Petaka Efek Ritual

Tengah malam datang dengan keheningannya, namun tak membuat Yuda mengantuk. Banyak yang dia pikirkan karena kejadian itu, kejadian yang membuatnya takut bukan kepalang melihat Audrea berubah menjadi sosok menyeramkan.

Suara jam dinding menyapa sunyi dan membuatnya makin tak bisa tertidur dengan nyenyak, sebuah suara lain pun muncul memasuki pendengarannya.

"Suara apa itu? Seperti suara binatang buas?"

Rasa penasaran muncul dan dengan berani Yuda memeriksanya sendiri.

Ketika melewati kamar tamu yang di tempati Audrea, pintu kamar itu tak tertutup rapat. Saat diperiksa pun kamar terlihat kosong tanpa seseorang dan ia segera memeriksa kembali suara itu.

Berjalan tergesa-gesa menuju halaman belakang yang membuatnya penasaran tanpa memikirkan hal lain seperti apa yang akan dia lihat nantinya.

Napasnya tersengal, mencoba mendekati kandang ayam cemani kesayangannya saat kandang itu sedikit bergerak.

"Audrea!" Yuda mematung di kala tahu siapa dalangnya.

Gadis itu tak menoleh ataupun menjawab, karena yang dilihatnya Audrea sedang memakan ayam itu hidup-hidup tanpa rasa jijik. Sudah dipastikan bahwa Audrea tidak sadar ketika melakukan itu.

"Dre, sadar!" guncang Yuda pada bahunya.

"Ngrehhhmm ...," balas gadis itu dengan menggeram.

Tak ingin menyerah dia pun mencoba menyadarkan gadis itu sekali lagi namun nihil, Audrea tetap tak menyadarkan diri.

Habis sudah ayam peliharaan Yuda yang dilahap dengan cepat oleh Audrea, ia bangkit dan berjalan mendekati Yuda yang diam mematung memperhatikannya.

Sadar dengan raut muka Yuda yang mulai takut Audrea menyeringai dan melesat dengan cepat berdiri di depan Yuda.

Srek!

"Akhh!!!" pekik pria itu yang di angkat dan dicekik oleh Audrea, lagi dan lagi Audrea hanya menyeringai.

'Aku harus mengakhiri ini!' ucap Yuda tertahan dalam hati.

Dengan sekuat tenaga Yuda mengumpulkan tenaganya untuk melawan gadis itu.

Audrea terpental jauh dan Yuda juga tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia berlari menuju ruang tamu dan dia menarik Audrea, lalu mencekik dan melawan sekuat tenaga sehingga sebuah suara menyadarkan Yuda.

"In– ini– akhhu!" Segera Yuda melepaskan tangannya yang mencekik leher Audrea.

"Dre, ini beneran kamu?"

Terpancar dari sorot matanya, Yuda kembali khawatir dan melepas cengkraman pada leher Audrea.

"Dre? Buka mata kamu?" pinta Yuda.

Audrea membuka matanya perlahan dan membuat Yuda terkejut bahkan lidahnya kelu untuk berbicara. Matanya masih berbeda dan itu bukan Audrea, berkali-kali Yuda berpikir setan mana yang memasuki manusia lemah itu.

Gadis itu menyerangnya dengan membabi buta, tanpa di sadari Audrea mencakar wajah tampan Yuda.

Pria itu meringis kesakitan, bahkan darah yang dia keluarkan bukan berwarna merah, melainkan warna hitam legam.

Wajar saja, karena Yuda sudah bukan sepenuhnya manusia. "Berr—he—hentii—sakittt!!"

Suara rintihan itu tak di dengar oleh Audrea, dia hanya tertawa melengking dan menatap tajam sang lawan.

Tak hanya itu, dengan kasarnya tubuh Yuda di lempar keras membentur dinding hingga permukaan dinding itu retak. Badannya terasa remuk sekarang, ia sudah lelah karena tenaganya terkuras habis dan tak biasanya tubuh itu melakukan pemulihan diri dengan lambat.

Dia akhirnya berusaha berdiri dan ingin membalas perbuatan Audrea terhadap dirinya, sungguh gadis itu membuat Yuda naik pitam.

Ketika tangannya akan berhasil menggapai pajangan kris di dinding, Audrea dengan gerakkan cepat langsung mengambil kris tersebut, lalu menusuk perut Yuda dengan brutal tanpa belas kasihan.

