Matahari menyelinap masuk melalui celah jendela kamar yang sedikit terbuka, Audrea tertidur saat menjaga Yuda yang tak hentinya mengigau. Sampai suhu badan pria itu tinggi dan yang membuatnya bingung lagi ia tak henti memanggil namanya dan nama orang lain yang tak ia kenal, 'Lastri'.
Yuda menggeliat merasa badannya sedang tidak karuan, dia melenguh kecil. Saat ingin mengangkat tangan sebelah kanannya, pria itu sadar bahwa Audrea menindih tangannya.
"Syukurlah, untung hanya mimpi," gumamnya pelan lalu mengusap pelan kepala Audrea sambil tersenyum getir.
Karena tak tega melihat gadis itu tertidur dengan posisi yang salah, ia berniat memindahkan tubuh Audrea ke kasur. Tapi di luar dugaan, badannya terasa sangat nyeri dan kaku.
"Akhh ... mengapa sakit sekali?" keluh Yuda saat mencoba menggerakkan salah satu anggota tubuhnya.
Merasa terganggu karena suara yang menyapa pendengaran, Audrea mencoba membuka mata walau masih teramat ngantuk.
"Eughh ...," lenguhnya sambil merenggangkan otot, lalu matanya melihat Yuda sedang kesakitan dan membuatnya langsung membantu Yuda.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya panik.
"Aku enggak apa-apa kok, cuma lagi perenggangan aja tadi," jawab Yuda dengan kikuk.
Audrea mengangguk dan berdiri berniat menuju ke dapur, langkahnya terhenti ketika Yuda mencekal pergelangan tangan gadis itu.
Ia mengernyit. "Aku mau ke dapur Yud," ujar Audrea.
"Kamu langsung pulang aja, aku bisa urus diri aku sendiri. Aku harap kita tak akan pernah ketemu lagi," usir Yuda lalu melepaskan pergelangan tangan Audrea.
"Apa maksud kamu? Aku gak ngerti, aku berniat baik loh!" sungutnya kesal dan menatap tajam Yuda.
"Kamu gak tuli 'kan?" usir pria itu lagi secara tidak langsung.
"Kenap–" ucapan Audrea terpotong.
"Aku sudah tidak membutuhkanmu!" tegas Yuda saat Audrea ingin berbicara kembali.
Deg
'Rasa apa ini? Kenapa terasa sakit?' gumamnya dalam hati.
Yuda menghela napasnya kasar dan kembali tidur dengan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Di dalam selimut ia menahan air mata untuk tidak lolos begitu saja, sedangkan Audrea terpaku karena di usir dengan cara kasar.
Ia memejamkan matanya dan menghela napas sebelum pergi dari rumah Yuda. "Baik, baiklah. Aku pergi Yud, aku gak ngerti sama kondisi yang lagi kamu jalanin, setelah ini juga aku harap kita enggak akan pernah ketemu lagi seperti yang kamu inginkan."
Setelah itu ia pergi dan menutup pintu kamar Yuda dengan kencang.
Apakah Yuda peduli? Tentu ia peduli, makanya dari itu sikap kasar ia tunjukkan pada Audrea, wanita inkarnasi dari Lastri. Tak sanggup jika mengingat kenangan kelamnya dengan gadis yang telah di sia-siakan, bahkan sungguh gagalnya dia menjadi seorang ayah yang baik bagi anaknya.
Karena ia memakan daging anaknya sendiri.
Rasa bersalah terus saja menghantui walau Audrea sudah di usir dari tadi, Yuda tadinya ingin menjadikan Audrea tumbal sesembahan untuk ritual awet mudanya. Tapi yang ia alami malah kejadian yang membuatnya menyesal.
Waktu tak bisa diulang kembali, kejadian yang terjadi adalah kesalahannya. Audrea mungkin bisa saja juga bukan inkarnasi dari Lastri, dia hanya mirip dan setelah kejadian itu saja Audrea masih tak paham dengan situasi.
Di lain tempat, gadis cantik itu sudah sampai rumah dengan selamat. Ia berusaha tak mengingat kejadian tadi, seharusnya kemarin memang tak mengiyakan ajak 'kan Yuda.
Dari jauh pria berkulit putih kuning langsat memperhatikan Audrea yang seperti banyak pikiran.
"Dre!" panggilnya pelan dan Audrea sadar dari lamunan.
