Rafli Menghilang

Sejak kejadian dua hari yang lalu, ia tak pernah melihat Rafli kembali kepadanya, bahkan nomornya tidak aktif saat dihubungi. Anehnya, waktu itu Audrea ditemukan pingsan dengan beberapa luka menghiasi tubuhnya.

Angga dan Sarah sungguh terkejut, di kala menemukan temannya terbujur lemah di lantai dan keadaan rumah yang cukup memprihatinkan. Sehingga ia harus menerima penanganan dari dokter untuk semua luka yang tercetak di kulit indahnya. Ya, walau tidak begitu parah.

Sarah sebenarnya ada keperluan mendadak mengenai laporan kantor buatan Audrea, karena laporan itu akan di pakai untuk meeting keesokan hari dan isi dari dokumen itu ada kesalahan, hari semakin larut ia ragu menelpon kekasihnya hanya karena tugas kantornya.

Hanya Audrea yang mengerti dan tahu isi materi dalam pembuatan dokumen itu. Apa lagi ia beberapa kali menghubungi Audrea untuk membuat laporan baru, tapi gadis itu tak mengangkat sama sekali.

Mau tak mau ia mengabari orang lain agar mengantarnya, berakhir ia datang bersama Angga menggunakan mobil pria tersebut. Keesokannya, gadis itu sedang duduk di kafetaria kantor sembari menyesap kopi hitam kesukaannya. Beberapa kali ia bertanya kepada diri sendiri, mengapa Rafli tak pernah kembali?

Otaknya terus berpikir keras tentang kejadian yang menimpa, seolah Rafli benar-benar meninggalkan rumah tanpa satu pun jejak tertinggal. Melaporkan kabar tentang orang hilang pada polisi justru semakin membuang waktu, ia hanya bisa menghela napas panjang sambil berpikir.

Lamunannya buyar ketika seseorang menepuk pundaknya dengan pelan. "Ehh, Mas Angga?"

Angga tersenyum menanggapi. "Jangan terlalu di pikirin, rumah kamu masih dalam perbaikan saat ini."

Audrea hanya mengangguk dan melanjutkan lamunannya.

'Kamu hanya punya aku sampai kapanpun, Dre,' gumam Angga dalam hati sambil menatap lembut gadisnya, ralat teman kantornya.

"Terkadang kita harus belajar ikhlas, semua musibah yang menimpa kamu pasti ada hikmahnya. Percaya atau enggak, kamu harus kuat jalanin semua ini, jangan terlalu berpikir keras. Itu akan membebani kamu, Dre." Mas Angga mencoba menyemangati tanpa membuat Audrea tersakiti oleh kalimatnya.

Penuturan Angga membuat Audrea bungkam, ada benarnya juga jika dicerna kembali. Tapi tak bisa dipungkiri, hatinya gelisah dan sulit untuk tenang.

Angga tak mengajak gadis itu mengobrol lagi, ia lebih asik memandangi wajah lemah Audrea yang terlihat sayu dan seperti kehilangan semangat untuk hidup. Ya, ekspresi wajah cantik itu dia menyukainya.

Saat ia sadar tengah di pandang sejak tadi, Audrea membalas tatapan itu dengan senyum yang teramat hangat menurut Angga sambil berkata, "Kalo aku tau sebenarnya kehidupan yang aku jalanin itu kenapa, pasti gak kaya gini 'kan Mas?"

Angga tak langsung menjawab, ia lebih diam dahulu sebelum menyahut, "Kamu hanya jalanin hidup tanpa harus memikirkan seseorang yang berada di benak kamu, Dre. Seakan ia kembali, tapi nyatanya enggak 'kan? Rafli, gak kembali?"

Perasaannya terasa tercabik-cabik mendengar pertanyaan si lawan bicara. Pemikiran tentang baiknya Angga ternyata salah, ia hanya datang untuk menaburkan garam pada luka yang ternganga, rasanya semakin perih.

