Kodam

Yuda tertegun melihat Audrea yang sedang membuat sarapan untuk mereka, senyumannya mengembang dan menghampiri sang pemilik dapur.

"Pagi Dre," sapa Yuda lembut.

"Hmm ...," balasnya singkat tanpa melihat Yuda.

"Kamu hari ini libur 'kan?" tanya Yuda.

"Iya," balas Audrea cepat.

"Mari kita jalan-jalan hari ini?" ajak Yuda antusias.

Audrea hanya mengiyakannya dengan anggukan kecil lalu Yuda mengelus puncak kepalanya dengan lembut, sedangkan Audrea hanya langsung menatap Yuda dengan kesal. "Kenapa liat aku kaya gitu?"

"Masih pagi jangan sok manis deh Yud, aku enggak suka tau!" kesalnya.

"Ya udah, ayo kita makan, udah jadi nih nasi gorengnya," ajak Audrea yang enggan menatap Yuda dan langsung melahap makanannya dengan tenang.

'Akan aku buat kamu bertekuk lutut padaku Dre,' pikir Yuda licik.

Setelah mereka makan bersama, mereka siap-siap untuk keluar rumah. Untung saja Yuda membawa pakaian ganti di dalam mobilnya dan bisa mengganti langsung, sedangkan Audrea masih duduk di depan cermin rias.

"Sepertinya aku harus membuka auraku, agar bisa membuatnya terjebak," dialognya pada diri sendiri sembari menyisir rambutnya.

"Baiklah, akan aku lakukan!" Yang benar saja dia benar-benar melakukannya, dan langsung memejamkan mata sambil membaca beberapa kalimat seperti mantra.

Bulu kuduk Yuda berdiri, entah apa yang dia rasakan. Kekuatan yang asing namun cukup besar dan kuat ia rasakan. Yuda tak membiarkan itu dan mulai memeriksa setiap sudut rumah, hingga terhenti di depan kamar Audrea.

Saat akan membuka pintu sang pemilik kamar sudah menarik gagang pintu itu duluan, Audrea terkejut begitu pun Yuda. Tanpa sadar Yuda melihat gadis itu tanpa berkedip membuatnya tersenyum miring dalam hatinya.

"Wahh! Kamu memakai make up tipis aja masih terlihat cantik banget Dre," pujinya tanpa sadar, Audrea tak mempedulikan Yuda dan langsung mengajak Yuda keluar rumah.

Tak henti-hentinya Yuda mengagumi kecantikan gadis itu dan jujur saja Audrea yang di pandang Yuda terus menerus merasa risih. "Yud, ngeliat aku jangan gitu dong! emangnya ada yang salah ya sama make up aku?"

"Ahh ... maaf Dre, abisnya kamu hari ini cantik banget," sahut Yuda sambil tersenyum.

Jujur saja ia tersipu malu kali ini, namun dia tidak boleh lengah hanya karena dipuji Yuda. Audrea tersenyum lalu menarik Yuda untuk keluar rumah dan bergegas mengajaknya untuk pergi bersama, Yuda hanya menurut saja.

Yuda sudah merencanakan ini sebelumnya, mengajaknya pergi dan membawanya ikut ke goa yang biasa dia pakai untuk bertapa.

Pandangan Audrea selalu mengoreksi setiap inci goa karena ia harus tetap waspada terhadap Yuda. Ia juga sudah menyusun rencana untuk melumpuhkan Yuda, di sini tanpa satu sama lain tahu mereka telah mengibarkan bendera perang.

"Untuk apa kita ke sini Yud?" tanyanya penasaran.

"Duduk di sana, tunggu aku," titah Yuda menunjuk batu berukuran sedang dekat Audrea untuk duduk dan Yuda berjalan meninggalkan Audrea sendiri di dalam goa itu.

'Untuk apa dia membawaku ke sini?' pikir Audrea bertanya kepada diri sendiri dengan bingung.

Sepuluh menit berlalu, namun Yuda belum juga kembali, membuat Audrea terserang takut mendadak dan khawatir akan dirinya sendiri.

"Ke mana sih manusia itu? Lebih baik aku pergi aja dari sini!" Ketika ingin beranjak, dia di kejutkan oleh Yuda yang datang berjalan ke arahnya dengan pakaian adat Jawa.

"Kok kamu pake baju kaya gitu?" tanya Audrea bingung.

"Aku ingin bertapa, temenin aku ya Dre," balas Yuda yang menatap Audrea dengan lekat dan Audrea segera menggelengkan kepalanya cepat.

