Sosok Misterius

"Sudah Nak, tenang aja. Sudah saya laporkan oleh pihak berwajib," ucap Pak Ridwan menenangkan sembari menyodorkan sebuah gelas berisi air hangat kepada Audrea.

"Iya Nak, tenang ya. Kita udah laporin ini juga ke Pak Rt. Biar ada kamtib yang jaga lingkungan ini termaksud rumah Nak Audre, atau kamu pengen nginap di rumah kita dulu?" Yang ditanya masih gemetar takut, hampir saja tangannya melepas genggaman pada gelas kalau Bu Hani tak mencegah, pasti sudah pecah karena jatuh.

Audrea langsung menatap sepasang suami istri yang berada di hadapannya dengan mata memanas.

"Izinin saya, iz—zinin menginap ... di—rumah Bapak dan Ibu," cicit gadis itu dengan nada tersendat dan parau. Jangan lupakan tatapan matanya yang menatap kosong.

Mereka yang melihat itu menjadi iba, berakhir menerimanya dengan senang hati. Berhubungan juga di rumah pasangan suami istri itu ada kamar kosong, jadi Audrea bisa menempatinya.

"Ya udah, ayo Nak Ibu temenin ngambil baju gantinya. Nanti bakalan ada juga yang jagain rumah kamu, jadi jangan khawatir lagi ya ...." Audrea hanya mengangguk dan berdiri bersama Bu Hani yang menemaninya ke kamar.

Sedangkan Pak Ridwan duduk di ruang tamu, ruangan itu juga sudah bersih walau masih menyisakan sedikit bau anyir. Jika kalian berpikir tentang hal yang sama, kita satu frekuensi. Kejadian ini bermula saat ia ingin membuka paket berbentuk kotak berukuran sedang.

Sedikit demi sedikit ia buka secara perlahan dengan detak jantung yang terus berpacu tak beraturan, antara takut dan senang karena menerima paket. Itupun jika sesuai isinya.

Memang sedari awal menerima Audrea terus menimang barang itu, lumayan berat tapi kalau digoyangkan isinya akan berbunyi. Pada akhirnya rasa penasaran merambat ke benaknya, karena tak ingin membuang waktu ia percepat gerakan membuka paket tersebut.

Karena perekat lakban pada kardus sangat kuat. Jadi harus mengeluarkan tenaga ekstra. Tangannya gemetar saat suatu bau menyapa indra penciumannya, anyir. Itulah yang iya tahu. Jantungnya semakin bekerja dengan cepat karena ketakutan yang terus meningkat, gadis itu langsung lemas di kala sesuatu keluar melalui celah-celah kardus.

Darah merembes begitu saja, membuat dirinya melempar kardus itu sembarang. Di tambah dua tangan keluar dan bagian tubuh lainnya berceceran di mana-mana.

Karena saking takutnya, Audrea bangkit dan berjalan tergopoh-gopoh membawa diri untuk keluar dari rumahnya. Ketika kakinya akan melangkah lewati pagar, satu tangan mencegahnya.

Teriakan histeris menghiasi sepi di malam hari. Mengundang banyak warga yang datang, saat itu juga Pak Ridwan dan istri datang menolong Audrea.

Mayat bayi dalam kardus dan darah tercecer di mana-mana, membuat Pak Ridwan mencerna kejadian ini. Bahkan, ada surat yang mengatakan kalau hadiah ini bisa Audrea jadikan boneka manusia.

"Sudah Pak, ayo kita pulang." Bu Hani menegur suaminya ketika melamunkan mayat bayi dalam kardus dengan kondisi mengenaskan, badan termutilasi.

"Iya Bu, ayo Nak. Kamtib juga udah dateng, kasus ini biar di tanganin langsung sama polisi," balas Pak Ridwan dengan setenang mungkin.

Audrea hanya mengangguk lemah, ia akan menginap malam ini di rumah mereka. Apa ini termaksud teror dari Lastri? Tapi rasanya tidak mungkin, masa iya setan itu menyamar jadi kurir paket?

Entahlah, ia tak ingin memusingkan. Cukup malam ini musibah luar biasa terjadi padanya, sungguh ia ingin lupakan, bayangkan saja jika kalian di posisi Audrea. Tinggal sendiri dan hidup dipenuhi teror, mungkin kalian tak akan sanggup.

