Lastri Setan Sinting

Tangannya bergetar hebat ketika ingin melanjutkan kegiatan mengetik dokumen melalui aplikasi digital dalam komputer. Ia meringis ketika tangannya serasa ditahan, sosok mengganggu yang membuat dirinya tak nyaman.

Sosok anak kecil berwujud sedikit menyeramkan dengan penampilan hanya memiliki tangan sebelah kiri, mata kanan yang tertutup rapat karena jahitan asal, kepala tempurung belakangnya pun menganga begitu saja hingga terlihat jelas otaknya yang sedang bergetar kecil, ada juga beberapa ruam kebiruan mengelilingi tubuh kecil itu, dan tak lupa setengah mulut terjahit.

Sungguh miris melihat anak tak berdosa yang mengalami kekerasan dan mati mengenaskan seperti sosok di depan matanya. Audrea, jelas sudah biasa dengan penampakan anak kecil itu. Tapi tak biasanya anak itu mengganggu berlebihan seperti sekarang, dengan jengah ia memalingkan tatapannya dari hantu anak kecil tersebut.

Rasanya ia ingin menangis detik ini juga, tatkala melihat keadaan sosok anak kecil itu. "Ada apa, hmm?"

Mendengar pertanyaan lembut itu sang hantu menatap keyboard komputer, satu-persatu kata tersusun menjadi kalimat dalam layar. Audrea menautkan alisnya bingung, mengapa ia harus hati-hati terhadap orang sekitar? Itulah yang memutar dibenaknya.

"Jangan percaya terhadap siapa pun, hati-hatilah, jika ingin terus bernapas. Ia berada di sekitarmu!"

Setelah itu hantu anak kecil tersebut hilang entah ke mana, selang beberapa detik Sarah memasuki ruangan bersama Loli. Ia tersenyum teramat ramah kepada Audrea.

Mungkin benar, ia harus lebih hati-hati. Tak tahu musibah atau kebahagiaan apa yang telah menunggunya nanti.

"Kak Dre, ini laporan tentang pemasukan perusahaan. Di sini laba akan menunjukkan hasil bagi perusahaan kita, jadi tugas Kakak adalah membuat laporan untuk mencari seberapa besar laba yang perusahaan keluarkan nantinya," tutur Loli menyampaikan tugas Audrea.

Gadis itu mengangguk pelan dan membalas, "Ini lagi aku kerjain, makasih udah diingetin ya. Kamu lanjut ngerjain tugas kamu sana."

"Ay, ay, ay. Kapten!" sahut Loli dan langsung kembali ke meja kerjanya.

Keheningan menyapa mereka bertiga dalam ruangan. Audrea paham, hari ini memang banyak sekali dokumen atau laporan perusahaan yang harus mereka urus. Tapi tak biasanya Sarah terdiam begitu lama, biasanya manusia itu bernyanyi untuk memecahkan keheningan.

Saking seriusnya Audrea dibuat tersentak terhadap lampu ruangan yang redup secara mendadak, dirinya juga terpelanting ke belakang beberapa meter. Hingga pakaian yang dipakainya menjadi lusuh dan kotor.

"Di— mana ini?" gumamnya seraya memeriksa sekitar.

Tanpa sengaja ia melihat Rafli dari kejauhan, rasa rindu tak bisa dipungkiri saat melihat teman dekat terlihat kembali setelah beberapa minggu. Air matanya mengalir deras ketika jarak antara mereka terkikis, Rafli hanya menatap kosong ke depan.

"Rafli ... ini seriusan lo?" tanya Audrea bergetar menahan pecahnya tangisan. "Lo ke mana aja, Raf?"

Rafli terus bergeming, ia tak merespon Audrea. Bahkan sang teman mencoba menyentuh lembut tangan Rafli yang ternyata amat dingin, itu membuat Audrea tersentak dan kembali menatap lamat temannya.

"Per—gi!" ujarnya bersuara serak sekali.

Keringat dingin mengucur di dahi dan tubuh Rafli, pemuda itu berusaha menggerakkan badannya. Audrea melihat itu menggoyangkan bahu sang teman.

"Fli, sadar Fli! Coba istighfar!" seru Audrea mengabaikan peringatan temannya.

Lembutnya suara Audrea hampir membuat Rafli menangis haru. Bagaimana bisa temannya ini mementingkan dirinya, sedangkan Audrea berada dalam bahaya?