"Aku permisi," ucapnya sambil berdiri dan melangkahkan kaki keluar kafetaria. Panggilan Angga tak ia gubris sama sekali.

Orang itu hanya membuat harapannya semakin pupus karena ingin Rafli kembali dengan selamat, apa salah jika dirinya menunggu seorang teman? Amarahnya malah memuncak sampai ubun-ubun kepala, saat mendengar Angga dengan entengnya berujar tanpa beban.

Ia menghembuskan napasnya kasar, Loli yang melihat temannya kembali langsung menghampirinya. "Kak? Kakak kenapa mukanya ditekuk begitu?"

Yang di panggil menoleh lalu menjawabnya hanya berdeham kecil, nyaris hampir tak terdengar oleh Loli. "Huffttt ... Kak, kalo jawab yang bener kek! Dah tau aku budi (budek dikit)—" sahut Loli kesal merasa didiamkan.

"—Jangan muram terus dong! Nanti aku bantu untuk cari Bang Rafli deh." Audrea langsung menegakkan tubuhnya, tatapannya ia tuju kepada gadis yang lebih muda dari usianya itu. Loli dan rekan kerja lainnya sudah mendengar kalau teman Audrea menghilang di kejadian di mana semua menganggap bahwa ada sangkut paut oleh perampokan, tapi gadis itu tetap diam tanpa melaporkan pada pihak berwajib.

Kembali pada Loli, karena belum direspon dan hanya di tatap aneh oleh Audrea, Loli memilih kembali dengan kegiatannya. Seolah itu juga adalah jawaban untuknya.

"Loli ...," panggil Audrea hingga sang punya nama mengerjapkan matanya cepat, baru ia berbalik.

"Bahaya. Kamu akan mati jika ikut terseret dalam urusan aku." Loli hanya mematung di tempatnya sambil mencerna kalimat yang Audrea lempar kepadanya.

Ia menggelengkan kepalanya meyakinkan dan berkata, "Aku gak peduli, dari awal aku udah ngerasa kok, apa yang telah Kakak hadapin. Dia udah melewati batas yang Tuhan garis 'kan, Kak!"

Sebenarnya gadis polos itu tahu apa yang telah terjadi oleh Audrea, selama ini ia memang diam. Takut terseret jika ikut campur, namun benak dan hati terus menentang untuk berkompromi membantu Audrea. Audrea kembali menatap Loli dan gadis itu mengangguk kuat sebagai jawaban. Bahwa dirinya sama, mempunyai kelebihan.

***

Jam pulang kantor. Audrea dan Loli berniat pulang bersama, mereka akan membicarakan persoalan pemecahan masalah yang terjadi. Walau ada keraguan dalam hati Audrea, seolah ada sisi yang mengatakan jika Loli tidak mempunyai penjaga.

"Oh ya, Kak, Mba Sarah gak ikut pulang kenapa ya?" tanya Loli saat mereka sedang menunggu angkutan umum.

Audrea berpikir sejenak. "Katanya sih lagi ngurusin laporan keuangan yang langsung diberikan oleh pimpinan kita, lembur deh jadinya."

Lawannya mengangguk kecil dan paham.

"Denger-denger juga, kita bakalan ganti pimpinan lagi Kak! Aku denger dari beberapa staf admin, katanya pimpinan kita itu masih muda dan —" Belum selesai berbicara gadis itu sudah dibuat diam, dikarenakan angkutan yang ditunggu sudah datang.

Loli berdecak tak suka. "Ck! Nyebelin, Ihh!"

Audrea hanya mengangkat bahunya tak peduli. 'Siapa suruh ngajakin gosip mulu,' katanya dalam hati.

Setelah memakan waktu 25 menit menempuh perjalanan, mereka kini telah sampai tujuan. Walaupun Audrea sebelumnya gadis itu sempat menginap di rumah sakit akibat rumahnya masih berantakan, kini ia beranikan diri untuk kembali ke rumahnya.