Lantai kini di penuhi oleh darah Yuda. Audrea hanya tertawa tanpa menghiraukannya yang sedang kesakitan, Yuda tergeletak lemas, kali ini ia menyerah.

Tenaganya habis, bahkan kekuatan yang dia miliki tak berguna untuk melawan Audrea. Namun yang membuatnya heran mengapa gadis itu mudah sekali di rasuki?

Entahlah, mungkin hanya Audrea yang tahu. Karena dia memiliki kekuatan atau mungkin lebih besar dari Yuda. Gadis itu benar-benar berubah menjadi menyeramkan.

Bahkan cara menatap dan tertawanya saja membuat bulu kuduk merinding. Napas Yuda masih memburu dan di tambah dia terus berusaha bangkit, tapi hasilnya tetap sama, dia hanya bisa terdiam takut saat Audrea mulai mendekat lagi padanya.

"Matiii! Hihihihihi ... hihihi ...." Itulah kata yang Audrea ucapkan dengan di susul tawa khasnya.

"Per– gii— pergi!!!" usir Yuda dengan sekuat tenaga, tapi dia tetap tidak berhasil. Audrea malah semakin mendekat.

"Ughhhh ... sad–ar ... Dree!" mohon Yuda ketika jantungnya ditikam dengan kris.

Seketika tubuh itu ambruk tak berdaya bahkan tak bernyawa, bukankah seharusnya pengguna ilmu hitam tak mudah mati seperti itu? Mungkin ini memang puncaknya di mana Yuda harus mati sekarang.

***

Yuda tersadar di ruang gelap yang menakutkan tanpa penerangan. Dan saat bersamaan suara cekikikan atau wanita tertawa terdengar benar-benar nyaring di telinganya, dia tahu siapa yang tertawa.

Itu adalah suara Audrea, ketika dia berjalan mundur Yuda menabrak sesuatu. Saat di periksa ada sebuah kendi besar yang tertutup dan ruangan mulai terlihat bahwa dirinya sekarang berada di dalam dapur, namun dapur itu seperti berada di dalam sebuah gubuk yang tak begitu besar.

Karena penasaran dengan isi kendi Yuda membuka penutupnya. Baru terbuka sedikit saja baunya mulai menyengat, tak ingin menghiraukan bau dia tetap mencoba membuka kendi itu dengan susah payah dan menahan bau anyir yang menyengat itu.

Klek

"Apa ini?" tanyanya sendiri sedikit tak percaya sambil menggelengkan kepala.

"Tidak! Tidak mungkin!!!" ujarnya sambil menangis terisak, saat itu juga ada seseorang yang memasuki dapur dengan suara langkah seperti menyeret sesuatu. Yuda berusaha menyingkir, tapi terlambat pemilik dapur sudah kembali.

Anehnya yang membuat Yuda tercengang adalah badannya di lewati begitu saja oleh orang itu, sedikit demi sedikit Yuda mengenal orang itu.

"Guru?" gumam Yuda pelan.

Ya, itu adalah gurunya yang sedang membawa mayat seorang wanita dan yang membuatnya terkejut juga adalah, wanita itu yang selama ini dia kenal. Audrea benar-benar ada di masa lalu, dengan sadis sang guru memotong leher untuk memisahkan badan dan kepala. Sungguh pemandangan yang membuat Yuda bingung.

"Aku ora peduli dengan sampeyan, pokoknya dia harus memakan daging gadis ini dan bayi itu." Seringaian terukir di wajah sang guru yang telah berumur.

"Apa waktu itu aku makan daging anakku sendiri?" Badannya melemas saat dia mengingat pernah diberikan hidangan daging oleh gurunya, ternyata itu adalah seorang gadis dan bayi. Tekstur daging yang kenyal berbeda pada umumnya, walau kala itu sejujurnya Yuda jarang sekali memakan daging.

Dulu saat Yuda mencoba bertanggung jawab kepada seorang gadis dia tak bisa menemukannya, tapi ketika sebelas bulan berlalu dia mendapatkan surat dari seseorang yang surat itu terletak di atas keranjang berukuran sedang.

Air matanya mengalir waktu itu saat membaca surat dan membuka keranjang, ternyata itu adalah anaknya. Tapi dia tak menemukan siapapun selain surat dan keranjang yang berisi bayi mungil tak berdosa, dia melupakan wajah cantik seorang ibu yang melahirkan anaknya itu, sungguh dia lupa.

Tapi saat ini ketika melihat Audrea, membuat kepalanya sakit. Di tambah lagi saat dulu dia kehilangan anaknya yang tak tahu di mana, namun dia sekarang malah melihat anaknya di dalam kendi besar yang berisi mayat manusia.

