Kanuragan adalah ilmu yang berfungsi untuk membela diri secara supranatural. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa. Kanuragan berhubungan dengan kepercayaan Jawa sadulur papat atau empat saudara diri.
Tapi ilmu ini adalah ilmu terlarang, yang membuat sang pengguna menjadi kebal, bahkan bukan hanya kebal. Kanuragan bisa membuat sang pengguna hidup abadi, keabadian yang di jalaninya juga tetap ada pantangan di dalamnya.
Jika sang pengguna melanggar pantangan maka ia akan mendapatkan konsekuensi yang setimpal, di mana kebanyakan seorang pengguna menjadi jenglot karena melanggar pantangan tersebut.
Karena percuma juga jika dirinya mati, bumi tak akan sudi menerima jasat sang ilmu terlarang itu. Beralih pada pria bertubuh atletis itu kini sedang berolahraga, sembari berpikir keras untuk mengalahkan Lastri, bahkan dirinya ingin sekali melenyapkan makhluk itu.
"Hah ... Lastri, kamu membuat kepalaku sakit!" keluh Yuda dan berhenti dari kegiatannya.
Hari setelah terus saja berlalu, Audrea masih berada di kediamannya. Mengenai gadisnya menginap di rumah sang tetangga waktu itu, Audrea juga sudah mengabari bahwa ia ada urusan di luar kota.
Audrea masih tidak berani tinggal sendiri. Baginya Lastri tidak akan diam saja, apa lagi makhluk itu terus saja mempermainkannya tentang nyawa Rafli.
Melihat Yuda menoleh ke arahnya Audrea hanya melengos dan melenggang pergi. Pagi hari ini ia ingin bermalas-malasan saja di dalam kamar, membiarkan Yuda terdiam memandangi kepergiannya.
"Galau lagi," gumam Yuda sembari menghela napas panjang.
***
Semilir angin menemani malam yang sepi, tak ada kebisingan mengganggu pendengaran. Hanya bunyi lembar halaman novel berganti ketika sang pembaca teramat serius untuk berkutik dengan kegiatannya.
Pria di sampingnya menatap sejak tadi tiada bosan terasa, baru beberapa jam di tinggal rasa rindu sudah mulai menggebu-gebu. Senyum terpancar dari wajah tampannya dan yang lebihnya lagi, ia tersenyum simpul.
Kali ini Yuda terlihat aneh, bukan? Tapi, siapa yang tak suka diperhatikan pria nan tampan? Oh, ingin rasanya bertukar posisi.
"Kamu jangan seriusin novel mulu dong, seriusin aku kali-kali gitu," ucapnya menegur gadis itu.
Audrea menoleh sesaat dan kembali pada novelnya. "Jangan ganggu, aku lagi sibuk!"
Mendengar balasan seperti ini Yuda langsung paham, sejak kejadian beberapa waktu lalu perihal Loli, Audrea menjadi pendiam dan bercerita sedikit tentang perasaannya ketika kehilangan teman sekaligus Loli sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Ingin rasanya marah, tapi dirinya tak bisa. Berakhir pada menyibukkan diri, hingga Yuda memilih mengalah kali ini. Yuda mengelus sayang kepala Audrea.
"Ya udah, jangan kelamaan di luar ya. Aku pengen masuk dulu, kalo ada apa-apa panggil aja." Audrea mengangguk kecil tanpa mengalihkan perhatiannya.
Setelah sosok Yuda melenggang pergi, Audrea menurunkan novel dan menatap kosong halaman Yuda.
"Loli, aku janji, aku janji enggak akan pernah lupain kamu," gumam gadis itu sambil memegang kalung jimat pemberian Loli.
Rasa sedih dan duka belum lekas hilang, kini perasaan khawatir juga timbul semakin besar saat menatap wajah Yuda. Kerisauan menghantui dunianya, insting dan hatinya merasa akan ada seseorang yang akan menyusul Loli.
