Rasanya gadis itu ingin sekali menampar teman lelakinya. Yang benar saja, gadis penolong Rafli kini tak ingin pulang dengan alasan 'sudah malam' dan tidak beranjak pulang, membuat Audrea memijat lembut pangkal hidungnya.
"Terus kamu mau nginap di sini?" tanya Audrea sedikit dingin. "Soalnya di sini hanya ada dua kamar, loh!"
Dia hanya tersenyum kecil mendengar secara tidak langsung Audrea tak menyukainya. "Aku bisa tidur di sofa kok, sampai fajar datang aku baru pergi."
"Denger ya. Sebenarnya alasan kamu itu klasik dan gak jelas. Paling juga rumahnya di TPU 'kan?" balasnya acuh, hingga Rafli yang memperhatikan angkat suara.
"Maafin temen aku ya? Dia emang rada-rada." Rafli langsung mendapat respon sebuah pukulan lumayan keras di lengannya. "Lo sih, jadi orang candaannya kebangetan!"
"Dih! Kok gue sih? Makanya kalo punya mata tuh di pake, sayangku! Manusia tulen sama enggak, bakalan keliatan perbandingannya kali!" sarkas Audrea sembari menatap tajam ke arah yang dimaksud.
Awalnya orang itu hanya diam saja, tapi melihat respon Audrea identitas dirinya akan terbongkar nantinya. Tangannya terkepal kuat sambil menghembuskan napasnya secara kasar.
Rafli pun mencela, "Aduh! Lo jangan gila deh! Dia manusia, Dre." Yakin Rafli, namun tak membuat Audrea luluh.
Ia lelah mendengar kalimat Rafli, seolah-olah dirinya salah menilai. Andai saja matanya bisa menangkap penglihatan seperti dirinya, ia pastikan Rafli akan meminta bantuan untuk mengusir makhluk itu.
Karena telanjur kesal, Audrea meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Setelah kepergian sang pemilik rumah, raut wajah gadis itu terlihat gelisah membuat pria yang memperhatikannya sedikit iba.
"Kamu tidur di kamar tamu yang aku tempatin aja," ujar Rafli tulus.
"Terus, kamu nanti tidur di mana dong?" cicit gadis itu bertanya-tanya.
"Aku di sini aja. Oh ya, kita belum kenalan nih, hehehe." Gadis itu mengangguk kecil.
Ia pun tersenyum dengan mata hampir tak terlihat menimbulkan kesan menggemaskan bagi Rafli. "Nama aku Melati, mohon maaf kalo ngerepotin kamu sama Audrea, ya."
Rafli menggeleng pelan. "Enggak ngerepotin sama sekali kok, aku Rafli. Ya udah, aku anter ke kamar sekarang."
Hanya anggukan sebagai balasan dan mereka berjalan berdampingan hingga sampai di depan kamar tersebut, Rafli tersenyum tanpa berbicara banyak hal. Ia sangat kelelahan kali ini.
Melati memandang sosok pria itu yang mulai menghilang dari penglihatannya.
Ia menyunggingkan senyum, namun terlihat seperti menyeringai. Matanya menatap nyalang setiap sudut rumah. Memang tak ada yang aneh, tapi energi kegelapan cukup kuat menyelimuti rumah itu.
Hidungnya menghirup aroma asing, sehingga dirinya mengerang tak tenang.
"Sialan! Aku benci aroma ini, pasti wanita gila itu tak sadar jika rumah ini sudah tak aman," sebalnya sambil melangkah memasuki kamar.
Ia duduk di sekitar bibir kasur, lalu melipat kedua kakinya. Sambil menghela napasnya. "Bagaimana pun caranya, aku harus membuat Rafli terbuai dan bertekuk lutut padaku. Biar dia bisa ganti posisi si tua bangka itu!"
Melati adalah seorang kuntilanak yang sering memperhatikan Rafli, mulai dari mengawasi di luar jendela dan memberanikan diri untuk meneror Rafli kala itu.
Ia menjadi seperti manusia karena seseorang telah menancapkan paku di pucuk kepalanya, sehingga wujud yang semula menyeramkan kini tampak cantik tanpa cacat sedikitpun.
Rafli adalah incarannya sejak beberapa hari terakhir ini, untuk menggantikan posisi majikannya. Berulang kali ia menyeringai lebar tatkala mengingat wajah rupawan pria itu.
"Aku rela kalo dia mati dan kita pasti memiliki dunia yang sama, tapi aku tak rela jika tubuhku ini masih diperalat oleh manusia tamak itu!" gumamnya geram dan mengingat kejadian bersama manusia renta itu yang memanfaatkannya dirinya sebagai gadis penghibur, kemudian ia juga di jadikan penghasil kekayaan yang membawa keberuntungan usaha orang itu.