'Sialan! Ternyata dia kanibal, dan aku? Aku telah memakan daging anakku sendiri, ayah macam apa aku ini!' rutuknya dalam hati yang terus merasa bersalah.

Ketika tangan Yuda ingin menyentuh tubuh gadis itu yang kaku, tiba-tiba saja dia merasa di tarik dari belakang dan terbentur benda keras sehingga membuatnya terjatuh.

"Aku di mana?" tanyanya heran kepada diri sendiri, saat itu juga ada seorang wanita yang membawa keranjang dengan berjalan gontai menuju depan rumah seseorang.

Yuda seperti di buat sadar lagi oleh penglihatannya ini, dia adalah Lastri wanita yang berwajah mirip dengan Audrea. Lastri menaruh keranjang itu di depan rumah lalu dia mengetuk pintu dengan keras sehingga pemilik rumah bangun, tapi dengan sekuat tenaga Lastri pergi menjauh dari rumah tersebut.

Siapa lagi di dalam rumah itu kalau bukan Yuda, ia membuka pintu dan menemukan keranjang berukuran sedang dan terdapat juga surat di atas keranjang. Dia membuka surat itu perlahan dan membacanya.

..."Mas, ini aku Lastri. Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja, jangan cari aku lagi Mas....

...Aku akan pergi keluar kota untuk mencari keluargaku dan aku tak mungkin membawa anak ini bersamaku. Aku harap Mas mau menerima anak ini, ini anak kita Mas, tolong jaga dia baik-baik, didik dia....

...Kita tak mungkin untuk bersama, kita tak mungkin juga memperjuangkan hubungan ini, aku hanya bisa menyusahkan kehidupan kamu....

...Carilah penggantiku Mas, jangan gunakan ilmu itu untuk kejahatan dan apa lagi kamu ingin menggunakan kanuragan .......

...Aku mohon jangan, sekali lagi maafkanlah aku yang hanya bisa menulis surat untukmu. Kamu memang selalu menjadi yang terbaik di hati ini, aku mengharapkan kebahagiaan setelah kita saling melupakan nanti....

...Walaupun nyatanya cinta ini hanya akan menjadi kenangan....

...Jaga dirimu baik-baik, aku pamit....

^^^Lastri.^^^

Bulir air mata jatuh tanpa permisi ketika saat membaca surat dari pemberian Lastri, Yuda dari kejauhan memperhatikan dirinya yang bersedih karena membaca surat.

Mau bagaimana lagi, nasi sudah berubah menjadi bubur. Tak dapat mengulang dan memperbaiki, semua sudah terlambat dan hanya meninggalkan penyesalan di dalam lubuk hatinya.

Ini seperti toxic relationship, jika dalam hubungan yang sehat di dominasi oleh kasih sayang, rasa saling menghormati, dan penerimaan, maka toxic relationship adalah kebalikannya.

Sekarang dia merasakan sakitnya, kehilangan semua orang yang dia sayangi. Menyesal karena dulu hanya menganggap Lastri pelampiasan, tapi saat ia hamil Yuda juga sadar dan ingin bertanggung jawab namun terlambat.

Bahkan dia tak bisa menjaga anaknya, kebodohan itu sangat keterlaluan baginya. Mengingat Audrea dia tak ingin mencoba membunuhnya lagi dan akan berusaha menjauhi kehidupan gadis itu. Tapi sepertinya dia baru sadar bahwa sekarang semuanya seperti halusinasi, apakah dia sedang bermimpi sekarang?

Namun semua tadi nampak nyata, bahkan luka yang Audrea berikan saat Yuda sedang di siksa begitu kejamnya. Gadis itu benar-benar membuatnya pening setiap kali mengingatnya. Perasaan itu menyiksa Yuda, dia benci terjebak di dalam hidupnya yang rumit dan seperti di ruang gelap yang pengap.

"Seharusnya aku tak memakai kekuatan terlarang ini!" ucapnya frustasi sembari menarik rambutnya dengan kedua tangannya hingga rontok.

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

apakah audrea benar anaknya?

2023-07-09

0

MasWan

MasWan

eh punya rasa takut juga, ku kira gk da takutnya yg udah bersekutu dgn siluman, toh umur jg dah ratus tahun lebih

2023-07-09

0

Abdul Nasir

Abdul Nasir

jnck, ko aku merinding ya🥲

2023-06-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!