Loli yang telah memeriksa sekeliling, ada yang tidak beres dengan lingkungan rumah seniornya ini. Wajar saja, ini pertama kali dirinya datang berkunjung ke rumah Audrea. Tapi, jika diperhatikan kembali memang ada hal ganjil. Membuatnya menghentikan langkah, Audrea tiba-tiba saja membalikkan badannya karena Loli tak mengikutinya.

Gadis itu mengerutkan keningnya, Loli mengangkat jari telunjuknya ke depan mulut, mengisyaratkan agar dirinya diam. Audrea pun patuh.

'Banyak sekali jejak seperti bau yang di tinggalkan, apa lagi bau ini tadi sempat aku cium sedari tadi sejak pulang kantor bersama Kak Audrea?!' gumam Loli dalam benaknya, iya mencoba mengatur napasnya untuk tenang dan kembali menemukan hal aneh kembali.

Tak banyak basa-basi, gadis itu langsung menarik tangan Audrea untuk keluar halaman segera. "Ada apa? Apa kamu nemuin hal aneh?"

Ia berhenti melangkah. "Mereka mengikuti kita Kak, mereka udah mengklaim Kakak sebagai target. Tunggu bentar."

'Maksudnya mereka? Lastri? Siapa orang lainnya?' Pertanyaan itu berputar di dalam otaknya. Ia kemudian memperhatikan Loli yang sedang mencari sesuatu dalam tasnya.

"Ah, dapat! Kak, mungkin ini bisa bantu Kakak, ini adalah jimat almarhum ibu aku. Setiap anggota keluarga yang mempunyai kelebihan selalu diberi jimat ini, aku kurang tau sih ini batu apa. Tapi kalo kata almarhum, ini adalah jimat pelindung yang bisa jaga kita dari hal jahat termaksud setan. Kalo diliat juga gak terlalu buruk untuk dipake, soalnya batunya berwarna merah delima." Sempat ingin menolak, namun jika di pikir kembali tak ada salahnya mencoba, toh ini demi kebaikannya juga.

"Bukannya kamu juga butuh?" tanya Audrea rada bingung.

Loli tersenyum lalu menjawab, "Aku udah baca takdir aku sendiri Kak. Kehidupan Kakak malah yang masih panjang, beda lagi kalo aku."

Seketika Audrea merasa menghangat di hatinya, ia membalas senyuman Loli, gadis baik yang masih mempedulikan orang lain. Sedangkan dirinya? Ia bahkan terkadang masih egois dengan siapapun termaksud dirinya sendiri.

"Terima kasih ya, Loli." Mereka saling tersenyum sebelum seorang kurir datang membawa paket di tangannya. Mereka saling menatap bergantian, dari keduanya berkata tak ada yang memesan paket.

"Permisi, ini ada paket atas nama Audrea Safira," ucap kurir paket saat Audrea menjawab. Berakhir dengan ia menandatanganinya dan menerima paket tersebut.

"Oh ya, aku gak jadi mampir Kak. Ternyata aku lupa, nanti malam ada pertemuan keluarga besar," sesal Loli saat ia mendapat pesan singkat dari sang kakak.

"Iya gak apa-apa, kok." Audrea memaklumi sifat pelupa juniornya itu. "Ya udah pulang sana, nanti kamu telat."

Tak banyak bicara, Loli bergegas untuk pulang. Tidak lupa berpamitan kepada Audrea. Suasana kembali hening dengan dirinya memegang paket misterius di tangannya.

Berjalan memasuki halaman rumah kembali dan menutup pintu gerbang, beberapa detik kemudian ia sudah di dalam rumah. Sebelumnya ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu kemudian akan membuka paket itu.

"Sampe lupa." Ia mengambil pemberian Loli, kemudian Audrea memasangnya di leher. Kalung indah itu terpasang baik, tanpa sadar ada sedikit cahaya berpendar tanpa sepengetahuan Audrea.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!