Hai, tolong banget nih, untuk gak lupa vote demi kemajuan karyaku ini. Please jangan jadi silent readers, hargai para pembuat karya dengan memberikan vote kalian.
Sekian dan terima kasih~
...****************...
Santapan di malam hari termakan dengan hikmat. Melupakan ucapan Rafli mungkin lebih baik, namun nyatanya pria itu tidak kehabisan akal. Rafli terus mencari perhatian kepada Audrea.
Audrea jelas saja menjadi tak nyaman sekaligus heran. Perubahan signifikan terhadap pria itu amat ketara, seolah Audrea adalah mangsanya dan Rafli sebagai predator. Seperti ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh Rafli, namun ia tidak tahu apa itu.
"Lo kemasukan setan apa sih?" tanya Audrea sewot.
"Setan cinta," sahut pria itu mengerling 'kan matanya menggoda.
Lawan bicaranya bergidik geli. "Efek digondol Lastri nih, pasti," tebak Audrea asal membuat Rafli mendelik.
"Hus ... enak aja kalo ngomong. Lagian jadi cewe enggak peka banget dari dulu," cibirnya langsung berdiri dan berkacak pinggang.
"Dari dulu? Emang dari dulu kenapa?" tanya Audrea. Rafli jadi gelagapan sendiri, ia menggaruk tengkuknya yang terasa tak gatal.
Matanya melihat ke arah lain sembari membalas, "Lupain aja, gue gak mau lanjut nih topik percakapan."
Bahu Audrea terangkat acuh, ia menyelesaikan makan malamnya. Diam-diam lirikan itu mengutarakan rasa sesak, memendamnya bertahun-tahun memang tidak mudah bagi Rafli. Apa lagi banyak pria memandang Audrea dengan mendamba.
Pelan ia menghembuskan napas. Berbeda di tempat lain seorang pria tengah menatap foto seorang gadis yang sudah di edit tak menggunakan busana apapun. Matanya menatap lapar sosok itu sampai air liur keluar dari sudut mulut.
Ia mengusap kasar mulutnya. "Gila, enggak kebayang kalo gambar ini bakalan jadi asli. Kira-kira gimana, ya?" gumamnya berimajinasi nakal.
Kemudian ia menoleh ke arah kasur, dengan kain bergambar menggunakan bikini seksi membalut guling itu. Kakinya melangkah lebar, merengkuh guling tersebut teramat erat seraya menggesekkan intinya di bawah sana.
Mencium wangi yang ia beri dan persis seperti wangi sang gadis pujaannya. Memberi kesan sensual meningkatkan sesuatu, membayangkan kembali wajah cantik itu yang mengerang di bawah kungkungannya.
"Aku mencintaimu, Dre. Hanya aku yang boleh memilikimu." Kalimat itu keluar dari mulutnya, nadanya terdengar berat dan serak bercampur napas yang terengah.
"Ya, kamu memang milikku. Selamanya ...," lanjutnya menciumi serta mengendus guling itu lagi.
Tindakan menjijikkan itu disaksikan oleh makhluk tak kasat mata, dia menyeringai lebar sambil cekikikan dalam diam. Tiba-tiba dia menghilang dan pergi melihat tawanannya.
***
Yuda merutuki mulut dan isi kepalanya. Bisa-bisanya ia bersikap dingin pada Audrea, memang gadis itu sudah mengontrol khodam-nya, namun ia ingin sekali di andalkan oleh Audrea. Tapi tetap saja dirinya terkalahkan oleh Lastri, di luar sana makhluk laknat itu masih simpang-siur tidak jelas keberadaannya.
Ia meyugar rambutnya. Dengan kesal ia berdesis, "Sial! Andai Lastri gampang aku musnahkan, pasti kehidupan ku tanpanya akan berjalan lancar."
"Aku tidak bisa diam saja di rumah seperti pengecut. Audrea akan mencap aku sebagai pria tak berguna nantinya," lanjutnya risau.
Bergegas pria itu bergerak cepat, ia melesat bagai kilat. Tidak sampai hitungan lama, Yuda telah sampai di depan pekarangan rumah Audrea. Nampak sepi dan suasana sangat mencekam mengelilingi sekitar, di luar pagar lebih tepatnya Yuda berpikir secara matang untuk melewati batas pelindung.
Hendak mengambil langkah dirinya terpelanting beberapa meter, ringisan keluar dari mulutnya. Ia menatap tajam sang empu, bahkan lawannya tak gentar menghadapi Yuda yang tidak sebanding dengannya.
"Elingi wates," ujarnya memperingati Yuda.
(Ingat batasan).
Deru napas Yuda turun naik, menahan diri agar menghindari pertarungan. Mau bagaimana juga, ia sadar diri. Kekuatannya jelas jauh berbeda, sampai ia bertapa ratusan tahun lagi pun, tetap saja tak sebanding atau setara oleh sang wanita tua di hadapannya.
Mata tajam wanita tua itu melotot melihat pergerakan Yuda. Ia mengetuk tongkat yang senantiasa menemaninya ke mana pun, ia menunjuk Yuda dengan ujung tongkat itu sambil berkata, "Sampeyan ora cocog karo putune."
(Kamu tidak sepadan dengan cucuku).
Yuda beringsut mundur dan menepis pelan tongkat yang mengarah kepadanya.
"Seharusnya leluhur seperti anda tidak perlu ikut campur di dunia manusia," sahutnya tak terima.
Wanita tua itu menyeringai tipis. "Sampeyan kudu sadar diri. Anane sampeyan ing uripe mung bakal nggawa bilai!"
(Kamu harus sadar akan dirimu sendiri. Kehadiranmu dalam hidupnya hanya membawa bencana!)
"Tapi saya mencintainya, Mbah!" ucap Yuda frustasi seakan menolak kehendak Tuhan. Ia melangkah kembali dan terpental lagi, tubuhnya di angkat seraya wanita tua itu mencekik leher Yuda.
Brugh ....
Tubuhnya terbentur kuat ke arah pohon nangka di belakangnya, darah hitam keluar dari mulutnya yang mengeluarkan rintihan. Sang khodam bergeming dan berdiri kokoh sambil memandang remeh Yuda.
Yuda bersimpuh. Ia menangis dan menyatukan kedua tangannya sebagai sarat memohon, kepalanya menggeleng lemah. Ia merendahkan diri di hadapan sang khodam pendamping Audrea.
"Saya mencintainya, Mbah. Saya rela kehilangan apa saja demi bersamanya, tolong beri restu!" mohon Yuda berlinang air mata.
Badan wanita tua itu berbalik memunggungi Yuda. Tongkatnya di ketuk ke tanah lagi beberapa kali.
"Tinggal putu, yen pancen tresna marang dheweke!" tegasnya lalu berjalan memasuki rumah. Perlahan sosok itu menghilang, hawa di sana menjadi tambah dingin.
(Tinggalkan cucuku, jika kamu benar mencintainya!)
Kepala pria itu terangkat. Mata Yuda terbuka sempurna, makhluk itu sudah tidak ada di hadapannya. Ia menelan pil pahit kehidupan, kalimat wanita barusan sungguh membuatnya tertohok, kian mengantarnya ke jurang penyesalan paling dalam.
Ia menangis dan meraung, hingga orang yang mendengar menganggap jika itu adalah menampakkan karena malam makin larut. Dari beberapa meter Yuda bersimpuh serta menangis, terdapat pria sedang menghisap cerutu mahalnya di dalam mobil van berwarna hitam.
Kepulan asap keluar dari mulutnya. Ia melihatnya, tapi tidak dengan sosok wanita tua. Dengan perlahan ia menghidupkan kembali mobilnya, meninggalkan lokasi itu sebelum dicurigai oleh masyarakat sekitar. Apa lagi ia sudah sejak bada isya di sana, sampai melihat Yuda datang tiba-tiba.
Di dalam perjalanannya pemuda tampan ini masih berpikir, "Kenapa dia bisa terbentur sendiri ke pohon? Kenapa aku tidak bisa melihatnya pelaku? Lalu dia siapanya Audrea? Aish! Belum juga menyingkirkan hama seperti Rafli, malah muncul orang aneh."
"Audrea hanya pantas untukku, tidak untuk yang lain!" lanjutnya. Matanya berkilat marah dan tajam, bayang-bayang wajah Audrea membuat dirinya menggila.
Ia mendengus, "Akan aku dapatkan bagaimana caranya. Ya, Audrea harus berada di dalam genggamanku!"
Seringaian terukir menyeramkan di wajah tampan itu. Ia menjilat sudut bibirnya, tangannya yang masih memegang cerutu ia buang sembarang ke arah luar mobil. Ia belum tahu saja jika saingannya bukan hanya dua pria, melainkan tiga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
MasWan
hah 3, sapa sijine
2023-07-10
0
MasWan
benar² perkara ghaib, bnyk hal² yg tak dapat dinalar
2023-07-10
0
MasWan
wah halu tingkat iblis nih orang haha
2023-07-10
0