Flashback on
"Mbak Narsih, mau ajak aku kemana?."
Kedatangan Narsih ke rumah Ranti membuat gadis itu sumringah, akhirnya Narsih mau berbaikan dengannya usai Dika, orang yang sangat Narsih kagumi lebih memilih Ranti ketimbang Narsih.
Narsih sempat mendiamkan Ranti selama beberapa hari, namun sekarang kedatangan Narsih ke rumah Ranti membuat hati gadis bangsawan itu sedikit lega, apalagi Narsih sudah bisa tersenyum kepada Ranti.
"Kita mau jalan-jalan Ran.. nanti juga kau akan tahu." Narsih dengan cepat mengayuh sepedanya dengan semangat.
Sepeda mereka akhirnya berhenti di sebuah jalan setapak menuju perbukitan yang di kelilingi oleh hutan Pinus di samping kiri dan kanannya.
"Kita mau ke bukit mbak?."
Walaupun ia sangat lelah namun ia tetap mengikuti kemana pun langkah Narsih pergi.
Ia tak ingin sahabatnya ini marah dan memusuhi dirinya lebih jauh lagi.
Namun langkah Narsih terhenti, dan Ranti pun tak sengaja menubruknya dari belakang.
"Loh ada apa mbak? Kok berhenti?."
Ranti merasakan gelagat aneh dari Narsih yang melihat ke arah sekitar.
"Apa kau sangat menyukai mas Dika?."
Tanya Narsih tiba-tiba yang membuat dahi Ranti mengernyit, mengapa jadi membahas mas Dika? Bukankah Narsih ingin mengajaknya jalan-jalan.
"Asal kau tahu Ranti, aku sudah mengandung anak mas Dika. Jadi kau lebih baik akhiri saja hubunganmu dengannya!."
Narsih bahkan berteriak tanpa ragu, seolah hanya Dika lah orang yang pantas ia miliki.
"Maksud mbak apa?."
Ranti yang dilanda kebingungan lantas mencoba untuk berfikiran jernih.
"Aku adalah kekasih mas Dika Ranti, aku bahkan sudah mengandung anaknya. Apa kau akan tega mengambilnya dariku?."
Sambil berkaca-kaca Narsih mengungkapkan isi hatinya, ia sebetulnya tak ingin bermusuhan dengan Ranti namun disisi lain hatinya, Dika lah sosok yang paling ia cintai.
"Kenapa mbak baru bilang sekarang? Jika mbak bilang dari dulu aku bisa menolak mas Dika yang datang melamar ku."
Ranti dengan susah payah menahan emosinya agar tak melampiaskan nya lebih jauh lagi.
"Kau ini bodoh Ranti? Jelas saja orang tua mas Dika lebih memilih dirimu karena kau setara dengannya. Sedangkan aku? Aku bahkan berasal dari kasta rendah."
Narsih menceritakan semuanya pada Ranti, tubuhnya bergetar hebat karena baru kali ini ia menumpahkan semua yang ia rasakan.
"Tapi setidaknya dengan mereka tahu kau mengandung anaknya nasibmu akan jauh lebih baik, aku pun juga akan mengikhlaskan mas Dika jika memang dia mau bertanggungjawab terhadap mu mbak Narsih."
Rasa sayang yang amat tulus pada Narsih membuat Ranti tak tega melihat keadaan wanita yang sudah ia anggap sebagai keluarga nya sendiri.
"Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang mbak, aku akan membantumu agar mas Dika bertanggungjawab atas janin yang kau kandung sekarang."
Setelah berucap seperti itu Ranti segera berbalik dan hendak pergi dari sana guna bertemu dengan Dika dan keluarganya. Dika harus bertanggungjawab terhadap anak yang ada dalam kandungan Narsih karena anak itu tak berdosa dan tak bersalah sedikitpun.
Buggghhh
"Aaaakkkhhhhhh."
Suara hantaman dan jeritan itu keluar begitu saja dari mulut Ranti, darah segar mulai mengucur dari kepala gadis bangsawan itu.
"Maafkan aku Ranti, aku tak sanggup melihatmu bahagia. Jika mas Dika tak bisa kumiliki, maka kau pun juga sama."
Seringai Narsih semakin memperjelas rasa kebencian terhadap Ranti, ia pun segera pergi dari hutan Pinus itu dan membiarkan Ranti terluka sendirian disana.
Flashback off
Ranti menceritakan semua yang menimpanya terhadap Maza, tangannya mengepal kuat hingga membuat kukunya menggores tangannya sendiri.
"Apa kau tidak berniat untuk membalas perbuatannya?."
Maza merasa bahwa perempuan yang ada disampingnya ini sangat bodoh hingga mudah ditipu oleh temannya sendiri.
"Membalasnya? Tentu Tuan, saya ingin membalasnya tapi tak bisa. Saya bingung kenapa orang yang sudah saya anggap sebagai sahabat bahkan seperti keluarga saya sendiri tega melakukan hal ini pada saya."