"Tidak! Aku enggak mau, lagian ngapain juga aku nemenin kamu, hah?"

Audrea mengepalkan tangannya menahan emosi karena Yuda yang memerintahkannya untuk menemani bertapa. Mana ada orang yang ingin menjadi teman seorang makhluk sepertinya.

"Jangan emosi gitu, ini kamu minum dulu airnya biar pikiran kamu tenang." Yuda memberikan minuman itu dan melihat Audrea ragu membuat Yuda kesal namun dengan selembut mungkin dia harus memastikan Audrea meminumnya.

"Dre minum aja, aku gak kasih apa pun ke minuman itu." Suara lembut Yuda meyakinkan.

"Sungguh?" tanya Audrea dengan alis kiri terangkat sedikit curiga.

"Sungguh!" balasnya dengan senyuman hangat dan mengelus surai gadis itu.

Audrea mengangguk lalu meminumnya, sebenarnya sedikit ada kecurigaan terhadap minuman yang di kasih oleh Yuda tapi di sisi lain dia menahan dahaganya juga. Melihat minuman yang ditenggak habis oleh Audrea, Yuda pun tersenyum puas.

'Tinggal tunggu waktu saat dia pingsan, lalu aku akan mengorbankan gadis bodoh ini. Hahaha ... ahh, aku sampai lupa memang bodoh!' batin Yuda menyeringai merasa ia menang sekarang.

Rasa mual datang tiba-tiba dan mata terasa berat ketika ingin memperhatikan Yuda yang sedang bertapa, bukan hanya itu saja Audrea juga merasa pusing.

"Eughh ... astaga, aku kenapa?!" gumamnya sambil memegang kepala yang terasa nyeri.

Brukk

Badan itu tak kuat menahan beban sehingga sang empu pingsan di tempat, Yuda membuka matanya dan bangun dengan berjalan santai lalu berjongkok di depan Audrea yang sudah tak sadarkan diri.

"Hahh, merepotkan juga kalo kaya gini, tapi enggak apa-apa deh. Yang penting sekarang kamu udah berada di genggaman aku, Dre." Yuda menyapu helaian anak rambut yang menghalangi wajah cantik itu lalu di selipkan ke belakang daun telinga Audrea, tak henti-hentinya juga Yuda menyeringai lalu tertawa seperti orang gila karena buruannya telah tertangkap kali ini.

Yuda mengangkat tubuh itu dan membaringkannya di atas tanah, yang di sekitar tanah itu terdapat dupa, kembang tujuh rupa, dan lainnya untuk upacara spiritual. Dia akan mengambil aura atau karisma serta roh Audrea untuk kehidupannya supaya hidup kekal tanpa keriput satu pun.

Perlu di ingatkan, jika dia bukan manusia lagi sekarang.

Setelah semua terasa sudah siap Yuda langsung memulai kegiatannya dengan membaca beberapa mantra dan memanggil roh yang sering membantunya dalam upacara spiritual sebelumnya. Dengan susah payah roh itu melakukan tugasnya, namun nihil roh jahat itu tak mampu mengatasi.

Selalu saja gagal ketika tubuh Audrea mengalami kejang lalu matanya terbuka, mata indah yang biasa di lihat Yuda sekarang berbeda. Mata itu sepenuhnya berubah warna menjadi hitam kelam dan membuat Yuda bergidik merinding.

"Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi!" Audrea menatap Yuda tajam.

(Kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya).

Yuda tak mengerti saat Audrea mengatakan hal itu, di tambah lagi keadaan goa yang goyang seperti ada gempa.

Gadis itu lalu pingsan lagi tak sadarkan diri, Yuda pun langsung menghentikan upacara spiritual dan menyuruh roh jahat itu kembali.

Sebelum roh itu hilang dia menyampaikan sesuatu, "Kamu telah mendapatkan yang salah hingga mengundang lawan, bahkan kekuatannya lebih besar dari ku!"

Roh jahat itu memperingati Yuda, lalu menghilang dan Yuda langsung menggendong Audrea untuk keluar dari goa, membawanya ke rumahnya untuk mengistirahatkan di sana.

Beberapa jam berlalu, Yuda sudah membersihkan diri dan menyiapkan makanan untuk Audrea yang belum sadar, Yuda setelah kejadian tadi, sebisa mungkin melupakan perkataan Audrea dan roh jahat itu.

"Hahhh!! Sial! Sial! Kenapa aku seperti ini, hahh! " Emosinya memuncak dan suaranya menggema ke seluruh ruangan mana pun, dia mengusap wajahnya dengan kasar dan mencoba melupakan lagi hal itu.

