"Biar ku sapu kenanganmu dengan penyesalan, agar kau tau. Betapa sakitnya disia-siakan."
-Lastri-
...----------------...
Suara bising menyapa pendengarannya, membuat telinganya berdengung tak karuan. Rafli, manusia menyebalkan yang hadir di dalam rumah Audrea, menganggu tidur dan mimpi indahnya.
Pukul malam dini hari, ia membuat kericuhan yang berasal dari dapur.
"Nih, anak kayanya bosen idup!" geram Audrea yang langsung melangkahkan kaki kecilnya menuju dapur.
Tanpa dosa, Rafli hanya cengir saat Audrea sudah berada di hadapan dirinya. Hingga deretan gigi putih terlihat. "Ehh, sayang. Kamu ke bangun ya?" tanya pria itu.
Audrea mendengus tak suka. "Mau gue usir sekarang?"
"Ya enggak 'lah, lagian 'kan ini udah malem. Apa lo tega, liat anak perawan keluar sendirian malem-malem begini?" sahut Rafli dengan tingkah menggelikan.
Mencoba untuk menetralkan emosi yang sudah terbendung sejak tadi, ia mulai memejamkan mata dan mengambil udara demi dihirup.
"Kalo lo gak bisa diem dan gak balik ke kamar lo, gue jamin. Lo besok gak bisa pulang!" ujar gadis itu dengan nada sengit.
Jawabannya hanya anggukkan kepala dan langsung disusul senyum cerah terlukis di wajah Rafli.
Audrea berdecih. "Dasar aneh!" rutuknya kepada Rafli.
Kaki dan mata sungguh berbeda, kaki tetap harus berjalan kembali menuju kamar. Sedangkan, mata ingin segera tertutup dan melanjutkan mimpi indah.
"Lo abis dari mana?" tanya seseorang yang muncul di balik pintu kamar tamu.
"Abis dari dapur, ngomelin lo!" katanya tanpa sadar, Rafli menaikan satu alisnya.
"Lo lagi gak ngigo atau abis liat setan 'kan?" tanyanya terheran-heran.
Mendengar itu langkah kakinya terhenti, lalu menoleh melihat muka Rafli dengan teliti. Sekejap dirinya sadar, melihat dari atas sampai bawah hingga Rafli mengerutkan keningnya.
'Bagaimana bisa ia secepat itu ke kamar?' pikir gadis itu.
Audrea menatap lekat Rafli. "Lo setan atau manusia?" tanyanya menahan kantuk.
Rafli menjawab, "Jelas-jelas gue manusia lah!"
"Ya udah kalo lo manusia, berarti yang tadi gue temuin itu setan!" ujarnya sambil menekan kata 'setan'.
Tanpa menghiraukan Rafli, gadis itu kembali ke kamar untuk melanjutkan mimpinya. Sedangkan Rafli hanya terdiam melihat Audrea pergi, ia mengurungkan niatnya yang hendak minum.
"Gini nih, kalo udah biasa ketemu setan. Sama temen sendiri aja, gue dianggap setan. Pengen tak hehh!!! Rasanya!" Berakhir Rafli kembali ke kamar. Tak lupa mengunci pintunya.
Saat melihat jendela kamar terbuka, ia buru-buru menutupnya, sekilas pria itu melihat wanita dengan pakaian putih dan berdiri di bawah pohon, tak lupa rambut panjang yang menjuntai.
"Ngapain sih? Malem-malem make daster diem di bawah poho, masuk angin aja tau rasa! Hadehh ...."
Rafli tadi terbangun karena ada suatu suara yang menyapa rungunya, kini ia kembali untuk menghampiri kasur nan empuk setelah tahu jika Audrea adalah dalangnya tadi.
Jendela tertutup sekarang, suara rintihan tak sampai ke dalam kamar. Namun suasana mencekam di luar sana sangat tak berpengaruh kepada gadis itu.
***
Jam kerja yang telah menyita waktunya sekarang. Walau pun suasana hati masih tak bisa dipungkiri, hatinya masih gundah gulana jika pikirannya teringat kembali tentang Yuda.
"Kamu tuh racun," gumamnya pelan. Lalu melanjutkan aktivitasnya lagi.
Sarah menatap heran teman sekantornya, tak biasanya Audrea terdiam melamun seperti tadi. Ingin sekali menanyakan sesuatu, namun tak enak hati.
Jari-jemari Audrea amat cekatan saat mengetik dokumen yang ia buat, tak ada satu pun terlewat. Suasana kantor juga sedang tak begitu ramai, karena beberapa orang sudah turun ke bawah untuk melepaskan lapar dan dahaga.
Dirinya juga ingin melakukan kewajiban sholat lima waktu, ia tak ingin sholat zuhur-nya terlewat. Semua dokumen ia simpan dan ketika hendak melangkah, tapi suatu suara yang ia kenal memasuki alat pendengaran saat dirinya telah sampai loby kantor.