Pria itu melihat Audrea yang sedang berlari kecil menuju ke arahnya, senyum yang merekah menyempurnakan wajah tampan itu.
"Kok lo ke sini gak ngabarin gue sih?" tanya Audrea yang terengah-engah.
"Emang harus ya?" Audrea mengangguk lucu.
"Kalo ke sini sengganya kabarin dulu lah Fli, 'kan gue bingung kalo lo dateng ke sini tanpa persiapan apa pun!" Rafli hanya terkekeh kecil saat Audrea mendelikinya.
Sedangkan Audrea tanpa basa-basi lagi langsung berjalan ke arah pintu masuk, lalu membuka pintunya dan berjalan santai meninggalkan Rafli sendirian.
"Dasar, ngeselin hahaha ...," kekeh Rafli kembali.
Ia membuntuti Audrea, Audrea yang merasa di ikuti pun berhenti.
"Ett! Mau ke mana?" tanyanya heran.
Dengan santai pria itu menjawab, "Ya, ngikutin lo lah!"
"Gak! Lo tunggu di ruang tamu, gue mau mandi dulu. Awas ya macem-macem!" Audrea memperingati Rafli sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan mukanya untuk tidak berbuat yang macam-macam.
Rafli mengangguk lalu hormat, seperti seseorang yang mematuhi perintah jendral. "Siap, dilaksanakan!"
Dengan tenang Rafli menduduki sofa yang sedang menganggur.
Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut tak karuan, perasaannya mengatakan bahwa ia akan melihat sesuatu. Karena sebelum mendapat penglihatan, pasti ia akan memiliki tanda-tanda seperti kepala berdenyut tanpa sebab.
"Maaf, jaga diri kamu baik-baik. Setelah ini jangan cari aku, aku enggak mau mengulang lagi kesalahan yang sama, Dre," ujarnya sendu sembari mengusap lembut surai yang hitam kelam itu.
Setetes air jatuh dari matanya sambil berjalan melangkah pergi. "Jaga dirimu, aku mencintaimu. Sekali lagi, maaf ... maafkan aku."
Setelah berkata seperti itu, orang misterius pergi tanpa jejak.
"Hahh ... hahh ... huhh, akhh!!!" Suara teriakan memecah keheningan rumah Audrea, Rafli kali ini benar-benar merasa kesakitan akibat penglihatan itu.
Sepenggal suara dalam kegelapan tadi membuatnya menerima efek tak seperti biasanya. Rafli terengah-engah di tempat, mengatur pernapasannya kembali.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar, Audrea yang baru saja mandi dan berpakaian langsung menghampiri Rafli yang kesakitan. Audrea dibuat linglung, dia bingung harus melakukan apa.
"Fli?!! Jangan bercanda deh, lo kenapa? angan bikin gue khawatir!" panik Audrea sambil mengguncang pelan tubuh Rafli.
"Sak-kit Dre," ringisnya pelan, lalu pingsan di pelukan Audrea.
"Dia kenapa sih?" Isak tangis semakin menjadi ketika bingung karena keadaan, Rafli tiba-tiba saja kesakitan dan tak sadarkan diri.
Dengan tenaga yang ia punya, Audrea membawa Rafli ke kamarnya. Walau langkahnya amat berat, ia tetap berusaha. Audrea terus-menerus merapalkan doa untuk kesadaran Rafli segera.
Pria itu bukan hanya mendapat penglihatan secara langsung, namun ia juga mendapatkan mimpi yang menyeramkan. Di mimpi itu Rafli melihat seorang pria yang sedang menggendong anak bayi, dilihatnya dari wajah pria itu menangis dan minta maaf berkali-kali kepada sang bayi.
Rafli memijat pangkal hidungnya. "Kayanya gue pernah liat deh, tapi di mana ya?" gumamnya sembari mengingat wajah pria misterius itu.
"Gue harus bangun! Gue gak boleh ke jebak di mimpi ini," dialognya sendiri dan berusaha pergi dari mimpi, namun di pertengahan saat ingin kembali ke dunia nyatanya. Ia bertemu gadis yang mirip sekali dengan sosok temannya, Audrea.
"Dre?" lirih Rafli.
Tak menjawabnya, gadis itu hanya menyeringai dan berjalan menghampiri Rafli yang mematung.
"****! Kenapa badan gue gak bisa di gerakin sih?!" Rafli tersadar ketika tubuhnya tak bisa di gerakkan sama sekali.
