Ranti kembali menuju kediaman Maza Nishimura dengan wajah yang bahagia, ia senang bisa memastikan sendiri kondisi para pejuang yang ada di dalam rumah kyai Fuad baik-baik saja, luka-luka mereka juga sudah diobati dan mulai mengering.
"Non kenapa senyum-senyum sendiri? Ini masih di hutan loh Non, saya takut Non kesurupan."
ucap Tinem dengan lirih, sementara Ranti justru semakin terkekeh geli mendengar ucapan Tinem. Ia justru lebih takut dengan Maza Nishimura dari pada setan di hutan jati ini.
"Mana ada kesurupan Mbok.. yang ada setannya yang takut sama saya."
Mereka berdua pun tertawa cekikikan, hingga mereka sadar harus kembali menuju jalan raya. Ranti dan Tinem pun bergegas menuju kediaman Nishimura dengan langkah tergesa, mereka tak ingin sampai disana terlalu mepet dengan waktu makan siang.
"Ayo mbok, cepat sedikit."
Ranti pun mengajak Tinem lari hingga ngos-ngosan. Usia Tinem yang tak lagi muda pun tak bisa di bohongi, ia begitu kecapaian saat mengejar Ranti yang usianya baru 16 tahun.
"Iya Non.. mbok ini sudah tua, mudah capek kalau di ajak berlarian seperti tadi."
Sementara itu Ranti hanya menggeleng dan tertawa riang hingga tak sadar langkah kaki mereka sudah sampai di gerbang kediaman Maza.
"Tuan.. saya sudah kembali."
Teriak Ranti pada penjaga kediaman yang dengan segera membuka pintu gerbang kediaman.
"Nona kemana saja, kenapa baru kembali?."
tanya prajurit itu dengan wajah khawatir sekaligus lega karena Ranti sudah kembali ke kediaman dengan kondisi baik-baik saja.
"Maaf Tuan, ini gara-gara saya.. kaki saya sakit di jalan tadi."
ucap Tinem mencari alasan, ia tak mungkin berbicara alasan sesungguhnya kalau mereka mampir ke arah hutan jati.
"Kenapa tadi kalian tidak mau kami antar? Kalau begini kan jadi menyusahkan diri sendiri!."
Ucap penjaga itu seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan, mungkin memang saya sudah tua, tapi biasanya tidak begini Tuan." ucap Tinem meyakinkan.
"Sudah-sudah, paling nanti juga sembuh, saya dan mbok Tinem masuk dulu Tuan. Permisi."
Penjaga itu pun mengangguk dan kembali ke dalam pos jaga. Ranti segera menggamit lengan Tinem dengan cepat menuju dapur.
"Alhamdulillah untung saja mbok.. tapi kaki mbok ndak apa-apa kan?."
Ranti melihat kaki Tinem yang sedikit kotor karena mengejarnya tadi.
"Haha ndak apa-apa Non, paling nanti sore juga sudah enakan kalau di urut." ujar Tinem
"yasudah nanti Ranti bantu urut kaki mbok."
Tinem pun langsung menolaknya dengan segera, Ranti lebih baik memijit Maza Nishimura dari pada memijitnya.
"Ehhh ndak usah Non.. lebih baik Tuan Maza saja yang di urut, pasti dia mau."
Ucapan Tinem itu langsung membuat wajah Ranti kesal, mengapa ia harus memijit Maza? lebih baik memijit kakinya sendiri.
"Lebih baik saya pijit kaki saya sendiri mbok dari pada memijitnya, bisa-bisa saya disuruh melayani nafsunya seperti kemarin."
Tinem pun tertawa terbahak-bahak mendengar keluh kesah Ranti, tapi ia kembali mengingatkan gadis bangsawan itu mengenai misi awal Ranti melakukan itu semua. Ranti melakukan itu semua karena ia harus mencari tahu apa saja rencana yang akan markas besar lakukan.
"Mbok tenang saja, saya pasti akan mengambil hati Tuan Maza."
"Haha Non ini bagaimana, jangan di ambil, nanti kalau Tuan Maza mati bagaimana."
Tinem lagi-lagi tertawa terbahak-bahak hingga membuat Ranti memanyunkan bibirnya.
"Sudahlah mbok, saya mau masak saja, dari pada mendengar ocehan mbok itu membuat saya semakin kelaparan."
"Ehhh tidak usah Non, biar saya saja yang masak.. Non tinggal duduk saja."
"Kan tadi saya sudah bilang mbok, biar saya saja yang memasak untuk Tuan Maza, saya tidak mungkin kan mengakui masakan Mbok sebagai masakan saya?"
"Oiya, yasudah tapi Mbok ikut bantu ya Non.."
Ranti lalu mengangguk dan mulai memasak bersama Tinem, ia memasak salah satu menu makanan yang paling ia sukai yaitu pepes ikan patin. Ia juga mengurangi cabainya karena Maza Nishimura sendiri kurang menyukai makanan pedas.
Sempat terbesit di pikiran Ranti untuk menambah cabai rawit agar Maza sakit perut, tapi ia urungkan, ia tak ingin di curigai akan meracuni Maza Nishimura, bisa-bisa ia besok pagi akan di seret ke markas besar dan di adili disana.
