"Tuan.. saya mohon sekali ini saja.."
Ranti masih tetap pada pendiriannya, ia masih memegangi kaki petinggi Nippon itu hingga kini Maza pun segera mengangkat tubuh Ranti.
"Sudah jangan seperti ini. Aku akan membantumu tapi aku tidak bisa berjanji, mereka dibawah pengawasan para petinggi Nippon lainnya."
Ucapan Maza Nishimura bagaikan angin segar di pagi hari, Ranti pun bergegas berdiri dan memeluk pria yang tadi telah menyatakan cinta padanya.
"Terimakasih Tuan.."
"Tapi ingatlah, pesanku padamu tadi."
Ranti lalu mengangguk dengan patuh, ia tak mungkin lupa dengan pesan Maza Nishimura, dan mungkin saja ia juga akan melanggarnya suatu saat nanti.
"Sebentar.."
Maza merogoh saku celananya, ia kemudian mengambil beberapa koin gulden untuk di berikan kepada Ranti, ia ingat selama tinggal di kediamannya, Ranti tak pernah ia berikan uang.
"Ini untukmu. gunakanlah dengan bijak."
Maza lalu memberikan koin gulden itu ke tangan Ranti, sementara Ranti justru sangat bahagia sebab tak perlu bersusah payah meminta kepada Maza Nishimura. Ia akan gunakan gulden itu untuk membantu para pribumi yang sedang berjuang.
"Sudah, sebaiknya kita segera tidur, atau kamu mau melayani ku dulu?."
Ranti langsung berbalik badan ingin segera melangkah pergi, namun sia-sia Maza mencekal lengan Ranti dan menjatuhkannya ke ranjang.
"Layani aku sekarang Akiko.."
Ranti lalu mengangguk dan segera memuaskan Maza Nishimura, itu semua ia lakukan agar misinya berhasil, setidaknya ia harus membuat Maza berada di pihaknya.
****
Ditempat lain, Dika sedang menyusun rencana untuk melenyapkan Narsih yang sampai sekarang masih berada di dalam penjara Nippon, ia lalu menemui salah seorang petinggi Nippon yang satu tingkat berada di bawah Maza Nishimura yaitu Matsuda.
"Selamat malam Tuan Matsuda."
"Selamat malam! ada keperluan apa kamu kemari?."
tanya Matsuda langsung pada intinya, ia tak ingin waktu istirahatnya terbuang sia-sia. Cahaya dari rembulan di malam ini cukup untuk menerangi setiap jalanan yang tadinya gelap gulita.
"Saya ingin meminta bantuan pada anda Tuan."
ucapan Dika langsung diberikan senyum seringai oleh Matsuda. Jarang sekali ada pribumi yang nekat meminta bantuan kepada petinggi kempetei sepertinya.
"Bantuan? apa itu?."
Matsuda sedikit tertarik dengan ucapan Dika, ia juga memikirkan imbal balik apa yang bisa ia peroleh dari membantu pribumi itu.
"Bisakah anda membunuh tawanan yang disekap di markas besar kempetei ?."
Matsuda langsung memutar bola matanya, ia sedikit terkejut dengan ucapan Dika, biasanya para pribumi akan membela satu sama lain, tapi lelaki di hadapannya ini malah sebaliknya.
"Apa keuntungan yang saya dapat jika membunuhnya?." Pancing Matsuda.
"Apapun yang anda minta Tuan."
Matsuda sedikit terperanga dengan ucapan Dika, ia lalu tak menyia-nyiakan keuntungan besar yang ada di depannya.
"Baiklah. siapa nama orang yang akan aku lenyapkan?."
tanya Matsuda dengan serius, ia menatap pemuda yang ada di depannya dengan wajah yang sulit di artikan.
"Narsih."
"Narshi? sepertinya aku pernah mendengar nama itu."
Matsuda sedikit menaikkan sebelah alisnya, ia lalu mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar nama itu.
"Tentu tuan mendengar karena Tuan sendiri lah yang sudah menyeret Narsih ke penjara atas perintah Tuan Maza Nishimura."
"Aaaa iya aku ingat."
ucap Matsuda sambil terus mengingat-ingat saat ia bersama prajurit lainnya menyeret Narsih karena dengan berani mengolok-olok Dai Nippon.
"Aku ingat saat aku menyeretnya dari kediaman nona Akiko."
"Nona Akiko?."