"Kok kaya kenal?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Ia langsung memeriksa dari sumbernya, saat tahu siapa pemilik suara itu, Audrea memutar matanya dengan malas. Karena sudah tak tahan, ia menarik orang itu dengan kasar.
"Akhh! Sakit tau! Gak tarik telinga juga, bisa kali!" protes Rafli tak terima karena telinganya ditarik seenak jidat oleh Audrea.
Gadis itu hanya berkacak pinggang saat tarikan di telinga Rafli ia lepaskan.
"Lah? Bodo amat. Siapa suruh lo ke sini?!" balas Audrea sambil menatap tajam pria yang berada di hadapan dirinya.
Rafli menghela napasnya jengah. "Gue ke sini tuh karena ada sebab kali."
Setelah berbicara seperti itu, Audrea tertarik untuk mendengarkannya.
"Ada apa, Fli?" tanyanya penuh ke ingin tahuan.
Rafli menyodorkan koran yang berisi berita hari ini, dengan gambar kecelakaan mobil beruntun. Namun ia masih tak mengerti, lalu ia menatap Rafli yang memberi isyarat untuk membaca teks berita.
HOT NEWS
SELASA, 04 APRIL 2020
KECELAKAAN BERUNTUN DI JALAN JENDRAL SUDIRMAN.
Kecelakaan ini disebabkan supir mengantuk dan di tambah pengemudi mabuk karena alkohol. Dari semua tragedi ini tak ada yang selamat. Korban terdiri dari wanita paruh baya, wanita hamil, lelaki muda, dan seorang remaja berumur berkisar 19 tahun. Berikut di bawah ini adalah foto para korban kecelakaan.
Setelah membaca berita itu, Audrea beralih ke foto para korban. Salah satu dari foto itu ada yang ia kenal, ia hanya menatap Rafli tak percaya.
"Bagaimana bisa? Bukannya dia gak bisa meninggal?" Rafli tak mengindahkan pertanyaan yang terlontar dari Audrea. Ia mengedikan bahu acuh.
Ia hanya diam seribu bahasa, ia juga bingung. Kenapa Yuda gampang sekali mati? Tapi ada baiknya jika pria jadi-jadian itu lenyap, Rafli tak perlu memikirkan cara untuk menyingkirkannya.
Rafli menepuk bahu Audrea. "Mungkin ini takdir yang udah di tulis Tuhan untuk lo. Jadi, sabar ya, Dre."
Tapi Audrea tak menggubrisnya, ia malah melenggang pergi meninggalkan Rafli sendirian. Sedangkan pria itu tidak ada maksud untuk mengejar, ia tahu Audrea butuh waktu sendiri.
"Gue harap lo bisa lupain dia," sendu Rafli dengan nada lirih.
Entah ke mana Audrea, gadis itu sudah tak terlihat di pandangannya. Pria itu mulai berjalan menuju lift, ketika lift terbuka menampakkan keadaan lift yang sepi tidak ada orang.
Namun saat ia memasuki ruangan kecil tersebut, terasa ada yang menyenggol bahu kirinya lumayan keras. Hingga sang empu meringis pelan, diperiksa kembali memang tak ada seorang pun.
'Apa itu tadi?' batinnya bertanya-tanya.
Di bilang angin tapi tak mungkin, kalau orang juga tak berwujud. Mungkin jika ada Audrea ia tahu apa yang menabrak dirinya barusan.
Tak ingin terlalu di pikirkan, Rafli menghiraukan hal tersebut.
Setelah sampai di lantai dasar, ia segera ke arah mobil yang berada di dalam basement dengan suasana mencekam.
"Perasaan tadi gue lewat sini masih rada ramean," gumamnya berhenti ketika sampai di depan mobilnya.
Kunci ia keluarkan dan berjalan beberapa langkah untuk mencapai knop pintu mobil, gerakan pria itu terhenti begitu mendengar suara derap kaki selain kaki miliknya.
Karena menganggap hal itu wajar, Rafli tak menghiraukan. Ia tetap bergerak hingga dengan tenang ia masuk mobil dan menyalakan mesinnya, suasana basement masih sama.
Tak ada mobil lalu lalang melintas untuk parkir. Keadaan semakin aneh saat ia memeriksa lampu basement yang ia lewati mati satu persatu, Rafli tak peduli itu.
Tidak ada guna untuk berpikir negatif sekarang, ia selalu menyematkan berpikir positif dalam benaknya. Namun, entah mengapa perasaannya tidak mendukung.
"Apa gue telpon Audrea aja? Tapi, pasti dia masih sedih. Auah, telpon aja dah!" kesalnya sendiri saat ingin mengambil keputusan.
Tuttt ... Tuttt ... Tuttt ....
Telpon tak di angkat membuat pria itu menggerutu tak jelas. "Gila! Nih orang kenapa gak mau angkat sih?!"