Giginya bergemelatuk hingga rahangnya mengeras tatkala mengingat dan bergumam, "Bajingan! Apa aku harus membunuhnya dulu, baru menyeret Rafli dalam duniaku?!"
Sungguh ingatan yang membuatnya geram, namun rasa berdesir hebat menjamahnya saat mengingat Rafli tersenyum tulus kepadanya. Sehingga menciptakan senyum tercetak di bibir mungil Melati.
Perlu di ingatkan jika ia bukan manusia, hakikatnya setan tak boleh mempunyai rasa terhadap manusia begitu pun sebaliknya. Namun kejadian ini sering berakibat obsesi terlalu tinggi, hingga setan mampu mengendalikan manusia lemah karena batas yang telah ia lewati.
Tapi kalau dipikir-pikir, setan di negara ini memang tak ada harga dirinya, sehingga manusia seenaknya memanfaatkan tanpa berpikir panjang.
(Canda setan:"v)
***
"Hahh ... anjir, mana gak bisa tidur pula!" umpat pria itu ketika tidak bisa menyamankan tidurnya pada sofa ruang tamu.
Ia mencoba memejamkan matanya berkali-kali, namun terasa sulit bagi dirinya. Saat ingin mencoba tidur lagi, pria itu mendengar rintihan yang berasal dari luar rumah Audrea.
"Ya ampun, gue lelah banget rasanya di teror terus. Tapi kenapa tuh setan enggak ada capeknya!" keluh pria itu sembari mengacak surainya dengan frustasi.
Kejadian tak terduga terjadi pada dirinya kali ini, suara itu memang masih ada, namun suara derap langkah muncul secara tiba-tiba seolah berjalan mendekati keberadaannya di ruang tamu.
Rafli mulai merapalkan doa dengan sungguh-sungguh, di susul oleh bisikan yang kini menyapa pendengarannya.
"Rafli ...," panggil seseorang tanpa wujud, lalu ia mengoreksi sekitar. Tidak ada siapa pun, membuat bulu kuduknya meremang.
"Dah lah, gue tidur sama Audrea aja." Berakhir ia pergi meninggalkan ruang tamu dengan sedikit tergesa-gesa.
Bulan di luar tampak cerah menyoroti pekarangan rumah, seorang gadis berdiri di depan jendela kamar dan hanya bergeming tanpa suara saat melihat suatu sosok menampakkan dirinya.
"Satu ... dua ...." Ia menghitung sampai suara Rafli terdengar sambil menggedor pintu kamarnya.
"Tiga," katanya sambil melenggang pergi menghampiri sang kawan.
Rafli menyemburkan napasnya lega ketika pintu terbuka, tanpa banyak basa-basi ia langsung melewati Audrea yang sedang menatapnya tajam.
"Mau ngapain?" tanyanya pada Rafli.
"Ijin tidur di sini ya, Dre. Gue gak berani tidur di ruang tamu." Pernyataan tersebut membuat Audrea memutar matanya jengah.
"Boleh gak nih?" tanya Rafli balik saat tak mendapat respon dari gadis itu.
Audrea berdeham pelan dan melangkah ke kasur. Sedangkan Rafli, ia tidur di lantai dengan beralas karpet berbulu milik Audrea dan bantal sofa yang dibawanya.
"Ahh, akhirnya!" gumam Rafli sesudah membereskan tempat untuk tidurnya.
"Kenapa enggak bisa tidur?" tanya Audrea yang penasaran.
"Mereka ganggu banget, Dre," sahut Rafli bernada parau. "Padahal gue gak mengusik, takutnya roh jahat yang waktu itu masuk ke dalam diri gue. Kan gue jadi was-was, Dre."
Mendengar itu, Audrea tak tega. Seharusnya Lastri sadar, jika dirinya salah sasaran dari awal. Kini ia tambah khawatir karena Yuda meninggalkan dirinya dengan teka-teki kehidupannya bersama Lastri.
Audrea menatap temannya sambil tersenyum lalu berkata, "Jangan takut. Gue selalu ada buat lo, maksud gue, kita akan tetap sama-sama untuk saling melindungi. Janji sama gue, kalo lo gak boleh lemah atau pergi ninggalin gue?"
Rafli menatap gadis itu, senyum merekah di wajah tampannya. Matanya juga berbinar ketika mendengar kalimat manis yang dari bibir gadis itu, amat menenangkan.
"Janji kok, kita bakalan melewati ini bersa—" Kalimat yang Rafli ucapkan terputus. Membuat lawan bicaranya tersentak kaget dan bingung secara bersamaan.
Ia pun bangkit. "Rafli? Dia ke mana?"
Gadis itu ingin memeriksa keadaan di luar sana, yang membuatnya penasaran. Karena hal mengganjal membuatnya tak tenang, Rafli menghilang secara tiba-tiba di depan matanya. Pasti ini ada sangkut pautnya oleh Lastri.