Dika bahkan belum mengetahui kalau Ranti bahkan sudah menjadi gundik Maza Nishimura.
"Ya. Dia gundik kesayangan Tuan Maza Nishimura, sekarang dia tinggal di kediamannya."
mata Dika terbelalak saat mendengar mantan kekasihnya itu menjadi simpanan Petinggi Nippon yang paling disegani di seluruh wilayah Rembang.
"Bagaimana bisa? bukankah dia berangkat ke sekolah bersama dengan para wanita desa?."
Dika mengingat saat Ranti naik ke dalam truk bersama dengan para gadis desa yang akan bersekolah.
"Memang. Tapi di tengah perjalanan Tuan Nishimura sendiri yang menjemputnya."
ucapan Matsuda membuat Dika menarik senyum seringai, ia kemudian menyusun rencana untuk membalas perbuatan Ranti tempo hari lalu saat perbuatan jahatnya terbongkar di hadapan Sarwono dan juga Ningsih.
"Jadi dia sekarang berada di kediaman Tuan Maza Nishimura?."
Tanya Dika untuk memastikan bahwa ucapan Matsuda adalah suatu kebenaran.
"Kau bertanya lagi? bukankah tadi sudah ku katakan kalau Nona Akiko berada disana."
Ucap Matsuda dengan malas, entah mengapa ia tidak terlalu suka berbicara dengan para pribumi.
"Baiklah, terimakasih."
Dika tersenyum senang karena secara tidak langsung ia mendapatkan informasi gratis mengenai keberadaan Ranti, wanita yang dahulunya menjadi pusat perhatiannya.
"Jika aku berhasil membunuhnya aku ingin seorang wanita muda yang berparas cantik seperti Nona Akiko. Apa kamu sanggup?."
Permintaan Matsuda langsung diangguki oleh Dika, menurut pria itu mencari wanita cantik di wilayah nya bukanlah hal sulit.
"Aku menyetujui syarat mu Tuan Matsuda. Besok akan ku bawakan seorang wanita cantik ke hadapanmu."
Setelah kesepakatan terjadi, Dika bergegas untuk pergi dari markas kempetei dan melaju menuju ke arah rumah Sarwono dan Ningsih. Ia sudah tidak sabar untuk segera memberitahukan kondisi Ranti pada kedua orang tuanya.
Jeep Dika melaju menembus dinginnya malam, saat sampai di depan rumah Sarwono, Dika langsung bergegas turun dan mengetuk pintu rumah mereka.
Tok Tok
Tok Tok
Suara ketukan pintu berhasil membangunkan seisi rumah.
Cklek
"Kamu lagi!. Mau apa kamu kemari Dika!"
Sarwono jengah dengan kedatangan mantan calon menantunya itu kemari.
"Tenanglah Raden.. saya hanya ingin memberitahukan kepada Raden kalau putri Raden sekarang berada di kediaman Tuan Maza Nishimura. Dia sudah menjadi gundik kesayangan Petinggi Nippon itu Raden."
Laporan Dika membuat Sarwono membulatkan kedua matanya, Ningsih yang berada di belakang Sarwono juga tak kalah kagetnya, ia langsung melangkah ke samping Sarwono.
"Apa benar yang di katakan Dika, Mas?."
Ningsih mengguncang lengan suaminya dengan cepat, ia ingin segera mendapatkan jawaban bahwa yang di katakan Dika adalah sebuah omong kosong belaka. Sarwono juga tak bisa mempercayai ucapan Dika begitu saja karena ia sendiri pun melihat Ranti di bawa bersama dengan para gadis lainnya ke dalam truk.
"Tidak mungkin! aku melihat sendiri Ranti masuk ke dalam truk yang menuju ke sekolah bersama dengan para gadis desa."
sanggah Sarwono, ia berharap semua yang di ucapkan Dika adalah kebohongan.
"Maaf, tapi yang saya katakan merupakan kebenaran.. Jika kalian tidak percaya ayo ikuti saya."
Dika langsung bergegas menuju ke arah Jeep miliknya diikuti oleh Sarwono dan Ningsih mereka ingin membuktikan sendiri ucapan Dika.
Jeep itu melaju kencang menuju ke arah kediaman Maza Nishimura, meskipun waktu menunjukkan pukul 03.00 hampir memasuki waktu subuh tapi tekad Dika untuk membuktikan ucapannya begitu tinggi, ia tak mau di cap sebagai pembohong besar atau pengarang cerita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments