Narto duduk disamping Kanan dan Nuri duduk disebuah kiri Dario. Pak Narto sempat kekiri kearah Nuri, ia tersenyum melihat Nuri meletakkan kepalanya dipundak Dario.

Beberapa menit mereka,ketiganya terdiam hanya pandangan mereka yang berbicara.

Tiba tiba Nuri berdiri dan memandang kearah ujung halaman.

"Ada apa Nuri?" Tanya pak Narto.

"Mbah Yayi datang!"

"Mana? Oh Iya betul..Dario Kiyai Rohmat datang!"

Dario ikut berdiri dan kaget melihat Kiyai Rohmat tergopoh gopoh datang.

"Assalamualaikum..Dario ikut Yayi sebentar, Nuri kamu disini bersama Narto jaga padepokan..Dario aku bawa sebentar"

"Mualaikumsalam..mau dibawa kemana Yayi?"

"Kita kekantor Kapolres sebentar, Yayi mau bawa kamu menghadap kepak Hendardi"

"Oh begitu baiklah.." ucap Dario.

"Pejamkan matamu Dario, jangan dibuka kalau belum aku katakan buka ya"

"Njjih Yayi..ayuk saya sudah siap" jawab Dario.

Kiyai Rohmat mengajak Dario duduk bersila, seperti difilm Startrek dalam sekejap keduanya hilang dari pandangan. Itulah ilmu teleportasi Kiyai Rohmat diperlihatkan dihadapan pak Narto.

Pak Narto mendekati Nuri..

"Tidak apa apa..Biarkan mereka pergi, Yayi pasti tau apa yang sedang diperbuat..kamu kehilangan dia?"

Nuri menganggukan kepalanya..

"Ya sudah..kita duduk lagi, mungkin tidak lama mereka akan kembali"

...~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!