BAB 13

"Untuk hal itu, saya memang salah. Tapi sebagai seorang pria saya akan menikahi putri anda."

Ucapan Maza langsung membuat Ranti terbelalak tak percaya. Sarwono dan Ningsih pun juga sama terkejutnya dengan Ranti.

"Tuan. Jangan bercanda."

Ranti berdiri dari duduknya dan beranjak menuju ke arah Maza Nishimura. Ia lalu menatap Maza Nishimura dengan tatapan penuh arti.

"Saya tidak bercanda Ranti. Saya memang mencintai dirimu seperti yang sudah saya ucapkan tadi malam. Apa kamu lupa?"

Maza lalu tersenyum dan memindai wajah wanita yang kini mengisi hari-harinya. Ia juga akan mengatakan alasan selanjutnya mengapa Ranti harus tetap ada disisinya sekarang.

"Duduklah."

Maza menarik lengan Ranti hingga gadis itu terduduk di sebelahnya. Mereka persis seperti pasangan suami-istri Nippon dengan Kimono yang mereka pakai.

"Alasan yang kedua, sudah jelas bahwa saya menaruh hati kepada putri kalian, saya mencintai putri kalian, dan bahkan saya tidak akan mengijinkan jika kalian membawa Ranti pergi dari kediaman saya."

lagi-lagi ucapan Maza sukses membuat Sarwono dan Ningsih membeku di tempatnya, ia tak menyangka jika Maza Nishimura memanglah orang yang kejam.

"Kenapa anda tega sekali Tuan! Dia putri saya, mengapa saya tidak boleh membawanya kembali?." Ucap Sarwono dengan wajah tegang, ia takut putrinya tak bisa kembali lagi ke rumah.

"Menurutmu, apa yang akan orang katakan jika dia kembali bersama kalian? sementara para wanita di desa kalian tidak akan pernah pulang ke rumah mereka.. dan lagi, Lelaki di depan sana juga pasti akan mengumumkan status Ranti kepada orang-orang, mengingat mulutnya yang seperti granat itu pasti akan meledak suatu saat."

Ucapan Maza langsung membuat Sarwono berpikir, tentu akan menjadi masalah besar saat Ranti dibawa pulang oleh mereka, pasti banyak warga yang bertanya perihal kepulangannya. Sementara para gadis desa lainnya juga belum pulang hingga sekarang bahkan cenderung tak ada kabar sama sekali.

"Dan saya juga harus menepati ucapan saya untuk membawa adik Ranti yang bernama Mariam dan membawanya ke tempat yang aman."

"Maksud anda Tuan?."

Mata Sarwono dan Ningsih langsung membelalak kaget saat Maza menyebut nama Mariam. Sarwono dan Ningsih sendiri yang mengantar Mariam menuju balai desa bersamaan dengan gadis lainnya yang sudah di tunjuk untuk menjadi barisan paduan suara.

"Mariam memang berada di barisan paduan suara, tapi barisan paduan suara itu juga suatu saat akan dikirim ke barak militer. Disana sudah jelas, mereka akan melayani ratusan tentara Nippon. Tapi aku juga tidak bisa berjanji karena barisan paduan suara itu dibawahi langsung oleh Tuan Nagano."

Penjelasan Maza Nishimura benar adanya, nasib Mariam akan jauh lebih berbahaya jika berada di barisan paduan suara karena suatu saat pasti akan di kirim ke barak-barak militer.

"Astaghfirullah.."

Ningsih dan Sarwono menghela nafas berat, ia tak menyangka nasib kedua putrinya kini sedang terombang-ambing tanpa kejelasan.

"Tolong selamatkan Mariam Tuan.. memang dia bukan anak kandung saya, tapi dia sudah seperti anak saya sendiri."

Ningsih memohon pada petinggi Nippon itu agar mau membantu membebaskan Mariam.

"Baiklah, saya juga sudah berbicara tentang masalah ini pada putri kalian."

"Permisi Tuan.. Ini ada teh dan kue nya."

Tinem datang dari arah dapur dan meletakkan nampan berisi teh beserta kue yang sudah ia susun ke dalam piring kecil.

"Silahkan, makan dan minumlah dulu. Kalian kemari pasti dalam kondisi perut kosong kan?."

kedua orang tua Ranti lalu mengangguk, mereka kemudian menyesap teh hijau yang diberikan oleh Tinem serta memakan kue yang telah disajikan.

"Tuan.. bolehkah saya berbicara berdua dengan bapak saya?."

Maza lalu mengangguk dan tersenyum, ia lalu mempersilahkan mereka untuk berbincang.

"Silahkan. Bicaralah di sana, saya juga akan bersiap menuju ke markas besar."

Tunjuk Maza pada taman samping kediaman, petinggi Nippon itu kemudian melangkah menuju ke kamar untuk bersiap menuju ke markas. Sarwono dan Ranti kemudian berjalan menuju ke dekat kolam ikan.

