Tak Nyaman?

Akhir-akhir ini Audrea selalu saja di datangi Yuda, membuatnya makin menaruh curiga kepadanya. Tentu saja curiga, Yuda selalu saja memberikan perhatian kepadanya bahkan seperti seorang pengangguran yang tak memiliki pekerjaan, beraninya membuat pertahanan Audrea runtuh.

Jangan tanya kenapa Yuda bersikap seperti itu, karena apa yang ingin ia dapatkan tak akan pernah dia lepaskan seperti dirinya yang sudah menemukan Audrea. Jika sudah di genggam maka tak boleh seorang pun menggoyahkan genggaman itu.

"Dre, aku anter ya ke kantor?" tawar Yuda dengan ramah.

Audrea tak menggubrisnya dan tetap ingin menaiki sepeda motor kesayangannya. "Dre, ayo berangkatnya aku anter."

Audrea masih tak menggubrisnya, hingga tangan Yuda menarik lengan Audrea dan berhenti berjalan.

"Yud ... aku bisa berangkat sendiri, enggak enak di liatin banyak orang. Lepasin ya?" ucapnya berusaha lembut karena dia dan Yuda sedang di perhatikan oleh tetangganya.

Menghela napas panjang dan tak menjawab lawan bicaranya. Yuda langsung menarik Audrea menuju mobil yang terparkir, tidak peduli tatapan orang yang menilainya keras kepala karena apa yang dia minta harus di turuti mau hal sekecil apa pun seperti mengantar Audrea ke kantor.

Berusaha menolak namun yang dia lakukan sia-sia, Audrea tadinya ingin memaki tapi setelah melihat wajah tampan Yuda dia mengurungkan niatnya dan memilih diam karena masih kesal.

Sesampainya di depan kantor, hendak ingin keluar mobil tapi masih terkunci dan menatap sang pemilik mobil

"Sudah sampai, kenapa masih menahan aku, Yud?" tanya Audrea dengan kesabaran yang ia miliki.

Melihat iris mata itu Yuda seperti terhipnotis, membuatnya mematung. Seperti mengingat seseorang yang pernah singgah di hatinya dulu.

Sedangkan Audrea, ia menahan gugup setengah mati karena di tatap tajam oleh Yuda.

Sadar akan posisi yang salah, Yuda segera membenarkan posisi duduknya dan membuang pandangan ke samping.

"Pergilah, kamu enggak mau terlambat 'kan?" usir Yuda sekaligus mengingatkan.

"Ahh ..., iy–iyaa, aku pamit." Mobil yang terkunci telah terbuka dan Audrea bergegas memasuki kantor. Yuda hanya memandang Audrea lekat dengan tatapan menyesal.

"Maaf Dre, maaf," gumamnya sendiri.

Ketika dia bergumam 'maaf' tiba-tiba saja rasa sesal itu menghilang terganti dengan wajah dan bibir yang sedang menyeringai, ibarat orang yang mempunyai dua kepribadian Yuda yang terkadang bersikap manis tiba-tiba dan akan berubah menjadi menyeramkan hanya dalam hitungan detik.

Mobil Yuda sudah melesat pergi dari kantor dan Audrea yang merasa jantungnya tak baik-baik saja hingga mengelus dadanya pelan, sedikit ada rasa sesak di sana. Membuat mata indah itu menahan air matanya.

"Dre, kamu sakit?" tanya teman kantornya dengan wajah khawatir.

"Ahh ... aku enggak apa-apa kok Mas."

Yang menegur Audrea adalah teman sekantornya, berstatus sebagai senior di sana yang bernama Angga, pria baik dan ramah. Ia telah menyukai Audrea sejak kehadirannya di kantor itu, namun tak Audrea ketahui. Tetapi memilih menyimpan rasanya sendiri.

Mendengar Audrea tidak kenapa-kenapa Angga tersenyum hangat. "Ya udah kalo kamu enggak apa-apa, kalo ada perlu atau butuh bantuan kamu tinggal cari aku aja. Aku selalu ada di ruangan kok."

Suara lembut Angga membuatnya teringat dengan suara Yuda, tak mau banyak memikirkan Yuda Audrea segera merespon Angga dengan anggukan pelan dan sebuah senyuman kecil yang terukir di wajah cantiknya.

Angga mengelus pelan pucuk kepala Audrea dengan lembut dan lalu meninggalkannya sendiri.

