Sesampainya Jeep Dika di kediaman Maza Nishimura, pria itu bergegas turun dan menemui para penjaga.
Sarwono dan Ningsih yang juga penasaran mengekor di belakang Dika, sejujurnya dalam hati mereka sangat takut jika sudah berhadapan dengan petinggi Nippon yang terkenal kejam seperti Maza Nishimura.
"Ada apa kalian kemari pagi-pagi buta?."
Tanya penjaga kediaman dengan wajah yang tidak bersahabat, mereka yang berada di pos jaga tentu tak akan mengijinkan mereka untuk mengganggu waktu istirahat Tuannya.
"Kami ingin menemui Tuan Maza Nishimura. Ada suatu hal penting dan mendesak yang harus kami bicarakan dengannya Tuan."
Penjaga itu tampak sedikit kesal, ia tak habis pikir dengan pria yang ada di depannya. Urusan sepenting apa yang akan di bicarakan oleh pemuda di depannya itu hingga berani mengganggu waktu tidur seorang Maza Nishimura.
"Baiklah. Tunggu disini."
ucap penjaga kediaman Maza Nishimura, mau tak mau ia bergegas masuk ke dalam kediaman dan mencari pembantu rumah.
"Tinem!."
Tinem yang baru saja bangun karena harus menanak nasi pun terkaget dengan kedatangan penjaga kediaman.
"Tuan.. Bikin kaget saya saja. Ada apa Tuan datang kemari?."
tanya Tinem dengan lirih takut suaranya terlalu keras hingga membuat Maza Nishimura terbangun.
"Ada tamu diluar. Tolong panggilkan Tuan."
ucapan penjaga kediaman itu membuat Tinem bingung, pasalnya siapa tamu yang berani datang di pagi buta seperti ini, bahkan pemimpin pasukan Nippon seperti Tuan Nagano saja tidak berani untuk sekedar datang ke kediaman Maza Nishimura di pagi buta.
"Siapa yang datang di pagi buta seperti ini Tuan?." tanya Tinem memastikan.
"Entahlah. Yang jelas mereka para pribumi."
ucapan penjaga kediaman itu pun langsung membuat Tinem kaget, siapa kiranya pribumi yang berani datang ke sini di waktu yang seharusnya orang beristirahat atau pergi ke Surau untuk sembahyang.
"Pribumi?? yasudah, tolong temani saya ya Tuan, saya takut jika Tuan Maza mengamuk."
Ucapan Tinem langsung di angguki oleh penjaga kediaman Maza Nishimura, mereka lalu melangkah menuju ke kamar Maza Nishimura, meskipun ragu-ragu tapi Tinem mencoba untuk mengetuk pintu kamar Maza Nishimura.
*Tok
Tok*
"Maaf Tuan, ini saya Tinem, ada tamu di depan Tuan."
Namun nihil tak ada jawaban apapun dari dalam kamar.
"coba ulangi lagi."
perintah penjaga yang langsung di angguki oleh Tinem. Penjaga itu pun juga tampak khawatir jika Tuannya itu marah dan lebih mengerikan nya lagi ia akan dikenai hukuman.
*Tok
Tok*
"Tuan.. maaf ada tamu di depan."
Cklek
Pintu kamar dibuka oleh Maza Nishimura sendiri. Dengan wajah yang sangat mengantuk bercampur kesal, Maza menatap tajam Tinem beserta penjaga yang ada di hadapannya.
"Kenapa kamu berisik sekali Tinem! pukul berapa ini!."
Sentak Maza dengan wajah penuh amarah, Tinem lalu menunduk dengan tangan yang gemetar.
"Maaf Tuan Nishimura, di depan ada tamu yang sedang mencari anda, mereka bilang ada kepentingan yang mendesak."
ucap penjaga itu dengan nada sedikit ketakutan, ia tak ingin Tuannya itu melampiaskan amarah kepadanya maupun kepada Tinem.
"Tamu macam apa yang bertamu di kediamanku pagi-pagi buta begini!."
"Ini baru pukul 4 pagi. Gila!."
Teriakan Maza Nishimura pun membuat Ranti sedikit menggeliat, gadis itupun segera bangun dan memakai kembali kimono nya, ia lalu bergegas keluar dari dalam kamar.
"Ada apa kalian ribut di pagi buta seperti ini? apa ada masalah?."
tanya Ranti setengah mengantuk, meski badannya sangat lelah tapi ia berusaha untuk bangun dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Ayo kedepan Yamaguchi! dan kamu Akiko, istirahat lah kembali, kamu masih kelelahan kan?."
Ranti lalu mengangguk dan menuruti perintah Maza, ia tak mau ikut kena amarahnya karena tak menurut.
Maza Nishimura dengan segera merapikan kimono nya dan melangkah menuju ke depan.
Tinem dan penjaga pun langsung membuntuti langkah kaki Maza Nishimura dari belakang.
"Siapa kalian? kenapa datang kemari di pagi buta seperti ini! kalian sudah mengganggu waktu istirahatku!."
Ucapan Maza Nishimura menggelegar bagai petir, ia masih sangat mengantuk usai menjamah Ranti dan sekarang ia harus meladeni para pribumi yang tidak tahu aturan jam bertamu.
"Maaf Tuan Maza, sejujurnya kami juga tak ingin mengganggu kenyamanan anda. Tapi ini berkaitan dengan putri kami." ucap Sarwono dengan wajah takut.
"Putrimu?."
Tanya Maza Nishimura dengan tatapan heran, ia menatap satu persatu ketiga orang itu. Ia seperti tidak asing dengan wajah Sarwono dan juga Ningsih serta pria yang ada di sebelah Sarwono.
"Iya Tuan Maza, putri saya Ranti."
Deghh
Maza terkaget saat Sarwono menyebut nama Ranti, ia langsung mengingat semuanya, ia ingat bahwa yang ada di depannya kini adalah kedua orang tua Ranti bersama dengan Dika, mantan kekasih Ranti.
"Atau biasa Tuan sebut dengan Akiko. Dia ada disini bukan?."
ucap Dika dengan penuh seringai, ia menangkap perubahan ekspresi wajah Maza Nishimura.
Maza Nishimura terdiam sejenak, ia lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Memang, dia ada disini."
ucapan Maza Nishimura bagaikan sebuah petir yang menyambar di siang hari. Sarwono dan juga Ningsih terguncang hingga terduduk lemas di halaman rumah Maza.
"Sudah ku bilang kan Raden, apa yang aku ucapkan itu benar adanya, aku tidak bohong, Ranti merupakan simpanan Tuan Maza Nishimura."
"Diam kamu!."
ucap Sarwono dengan amarah yang masih ia pendam, ia kemudian melangkah menuju ke arah Maza Nishimura.
Bughh
Satu pukulan mendarat tepat di pipi Maza Nishimura hingga membuat para prajurit dan penjaga yang ada di kediaman itu mengarahkan moncong senjatanya ke arah Sarwono.
Maza Nishimura lalu bergegas menghentikan aksi para penjaga yang akan menembakkan isi senapannya ke arah Sarwono dan Ningsih.
"Berhenti!."
ucap Maza Nishimura dengan mengangkat lima jarinya ke atas. Para penjaga itu pun langsung mematuhi perintah Maza Nishimura.
"Kenapa anda tega menjadikan anak saya sebagai gundik anda Tuan?."
Ucapan Sarwono dipenuhi dengan api amarah, begitupun dengan Ningsih yang masih terus menangis dan memegangi lengan suaminya agar tak bertindak lebih jauh lagi.
"Bapak.. Ibu.."
Ranti keluar dari kediaman Maza Nishimura dengan menggunakan kimono, ia tampak mirip dengan Geisha.
Ia lalu bergegas menuju ke arah Sarwono dan juga Ningsih.
Plakkk
satu tamparan Sarwono mendarat di pipi Ranti hingga membuat hidungnya mengeluarkan darah, Maza Nishimura yang melihat itu semua segera menarik lengan Ranti menjauh dari Sarwono.
"Lepaskan saya Tuan.. Saya ingin berbicara dengan mereka."
namun ucapan Ranti tak diindahkan oleh Maza Nishimura, pria itu tetap memegangi lengan Ranti dengan kuat seolah takut jika wanita itu terluka lagi.
"Ranti bisa jelaskan pak.."
"Penjelasan apa yang kamu maksud Ran? penjelasan mengenai dirimu yang sudah menjadi gundik Tuan Maza Nishimura?."
Ucap Dika dengan senyum seringai, ia seolah bahagia karena sudah membalas perbuatan Ranti dan Maza Nishimura tempo hari lalu.
"Masuklah, Bicarakan masalah ini di dalam, kecuali dirimu. Aku tak mengijinkan mu masuk ke kediaman ku!."
ucap Maza Nishimura seraya menunjuk tepat ke wajah Dika, ia benar-benar tak suka dengan kehadiran mantan kekasih Ranti yang ucapannya seperti granat.
"Kenapa Tuan melarang saya? apa Tuan takut dengan saya?."
Dika mencoba memancing amarah Maza Nishimura, namun rupanya Maza lebih tenang dan tak terpancing sedikitpun untuk meladeni ucapan Dika.
"Cihh. Ya. aku takut jika senapanku akan kelepasan dan menembak kepalamu!."
Usai mengatakan itu semua Maza lalu bergegas melangkah menuju kediamannya diikuti Ranti, Sarwono dan juga Ningsih. Para penjaga bergegas membentuk barisan agar pemuda bernama Dika itu tak menyerobot masuk ke dalam kediaman.
"Kurang ajar! awas saja kamu Maza Nishimura! ." ucap Dika dalam hati.
****
"Bisa kamu jelaskan nduk.. kenapa ini semua bisa terjadi."
ucap Ningsih sembari membelai kepala putrinya itu, ia begitu menyayangi Ranti bahkan setelah mengetahui fakta yang sangat mengejutkan untuknya, kasih sayangnya tidaklah berubah.
"Biar saya yang jelaskan. Saya yang bertanggungjawab penuh disini."
Maza Nishimura lalu duduk dengan tenang, ia menampakkan wibawanya sebagai seorang petinggi Nippon.
"Dengarkan saya baik-baik."
Sarwono, Ningsih dan juga Ranti mendengarkan ucapan Maza Nishimura tanpa terkecuali.
"Saya membawa putri anda kemari karena ada beberapa alasan. Yang pertama, saya tidak ingin putri anda dibawa oleh truk yang sebenarnya tidak akan sampai ke sekolah."
ucapan Maza Nishimura langsung membuat Sarwono dan Ningsih terperanjat, namun mereka memutuskan untuk diam dan terus mendengarkan penjelasan Maza Nishimura.
"Truk itu sebenarnya akan melaju menuju ke barak-barak militer, para perempuan yang ada disana bukan sedang belajar, melainkan menjadi pemuas nafsu para prajurit Nippon. Dan saya, tidak bisa membiarkan Ranti turut serta kesana."
Maza tentu tahu betul dengan jalur truk yang membawa Ranti menuju ke asrama siswa bukan betul-betul kesana, melainkan ke barak-barak militer yang di huni oleh ratusan prajurit Nippon.
"Lalu mengapa anda membawa Ranti kemari? bukan memulangkan nya ke rumah kami Tuan?."
Tanya Sarwono dengan wajah penasaran, sebetulnya ia tak masalah dengan hubungan yang terjalin diantara Maza dan Ranti, tapi status Ranti lah yang ia permasalahkan. Menjadi seorang simpanan itu merupakan aib besar bagi keluarganya.
"Menurut kalian, jika Ranti berhasil ku kembalikan ke rumah kalian, petinggi Nippon yang lainnya tidak akan mengincarnya begitu?. Lagi pula, saya sudah menaruh hati pada putri kalian."
Sarwono dan Ningsih langsung menghela nafas mereka, ternyata benar dugaan mereka selama ini bahwa Maza Nishimura memang menaruh hati kepada putri mereka.
"Lalu menjadikannya simpanan anda apa itu hal yang baik Tuan?."
sindiran Sarwono langsung membuat Maza Nishimura terdiam, ia memang salah dalam hal ini, tapi kesalahan yang ia lakukan begitu lumrah dialami oleh petinggi Nippon yang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Takaa
sok tw lu bawono
2023-06-05
0