Kyai Fuad mengobati satu persatu para pejuang yang terluka itu dengan obat-obatan yang ia punya.
"Kembalilah ke kediaman Nishimura Tinem, sebentar lagi dia akan sampai di kediamannya."
Ucapan kyai Fuad langsung di angguki oleh Tinem, perempuan paruh baya itu tahu jika kyai Fuad memiliki kemampuan istimewa.
"Baik kyai, saya nitip mereka ya kyai."
"Sudah sepantasnya saya menjaga mereka, mereka juga sama seperti kita yang berjuang demi terbebasnya negeri ini dari belenggu kekejaman Nippon."
Tinem langsung mengangguk dan pamit undur diri, saat hendak keluar rumah kyai, Tinem dipanggil oleh seorang wanita.
"Nem.."
"Njih Bu Nyai."
Istri kyai Fuad yang bernama Bu Tarmi segera menghampiri Tinem dan memberikannya beberapa gulden.
"Tolong belikan obat ya Nem, persediaan obat sudah mulai berkurang."
Ucapan istri kyai Fuad itu langsung di angguki oleh Tinem, ia pun bergegas untuk pulang kembali ke kediaman Nishimura, ia harus menceritakan ini semua pada Ranti, siapa tahu gadis muda itu mempunyai ide yang bagus.
Saat melintas di jalanan ia pun membeli beberapa jagung rebus dan pisang rebus, agar para penjaga di rumah Maza Nishimura tak curiga dengan kedatangannya yang memasuki waktu malam hari.
Sesampainya di kediaman Maza, Tinem segera masuk setelah melalui pemeriksaan oleh para penjaga.
"Nona dan Tuan Maza apa belum datang Tuan?."
Tanya Tinem pada penjaga Nippon itu.
"Belum. Mungkin sebentar lagi."
setelah mendengar jawaban penjaga itu Tinem segera masuk ke dapur dan menyiapkan pisang dan jagung rebus itu ke dalam piring.
Grunggg
Tak lama kemudian terdengar suara Jeep masuk ke halaman rumah yang sudah pasti itu adalah Maza Nishimura dan juga Ranti.
"Mbok Nemmm."
Ranti langsung berlari menuju ke arah dapur tanpa memperdulikan Maza Nishimura yang kebingungan di depan pintu.
"Non.. hati-hati jangan lari-lari nanti ja-."
Buggghh
Belum sempat Tinem bilang, namun Ranti sudah jatuh terjerembab duluan.
"Tuhhh." lanjut Tinem dengan lirih
"Kan sudah saya bilang non.. hati-hati." Tinem berlari dengan cepat ke arah Ranti.
Maza Nishimura yang mendengar suara benda jatuh pun segera berlari ke arah dapur, disana kening Ranti pun terlihat berdarah karena membentur lantai marmer yang cukup keras.
"Akiko! Kamu ini kenapa? Lihat kepalamu berdarah lagi! Kamu tidak sayang dengan kepalamu ha?."
"Atau ku lepas saja kepalamu itu!."
Amuk Maza pada Ranti hingga membuat gadis itu tak suka.
"Memangnya Tuan tega melepas kepala saya?."
Tanya Ranti dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu.. Tidak! Tapi jika kamu tidak berhati-hati lagi akan aku pastikan kepalamu ku perban hingga ke ujung kakimu."
Deghh
Mata Ranti terbelalak mendengar penuturan Maza. Ia langsung membayangkan bagaimana jadinya jika ia di perban dari kepala hingga kaki.. ia langsung membayangkan bentuk mayat yang di bungkus dengan kain kafan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?. Apa kamu sedang berpikir menjadi mayat?."
Mata Ranti tambah terbelalak lagi, bagaimana mungkin Maza tahu apa yang ada di pikiran nya.
"Kenapa Tuan bisa tahu? Tuan dukun ya?."
Maza lalu menghela nafas panjang, ia kemudian menggelengkan kepalanya lalu beralih menatap Tinem.
"Tolong jaga bocah kecil ini Tinem. Saya akan kembali ke markas besar. Kemungkinan besok pagi saya baru kembali, jika dia berlari seperti tadi lagi ikat saja kaki dan tangannya."
"Siap Tuan!."
Ucapan Tinem langsung di hadiahi pelototan mata oleh Ranti, namun Tinem hanya mengendikkan bahunya.
Maza Nishimura lalu keluar dari kediamannya dan menuju ke markas besar. Ia kemudian memerintahkan seluruh prajurit untuk segera mencari keberadaan para pemberontak yang kemungkinan besar masih ada di sekitar Rembang.
Brakkk
Nagano menggebrak meja, kepalanya berdenyut sakit jika mengingat wajah-wajah para pribumi yang memberontak tadi pagi. Ia begitu kecolongan karena keamanan markas yang sedang lengang dan kurang penjagaan akibat banyak prajurit yang mengikuti Maza Nishimura menuju Jepara.
"Maafkan saya Tuan Nagano. Harusnya kemarin saya tidak membawa banyak pasukan ke Jepara."
Maza Nishimura membungkuk hormat pada Nagano, sebagai pimpinan markas Rembang tentulah Nagano bertanggungjawab penuh atas insiden yang terjadi.
"Sudahlah. Ini semua juga karena aku yang kecolongan. Pastikan semua orang-orang yang membangkang aturan agar di adili besok pagi! Harusnya mereka sudah di adili tadi pagi tapi gara-gara para pribumi si*lan itu semuanya gagal total!."