"Sial! Kenapa aku jadi diam aja di perlakukan seperti tadi, ishh!" gumamnya merutuki kebodohannya sendiri.

Berjam-jam Audrea di dalam ruangan ber-ac dan di dalam ruangan dia tidak menjumpai Sarah dari pagi, mau tidak mau dia harus menanyakannya kepada temannya.

"Lol ... Loli, kamu tau enggak Mba Sarah ke mana?" tanyanya sambil mencolek bahu Loli dengan pulpen.

"Oh, Mba Sarah katanya ijin pulang kampung Kak. Tapi gak tau sampe kapan," jawab Loli di balas anggukan oleh Audrea sebagai tanda mengerti.

"Oya Kak, Kakak mau tau sesuatu enggak?" tanya Loli dengan sedikit berbisik.

"Tau apa Lol?"

"Direktur kita udah di temukan kak!" Audrea mengerutkan jidatnya bingung karena masih tak mengerti dengan Loli katakan 'di temukan'.

"Di temukan di mana maksud kamu?" tanya Audrea penuh dengan penasaran.

"Dia itu di temukan di tempat pembuangan sampah Kak, dengan kondisi—" Loli menjeda ucapannya sambil menelan air liurnya susah payah.

"—tubuh tak bernyawa dan jasadnya mengenaskan Kak," lanjut Loli sambil melirik kiri dan kanan karena takut ada yang mendengar.

"Tau dari mana kamu? Hoax kali!" ujarnya tak percaya sembari melanjutkan pekerjaannya.

"Ihh ..., Kak aku serius, enggak boong!" ucap Loli menyakinkannya.

"Udah deh, jangan menyebarkan hoax Lol, kamu mau kena tindak pidana karena menyebarkan berita hoax, hah?" Mendengar itu Loli menggelengkan kepala dan tak melanjutkan ceritanya.

'Padahal 'kan aku belum selesai bercerita!' batin Loli kesal.

'Wahh ..., benar-benar melelahkan tanpa Mba Sarah, pekerjaanku menumpuk. Huwaaa!' rengek Audrea dalam batin.

***

Siang menjelang sore dan para staff kantor masih dengan pekerjaannya begitu pula dengan Audrea yang masih terfokus dengan komputernya. Hingga jam menunjukkan waktu pulang, namun Audrea harus lembur dengan tumpukan dokumen perusahaan, sedangkan Loli dan teman-temannya yang lain sudah pamit untuk pulang terlebih dahulu, mau tidak mau Audrea harus berkutat dengan kerjaannya sendiri di kantor.

Hingga tidak sadar waktu telah menunjukkan jam 7 malam, suasana kantor yang hening dan hanya sedikit penerangan di beberapa sudut kantor. Audrea pun segera bersiap untuk pulang tanpa dia tahu ada satu sosok yang memperhatikannya dari arah berlawanan, tak ingin memakan waktu dia langsung berjalan menuju lift dan menekan tombol.

Sambil menunggu pintu lift terbuka dia mengambil handphone-nya dan memeriksa sesuatu karena khawatir ada pesan penting, karena seharian dia tidak memainkan handphone sedikit pun. Pintu lift pun terbuka dan Audrea pun segera masuk dan menekan tujuan untuk ke lantai satu, sebelum pintu lift tertutup dia sempat melihat sekelebat bayangan yang melintas di depan ruangannya.

Tak mau ambil pusing dia hanya diam dan tak menggubrisnya. "Waspadalah, piyambakipun ajeng mendhet nyawa sampeyan kala punapa mawo!"

(Waspadalah, dia akan mengambil nyawamu kapan saja).

Napas Audrea tercekat ketika mendengar suara wanita paruh baya memasuki pendengarannya dengan nada serak namun penuh penekan di setiap kata, ketika dia membalikkan badan Audrea tak mendapatkan apa pun dan hanya dialah seorang diri di lift itu.

Terus membaca surat ayat kursi untuk meredakan rasa takutnya dan dia berpikir hal itu terjadi karena dia sedang kelelahan sekarang, pintu lift terbuka dan untung saja masih ada security di dekat lobby. Menyapa dengan ramah kepada security penjaga malam.

"Malam juga Mba," balas security dengan ramah. "Mba tunggu!"

Security itu tiba-tiba memanggilnya dan membuat Audrea menghentikan langkahnya saat sudah mulai menjauh.