Perlahan Lastri muncul dari balik tubuh kekarnya. Tangannya mulai menggerayangi sembari mendekap dirinya dari belakang, ia menyeringai amat menyeramkan, Audrea berhenti dari ocehannya dan beringsut mundur.

"Hihihi ... dia miliki aku sekarang!" ungkap Lastri lalu menjilat pipi Rafli dengan lidah panjangnya.

"Aku— mohon, jangan— ganggu kami!" mohon Audrea bersama isakan kecilnya.

Lastri pun menyeringai. "Kalo begitu, Bersedia 'lah menjadi santapan ku!"

Gelengan kecil nan lemah mewakilinya untuk menjawabnya. Lastri berpindah tempat tanpa detik bisa menghitungnya, kini ia berada di hadapan Audrea yang mulai merosot dari pijakannya.

"Tau kesalahan kalian? Kalian mengganggu ketenangan aku untuk membalas dendam!" sarkasnya penuh kemurkaan membuat atmosfer sekitar menjadi mencekam.

Audrea mengadahkan kepalanya untuk menatap Lastri. "Kenapa kamu keliatan menyedihkan sih?"

"Seharusnya kamu lebih memilih damai, ketimbang jadi setan kaya gini!" sarkas Audrea menatap tajam Lastri.

"Wanita sialan!" Lastri mencekik leher Audrea penuh amarah yang memuncak.

Brak

Darah kental keluar dari mulutnya, dadanya terasa sesak saat melihat Rafli tak mengeluarkan gurat kekhawatiran. Tatapan sendu sang teman ia tangkap ketika mereka bersitatap, Rafli berusaha menggerakkan badannya sembari membaca surat pendek dan memperbanyak istighfar.

"Cinta yang kalian bangun di masa lalu memberi kita pembelajaran— bahwa, ikhlas setelah melepaskan itu penting, bukan?" tegur Audrea.

"Tau apa kamu? Kalian adalah penyebab rasa sakit itu sendiri!" balas Lastri tak terima.

Audrea mengernyitkan dahinya. "Apa maksud kamu?"

"Kamu! Seharusnya kamu gak terlahir di dunia ini!" jawabnya sambil berdesis dan mengerang.

Petaka inkarnasi ini terjadi, Lastri tak terima seseorang hadir dengan kesempurnaan yang meliputi seluruh hidupnya, apa lagi wajahnya mirip dirinya. Itu membuatnya muak dan ingin sekali mencabik-cabik wajah ayu sok polos milik Audrea. Rasa dengki dan dendam sudah berpadu dalam gairah nafsu setan, Lastri, bukankah dia harus dilenyapkan?

Sedangkan Audrea berusaha terlepas dari jangkauan Lastri, ia berlari tak tahu arah dan yang pasti dirinya harus terlepas dari Lastri. Derai air mata membasahi pipi tirusnya. Lagi dan lagi dirinya meninggalkan Rafli, pasti pria itu marah padanya.

"Hahhh ..., aku pas— ti bisa lep— pas darinya," gumamnya terengah-engah sambil berlari.

Peluh mengucur, hari semakin gelap. Tak tahan lagi ia berhenti dan menoleh. "Loh? Aku di mana?"

Tin ... tin ... tin ....

Klakson mobil berbunyi nyaring hingga menyadarkan Audrea, ia membelalakkan matanya terkejut.

"Ahh, badan gue kaku, apa semuanya akan berakhir?"

Mata indah miliknya terpejam, mobil itu hampir saja menabraknya, namun seseorang berhasil meraih lengannya dan membawanya ke dalam rengkuhan sang pria.

Grep

"Maaf aku hampir aja terlambat, maaf!" Suara bariton yang teramat ia rindukan tanpa sadar berada di depannya.

Perlahan Audrea melepas pelukan itu dan menatap sengit pria yang sempat ia lupakan beberapa hari terakhir. "Seharusnya kamu gak kembali. Kamu penyebab utama dari malapetaka ini!" sentaknya menunjukan muka Yuda.

Yuda menggelengkan kepalanya lemah, ia mencoba memeluk gadis itu kembali, namun sangat disayangkan Audrea menepis lengan kekar yang mendatangi dirinya.