"Baik Tuan!."
Maza Nishimura lalu melangkah menuju ke belakang markas, lebih tepatnya penjara yang di gunakan untuk menampung para pemberontak yang besok akan di adili di tengah kota.
"Konbanwa Tuan Nishimura."
Matsuda mengucapkan selamat malam sembari membungkuk hormat saat melihat Maza Nishimura yang melangkah menuju ke dalam penjara.
"Konbanwa Matsuda! Apa kamu sudah menginterogasi mereka?."
Tanya Maza Nishimura dengan raut wajah kesal, ia kesal karena berani-beraninya mereka menyerang markas besar.
"Sudah. Tapi mereka tetap bungkam! Saya sudah menghajar mereka tapi tetap saja tiada hasilnya."
Maza Nishimura lalu mengangguk paham, ia pun segera masuk ke dalam penjara dan berhenti di pembatas sel penjara. Ia berhadapan langsung dengan para pemberontak yang tengah terduduk menahan sakit luar biasa di sekujur tubuh mereka.
"Kenapa kalian jauh-jauh kemari hanya untuk menyerang markas?."
Pertanyaan Maza Nishimura hanya di anggap angin oleh para pejuang yang masih tetap sama dengan pendiriannya yaitu membungkam mulut mereka masing-masing.
"Kenapa diam? Ternyata kalian cukup punya nyali besar! Lihat saja besok pagi, apa kalian akan tetap memiliki nyali yang sama besarnya saat keluarga kalian juga akan ikut dipenggal bersama kalian."
Ucapan Maza Nishimura langsung membuat para pejuang itu kaget dan membelalakkan matanya.
"Kenapa kalian menatapku begitu? Bukankah ini yang kalian mau?."
Maza Nishimura lalu berbalik dan hendak berjalan meninggalkan para pejuang yang sedang syok.
"Tuan! Tolong berhenti."
Ucap salah seorang pejuang yang akhirnya membuka mulut. Maza Nishimura lalu menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap tajam ke arah seorang pejuang yang kini berdiri di balik jeruji besi.
"Kenapa?."
Sorot mata tajam Maza Nishimura seolah menelanjangi mereka satu persatu. Maza Nishimura merupakan petinggi Nippon yang paling tenang di antara yang lain, tapi sekalinya ia bertindak ia akan menjatuhkan musuhnya tanpa tersisa.
"Kenapa kalian kejam sekali terhadap kami! Kami bahkan selalu memberikan apa yang kalian mau! Bahkan sekarang kalian ingin memerintahkan kami untuk melakukan Romusha, dengan sedikit makanan dan minuman, kami bisa mati Tuan!."
Maza Nishimura lalu terdiam beberapa saat, ia juga tidak terlalu setuju dengan rencana Romusha bagi para pribumi, namun dia juga tak bisa menentang apalagi ini perintah langsung dari Panglima Dai Nippon.
***
Sementara di tempat lain, Ranti terlihat sangat serius menatap Tinem yang sedari tadi menceritakan peristiwa yang terjadi di Rembang hari ini.
Tinem juga menceritakan tentang para pejuang yang sedang terluka dan di tampung oleh Kyai Fuad.
"Mereka tak ubahnya seperti setan mbok! Kurang ajar! Mereka semakin semena-mena terhadap rakyat."
Ucapan Ranti dipenuhi oleh amarah, ia sungguh tak terima dengan perlakuan tentara Dai Nippon yang bertindak sewenang-wenang apalagi dengan melukai para pejuang serta mengadili mereka besok pagi.
Ranti lalu berjalan menuju ke arah kamarnya, ia mengambil sesuatu dari dalam lemari. Sebuah kantong kain berwarna merah, ia lalu bergegas menuju ke arah Tinem yang masih setia menunggunya di meja makan.
"Mbok.. gunakanlah ini untuk membeli obat-obatan dan juga keperluan yang lainnya."
Ranti menyerahkan seluruh koin gulden yang ia miliki itu pada Tinem, Tinem pun langsung membelalakkan matanya manakala melihat uang gulden dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Ta-tapi Non.. Ini banyak sekali.."
"Gunakanlah ini untuk membantu mereka mbok.. saya tidak masalah, saya bisa meminta pada Tuan Maza, dia pasti punya banyak uang kan?."
Tinem langsung memeluk Ranti dan menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Non.. saya akan gunakan ini dengan sebaik-baiknya."
"Tentu.. jika mbok kesana, sampaikan salam saya pada mereka, saya tidak bisa sembarangan keluar apalagi jika Tuan Maza dirumah."
Tinem lalu mengangguk, ia juga mengerti kondisi Ranti yang akan sangat berbahaya jika ia keluar dari kediaman Nishimura.
***
Ditempat lain, Dika yang kehilangan jejak Ranti pun menggeram kesal, apalagi setelah mengetahui kalau Ranti dibawa oleh Nippon untuk bersekolah.
"Ck.. ini semua gara-gara wanita rendahan itu!"
Dika ingin sekali membunuh Narsih karena sudah menggagalkan rencana pernikahannya dengan Ranti, gadis bangsawan yang amat sangat cantik di matanya dan menjadi incarannya sejak kecil.
"Akan ku bunuh kamu Narsih! tunggu saja!."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Silvi Aulia
semangat ka ,aku suka sama karya Kaka 👍🥰
2023-06-14
0