"Kenapa masih ada di sini?" tanyanya penuh curiga.
Pria itu tersenyum, ketika ingin mengatakan sesuatu, tubuhnya limbung dan ambruk di tengah guyuran air hujan. Membuat Audrea spontan menghampirinya dan mengambil lengan pria untuk di rangkul, membawanya masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di sofa ruang tamu.
"Ya ampun, berat banget nih orang!" gerutunya.
Setelah itu dia bergegas untuk mengambil handuk, selimut, dan sebuah baskom berisi air hangat tidak lupa dengan alat untuk mengompresnya. Karena ia merasa suhu badan pria itu mulai melewati batas wajar, menurutnya.
Audrea pun bergegas menuju ruang tamu kembali dan mau tak mau dia harus membuka baju bagian atas pria itu supaya tidak membuatnya kedinginan, kemudian dia mengelap pelan tubuh atletis sang pria, menyelimuti dan mengompresnya setelah itu.
Berpikir kalau nanti pria itu bangun dan merasa lapar, dia langsung menuju dapur untuk memasak nasi goreng yang mudah dibuat. Naluri berjalan semestinya, tapi tak lama ia sangat was-was pada orang asing yang singgah di kediamannya.
Entah berapa lama Audrea bergelut di dapur, tanpa sadar dia sedang diperhatikan seseorang namun yang di perhatikan tak menyadarinya karena terlalu serius dengan memasak.
Pria itu pun menegur dengan hati-hati agar Audrea tidak kaget karena kehadirannya di dapur.
"Eh, kamu udah sadar? Kok kamu bisa pake bahasa Indonesia biasa sih?" tanya Audrea. Nada bicaranya terdengar seperti mengintimidasi.
"Nanti akan saya jelaskan, sekarang fokuslah memasak. Nanti masakanmu bisa gosong ,Dre," balasnya sambil menyadarkan Audrea yang sedang memasak.
"Ini udah kelar kok, mendingan sekarang kita makan bareng aja dan setelah makan kamu jelasin apa maksud kehadiran kamu di sini," ucapnya sedikit dingin dan di jawab anggukan oleh lawan bicara.
"Oh ya, satu lagi. Dari mana tau nama aku?" lanjutnya sambil berjalan menuju meja makan.
Tak ada jawaban, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing.
Hanya suara dentingan alat makan yang terdengar tanpa ada pembicaraan, selesainya mereka makan Audrea membersihkan peralatan masak dan alat makan yang di pakai tadi.
Setelah itu dia langsung menuju ruang tamu dan terlihat jelas pria yang bertubuh kekar itu membuat jantungnya berdegup dengan cepat, dan bodohnya ia baru sadar ketika pria itu sedang tidak memakai pakaiannya sejak tadi.
"Ka-kamu, tunggu di sini sebentar aku akan mengambil switer aku untuk kamu," ujarnya gugup.
Pria itu hanya diam dan memperhatikan sang pemilik rumah saat kembali dengan sebuah pakaian.
"Ini pake dan jangan sampai kamu kedinginan, ini switer-ku yang paling besar dan juga jarang di pake," tukas Audrea.
"Terima kasih," balasnya singkat.
"Kita langsung aja, pertanyaan pertama, kenapa kamu ke sini? Pertanyaan ke-dua, dari mana kamu tau nama aku? Pertanyaan ke-tiga, kenapa kamu bisa memakai bahasa biasa padahal tadi sore memakai bahasa Jawa?" tanya Audrea mengambil napas sejenak sambil melirik penuh intimidasi pada Yuda.
"Pertanyaan ke-empat, kenapa memakai baju adat? Pertanyaan ke-lima, dari mana kamu berasal?" lanjutnya dengan rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Audrea sambil mendengus di akhir.
"Aku ak—" ucapannya terpotong karena Audrea berbicara kembali.
"O iya, pertanyaan terakhir ...." Dia menjeda ucapannya.
"Siapa nama kamu?" lanjut Audrea dengan serius.
Sang pria menghela napas jengah. "Aku akan menjawab satu persatu. Pertama aku ke sini karena merasa harus bertemu kamu dan membawamu untuk ikut bersamaku, ke-dua aku tau nama kamu karena aku telah memperhatikan kamu sejak awal, ke-tiga aku bisa menguasai bahasa Indonesia biasa karena aku telah belajar untuk memahami bahasa ini dan aku juga bisa beberapa bahasa, ke-empat sebenarnya aku tadi ingin menemui mu dengan memakai baju biasa—"
"— namun aku teringat kalo pakai baju biasa terlalu membosankan dan aku ingin membuatmu terkesan dengan penampilanku karena memakai baju adat Jawa, pertanyaan ke-lima aku ragu untuk menjawabnya, pertanyaan ini akan ku jawab besok, pertanyaan terakhir namaku adalah Basurata Yuda," jelasnya panjang lebar.
Audrea mengangguk mengerti, namun masih ada rasa curiga dalam benaknya dan menatap lekat mata pria yang bernama Basurata Yuda. Menyelidiki tatapan itu untuk mencari kebohongan, namun nihil dia seperti tidak menemui kebohongan di mata pria itu.
Bukan Audrea namanya jika mudah percaya begitu saja kepada orang yang baru ia kenal, dia tak ingin di bodohi. Bisa saja saat ini ia sedang ditipu. Apa lagi alasannya tidak masuk di akal.
"Baiklah, karena pertanyaan ke-lima belum di jawab. Aku tunggu jawaban kamu besok dan setelah itu urusan kita selesai," balas Audrea.
"Iya Dre, kamu bisa memanggil aku Yuda mulai saat ini," ujarnya tersenyum hangat dan di balas senyum kecil oleh Audrea.
Yuda pun pamit pada Audrea karena malam sudah semakin larut dan mereka sepakat untuk melanjutkan pembicaraan itu besok.
"Ahh, aku harap dia bisa menerima takdir buruknya, hahaha ...," gumam Yuda pelan sembari menyeringai sambil berjalan menuju tempat parkiran mobil yang tak terlalu jauh.
***
Keesokannya adalah hari istirahat yang tepat untuk Audrea bermalas-malasan. Hingga tidak sadar, dia bangun terlalu siang pada jam 09.26 WIB, sampai ada suatu tangan yang lumayan besar dari tangannya menepuk pipinya lembut.
Karena Audrea masih dalam keadaan baru sadar, ia mengerjapkan matanya dan memfokuskan pandangan. Ketika penglihatannya mulai jelas, jantung Audrea berdetak dengan cepat dan langsung mematung tak percaya akan pandangan yang dia lihat sekarang.
"Kenapa diam aja?" tanya orang itu dengan santai.
"Bangunlah, aku bawain kamu sarapan," ujarnya sambil tersenyum.
"...." Ia menghela napasnya jengah.
Plak ....
"Hei! Kenapa kamu menamparku?" kejutnya sambil mengelus pelan pipi yang terkena tamparan.
"Seharusnya aku yang bertanya sejak kapan kamu masuk ke rumah ini? Dan mengapa dengan lancangnya kamu menyentuhku, hah?!!" pekiknya dengan amarah.
Sungguh aneh tiba-tiba saja Yuda berada di kamarnya dan entah dari dia bisa memasuki rumah Audrea. Bukankah ini tidak sopan saat seorang pria memasuki rumah seorang gadis tanpa permisi? Bahkan terlihat seperti seorang penjahat yang menerobos masuk.
"Tenanglah sedikit, aku hanya ingin melihatmu, apa salah?" tanya Yuda santai tanpa merasa bersalah.
Audrea melihatnya langsung tertawa hambar, tak menyangka orang itu berani-beraninya memasuki rumahnya seperti pencuri dan lihatlah! Yuda tidak merasa bersalah akan kelakuan anehnya yang dibuat oleh dirinya sendiri.
"Pergilah! Kita lanjut pembicaraan yang semalam nanti aja, aku lagi gak mood," usir Audrea.
"Aku enggak mau pergi dan akan tetap bersama sampai kamu tau yang sebenarnya tentang diri aku Dre," ucap Yuda tersenyum sendu namun tak membuat Audrea luluh.
"Aku tekan 'kan sekali lagi, PERGI YUDA! APA KAMU TULI?!!" Kesabaran yang Audrea miliki sekarang telah habis, ia baru saja bangun dan mendapatkan seorang pria di dalam kamarnya. Sangat menguji kesabaran.
"Bersihkan diri kamu dulu dan aku akan menunggu kamu di ruang tamu," kata Yuda.
Ia berlenggang pergi keluar kamar, sedangkan Audrea terperangah melihat sikap Yuda, sangat absurd.
"Hah?! Siapa sih, manusia gak sopan kaya itu? Dasar, kurang ajar!" umpat Audrea sembari memejamkan mata untuk meredam emosi.
Dia pun akhirnya membersihkan diri dan setelahnya ia segera menemui Yuda di ruang tamu, saat dia sudah di ruang tamu ia menatap jengah orang yang sudah bikin emosi di awal harinya, karena kehadiran yang tak masuk di akal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
MasWan
misterius
2023-07-09
0