"Apa setelah ini kamu bakal pergi lagi? Begitu seterusnya 'kan? Terus menghindar, membiarkan beban kamu ditanggung oleh orang lain, puas hah?!!" tanya Audrea sambil berteriak. Masih terekam jelas kalau Rafli sedangkan tak berdaya, Audrea kehilangan Rafli lagi.

Menyesal atas segala perilakunya dan meninggalkan Audrea menghadapi semua hal berat itu sendirian, rasanya ia ingin sekali berlutut dan menahan Audrea untuk tidak membenci dirinya.

"Hei! Dasar tuli! Seharusnya kalian tak usah ber-drama di jalan raya, bodoh!" umpat pengemudi mobil yang tadi menyembulkan kepala.

Mereka tak menggubrisnya, Yuda terus berusaha meraih tangan Audrea.

"Sekali lagi maafin aku," lirihnya lalu mencium lembut punggung tangan Audrea.

Sedangkan gadis itu masih bergetar kecil karena tangisnya, hari yang sangat berat kini mulai kembali dengan tanda tanya besar mengelilingi pikirannya. Sebab akibat sebagai pertanyaan, bagaimana sebabnya? Beginilah akibatnya?

***

Di muka bumi ini Tuhan melarang keras dan mengharamkan umatnya untuk tidak menjalin hubungan dengan iblis atau semacamnya. Termaksud seperti Audrea dan Yuda.

Mereka melupakan batas, Yuda bukan sepenuhnya manusia.

Tapi, apalah daya. Cinta membutakan segalanya, Audrea mulai memaafkan Yuda dan kini mereka berdua telah sampai di rumah Yuda. Pria itu membeli rumah minimalis modern yang melihatnya pasti tak akan bosan, ia menggiring Audrea untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Tunggu di sini, sebentar aja," titah pria itu dan Audrea hanya mengangguk kecil sambil tersenyum simpul.

Matanya mengoreksi rumah baru milik Yuda. "Itu apa ya?"

Penglihatannya menangkap hal ganjil, kotak kayu jati berwana coklat dan tak lupa ukiran menghiasinya. Terlihat tua menurutnya, saking penasaran dirinya tak sadar jika Yuda sudah kembali dengan membawa minum dan ia juga berganti pakaian santai.

"Itu liontin punya Lastri," tegur Yuda membuatnya terlonjak kaget.

Audrea menatap kesal sang pria. "Kalo muncul tuh jangan mendadak dong! Udah kaya setan aja!"

Yuda terkekeh sesaat, ia menaruh minuman di atas meja dan menghampiri Audrea yang mulai mengangkat kotak kayu itu.

Ia mengambilnya dari Audrea dan membukanya lalu memperlihatkannya kepada Audrea. "Ini adalah pemberian aku, sini deh. Liat? Ada dua foto di sisinya masing-masing. Ini dia dan ini aku, kami make liontin perak berbandul foto di dalamnya."

"Liontin ini ada sebelum aku menghamili dia," jujur Yuda dan beralih menatap Audrea yang juga menatapnya.

Semburat merah muncul di wajahnya, seperti sedang menahan tangis. Sebenarnya Audrea merasa tidak nyaman terhadap Yuda yang membahas masa lalu di depannya, mau bagaimana lagi? Penyesalan sudah ia dapat sekarang, hanya tinggal menerima karma kelak nanti saat waktunya telah tiba.

Jemari lentik mengusap lembut pipinya. "Sekarang, kita hadapi dia bersama."

Yuda mengerjapkan matanya, ia melihat ketulusan dari gadis yang pernah ia tinggal. Tak ada lagi tatapan amarah dan kecewa serta sedih di mata bulat Audrea, ia kembali tersenyum tipis.

"Apa aku harus mengorbankan diri ini, agar semua kembali normal. Termaksud membuat kehidupan kamu normal seperti semula, Dre?" ucapnya menatap lamat wajah sang hawa.

Cinta, apakah ini pengorbanan cinta?

Jika iya, maka salah satu dari mereka memang harus melepaskan. Perihal tentang perasaannya menjadi semu kalau tak menemukan jalan keluar, ini adalah keputusan Yuda, melepas Audrea lagi nantinya dan membuat normal kehidupan sang gadis.

Biarlah hal semu terus bertahan, bagi mereka yang tidak ingat batasan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!