"Pak.. Maafkan Ranti ya pak.."

Ranti menatap Sarwono dengan wajah penuh penyesalan, ia tahu langkah yang ia ambil saat ini sudah sangat jauh dan beresiko tinggi, tapi hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk membantu para pejuang.

"Sudahlah nduk.. Yang penting kamu tidak apa-apa kan? Dia memperlakukanmu dengan baik kan nduk ?"

Sarwono lalu menangkup kedua lengan Ranti dan menatap mata putrinya itu lekat-lekat, ia harus memastikan putri kecilnya itu baik-baik saja walaupun Sarwono rasa nasib Ranti kedepannya akan terombang-ambing lebih jauh lagi.

"Tenang pak, Tuan Maza sangat baik, dia berbeda dengan para petinggi Nippon lainnya."

ucapan Ranti langsung membuat Sarwono menghela nafas berat.

"Dan juga, Ranti sudah menjadi pejuang pak, Ranti akan memata-matai apa saja yang akan Nippon lakukan melalui Tuan Maza."

Kedua mata Sarwono mendelik tajam ke arah Ranti, menjadi mata-mata apalagi di sarang musuh adalah suatu perjanjian mutlak dengan kematian.

"Itu sangat berbahaya nduk.. Jika Tuan Maza tahu, nyawamu bisa terancam!."

"Bahkan Ranti sudah tidak peduli lagi pak, Ranti ingin melihat negeri ini bebas dari jeratan Nippon yang begitu kejam."

Ucap Ranti dengan semangat yang berkobar, ia tak mungkin meninggalkan para pejuang yang bahkan rela mati demi negeri ini, ia juga ingin melakukan hal yang sama, mengabdi kepada negeri ini meskipun dengan cara yang berbeda.

Peringatan Sarwono rasanya sudah tak dipedulikan lagi oleh Ranti, ia kemudian menatap putrinya itu dengan wajah yang teramat frustasi, sebagai seorang ayah ia sangat takut jika suatu saat terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.

"Yasudah.. Bapak manut saja.. Yang penting jaga dirimu baik-baik nduk, setelah ini perjuangan mu akan lebih sulit lagi."

Ranti mengangguk dengan cepat ia lalu memeluk Sarwono dengan sangat erat.

"Tenang pak, disini Ranti tidak sendirian, pembantu rumah ini juga seorang pejuang bahkan orang-orang yang ada disekitar sini pun juga seorang pejuang."

Sarwono lalu mengangguk pasrah, jika itu memang keinginan putrinya ia tak bisa berkata apa-apa lagi, mau dirinya marah dan membanting semua senjata di rumah Maza Nishimura pun juga percuma, tak akan merubah keadaan.

Setelah berbincang cukup lama Sarwono dan Ningsih pun segera berpamitan untuk kembali ke rumah dengan diantar langsung oleh Maza Nishimura.

"Kalian pergi kesini bersama saya, lalu kenapa pulang dengan Tuan Maza?"

Tanya Dika saat Sarwono dan Ningsih menaiki Jeep milik Maza. Maza lalu menyeringai dan menunjukkan ekspresi kemenangan pada Dika.

"Lebih baik mereka ikut denganku dari pada dengan penghasut sepertimu."

Ucap Maza Nishimura dengan kekehan kecil, ia kemudian masuk ke dalam Jeep dan berlalu begitu saja meninggalkan Dika.

"Awas kau Maza! aku akan membalas perbuatanmu ini."

ucap Dika dengan lirih, ia kemudian meninggalkan kediaman Maza dengan perasaan jengkel.

****

Disisi lain, Ranti terlihat tengah berdiri sendirian di depan kolam, matanya terpejam begitu lama hingga membuat Tinem langsung menghampiri.

"Non.. kenapa?"

tanya Tinem dengan lirih, ia tahu, pasti berat untuk Ranti harus tetap berada disini.

"Ndak mbok.. hanya sedang berpikir saja. Oh iya, nanti mbok akan pergi ke tempat kyai Fuad yang kemarin mbok ceritakan bukan? aku ikut ya?"

Ranti begitu semangat untuk bisa mengenal para pejuang lainnya, ia sudah membulatkan tekad untuk bergabung dengan mereka hingga akhir.

"Non serius? tapi ini beresiko non.."

ucap Tinem dengan ragu-ragu, mengajak Ranti berarti mengambil resiko yang lebih besar lagi.

"Iya.. mbok tenang saja, aku sudah dapat alasan untuk bisa pergi dari sini. Kita akan kembali sebelum waktu makan siang Tuan Maza."

Ucap Ranti lalu diangguki oleh Tinem, mereka berdua pun bersiap-siap untuk berangkat.

Terpopuler

Comments

Takaa

Takaa

wohhhh bab ini beneran jempolan dah, bagus bagettt 10/10 wehhh

2023-06-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!