"Astaghfirullah, berpikir positif, Dre. Hidup terus berjalan selama lo bisa bernapas! Gue gak boleh meratapi nasib kematian Loli. Pasti bakalan ada jalan keluarnya, ya jalan keluar!" tegasnya pada diri sendiri.
Dari balik dinding ada Yuda yang menguping, ternyata kecurigaannya benar. Audrea memiliki beban pikiran yang enggan mau berbagi kepadanya, wajah sang jelita terlihat sangat suram saat tak bersama dirinya.
"Dre, masuk. Jangan di luar kelamaan, angin malam gak baik untuk kesehatan kamu," titahnya pada Audrea.
'Apa aku di sini terlalu ngerepotin Yuda, ya?' gumamnya lagi dalam hati. Yuda menatap nanar Audrea. Tangannya terangkat meraih tangan sang gadis.
"Jangan sedih, aku enggak akan repot karena kamu kok," ucap Yuda mencoba menenangkan.
Audrea merasa matanya berembun saat ini, menahan air matanya yang siap mengalir. Sakit rasanya menahan beban yang menjalar ke relung hatinya.
Ia mempererat genggaman tangan Yuda. "Aku merasa gak berdaya makin hari, masalah semakin rumit dan bertambah. Apa dosa aku terlalu besar, hingga membuat orang-orang yang aku sayang ninggalin aku?"
Yuda menggelengkan kepalanya kuat lalu mendekap erat tubuh ringkih Audrea.
"Aku bilang jangan sedih, wajar kalo manusia punya dosa dan kesalahan. Tapi jangan pernah salahin diri sendiri, kamu orang baik. Aku berusaha semampunya agar tetap di sisi kamu, kesedihan enggak akan selesai kalo kamu terus terpuruk," alunan kalimat penenang memasuki rungunya.
Entah mengapa mendengar Yuda memberi nasehat, seperti obat terampuh baginya. Tak mendengar jawaban dan tubuh gadis itu makin berat, Yuda mengintip ke arah Audrea.
Bibirnya tertarik membentuk senyum kecil, perlahan badannya menyesuaikan dan menggendong Audrea.
"Dasar, tukang tidur," cicitnya pelan menuju kamar tamu.
Wajah damai menyapa penglihatan, Audrea mulai nyaman dengan posisi tidurnya saat sudah di pindahkan. Baru saja ingin tersenyum kembali, penciumannya menangkap wangi asing.
Segera ia berjalan cepat menuju pintu utama rumah.
Ternyata benar, indra penciumannya tak pernah salah. Kini ia di hadapi oleh sesosok Rafli, tatapan matanya terlihat kosong dengan eksistensi Lastri di belakangnya sambil tersenyum lebar, hingga menunjukkan gigi tajamnya.
"Yuda ...," panggil Lastri dengan suara beratnya nan serak.
Yuda sendiri memandang Lastri teramat sendu. Di dalam lubuk hati yang paling dalam, dirinya merasakan duka. Sungguh miris nasib mantan kekasihnya, menjadikan makhluk jahat penuh dendam.
"Jangan begini, Lastri. Mereka enggak ada sangkut pautnya dengan kita," ujar Yuda memohon.
Lastri menatap sengit. "Aku ingin nyawa Audrea dan nyawa mu!"
Hembusan napas berat terdengar. Yuda menggeleng dan menatap kembali Lastri, tidak, ia tidak bisa berbicara baik-baik dengan setan ini.
Ia mengacungkan jari telunjuknya ke arah Lastri lalu berucap geram, "Sampai kapanpun aku tidak akan mewujudkan keinginanmu, duniamu di neraka, biadab!"
Mata merah milik Lastri menatap tajam ke arah Yuda. Makhluk itu mengerang keras karena amarah. Ia melempar tubuh Rafli yang bisa di katakan nyawanya dalam ujung tanduk.
Refleks manik elang Yuda membuat dirinya bergerak menyelamatkan Rafli, suhu tubuh Rafli mulai mendingin. Di sana Lastri melihat remeh pada Yuda, seolah makhluk itu menghina.