"Jangan takut, aku enggak akan melukai kamu," ujarnya berbohong dengan bernada suara lembut namun bagi Rafli suara itu menyeramkan.
Langkah demi langkah orang itu hampir saja mengikis jarak antara dirinya dan Rafli. Rafli yang tak bisa berkutik pun hanya pasrah, mimpi ini benar-benar sial baginya. Apa lagi dia mendapati hal ganjil ketika melihat gadis di depan matanya sendiri.
"Lep—as!" Napasnya tercekat ketika tangan kanan gadis itu mencekal lehernya.
"Kamu bodoh atau terlalu bodoh? Jangan ikut campur urusanku!" tegas sang gadis yang sudah berubah menjadi menyeramkan.
Mata berwarna merah sekental darah, gigi taring yang tajam, jari kuku yang runcing, dan jangan lupakan. Wajahnya sangat amat menyeramkan, siap kapan saja untuk menerkam mangsanya.
"Kamu hanya penghalang, seharusnya dari awal sudahku bunuh!" geramnya.
Bruk
Rafli terlempar hingga punggungnya terbentur cukup keras.
"Akhhh!!!" pekik Rafli saat tubuhnya di hempas begitu saja olehnya.
"Cihh ... lemah!" Seringaiannya terukir kembali di wajahnya.
"Kita lihat, seberapa kuat kamu akan bertahan di sini. Setelah kamu hilang dari mimpi ini, akan aku pastikan semua urusanku di duniamu akan selesai," lanjut gadis itu sambil memegang kapak dengan tangan kanannya.
Menyeret kapak yang berukuran cukup besar ke arah Rafli yang terus mengeluarkan keringat dingin, menyeringai dan menyeringai tanpa henti menatap pria yang ia lawan terkulai lemah.
"Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina." Ia bernyanyi sambil berjalan mendekati Rafli.
"Aku mohon, jangan ganggu aku!" mohon Rafli di tengah menahan rasa sakit akibat terlempar tadi.
"Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat." Tetap tak menghiraukan keadaan Rafli dan terus berjalan ke arahnya.
"Berhenti! Gue bilang berhenti! Dasar, iblis keparat!" sarkas Rafli saat tinggal beberapa langkah lagi ia akan menghabiskan nyawanya.
"Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina." Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan menikmati nyanyian yang ia nyanyikan sendiri.
"Gue gak mau mati di sini! Tolong! Dre ... tolongin gue, HAHH?!!!" Rafli frustasi karena mendengar wanita itu terus bernyanyi dan ditambah lagi ia dengan lirih memanggil nama Audrea.
"Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat." Langkahnya terhenti dan menatap Rafli dari jarak dua meter tak jauh darinya, lalu melanjutkan langkahnya lagi dengan masih menatap Rafli dalam.
"Sialan, kenapa gue gak bisa bangun? Dre ... tolong!" teriak Rafli di dalam kekalutannya.
"Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit." Tangan kirinya meraih dan membantu tangan kanan untuk membawa kapak berukuran besar itu.
Rafli kini hanya bisa berpasrah, jika memang ia akan mati di sini ia akan mencoba ikhlas. Tak ada harapan lagi yang datang untuk menolongnya.
"Cit cuwit rame swara ceh-ocehan." Lalu dengan wajah menyeramkan itu, gadis yang mirip dengan Audrea mengangkat kapaknya dan siap melayang ke arah Rafli.
Kapak itu terayun di hadapan Rafli, ia pasrah tanpa memberontak.
"Selamat tinggal, Dre." Suaranya bergetar terdengar parau dan lelah siap untuk mati kali ini.
Gadis itu adalah Lastri, yang memiliki dendam terhadap Yuda. Mantan kekasihnya, karena Lastri sangat membenci pria itu yang pernah memperkosanya, meninggalkannya, menggunakan ilmu kanuragan, dan juga telah memakan daging anaknya sendiri.
Saat Lastri terbunuh, ia menjadi roh jahat yang mengincar Yuda untuk membalas dendam. Ia juga yang telah membunuh guru spiritual Yuda, orang yang telah ia anggap sebagai penghalang.
Rafli, ia menganggapnya sebagai penghalang juga. Rasa dendam telah memakan sisi baik dari seorang Lastri, gadis cantik yang memiliki sifat hangat. Kini berubah menjadi roh jahat menyeramkan.
Waktunya untuk memulai, membalaskan dendamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
MasWan
lastri terbunuh karena apa?
dibunuh orang kah?
2023-07-09
0