Kedua manusia bergeming, tak ada yang memulai pembicaraan, hanya Yuda yang menatap Audrea lekat dan Audrea membuang pandangannya acuh. Ia amat muak, mau mengusirnya pasti membutuhkan tenaga besar menurutnya.
"Langsung aja, apa maksud kamu ke sini?" Matanya beralih menatap Yuda curiga.
"Aku ke sini karena ingin melihat kamu, bahkan setiap hari aku ingin melihatmu. Bukan waktu yang sebentar untuk menunggu mu," lirih Yuda.
"Bisa jelasin yang lebih detail?" desaknya tak sabaran.
"Aku mengikuti garis takdir, tempo hari wajah kamu terlintas dalam pikiran. Hingga aku nekat mencari orang yang visualnya kaya kamu dan enggak lama keesokan harinya aku liat kamu secara langsung lagi nyetir motor, aku tahu mungkin ini terkesan kaya menguntit, tapi dalam mimpi hanya kamu harapanku dan ingin kamu mempercayaiku setelah apa yang nantinya aku katakan—" Yuda menjeda perkataannya dan semakin membuat Audrea penasaran.
"Seharusnya sejak perang aku sudah tiada Dre," sendunya. Audrea langsung membulatkan matanya karena terkejut.
"Siapa kamu sebenarnya, Yud? Apa kamu sedang bercanda, hah?" tanya Audrea tak percaya kepada Yuda.
'Mana mungkin? Apa dia penipu ulung yang sedang jadi buron?' pikirnya mulai curiga.
"Aku adalah orang yang telah memakai ilmu kanuragan, mungkin mustahil untuk dipercaya. Tapi inilah faktanya dan terimalah takdir yang datang di kehidupanmu," jelas Yuda.
Audrea mencoba mencerna kembali pembicaraan itu. Perlahan tapi pasti Yuda sudah membawa Audrea mempercayainya dengan hanya tatapan saja, satu hal yang Audrea tidak tahu adalah Yuda mempunyai kekuatan yaitu penghasut dalam setiap kata yang dia ucapkan, tentu saja itu membuat lawan bicaranya mempercayainya atau mematuhi Yuda.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Audrea yang tersadar karena tatapan itu.
"Tentu saja aku ingin dirimu." Yuda berujar sambil tersenyum.
Audrea mengangkat alisnya heran dan tiba-tiba saja kepala gadis itu terasa pusing. "Astagfirullah, kenapa kepala aku pusing tiba-tiba?" gumam Audrea sembari memijat pelan dahinya.
"Dre, kayanya kamu stres sama pekerjaan kamu deh. Mending kamu ikut aku aja jalan-jalan, gimana? Mau enggak?" tawar Yuda tak masuk akal.
"Tunggu! Jangan gunain kekuatan kamu untuk buat aku percaya akan semua yang telah kamu sampaikan kek aku barusan!" Sadar Audrea ketika Yuda terlihat memiliki aura hitam di sekelilingnya untuk mengalihkan pembicaraan dan sambil menahan amarahnya.
'Jadi dia sadar kalo aku memakai kekuatan?' batin Yuda bertanya pada diri sendiri.
"Jangan salah paham, aku enggak pernah memakai kekuatan untuk bikin kamu percaya padaku. Karena aku tau kamu enggak akan pernah bisa kabur dari takdir yang udah mengikat kita, Dre!" dalih Yuda meyakinkan.
"Baik. Aku akan percaya kali ini, tapi jika kamu beneran gunain kekuatan itu atau kekuatan lainnya—" Kalimatnya terjeda dan Audrea menghela napas panjang.
"Aku jamin diri kamu akan menghilang walau sekarang kamu memakai kanuragan, karena kekuatan kamu pasti punya kelemahan," lanjutnya dengan tatapan tajam.
Mendengar itu Yuda seperti menahan amarah untuk tidak emosi kepada Audrea yang telah mengancamnya. Ia menatap pongah sang gadis, namun masih bisa mengontrolnya. Ingin sekali membunuh gadis dihadapannya, tapi gadis itu masih ada gunanya nanti.
"Kenapa, kok kamu diem aja? Kamu lagi ngerencanain sesuatu ya?" Yuda menggeleng.
"Dre, aku bilang jangan salah paham. Aku enggak seburuk yang kamu pikirin. Aku mohon jangan seperti ini?" mohon Yuda yang tiba-tiba berlutut di depan Audrea.
"Bangunlah, gak sopan kalo di liat kaya gini," balasnya.
"Hmm, ayo kita keluar dan belajar untuk saling mengenal Dre." Yuda bangun kemudian mengulurkan tangan ke Audrea.
"Sebentar aku ingin siap-siap dulu." Dia tidak menggapai tangan Yuda dan berdiri untuk berjalan menuju kamarnya.
Apa Yuda marah atas perlakuan Audrea tadi?
Tentu Yuda sudah benar-benar geram namun dia tidak ingin termakan emosi. Audrea sudah menguji kesabaran Yuda, yang untungnya dia bisa kalahkan emosi itu.
'Aku harus tetap waspada, dia bukan orang sembarangan. Dia manusia yang punya ilmu kanuragan dan aku akan mencari cara agar dia berubah menjadi jenglot karena itulah kehidupan setelah manusia yang telah memakai kanuragan,' pikir Audrea sambil memasuki kamar.
Sudah 10 menit ia di kamar, namun tak kunjung keluar karena Audrea mengabari Rafli untuk meminta bantuan mencari cara mengubah manusia yang memakai kekuatan kanuragan menjadi jenglot. Karena itu yang dia tahu.
Yuda menunggu dengan sabar hingga dia tak tahan dan berjalan ke depan pintu kamar Audrea dan ingin mengetuknya.