Tiba-tiba saja ada yang menggedor pintu kamarnya dengan kencang. Membuat Audrea berdecak dan mengurung niatnya melihat ke luar jendela.
Keningnya mengkerut, matanya juga membulat tatkala melihat presensi seseorang di hadapan dirinya.
"Lo kenapa?" panik Audrea saat melihat Melati lemah tak berdaya di depan pintu.
"Perkara apa-yang telah ... kamu laku—kan?" tanyanya terputus-putus sambil terengah-engah.
Audrea berpikir sejenak lalu menjawab, "Maksudnya apa? Gue gak ngerti!"
Tak tahu maksud yang telah disampaikan oleh Melati, gadis itu seperti membuat teka-teki rumit saat waktu yang tidak tepat.
Satu menit terlewatkan karena kebingungan menghampiri, tubuh gadis di hadapannya perlahan terangkat sembari memegang leher seakan dirinya tercekik.
Bukan hanya itu, tapi paku yang tertancap di pucuk kepalanya terlepas hingga terpental ke arah Audrea, untungnya gadis itu bisa cepat menghindari.
'Dia kenapa?' heran Audrea dalam benaknya.
Tatapan mengerikan ia dapat ketika mata itu mendelik seperti ingin keluar dari tempatnya. Tak lama juga darah telah mengucur lewat sela-sela matanya.
Audrea bungkam saat melihat kejadian di depan matanya. Ia langsung saja membanting pintu kamarnya untuk di tutup, dengan barang seadanya pintunya ia halangi meja rias.
Detak jantung yang tak bisa dikendalikan semakin membuatnya kalut menghadapi situasi.
"Gue sendirian sekarang ...," gumamnya seraya menatap pintu kamarnya di dorong kencang oleh seseorang.
Ketakutannya semakin menjadi ketika kaca jendela pecah tanpa sebab. Angin kencang masuk begitu saja, ia tak bisa kabur. Terkurung di dalam rumah sendirian. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada temannya, ia berharap Rafli baik-baik saja.
Lantunan nyanyian terdengar menyapa rungu, pandangannya menerjang kegelapan saat pencahayaan di kamar ternyata sangat minim.
"Audrea ...," panggil seseorang yang berada di depan jendela. "Ini aku, Yuda."
Sekujur tubuhnya membeku di tempat, suara yang ia rindu? Entahlah, benar atau bukan. Yang jelas itu seperti suara Yuda. Beberapa detik kemudian suasana kembali normal, lampu di atas nakas menyala.
Wajah yang di pikirkan juga sudah terlihat, tanpa banyak basa-basi Audrea berjalan menuju Yuda dengan langkah tertatih sambil menghapus kasar cairan bening dari matanya.
"Yud-Yudaa ...," lirih Audrea saat sudah sampai pada sang pujaan. "Ini kamu?"
Yuda hanya tersenyum simpul menanggapi gadis itu, ia merengkuh tubuh Audrea ke dalam pelukannya. Lalu berkata, "Ya, ini aku."
Ia sudah sangat terlena akan kehadiran pria yang beberapa waktu lalu hilang tanpa kabar, saking terlalu senangnya Audrea lupa jika tubuhnya semakin lemas.
Hingga ia sadar, dia bukan Yuda.
Perlahan pandangannya kabur dan rengkuhan itu mengendur, tubuhnya jatuh sambil memandang sosok di hadapannya. Dia menyeringai.
"Kamu—"
"Lastri," lanjut gadis itu. Tanpa menunggu lama ia sudah tak sadarkan diri setelahnya. Seseorang yang terakhir ia lihat adalah Lastri dan di sampingnya ada Rafli menatap dirinya dengan tatapan kosong.
Lastri mencengkram erat leher jenjang Rafli, menimbulkan suara ringisan.
"Temanmu akan mati!" ujarnya menatap nyalang kepada gadis itu.
Sedangkan Rafli sulit untuk memberontak, tenaganya tidak bisa ia keluarkan. Lastri terus saja menyeringai bak iblis, ia melirik Rafli dan menjilat rahang tegas pemuda itu.
"Mari kita hancurkan ekspektasi temanmu ini, Audrea! Hihihi ...." Mata merah menyala memandang remeh Audrea yang tergeletak lemah dan tak berdaya, Lastri menarik ujung bibirnya menyeringai kembali. Hanya beberapa langkah lagi ia akan menghancurkan Yuda dan Audrea.
"Aku harap, kamu mati bersama cinta yang membawamu ke dalam kesialan!"
Ya, Lastri sudah menangkap tatapan itu. Tatapan mendambakan sepertinya dulu di kala melihat wajah tampan Yuda, memandang sepenuh dengan cinta.
Audrea telah ketahuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments