"Akiko.. kemungkinan besok saya tidak pulang. Jika kamu ingin sesuatu suruh saja Tinem atau penjaga di luar."
"Memang Tuan mau kemana?."
"Ke markas Jepara. Disana ada jamuan bersama dengan petinggi Nippon lainnya."
"Ohhhh begitu.. bisakah saya ikut?."
Tanya Ranti bersemangat, ia harus memata-matai mereka, terutama rencana selanjutnya yang akan dilakukan oleh pihak Nippon.
"Hah? Untuk apa kamu ikut?."
"Saya bosan dirumah terus.. ajak saya jalan-jalan ya Tuan.."
Ranti merengek seperti anak kecil, itu semua ia lakukan karena ia ingin mengetahui apa saja yang akan Nippon rencana kan kedepannya.
"Tidak. Perjalanan dari sini ke Jepara sangat lama."
"Hmmm baiklah."
Ranti berpura-pura kecewa karena tak diajak, ia lalu memilih untuk pergi dari hadapan Maza dari pada ia semakin kesal.
Maza yang melihat tingkah Ranti langsung menghela nafas panjang, bukan tak mau ia membawa gadis itu ke sana, tapi jarak dari Rembang ke Jepara sangat jauh, lagi pula keberangkatan nya kali ini bukanlah untuk bersenang-senang, melainkan membahas strategi perang dengan sekutu.
Ranti memasuki kamar Maza dengan wajah kesalnya, ia tak bisa memata-matai setiap pergerakan Nippon kalau harus berdiam diri di rumah terus.
"Apa kamu kesal?."
"Mana berani saya kesal dengan anda Tuan."
Ranti berpura-pura menundukkan kepalanya, ia harus pintar bersandiwara agar Maza luluh kali ini.
"Lalu kenapa kamu sedih seperti itu?."
"Maaf Tuan, saya hanya sedih.. seandainya saya bisa ikut jalan-jalan ke Jepara pasti akan sangat menyenangkan."
Ucapan Ranti yang langsung membuat Maza menepuk jidatnya sendiri.
"Begini saja, kamu bisa ikut, tapi perjalanan menuju ke sana tidaklah mudah. Kamu mengerti kan?."
Seketika wajah Ranti langsung bahagia saat Maza memutuskan akan mengajak dirinya kesana.
"Sekarang tidurlah, hari sudah malam, aku harus kembali ke Lasem untuk bertemu dengan Tuan Nagano."
"Kenapa malam-malam sekali? Tidak bisakah menunggu besok?."
Lain di mulut lain di hati, hati Ranti bahkan sangat bahagia jika saja Maza tidak pulang selamanya.
"Tentu saja tidak. Kamu tadi dengar sendiri kan kalau para penghianat itu akan di adili besok pagi, jadi kami harus mempersiapkan itu semua."
Ranti pun menganggukkan kepalanya, ia seolah menahan gejolak amarah yang luar biasa saat Maza mengucapkan persiapan untuk mengadili para penghianat.
"Baiklah.. hati-hati ya Tuan."
Maza langsung pergi begitu saja meninggalkan Ranti yang sedang kebingungan, ia harus memberitahu kan Mbok Nem agar lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan kabar apapun terhadap para pejuang.
Setelah Jeep Maza pergi meninggalkan rumah, Ranti bergegas menghampiri Mbok Nem yang berada di dapur.
"Mbok.."
Tinem pun menoleh dan langsung menghampiri Ranti yang berdiri di ambang pintu.
"Nggih Non.."
"Sebaiknya Mbok mulai berhati-hati, pemerintah Dai Nippon akan memenggal kepala orang yang di anggap sebagai pengkhianat besok pagi. Aku mendengar berita itu dari Tuan Maza sendiri tadi."
Ucapan Ranti langsung membuat Mbok Nem gemetar, ia harus segera mengabarkan ini pada para pejuang agar lebih berhati-hati lagi baik dalam penyamaran maupun tindakan yang akan mereka ambil.
"Baik Non.. mbok mengerti."
"Sekarang mbok harus mengabari para pejuang, bilang saja pada para penjaga di depan kalau mbok akan membelikan ku obat di apotek."
Mbok Nem menyimak baik-baik perintah Ranti.
"Baik Non, kebetulan sekali penjaga apotek di perempatan sana juga pejuang non, namanya kang Suro.. lalu jika penjaga bertanya mengenai.."
"Jika mereka bertanya jawab saja saya sedang sakit kepala. Lagi pula memang benar saya sedang sakit kepala sekarang. Saya sakit kepala memikirkan nasib orang-orang yang tidak bersalah dan harus mati tidak adil seperti ini."
Mbok Nem pun mengangguk dan bergegas pergi keluar untuk mengabari para pejuang.
Saat sampai di gerbang, ia gegas melaporkan kepada prajurit Nippon yang berjaga di depan rumah Maza Nishimura.
"Mau kemana malam-malam begini?."
Tanya seorang tentara berwajah garang itu pada mbok Nem, ia harus tetap tenang agar tak ketahuan.
"Ini Tuan, Non Ranti.. eh maksud saya Nona Akiko sedang sakit kepala, dia meminta saya membelikan obat di apotek dekat prapatan sana"
"Yasudah ayo saya antar."
Mbok Nem buru-buru menolak dengan halus, mana mungkin ia mau di antar, bisa-bisa rencana mereka gagal.
"Eh tidak usah Tuan.. Tuan ini bagaimana, jarak nya dekat sekali masa saya harus di antar, beberapa langkah saja sampai Tuan."
"Hmmm. Kalau begitu cepatlah kembali!."
Ucapan tentara Nippon itu langsung di angguki oleh mbok Nem, wanita paruh baya itu sudah pasti tidak mempunyai banyak waktu, ia harus cepat bertemu dengan seorang pejuang.
Langkah mbok Nem kembali di percepat saat melihat apotek akan segera tutup, maklum saja jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Nanggg.. jangan tutup dulu, saya harus membeli obat sakit kepala."
Teriakan mbok Nem sukses membuat penjaga apotek itu menoleh dan menghentikan aksinya yang akan menutup gerai apotek karena sudah larut malam.
"Oalah mbok Nem.. mbok Nem.. ku kira siapa. Yawis tunggu sebentar."
Ucap pria itu lalu berbalik hendak mengambilkan obat yang mbok Nem minta.
"Oiyo, Nang.. kang Suro biasanya ada disini. Kemana dia?."
Tanya mbok Nem dengan lirih, walaupun kondisi sangat sepi tapi ia harus dan wajib berhati-hati karena pihak Nippon saat ini sedang gencar-gencarnya mencari para pengkhianat.
"Ohh kang Suro sudah balik Mbok Nem.."
"Memang ada berita apa?."
Tanya penjaga apotek yang bernama Danang, ia juga merupakan seorang pejuang yang berkamuflase menjadi penjaga apotek, biasanya ia ditemani oleh Kang Suro dalam menjaga apoteknya.
"Sebaiknya kalian hati-hati Nang.. pemerintahan Nippon besok pagi akan memenggal kepala orang yang mereka anggap pengkhianat."
Raut wajah Danang terkejut seketika, ia tak menyangka pemerintahan Nippon akan bergerak cepat untuk segera menangkapi para pejuang.
"Informasi dari mana itu Mbok?."
"Dari Non Ranti.. dia itu gundik Tuan Maza Nishimura, dia juga pejuang, sama seperti kita Nang."
Ucapan mbok Nem membuat kaget Danang, ia tak menyangka bahwa ada seorang pribumi yang menjadi gundik petinggi Nippon.
"Bagaimana bisa mbok? Apa mbok tidak curiga padanya? Bisa saja dia malah membocorkan rencana kita pada Maza Nishimura."
"Tidak mungkin Nang.. karena adiknya sendiri juga menjadi bagian dari paduan suara yang nasibnya bahkan belum di ketahui. Dia sudah bersumpah serapah akan setia pada negeri ini meskipun dengan cara yang berbeda."
Danang lalu mengerti, ia kemudian mengangguk dan langsung menyuruh mbok Nem segera kembali agar para penjaga di rumah Maza Nishimura tidak curiga.
Mbok Nem langsung kembali menuju rumah Maza Nishimura bersamaan dengan sebuah mobil Jeep yang masuk ke halaman rumah.
Deghh
'Tuan Maza sudah datang rupanya.'
Batin mbok Nem, ia harus bisa bersikap tenang agar mereka tidak curiga.
"Kenapa kamu keluar malam-malam Tinem?."
Tanya Maza Nishimura dengan tatapan tajam ke arah perempuan paruh baya itu.
"Ini Tuan.. Nona Akiko meminta saya membelikan obat, katanya dia sakit kepala Tuan."
Ucapan mbok Nem langsung membuat Maza Nishimura bergegas ke arah kamarnya, Ia ingin mengecek kondisi Ranti. Mbok Nem pun ikut mengintil di belakang Maza Nishimura, ia berdoa dalam hati agar Ranti bisa bersandiwara lagi kali ini.
"Akiko.."
Maza melihat Ranti yang sedang berada di bawah selimut nya. Ia bergegas mengecek suhu badannya yang tidak terlalu panas.
"Mbok Nem.. mana obatnya."
Ranti bergegas meminta obat yang dibawa oleh mbok Nem, mbok Nem langsung memberikan obat itu dan mengambilkan nya air di dapur.
"Kepalamu sakit?."
Tanya Maza dengan raut wajah khawatir.
"Iya Tuan, hanya pusing saja."
Jawab Ranti dengan cepat, ia tak ingin niat keberangkatannya ke Jepara harus batal karena Maza akan melarangnya berangkat jika ia sakit.
"Yasudah sebaiknya kamu tidur saja, besok kamu tidak usah ikut ke Jepara."
Ranti lalu menggeleng dengan cepat, ia tak mungkin melewatkan kesempatan untuk mengetahui rencana pemerintahan Nippon selanjutnya.
"Tuan.. saya hanya pusing.. bukan akan mati.. jadi setelah meminum obat ini pasti sudah tidak pusing lagi. Lagi pula saya tidak ingin jauh-jauh dari anda Tuan.."
Ucapan Ranti barusan bagai pemantik cinta di hati Maza Nishimura, Maza lalu mengulas sebuah senyuman karena Ranti terus merengek seperti bocah agar Maza mau mengajaknya ke Jepara.
"Tapi kamu harus sehat besok, kalau masih pusing kamu tidak perlu ikut! Mau kamu merengek dan menangis kencang sekalipun tidak akan saya gubris!."
Ucapan Maza langsung mendapatkan senyuman dari Ranti, ia lalu bergegas masuk ke dalam selimut untuk tidur, sementara Maza akan menyusul Ranti tidur setelah mandi.
****
Sementara itu di wilayah Pati Syuu, tepatnya di daerah pucakwangi, satu regu pemberontak yang di kepalai Sutoyo tengah menyusun rencana pemberontakan terhadap pemerintahan Dai Nippon, melihat banyaknya warga yang ditindas dan terintimidasi, Sutoyo berhasil mengumpulkan para pejuang yang bersedia mati membela tanah air.
"Bahhh.. Di Rembang, Nippon besok pagi akan memenggal kepala orang Bahh.. Samsul juga termasuk di dalamnya."
Ucapan kekhawatiran muncul dari bibir pejuang bernama Karto, ia sendiri merupakan teman Samsul, sesama pejuang yang ingin ikut berjuang demi terbabasnya negeri ini dari penjajahan.
Sutoyo menghela nafas berat, pria yang kerap di sapa Abah itu kini menatap ke arah langit malam yang entah mengapa tak ada bintang sama sekali.
Seolah pertanda bahwa di bumi Nusantara sebentar lagi akan ada gejolak besar, gejolak yang bahkan tak bisa ia sendiri bayangkan.
"Kita harus secepatnya bergerak menyelamatkan Samsul. Lalu bagaimana dengan yang lain? Apa mereka setuju jika ada penyerangan?."
Tanya Abah Sutoyo itu dengan wajah gusar, ia masih bimbang apakah ia akan menyerang markas Nippon atau tidak, yang jelas jika ia menyerang sekarang belum tentu akan menang, karena prajurit Nippon sendiri terkenal dengan tangan besi.
"Kita semua setuju Bah.. Jika kita mati di sana, Gusti Allah akan menjadi saksi kematian kita Bah."
Ucapan Karto membuat Abah Sutoyo terkagum-kagum, pria paruh baya itu kemudian mengangguk dan bergegas menyusun strategi untuk menghancurkan markas Nippon.
"Yowis, sekarang kita bersiap ke Rembang sebelum fajar menyingsing."
Perintah Abah Sutoyo langsung di angguki oleh Karto, Karto pun segera mengabari para pejuang lainnya yang sedari tadi sudah siap berangkat ke Rembang untuk segera berkumpul di markas bawah tanah.
"Apa kalian semua yakin ingin kesana? Bukan Abah ragu, tapi kita harus punya strategi supaya perjuangan kita tidak gagal."
Ucapan Abah Sutoyo membuat semua orang menganggukkan kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
AGDHA LY
eciee pinter bgt ngomongnya. gak bisa jauh2... makan tuh pancingan ranti 💪🏻
2023-06-23
1
AGDHA LY
pinter banget aktingnya kwkwkw
2023-06-23
1
AGDHA LY
agak nge lag, lupa akiko itu ranti kwkwkw
2023-06-23
1