"Masih punya rasa kasihan? Hihihi ... pantas kau lemah! Hihihi," katanya mengeluarkan olokan.
Yuda tidak menggubrisnya, ia justru membopong Rafli untuk di bawa ke dalam rumah. Sedangkan Lastri hanya memperhatikan dari luar pagar gaib tersebut. Dirinya tak ingin tergesa-gesa, ia ingin sedikit bermain dengan nyawa penghuni rumah itu.
***
Seseorang terus saja berlarian tanpa henti, paru-parunya mulai sakit dan peluh terus membasahi seluruh kulitnya. Ia tak kuasa menahan air mata, matanya berkeliaran ke sana kemari guna melihat keadaan sekitar.
Semua nampak sepi dan gelap. Rafli sangat gelisah sampai ia harus menutup mata serta telinga, ketakutan tersirat jelas di raut wajah tampan yang kian memucat.
"TOLONG! TOLONG SAYA!" teriaknya bersama derasnya air mata.
Di rumah Yuda, Audrea membuka mata tiba-tiba. Dirinya bergegas keluar dari kamar, sesampainya di ruang tamu ia melihat Yuda sedang membelakanginya. Tapi bukan itu, matanya menangkap sosok orang yang terbaring.
Langkahnya terhenti dan ia bertanya, "Dia siapa, Yud?"
Mata Yuda terbuka, kepalanya menoleh sedikit kemudian kembali seperti semula lalu dia menjawab, "Rafli, dia sedang sekarat."
Kalimat itu mampu menghancurkan pertahanan seorang Audrea. Ia membeku untuk di tempat, tubuh ringkihnya luruh seketika, tatapan kosong terpancar di mata indah Audrea.
"Tolong selamatkan dia," pintanya memegang punggung Yuda.
Helaan napas panjang Yuda keluarkan. "Aku gak bisa berbuat banyak, aku enggak mungkin masuk dunia alam roh. Kekuatanku tak sebesar itu," jelas Yuda jujur.
Kedua tangan Audrea memaksa membalikkan badan Yuda.
"Terus gimana? Dia teman aku, Yud! Kamu harus bertanggung jawab!" desak Audrea kesal.
"Dre, aku gak punya pelindung. Misalkan aku bisa masuk sana juga belum tentu bisa balik lagi!" sahut Yuda frustasi seraya mengguncang bahu Audrea.
Tak
Audrea menepis kasar tangan itu. Memandang Yuda dengan tajam, gadis itu bangkit dan mendorong kuat Yuda demi menyingkirkan.
Tiba-tiba saja mata pria itu membulat, ia mencengkram erat tangan Audrea tatkala akan melakukan aksi nekatnya.
"Kamu gila, hah? Pikiran keselamatan kamu juga Dre," cegah Yuda. "Hanya karena pria ini kamu ingin ke tempat terkutuk itu!"
"Stop! Lo gak ada hak buat cegah gue!" Tangan Yuda ia sentak kuat.
"Lo enggak pantes ngomong gitu, kalo pun emang gue harus berkorban nyawa ya, kenapa enggak—"
"Jelas enggak!" potong Yuda cepat.
Audrea tersenyum pongah. "Gila. Lo bukan siapa-siapa, tapi berani ngelarang gue," sindirnya membuat Yuda kalah telak.
Bahunya melemas. Benar, semua benar. Tidak ada yang salah dari kalimat yang diucapkan Audrea. Tatapan teduh ia layangkan ketika gadis di depannya sudah mengabaikan dirinya.
Telapak tangan kanan Audrea di letakkan di dahi Rafli. Mata indah itu tertutup beberapa detik lalu, tanpa dapat dicegah kembali. Menyerah melawan sifat keras kepala Audrea memang lelah, tapi semua demi kebaikan gadis itu sendiri.
"Cepat kembali dan jangan terjebak di sana," harap Yuda sendu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments