Pertarungan Sengit

"Tiga rasa, dua sehati. Patah satu, tumbuh duri."

-Audrea Safira-

...----------------...

Jeritan pilu tengah malam kini telah menyapu sepi, mengundang hawa mencekam di sekelilingnya. Tidak ada seorang pun mendengar, hanya suara jangkrik dan hewan malam lainnya yang saling bersahutan.

Namun, ada sosok wanita sedang tertawa terbahak-bahak, mata merah menyala sangat mencolok perhatian korbannya. Wanita itu setia menatap beringas manusia yang lemah tak berdaya dengan badan bersimbah darah serta bercampurnya peluh di setiap kulit.

Matanya menatap melas ke arah Lastri. "Gue mohon, lepasin gue!"

"Gimana? Seger gak, mandi make darah manusia, hmm?" balasnya mengalihkan pembicaraan.

Sarah menggelengkan kepalanya lemah, tak kuasa betapa kejam dan sadisnya Lastri membunuh kekasih Sarah di hadapannya sendiri. Badannya masih bergetar hebat, suaranya serasa tidak bisa keluar kembali ketika melihat badan sendiri, penuh darah sang kekasih.

"Bisu, apa semua manusia sekarang hanya bisa membisu? Ahh, kamu 'kan sampah, bukan manusia, hahahaha!" kesal Lastri yang tidak mendapat jawaban.

"Cepat, bangun!" titah Lastri.

Mau tak mau Sarah bangkit, kakinya lemas tak karuan. Linangan air mata masih saja membanjiri pipinya. "Mau kamu nangis sampe air mata kamu berubah jadi darah pun, pacar kamu gak akan pernah bisa kembali, Sarah!"

"Akan aku lepaskan, dengan satu syarat— " lanjut wanita setan itu berkata dengan seringaian muncul di sudut bibirnya.

Sarah sudah membayangkan apa tugas yang diberikan oleh Lastri, pasti itu bersangkutan dengan nyawanya dan tentunya nyawa orang lain juga menjadi taruhannya.

"Ap— apa yang harus aku— lakukan?" tanyanya tersendat sambil melirik takut ke arah Lastri.

Kekehan kecil sebagai jawaban awal, Lastri berpindah secara tiba-tiba di hadapan Sarah. Pipi gadis itu diusap lembut melalui kuku panjang hitam nan runcing milik Lastri.

"Habisi Audrea, maka akan kuberikan keabadian untuk hidup kamu yang sudah menderita ini. Bagaimana?" Badannya tersentak ketika nama Audrea masuk rungunya.

Kepalanya menggeleng lemah serta keringat dingin mulai membesar, sebesar biji jagung. "Dia teman gue!"

Lastri mencekik leher Sarah penuh amarah dan tatapan tajam ia berikan. "Mau tak mau, iya atau tidak. Kamu harus mau!" tekannya tanpa di ganggu gugat.

***

Suara gamelan Jawa bersenandung dengan angin membawanya sampai ke telinga Audrea. Kakinya berpijak pada tanah di suatu tempat asing yang di mana terkurungnya sang teman.

Setapak demi setapak ia ambil, bulu kuduknya berdiri menandakan ia sedang merinding. Kepalanya celingukan, tak berani teriak di tempat asing tersebut.

Sejenak Audrea berhenti dan menghela napas lelah. "Dia di mana ya? Gue enggak bisa ngerasain auranya," keluhnya.

Ia kembali mengambil langkah tanpa diduga kalau yang ia cari di dekatnya. Rafli terikat di pohon dekat Audrea berjarak tiga meter, badan dan mulut Rafli sulit digerakkan.

'Dre, liat make mata batin lo Dre. Please!' lirihnya dalam hati memandang nanar sang teman yang terus saja melihat ke sana kemari.

Kakinya hendak mengambil langkah, namun sedetik kemudian matanya terbuka lebar. Ia membuang pandangannya ke arah pohon di samping kanannya, sontak Rafli yang hampir kehabisan tenaga karena menghubungkan batin mereka hampir terkulai lemas.

"Tolong ...." Suara bisikan seorang pria mampu menariknya ke arah pohon di sana, Audrea berjalan cepat dan berhenti tepat di depan pohon tersebut.

Dengan mata mulai terpejam sambil tangan ia acungkan. "Tolong Mbah," mohonnya pada sang kodam.

Wanita tua muncul di samping kiri Audrea. Ia meniup pelan mata Audrea lalu meniup pula ke arah Rafli.

"Sudah," ucap roh itu. Perlahan mata Audrea terbuka, matanya berkaca-kaca saat melihat Rafli sudah tak sadarkan diri.

Ia berjongkok menyamakan tinggi pria itu. Audrea mengguncang pelan bahu Rafli dengan isak tangis yang sudah tak terbendung. "Fli, ini gue! Sadar, Fli!"

"Bertahan, gue mohon bertahan!" seru Audrea seraya berancang-ancang untuk melakukan perpindahan.

Bruk ....

Badannya terpelanting ke belakang, untungnya sang roh yang senantiasa menemani Audrea masih ada di sana. Ia menggeram tatkala matanya menangkap sosok Lastri.

"Setan sialan!" Wanita tua menatap nyalang.

Lastri mencebikan bibirnya kesal sambil bergaya pongah. Ia menunjuk wanita tua itu dengan berani. "Berhenti ikut campur!" bentak Lastri.

Lawannya tersenyum remeh serta-merta memandang rendah.

"Aja sembrono. Utawa, patimu sing kapindho bakal teka," tekan sang wanita tua penuh penekanan.

(Jangan gegabah. Atau kematian keduamu akan datang).

Di belakang wanita tua itu terdapat Audrea, ia masih sedikit meringis akibat terpental begitu saja. Melihat ada kesempatan ia segera berlari menuju Rafli kembali, hampir saja ia terkena serang oleh Lastri kalau tidak ada wanita tua itu.

"JANGAN HALANGI AKU! LAKNAT KAU!" teriak Lastri penuh murka. Ia langsung saja menyerang wanita tua dengan membabi buta, dirinya tak sebanding oleh lawan.

Wanita tua tersenyum miring disela pertarungan. Tak lupa juga ia membantu Audrea kembali ke dunianya.

'Ai-ati Cu,' bisiknya lewat pikiran. Sebelum menghilang Audrea tersenyum tipis dan mengangguk patuh.

Brugh ....

Darah hitam keluar dari mulut Lastri, dirinya beringsut mundur karena takut. Ia menatap geram dan juga tak bersahabat. Lastri kemudian menyerang, setelahnya ia menghilang tiba-tiba sebelum sang wanita tua menyerang balik.

"Sampeyan salah golek lawan," gumam sang wanita tua.

(Kamu mencari lawan yang salah).

Wujudnya kian menghilang mengikuti sang cucu ke dunia manusia. Baginya Lastri sangat jauh untuk dijadikan lawan, sungguh sangat hebat!

***

Di rumah Yuda.

Kedua tubuh berbeda gender tersentak dan meraup napas secara rakus, Audrea terduduk lemas sambil terengah-engah. Sedangkan Rafli masih mencerna semuanya, ia mengusap dadanya dan mengontrol emosi karena ketakutan yang ia derita.

"Audrea!" panggil seseorang di balik punggungnya.

Ia menoleh dan menemukan Yuda. Tanpa basa-basi pria itu langsung memeluknya erat, hampir saja mereka limbung ke belakang kalau tidak ditahan Yuda.

"Syukurlah kamu selamat," ucap Yuda masih memeluk Audrea dan Audrea juga membalas pelukan Yuda.

Gadis itu tersenyum kecil. "Hmm, untungnya selamat."

"Dre," panggil Rafli bernada parau.

Gadis cantik yang ada dihadapannya telah menyelamatkan nyawanya, Rafli tersenyum haru sambil merentangkan tangannya guna memberikan kode untuk Audrea memeluknya.

Bugh ....

"Huaaa ... makasih Mba jodoh, udah nyelamatin gue!" Tangis Rafli pecah saat perhatian Audrea menuju ke arahnya dan memeluknya erat tak se-erat membalas pelukan Yuda.

Yuda melihat pemandangan itu merasakan gelenyar aneh, memegang dadanya terasa sesak. Api kecemburuan timbul sendirinya, namun ia menahannya.

'Enggak, aku gak bisa memilikinya,' pikir Yuda sadar diri.

Ia memutuskan meninggalkan mereka di ruang tamu. Melepaskan rasa kekhawatiran sambil sedikit bercengkrama, memilih menutup mata dan telinga, karena mau bagaimana juga Audrea tak akan mungkin berada di sisinya.

Cinta, kenapa bisa membuat orang jadi se-menyebalkan ini?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!