"Dre, cep-" ucapan Yuda terpotong ketika pintu yang ingin di ketuk terbuka oleh sang pemilik kamar.
"Ayo, aku udah siap nih," ajak Audrea dan di balas anggukan serta senyuman dari Yuda.
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama, walau keadaan masih terasa canggung dan kini mereka makan siang di restoran milik teman Yuda, Apa Audrea tahu? Tidak, dia tidak tahu kalau itu restoran milik teman Yuda.
"Enak enggak, Dre, makanannya?" tanya Yuda sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Enak kok. Oh ya, apa aku boleh tau umur kamu, Yud?" Yuda bingung harus menjawab pertanyaan itu.
"Hmm ... umur aku ...." Audrea hanya mengernyit.
"Iya berapa?" tanyanya lagi dengan penasaran.
"Seratus satu tahun," jawab Yuda sambil menggaruk tengkuknya tak gatal.
"Uhuk ... uhuk ...." Audrea yang sedang menelan makanannya menjadi tersedak akibat jawaban Yuda.
"Dre, kamu enggak apa-apa 'kan?" tanya Yuda terlihat khawatir sambil memberi minum.
"Kalo makannya udah mari kita pulang, aku sangat lelah hari ini," sahut Audrea mengalihkan pembicaraan.
Yang di ajak bicara hanya mengerutkan keningnya heran, padahal Yuda tadi jawab apa adanya dan itu dia jawab jujur. Tapi ia belajar untuk tidak peduli terhadap respon barusan.
"Baiklah ayo kita pulang," putus Yuda.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan Audrea juga memilih istirahat di rumah. Tadinya Yuda ingin bertamu namun dengan cepat ditolak oleh Audrea, karena dia sungguh membutuhkan istirahat saat ini.
Waktu terus berjalan dan matahari telah terbenam dengan indah di ujung hari, Audrea sehabis melaksanakan sholat pun langsung mencari ponselnya untuk menghubungi temannya, Rafli.
Tutt ... tutt ... tutt ....
"Ishh, ke mana sih nih orang?" gumamnya kesal karena telponnya tak di angkat dan mencoba menghubungi kembali.
"Assalamu'alaikum, Dre?" Senyuman merekah di bibir Audrea karena telponnya diangkat.
"Walaikumsalam, akhirnya lo angkat juga." Terdengar kekehan kecil di seberang sana.
"Kenapa sih? Oh, gue tau nih kenapa lo telpon gue," tebak Rafli usil.
"Emang apa Fli?" tanya Audrea yang gemas.
"Jelas lo kangen sama gue, ya 'kan?!" sahut Rafli percaya diri.
"Cih, pede banget sih lo, gue nelpon lo karena ingin nanyain sesuatu tau!" dengus Audrea.
Rafli mulai mengernyit sembari berpikir, "Pasti yang masalah tadi pagi, betulkan?"
"Kalo ada yang menggunakan ilmu itu mungkin aja pemiliknya gak akan mati dengan cara ditusuk, di kubur hidup-hidup, bahkan jika lo tebas lehernya enggak akan membuat pengguna ilmu mati, malah tuh kepala nyambung lagi. Tapi ketika mereka beneran mati, jasadnya enggak akan di terima bumi dan jika mereka menyusut jadi jenglot itu karena sang pengguna dapat konsekuensi dari ilmu yang dipake atau melanggar pantangannya, itu yang gue tau dan gue sebagian cari di internet sih," jelas Rafli panjang lebar.
"Kalo itu gue ngerti dan gue juga baru denger tentang konsekuensinya. Tapi lo tau enggak kalo si pengguna bisa awet muda?"
"Hahaha ... Dre ... Dre, lo kenapa sih? Tumbenan nanya hal kaya gini," ucap Rafli tak habis pikir sambil tertawa.
"Ihh, 'kan gue nanya serius. Jawab Fli?" kesalnya.
"Kalo menurut gue sih, si pengguna selain memakai ilmu kanuragan dia juga make ilmu lain, bisa aja dia banyak bersekutu dengan setan atau jin. Oh, kalo enggak dia bertapa dan kasih tumbal gitu, itu sih pemikiran gue yang pernah baca di buku tentang manusia awet muda dengan cara gak wajar," sahut Rafli menjelaskan lagi.
"Ya udah, nanti selebihnya gue cari lagi deh. Makasih ya Fli," balas Audrea tulus.
Rafli hanya tersenyum kecut di sebrang sana dan tak membalas ucapan terima kasih dari temannya itu, dia merindukan seseorang yang pernah hadir di kehidupannya dan selalu saja kalau menelpon hanya karena sebuah urusan penting bagi Audrea.
"Loh, kok diem aja sih? Rafli gua mau matiin nih telponnya," pintanya.
Rafli tersadar dari lamunannya.
"Ehh, iya Dre, matiin aja telponnya. Oh iya, kalo seandainya gue ajak lo jalan, lo mau enggak?" tawar Rafli dengan gugup karena takut di tolak.
"Gue bakalan terima kok, kalo lo yang ngajak."
"Serius nih?" ucapnya tak percaya mendapat lampu hijau.
"Ya serius 'lah, kapan lagi bisa ketemu temen lama?" kikik Audrea pelan.
"Ok kalo gitu, gue matiin telponnya. Lo jangan tidur terlalu malem ya Dre, see you." Senyum terus saja mengembang, lalu telpon itu di matikan secara sepihak oleh Rafli.
"See you too," ucap Audrea sambil tersenyum hambar.
"Ternyata di antara kita enggak ada yang beda ya Fli. Semua masih sama," gumam Audrea sendu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
MasWan
hmmm... apa Andrea jg memiliki perrasaan seperti rafli?
2023-07-09
0