Walaupun Maza merasa jengkel karena rencananya sudah dirusak oleh gadis bangsawan ini tapi ia tak kuasa untuk marah atau bahkan memakinya secara langsung. Ia juga menaruh perhatian lebih pada gadis ini karena ia cukup berbeda dari gadis lainnya.
"Lalu apa rencana mu? Apa kau akan melaporkan hal ini pada orang tuamu?."
Maza ingin tahu lebih jauh tentang apa yang akan gadis ini lakukan.
"Tentu, tapi aku juga tak sampai hati melukainya."
Jujur saja, jika Ranti diberi pilihan menghukum Narsih atau memaafkannya maka ia akan berlapang dada memaafkan sahabatnya itu, walaupun sahabat nya sudah salah dan juga menusuk dirinya dari belakang tapi entah mengapa ia tak bisa untuk menghukum sahabatnya itu.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas dia sudah melukaimu tapi kau akan membiarkan nya begitu saja?."
Rasanya mulut Maza sudah tak tahan lagi untuk tidak mengoceh kali ini. Bagaimana bisa ada gadis sebodoh dan sepemaaf ini.
"Ya memang saya bodoh Tuan. Jika saja dia bukan sahabat saya pasti saya sudah mencincang daging nya tapi dia ini sahabat saya."
Maza sekali lagi harus menggelengkan kepalanya, entah mengapa semua perempuan sepertinya sama. Suka dengan hal-hal yang rumit dan cenderung lebih suka menyakiti diri sendiri.
"Hashh berbicara dengan dirimu membuat kepalaku semakin sakit saja! jadi perempuan itu harus punya prinsip! Jangan hanya karena dia sahabatmu lalu kau akan memaafkan segala kesalahannya! Dia bahkan sudah mengkhianati mu tapi kau masih menganggapnya sahabat? Lucu sekali!."
Ucap Maza panjang lebar hingga membuat otaknya berpikir keras, ia mencerna semua ucapan Maza dengan cepat.
"Ta-tapi.."
Ranti ingin membantah ucapan Maza namun ucapan pria itu bahkan sangat logis di di kepalanya dan otaknya pun terima dengan ucapan Maza.
"Apa? Kau ingin membantahku? Bantah saja! Bagian mana yang salah dari ucapanku?."
Maza menantang Ranti yang sedang dilanda gundah, tentu saja ia tahu jika Ranti sudah kalah telak untuk berdebat dengannya. Ia adalah seorang prajurit dan mentalnya sudah terlatih untuk menghadapi hal-hal kecil dan konyol seperti ini.
Hiks hiks
Ranti malah menangis dan menutup seluru wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Ia tak menyangka jika yang Maza ucapkan memang benar adanya.
"Kenapa kau menangis? Apa semua yang aku ucapkan benar?."
Ucap Maza dengan nada sedikit mengejek, hanya ini cara satu-satunya agar gadis itu paham dan tak mudah tertipu lagi.
"Lalu saya harus bagaimana Tuan?."
Ranti sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
"Setidaknya kau harus membalas perbuatannya. Kau juga manusia. Bukan malaikat yang suci dan sempurna, adakalanya kau harus membalas kejahatan agar dia tak merendahkan martabat mu sendiri."
Ucapan Maza sukses membuatnya tersadar bahwa ia harus membalas perbuatan Narsih. Yang Maza katakan benar, Ranti hanya seorang manusia biasa yang di beri akal dan juga perasaan setidaknya jika perasaan nya terluka ia masih punya akal yang bisa ia gunakan.
"Jika Narsih licik aku harus lebih licik darinya."
Ia mengucapkan sumpah serapah untuk Narsih dan juga membentuk slogan penyemangat untuk dirinya sendiri.
"Sepertinya otakmu sudah mulai sadar dan terbuka."
Sindir Maza dengan nada mengejek seolah ia ingin membuat gadis itu tersulut emosinya.
"Diam lah Tuan, saya tidak ingin bicara dengan anda." Ucap Ranti dengan nada kesal.
"Kau! Berani kau membantahku? Apa kau tidak tahu siapa aku?."
Maza langsung berkacak pinggang dan menatap tajam wajah gadis bangsawan itu. Bisa bisanya seorang komandan sepertinya di bentak oleh perempuan seperti Ranti.
"Tidak saya tidak berani. Tapi saya tahu anda. Tuan Maza Nishimura."
Ranti tentu tahu karena pembantu rumah sempat menjelaskan siapa Maza Nishimura sebelum gadis itu melangkah pergi menemuinya. Maza Nishimura, salah satu komandan pasukan Dai Nippon berpangkat Rikugun Chusa atau letnan kolonel, ia juga sudah merasakan perang sejak dini saat Jepang berambisi ingin menguasai negara-negara di Asia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Firenia
galak amat bang 😭
2023-06-19
0
Firenia
iya tapi bilang dulu lah minimal, daripada baru marah-marah sekarang
2023-06-19
1
Firenia
jangan-jangan ini awal mula Ranti ga sadarkan diri di ch sebelumnya
2023-06-19
1