"Aku takut," gumamnya sambil berjalan dan memeluk diri sendiri.

***

"Hahaha! Ya ampun, sayangku ... wajah kamu itu loh, gampang banget menghibur aku!" tawa seorang pria meledak di dalam mobil van yang berada di dekat rumah Audrea.

Ia berdesis mengingat Audrea amat menggairahkan jika menangis. "Sebentar lagi, sebentar lagi. Tunggu sayang, kita akan menghabiskan waktu bersama hingga perut rata mu berisi bayi sungguhan!!!"

Binar di mata itu amat mengerikan, seringaian juga tak luput dari wajahnya yang tergolong cukup tampan. Air liurnya sedikit keluar membayangkan hal panas bersama Audrea, dirinya menahan gejolak nafsu agar tidak bermain kasar pada kesayangannya ini.

***

Audrea tetap menjalankan kewajibannya, bekerja. Menimang keputusan pada dirinya supaya tak dilanda rasa cemas atau takut kembali, menyibukkan diri adalah caranya. Mengingat hari ini adalah pengumuman pimpinan baru, dirinya juga sudah beberapa kali izin dan karena tak enak hati ia harus masuk untuk hadir.

Sebelumnya Audrea sudah berpamitan dengan pemilik rumah, Pak Ridwan dan Bu Hani. Mereka tadinya enggan memberikan izin kepada Audrea yang ingin pergi ke kantor, karena gadis itu menyakinkan bahwa diri akan baik-baik saja.

Hal hasil, orang tua itu mengalah dan tak menahannya. "Baiklah, kami harap kamu bisa jaga diri, karena kasusnya masih diselidiki tentang siapa pembunuh bayi itu dan peneror kamu, Nak."

Mendengar kalimat yang terlontar dari Bu Hani membuat hati Audrea menghangat, ia hanya tersenyum simpul dan mengangguk kecil. Selang beberapa menit ia sudah sampai tempat tujuan. Suasana kantor saat ini benar-benar ramai, bahkan ada yang menunggu di pintu utama gedung itu.

'Mereka nungguin apa, ya?' pikirnya saat menelusup beberapa staf kantor.

Audrea tak menggubris perilaku mereka, hanya berjalan tenang dan ke ruang kerjanya segera. Sedikit tergesa-gesa ia memasuki lift yang hampir saja pintunya tertutup.

Sungguh di luar nalar, ada bau anyir yang menyeruak masuk ke penciumannya. Rasa mual pun menghampiri Audrea, sesekali ia memeriksa sudut lift dengan keadaan yang terlihat baik-baik saja.

"Ngenteni pati, nggeh?"

Audrea hampir saja meloncat karena kaget mendengar suara serak dan berat telah menyapa rungunya. Waktu bertepatan sekali saat sudah sampai lantai tujuan, langsung saja ia berlari kecil menuju ruangannya.

Saat itu juga matanya membulat sempurna ketika melihat lift, ketakutan hampir saja di ambang batas kalau ia tak mengalihkan pandangannya. Lalu ia melihat kembali lift itu lagi, Lastri yang begitu menyeramkan menyeringai ke arahnya seraya pintu lift tertutup dengan lamban.

Tubuhnya merosot karena tangannya tak sanggup menggapai knop pintu ruangan, ia membeku seolah memikirkan maksud Lastri yang terus saja meneror tanpa henti.

Detik itu juga dirinya berpikir. 'Pasti dalangnya dia!'

Sadar tubuhnya melemas Audrea terdiam beberapa detik untuk mengumpulkan semua tenaga pada tumpuan kakinya.

"Loh? Kok, sepi." Audrea terpaku dan melongo melihat ruang itu tak ada manusia satu pun. "Jadi penasaran, siapa sih yang mereka sambut? Sampe ruangan masih kosong melompong begini?"

Gadis itu kini sudah melenggang masuk ke dalam ruangan, tapi ia hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.

Ia menghembuskan napasnya jengah, tak habis pikir jika semua orang menyambut pemimpin yang baru saja di angkat menjadi atasannya itu. Seharusnya setiap staf tak harus melakukannya, karena bagian humas pasti sudah menyambutnya duluan.

Pintu itu terbuka kembali, menampilkan Loli dengan wajah berseri dan senyum merekah di bibirnya. "Ehh, Kakak. Apa kabar?"

Dia rasa Loli ada kesalahan, sejak kapan dirinya menanyakan kabar sambil memasang ekspresi seperti itu?

"Kamu sehat?" tanya Audrea yang di balas anggukan kepala.

"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" Loli menggeleng membuat salah satu alis Audrea terangkat.

"Terus kenapa?" Ia bertanya kembali dengan sebal sambil mengerutkan keningnya dan memperhatikan Loli.

Lawan bicaranya hanya menautkan kedua tangannya sambil menggoyangkan pelan ke kiri dan ke kanan. "Merasa kaya liat calon imam, Kak."

Masih tak mengerti apa maksudnya, Audrea memutar matanya malas menatap Loli. "Kakak seharusnya liat!"

"Bukan urusanku, Lol," balasnya acuh.

Katakanlah jika Loli berlebihan, ia mengangumi seseorang yang baru ia lihat tadi pagi. Mengingat senyuman hangat dari pimpinannya itu terlihat sangat manly baginya.

Apa gadis itu terlihat mesum?

Tidak lama muncul presensi seseorang di balik pintu, Sarah dengan senyum ramahnya. Hingga Audrea menatap temannya kembali, ada sesuatu berbeda tapi entah apa.

'Ada apa dengan semua orang? Loli senang berlebihan hari ini, dan kini Mba Sarah tersenyum hangat. Aneh, gak biasanya Mba Sarah tersenyum kaya gitu. Apa dia gak takut timbul keriput?' gumamnya bertanya kepada hatinya.

Ya, benar. Sarah datang saat tak lama Loli masuk. Sarah hanya melempar senyum hangatnya kepada Audrea, membuat gadis berparas ayu tersebut menyimpan rasa penasaran.

"Pagi, Dre," sapa Sarah yang masih mempertahankan senyumnya. "Sarapan di kantin, yu! Atau mau di kafetaria aja?"

"Ayo, Mba! Aku juga laper nih." Yang menyahut adalah Loli, sedangkan Audrea tak bergeming sedikit pun.

"Ya udah, ayo ...," ajak Sarah. "Dre, ayo?"

Audrea menggelengkan kepalanya pelan dan sang empu hanya tersenyum tipis sebagai respon, mereka akhirnya ke kafetaria kantor berdua tanpa Audrea. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya sambil mengeluarkan kalimat.

"Mau make tubuh siapapun juga bakal ketauan kali, dasar setan!" sarkasnya lalu melanjutkan kegiatan.

Di lain tempat seseorang sedang duduk dengan jabatan tertinggi dalam kantor, tak lupa senyum terus terpatri indah menghiasi wajahnya sambil menatap lawan bicara. Jangan dilupakan juga nama pimpinan di atas meja yang tertulis rapi.

"Baik, Pak. Akan saya susun jadwal anda, tapi setelah jam makan siang hari ini ada janji dengan beberapa kolega di Arthur Coffee." Lawan bicaranya hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

"Saya mohon izin untuk undur diri, Pak. Jika ada sesuatu yang Bapak butuhkan, bisa hubungi saya, karena mulai saat ini saya akan menjadi sekretaris Bapak dan seterusnya." Orang itu membungkukkan badan beberapa derajat. "Saya permisi."

Seusai memberi tampang yang ramah, ia mengubah wajahnya menjadi datar tanpa senyum dan berbeda dari sebelumnya. Hanya helaan napas terdengar sangat berat, membuat identitas baru dan memberikan pandangan berbeda untuk orang lain sangat menguras tenaganya.

"Aku harus menggenggam semuanya dan semua harus aku selesaikan. Tunggu aku," gumam lelaki berparas tampan itu, mengingat wajah gadis yang membuatnya kalut di setiap masalah belakangan ini.

Secara tak langsung ada suatu hal besar yang akan terjadi, di mana konflik tentang kisah percintaannya menjadi penopang beban yang amat tak nyaman dalam benaknya.

Jadi, siapa orang misterius ini? Siapa orang yang dimaksud? Kalian tahu?

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

Angga,
Audrea

2023-07-10

0

MasWan

MasWan

si Angga???

2023-07-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!