"Dah tau, gue lagi butuh. Mana di basement sepi gak ada orang pula! Iya! Ini sepi banget kaya hati lo, Dre!" lanjut Rafli geram serta mencaci maki gadis itu.
Rasanya ingin sekali memberikan sumpah serapah ke temannya itu, ia merasa di permainkan oleh penghuni kantor tersebut. Dari tadi ia seperti diajak berputar saja dengan melewati patokan yang sama.
"Loh? Lampunya kok mati semua?" kaget Rafli ketika tak terduga lampu dalam basement mati. Entah sebabnya apa, yang terpenting sekarang ia harus keluar dari tempat itu.
Badannya bergetar hebat ketika melihat sekelebat bayangan putih melintas depan mobilnya. Hatinya bergemuruh tatkala mendengar isak tangis wanita, langsung saja Rafli menancap gas.
Ia mencoba kembali menelpon Audrea, dengan harapan meminta bantuan.
"Gila nih cewe ke mana sih? Angkat dong! Setan!" katanya frustasi saat telponnya tak di angkat.
Di lain tempat, Audrea sedang menikmati siang harinya yang panas di atas rooftop, ia pandang pemandangan kota Jakarta yang ramai gedung bertingkat penuh tatapan kosong.
"Kok gue sedih sih? Udah bagus dia milih ngejauh!" gerutu Audrea.
"Kita emang udah gak bisa ketemu, ya?"
"Kok bisa sih, meninggal?"
"Tapi, kenapa hati gue sakit ya?" lanjutnya lagi memegang dadanya.
Gadis ini masih belum tersadar kalau dirinya sedang menaruh rasa, semuanya berjalan begitu saja seperti air mengalir. Audrea pun bingung terhadap diri sendiri, ia yang salah atau Yuda?
Padahal terik matahari, hari ini sangat menusuk, tapi tidak untuknya. Kemudian ia merasa ada yang menghalangi sinar matahari di atas kepalanya, ia mendongak untuk melihat orang itu.
"Mas Angga?" panggil gadis itu pelan. Angga hanya tersenyum dan menuntun Audrea berdiri.
"Kalo kamu di sini, bisa-bisa kamu jatoh!" ingat Angga.
Audrea menyapu peluh di keningnya sedikit kasar. "Setiap orang pernah jatoh Mas."
Lawan bicaranya menaikan satu alisnya bingung.
"Jatoh dari tempat tidur, contohnya." Angga hanya terkekeh kecil mendengarkan sahutan Audrea, sedangkan gadis itu berdecak tak suka atas respon Angga.
Audrea melengos begitu saja saat tangan besar pria itu ingin mengusap pipinya.
"Jangan pegang-pegang, deh!" kesalnya berlalu meninggalkan rooftop. Habis sudah ketenangannya diganggu, padahal sendirian di sini sangat menyenangkan menurutnya.
Angga menyeringai saat melihat kepergian pujaan hati. "Kayanya harus make cara kasar, untuk bujuk tuh cewe!"
Cara jahat terbesit dalam pikiran pria jangkung tersebut. Sisi jahat terlihat sekarang, ternyata Angga memiliki perbedaan watak. Seperti orang berkepribadian ganda, kadang bertingkah manis dan kadang berubah cepat menjadi jahat dan kasar walau bertindak di belakang.
Kembali kepada Rafli yang terjebak di basement kantor.
Matanya mengoreksi setiap sudut, ia memberanikan diri keluar dari mobil. Dengan bekal senter handphone, Rafli berjalan menuju tempat ia memarkirkan mobil sebelumnya yang tak jauh dari situ ada lift.
Ia akan kembali ke ruangan Audrea atau mencari bantuan kepada orang lainnya.
Suara aneh terdengar kembali, langkah terseok-seok mulai mendekat. Tapi nihil, ia tak melihat apapun yang dicari. Tak ada lift dan jalan semakin gelap.
Hingga suara menggelegar seorang wanita membuat Rafli tersentak.
"Akhhhhhhh!!!" teriak seorang wanita.
"Siapa di sana?" tanya Rafli ikut berteriak.
Dirinya dibuat menjerit histeris di kala senter handphone-nya mati, di tambah suara menyeramkan menghampirinya seolah ingin membunuhnya.
Tanpa ia sadar, dirinya terjebak oleh halusinasi. Mau tak mau keamanan kantor turun tangan untuk menenangkan Rafli yang berteriak histeris di basement.
Cctv memantau pergerakan pemuda itu yang selalu saja bertindak aneh dan berhenti di tengah jalan, sehingga menghambat kendaraan di belakangnya.
Banyak pertanyaan yang terlintas di benak semua orang yang melihat Rafli, apa orang ini gila atau sedang di kerjai oleh makhluk penghuni basement?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
MasWan
oh, padahal suasana normal seperti biasa ya
2023-07-09
0