"Ada apa pak?" tanyanya sopan ketika sudah membalikkan badan.

"Lain kali usahakan jangan lembur di kantor Mba, mendingan kerjaannya di bawa pulang ke rumah aja, apa lagi semenjak almarhum pimpinan kita meninggal. Bisa aja dia mengunjungi kantor ini tiap malam," ujar security mengingatkan.

Audrea yang mendengar bahwa pemimpin perusahaannya meninggal mengingatkannya dengan perbincangannya dengan Loli tadi siang, "Lagian kalo udah meninggal juga enggak mungkin masih ke kantor kali Pak."

Ia anggap itu sebagai lelucon, dengan melemparkan candaan yang garing lalu sedikit terkekeh di akhir dan melanjutkan langkahnya.

Merasa ada yang aneh dengan security yang tak merespon, Audrea membalikkan badannya.

Tak ada seorang pun di sana. Sepi, penerangan minim dan hanya aura gelap di sekitar sana, dia langsung bergegas meninggalkan kantor hingga keluar sampai berjalan untuk mencari taksi.

"Sial! Berani-beraninya penghuni kantor itu mengerjai aku, aku harap mereka segera di kirim ke neraka!" gumamnya kesal sambil menghentakkan kaki.

"DRE!!" panggil seseorang dengan nada tinggi. Merasa namanya terpanggil, dia segera berbalik dan menemukan seseorang yang dia kenal di sana.

Yuda berlari dan menampilkan senyuman termanis kepada Audrea.

"Ayo pulang, aku udah tunggu kamu dari tadi," ucap Yuda sambil mengelus kepala Audrea dengan lembut.

Di balas dengan anggukan kecil dan melihat tak ada penolakan, Yuda pun mengambil tangan Audrea dan menggandengnya sampai memasuki mobil dan genggaman itu baru terlepas.

"Dre, kok kamu diem aja, kenapa?" tanya Yuda lembut sambil menyetir.

"Aku enggak apa-apa kok Yud," balasnya yang melihat ke arah luar jendela mobil.

"Kamu pasti laper, gimana kalo kita cari makan?" tawar Yuda.

"Hmm ... boleh deh, aku emang laper sih dari tadi. Hehe ...," jawab Audrea dengan kekehan garing dan Yuda hanya membalasnya dengan senyum.

Yuda dan Audrea pun sampai di restoran cepat saji, sepanjang perjalanan Audrea tak sedikit pun lagi berbicara, yang membuat Yuda curiga mengapa gadis itu tiba-tiba berubah menjadi pendiam? Sampai saat memesan makanan saja Audrea malah melamun sampai Yuda menegur lembut.

"Kamu kalo ada apa-apa cerita Dre, jangan ngelamun kaya gini." Hanya gelengan yang Yuda lihat.

"Yaudah kamu mau pesan apa?" tanya Yuda.

"Seterah kamu aja Yud," sahutnya. Yuda mencoba mengerti akan keadaan dan tak ingin memperkeruh suasana lagi.

Setelah mereka makan malam bersama, mereka langsung menuju rumah Audrea. Tadinya Yuda tak berniat untuk menginap.

Namun Audrea memintanya untuk menemaninya karena perasaannya sejak pulang tadi tidak enak dan Yuda menerima tawaran Audrea karena untung baginya untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan nanti.

Audrea sebenarnya tidak ingin Yuda menginap, tapi dia harus mencari tahu apa maksud dari semua ini, dari mulai perkenalan, menjelaskan asal-usul, mencari perhatian kepadanya, dan bahkan maksud dari akan menolong Yuda nantinya.

Semuanya selalu terlintas di pikiran gadis itu, dia berniat untuk melenyapkan pengguna kanuragan itu bagaimanapun caranya.

"Aku harus bisa membuatnya enyah dari muka bumi ini!" gumamnya sambil menatap diri di depan cermin rias.

Yuda di tempatkan di kamar tamu dan Audrea tak berniat untuk berbicara banyak lagi pada Yuda, karena bisa saja nanti dia terpancing oleh karisma Yuda dan itu akan membuat Audrea terpengaruh. Walau dia tahu Yuda memiliki aura baik hari ini, tapi masih membuatnya was-was setiap kali berada di dekatnya.

Setidaknya, seperti siap payung sebelum hujan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!