Tiba-tiba saja dia merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya dengan lembut. "Audrea? Kamu udah sadar?"

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya lemah.

"Maaf kalo suara aku ganggu istirahat kamu Dre," ucap Yuda menyesali perbuatannya. Padahal tidak.

"Enggak apa-apa kok Yud." Audrea hanya tersenyum lalu melanjutkan ucapannya, "Emang apa yang terjadi, hmm?"

Audrea tiba-tiba saja menjadi lembut dalam bersikap kepada Yuda namun tak Yuda sadari, dan anehnya Audrea tak marah sedikitpun kepada Yuda yang telah membuatnya pingsan.

"Aku enggak apa-apa kok Dre, it's ok," jawab yakin.

"Ya udah kalo gitu, oiya aku ingin pulang Yud ...," pinta sang gadis.

"Nanti aku anter, sekarang kamu makan dulu. Aku yang masak loh ini," tahan Yuda yang menunjukkan masakan kepadanya.

"Oh ... ya udah ayo, lagian aku juga belum pernah nyobain masakan kamu." Respon Audrea cukup antusias saat melihat hidangan yang menggugah seleranya itu.

Mereka pun makan bersama dengan keadaan hening, tak ada dari mereka membuka percakapan. Audrea fokus terhadap makanannya dan Yuda masih memikirkan hal tadi, walau begitu Yuda tak ingin membuat Audrea curiga. Karena gadis itu masih belum sadar mengapa dia pingsan di dalam goa.

Saat ingin keluar kamar, Yuda merasa seperti ada seseorang yang memperhatikannya di luar jendela, namun saat itu juga dia langsung memeriksa dan tak menemukan apa pun.

"Pasti ritual tadi mengundang roh-roh asing lainnya, " gumam Yuda was-was.

Dia pun langsung bergegas menemui Audrea yang sedang di ruang tamu. Menunggunya untuk di antar pulang, Yuda melihatnya sedang berdiri dan membelakanginya. Yuda pun menepuk pundak Audrea pelan sambil memanggilnya.

"Dre," panggil Yuda namun dia tak menjawab dan berbalik badan. "Dre ... Ayo pulang."

" .... " Gadis itu masih terdiam, Yuda pun membalikkan tubuh Audrea dengan paksa karena kesal.

"Aud- Audrea?" Yuda terpaku di tempat karena terkejut bukan main, dia melihat gadis itu sedang menyeringai dan tak lama Audrea tertawa nyaring sampai suaranya menggema, suaranya membuat Yuda seketika merinding.

Baru kali ini dia merasa takut, di tambah lagi mata Audrea berubah menjadi hitam kelam menyeramkan seperti kejadian beberapa jam yang lalu.

"Dree ... kam ... kamu— kamu kenapa?" tanya Yuda bergetar takut.

"Sampeyan sampun mbangunaken kula. Sampeyan ngertos resikonipun, Nak?"

(Kamu telah membangunkan saya. Kamu tau resikonya, Nak?)

Suara serak khas yang menyeramkan itu terhenti, lalu ia berjalan mendekati Yuda yang mematung sehingga pria itu jatuh terduduk.

Tanpa berani ia pun terdiam, kemudian Audrea mendekatkan mulutnya ke telinga pria itu dan mengatakan suatu hal.

"Mati!" Setelah mengatakan itu Audrea tertawa melengking dan menyeramkan.

Siapapun yang mendengarnya akan merinding dibuatnya, lagi-lagi. Yuda sudah sudah larut dalam ketakutannya, kini keringat bercucuran membasahi muka tampannya.

Tak lama Audrea berhenti tertawa dan tersadar, sekujur tubuhnya melemas luar biasa. Matanya berpapasan dengan Yuda yang sedang terduduk menatapnya dengan pandangan kosong.

"Yudaa ...," panggilnya dengan nada parau, lalu beberapa detik kemudian dia kehilangan kesadarannya.

Yuda dengan reflek menangkap tubuhnya dengan cepat.

"Haruskah aku mencoba membunuhmu, lagi?" tanyanya sendiri sambil menatap Audrea, lalu mengusap pipinya dengan lembut, Yuda mengangkat tubuh itu untuk di pindahkan ke kamar tamu.

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

khodam nya audrea tangi

2023-07-09

0

MasWan

MasWan

hah ternyata mau dijadikan tumbal???

2023-07-09

0

Abdul Nasir

Abdul Nasir

kayanya ga bisa deh, soalnya audrea dari awal terlihat punya prinsip kalo di deket Yuda, ya ga sih?

2023-06-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!