"Sudahhh.. akhirnya.."
"Mbok yakin kan dia tidak apa-apa makan ini?"
Tanya Ranti sambil menunjuk ke arah pepes ikan yang ia buat tadi.
"Tenang saja Non, Tuan Maza itu cuma tidak suka pedas, selama ini Mbok sudah membuat berbagai macam makanan lokal, katanya juga enak."
Ranti lalu manggut-manggut, mereka pun segera menyusun makanan itu ke meja makan.
Ia pun menunggu dengan sabar kedatangan Maza Nishimura, namun hingga pukul dua siang Maza belum juga pulang ke kediaman, kondisi itu sontak membuat Ranti menatap pepes ikan itu dengan tatapan ingin segera melahapnya.
Tinem juga sudah memberitahukan kepadanya untuk makan siang duluan, tapi Ranti menolaknya, ia ingin totalitas dalam misi mengambil hati Maza Nishimura.
"Kapan sih dia sampainya, lama sekali."
Ranti lalu menghela nafas panjang, ia pun kemudian bersandar pada kursi hingga membuatnya mengantuk. Ranti pun ketiduran hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 petang.
"Mbok.. apa dia belum pulang juga?"
Tanya Ranti pada Tinem yang sedang menumpuk pakaian yang baru saja kering.
"Belum tahu Non, sebaiknya Non makan saja dulu.."
Namun Ranti mengabaikan anjuran Tinem, ia lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan meja makan menuju ke arah kolam ikan.
Disana ia kemudian memberi makan ikan-ikan itu tapi dengan mulut yang terus mengomel. Ia mengadukan Maza Nishimura yang tak kunjung pulang pada ikan-ikan di bawah sana.
"Hei ikan.. Tuan kalian itu kemana? dari tadi belum pulang juga, apa dia tidak lapar?."
Ranti membentak ikan-ikan itu hingga semua ikan yang semula naik ke permukaan kini berenang ke bawah seolah mengerti kalau mereka sedang di marahi.
Tinem yang melihat tingkah Ranti pun menggelengkan kepalanya, ia juga bingung harus berbuat apa untuk menenangkannya.
Ranti kemudian berjalan menuju ke arah meja makan dan menatap semua makanan yang sudah ia siapkan dengan penuh perjuangan.
"Non mau kemana?"
tanya Tinem pada Ranti yang saat ini melangkah keluar dari kediaman. Tinem pun mengikuti kemana langkah kaki gadis pribumi itu hingga berhenti di depan pos jaga.
"Tuan.. kalian sudah makan malam?"
Pertanyaan Ranti membuat semua penjaga yang ada disana saling tatap, mereka memang belum makan malam karena belum waktunya.
"Ayo kalian harus makan dulu.. ikuti saya."
Perintah Ranti membuat kepala penjaga ragu untuk melangkah, sementara itu Tinem pun memberikan kode kepada kepala penjaga agar mengikuti kemana perginya Ranti.
"Woahhh ini banyak sekali Nona.."
Ucap para penjaga setelah sampai di meja makan, mereka begitu ingin mencicipi makanan yang sudah tersusun di meja.
"Silahkan ayo kita makan bersama."
Namun bahkan semua penjaga tampak larut dalam fikiran mereka masing-masing. Mereka ragu ingin ikut duduk dan makan atau tidak. Jika mereka duduk dan Maza Nishimura pulang pasti akan jadi masalah, jika mereka tidak ikut duduk, sayang sekali harus melewatkan makanan yang terlihat enak sekali.
"Kenapa kalian diam saja? aku sudah masak ini dengan susah payah, Tuan Maza bahkan sampai sekarang belum pulang, apa kalian juga tidak mau memakan masakan ku!"
Suara Ranti menggelegar bagai petir saat badai, Tinem pun memberi mereka isyarat untuk ikut duduk dan menuruti ucapan Ranti.
"Maafkan kami Nona, kami sebenarnya takut jika Tuan Nishimura tahu dan menghukum kami."
"Itu tidak akan terjadi, sekarang makan, kita semua harus makan tidak boleh tidak!"
Yamaguchi selaku kepala penjaga kediaman Maza Nishimura pun langsung memerintahkan para penjaga lainnya untuk ikut duduk dan menikmati sajian makanan yang telah Tinem hangatkan terlebih dahulu itu.
"Bagaimana rasanya? apa enak?"
Tanya Ranti pada Yamaguchi, pria itu pun menganggukkan kepalanya dan memuji masakan Ranti.
"Ini enak Nona, ternyata Nona Akiko pandai sekali memasak."
"Benar, ini enak sekali Nona, meskipun terlihat merah tapi ternyata tidak pedas."
Timpal salah seorang penjaga lainnya yang juga menikmati pepes ikan yang Ranti buat.
"Ohhh jadi kalian ada disini!"
Sentakan seorang pria itu sukses membuat para penjaga berdiri dengan menundukkan kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Author DE LILAH
bagus kak lanjoeyltt
2023-06-06
0
Takaa
bang udah bang....
2023-06-06
0
Takaa
ga sekalian promosi minyak urut nih🤣🤣
2023-06-06
0