BAB 2

Kabar hilangnya Ranti membuat kedua orang tua Ranti kalang kabut, sementara Raden Dika yang akan menjadi calon suami Ranti juga merasa gelisah.

"Dimana anakku pak."

Ibu Ranti menatap suaminya dengan lekat, seolah ia meminta jawaban dimana sang anak berada sekarang.

"Bapak juga ndak tahu Bu. Sudah tujuh hari semua orang mencari keberadaan Ranti tapi tak ada seorang pun yang tahu."

Ucap Sarwono, pria paruh baya itu juga sangat mengkhawatirkan putri semata wayang nya itu.

Sementara Narsih yang berada disana tersenyum tipis hampir tak terlihat dalam hatinya ia sangat bersuka cita karena Ranti belum di temukan hingga saat ini.

Grunggg

Tiba-tiba suara mobil jeep membangunkan mereka dari kesedihan.

Sarwono menatap kedatangan jeep itu dengan seksama seolah ia tidak asing dengan mobil itu.

"Tuan Maza Nishimura."

Ucap Sarwono dengan wajah kaget tatkala melihat petinggi Nippon itu turun dari jeep namun tiba-tiba pintu samping itu menampilkan seorang perempuan berpakaian kimono.

"Ranti!!!."

Ucap Sarwono dan Ningsih secara bersamaan, ia sangat senang akhirnya putri bontotnya itu kembali.

Namun dengan pakaian kimono? Tanda tanya besar memenuhi isi kepala semua orang yang ada disana, termasuk Narsih yang memicing tak suka.

"Bisa bicara didalam?."

Ucap Maza Nishimura dengan nada tegas dan juga datar tanpa ekspresi.

"Ba-baik Tuan Maza silahkan."

Sarwono dengan wajah tegang mempersilahkan masuk komandan pasukan Dai Nippon itu untuk duduk bersama.

Kini pandangan Sarwono beralih menatap putri tercintanya.

Mengapa ia harus bersama dengan Maza Nishimura? Dan mengapa juga ia harus memakai kimono? Apa Maza Nishimura sudah menjadikannya gundik? Atau bagaimana?

Sejuta pertanyaan urung ia lontarkan karena segan dengan prajurit Jepang yang kini duduk di dekatnya.

"Saya hanya mengantar putri anda pulang, dia sempat sekarat beberapa hari."

Ucapan Maza sontak membuat mata Sarwono dan Ningsih membulat. Sekarat? Bagaimana bisa?.

"Sekarat?? Bagaimana bisa Tuan?."

Mata Sarwono langsung berkaca-kaca saat mendengar ucapan langsung dari mulut petinggi Nippon itu.

"Seharusnya anda bisa langsung bertanya pada perempuan yang bernama Narshi."

Maza Nishimura langsung menyebut nama Narsih hingga membuat gadis itu membeku beberapa saat.

"Narsih?."

Sarwono dan yang lainnya pun merasakan kekagetan bersamaan.

"Pak.. Bu.. seminggu yang lalu aku dan Mbak Narsih sempat berjalan-jalan di sekitar hutan Pinus, dia menceritakan semuanya padaku termasuk janin yang dia kandung sekarang, mungkin mas Dika bisa mempertanggungjawab kan perbuatannya pak."

Ucapan Ranti langsung membuat tubuh Narsih dan Dika terpaku seolah semua aibnya di bongkar hari ini.

Ranti kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpanya termasuk pengkhianatan Narsih dan juga pertolongan dari Maza Nishimura.

"Kurang ajar kau Narsih! Dika! Aku tak menyangka kalian akan melakukan hal hina dan melukai putriku!."

Amarah Sarwono berkobar saat mengetahui putrinya disakiti oleh Narsih sekaligus dikhianati oleh orang terdekat mereka.

"Maaf.. maaf Raden.. maafkan saya.. sa-saya."

Narsih lalu bergegas bersimpuh di hadapan Sarwono, ia tak mau jika ayah Ranti itu marah dan menghukumnya karena Sarwono adalah seorang Lurah, jadi ia memiliki koneksi untuk berbicara dengan para kempetei.

Jika sampai dia masuk ke dalam penjara para kempetei maka tamatlah sudah.

"Ranti.. maaf kan mbak.. Ranti."

Narsih masih menangis sesenggukan, ia tak mau di hukum, ia terlalu takut masuk ke penjara.

Gadis itu lalu bersimpuh di hadapan Ranti, sementara Maza yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum puas karena ia seperti melihat tontonan gratis.

"Kenapa baru sekarang mbak meminta maaf kepadaku? Saat aku tergeletak, mbak bahkan meninggalkan aku dengan santainya."

Memang benar saat itu Ranti dengan samar melihat Narsih yang pergi meninggalkan dirinya yang tengah kesakitan sendirian di hutan Pinus, bahkan Narsih menunjukkan seringainya yang merupakan tanda kepuasan karena telah menganiaya dirinya.

"I-itu itu.."

Narsih gelagapan, ia sudah tak sanggup berbicara lagi.

"Ranti, aku mohon maafkan aku. Aku tidak mencintai Narsih, kehamilan Narsih adalah kesalahan.. aku berjanji tak akan pernah menganggapnya ada. Bisakah kita tetap meneruskan hubungan kita?."

Dengan konyolnya Dika berharap bahwa hubungan mereka masih bisa di selamatkan.

sementara itu Maza Nishimura hanya memicingkan matanya mendengar ucapan Dika yang tidak masuk ke akal sehatnya.

"Apa kau sudah gila! Dimana kewarasan mu! Kau tega menghamili Narsih dan mengkhianati putri ku lalu kau mau meminta hubunganmu dan Ranti dilanjutkan? Setan alas!."

Sarwono merasa tak terima dengan ucapan kurang ajar Dika.

Ia berniat untuk memutuskan lamaran yang diajukan oleh kedua orang tua Dika.

"Sekarang kalian berdua lebih baik pergi dari rumah ini sebelum aku berubah pikiran untuk menjebloskan kalian ke penjara. Dan untukmu Narsih! Jangan pernah kau dekati lagi putriku! Aku tidak akan pernah mengijinkan putriku berteman dengan seorang pengkhianat seperti mu!."

Suara Sarwono sangat menggelegar bak petir di siang bolong.

Namun raut wajah Narsih mendadak berubah, matanya lalu menyorot Sarwono dengan tajam.

"Pengkhianat? Seharusnya putri Raden juga berkhianat kan pulang ke rumah bersama petinggi Nippon!. Aku hanya mencintai mas Dika sementara putri anda mungkin sudah menjadi gundik Nippon!."

Mendengar itu semua Ranti langsung bangkit.

Ia sakit hati dan tak terima dengan ucapan Narsih.

Plakk

"Jangan pernah kurang ajar dan melewati batas. Jika tidak ada Tuan Maza Nishimura mungkin aku sudah mati dan jasadku tidak akan pernah di temukan."

Wajah Ranti berapi-api seolah sedang menunjukkan betapa dirinya sedang marah kali ini.

"Lalu mengapa kamu berpakaian seperti bangsa mereka! kalau bukan menjadi bagian dari mereka! Kamu pasti sudah menyerahkan tubuhmu itu pada Tuan Maza kan? Hina sekali!."

Narsih yang juga tersulut emosi membentak Ranti dengan nada keras hingga membuat Maza Nishimura bangkit.

Ia ingin sekali menghajar wanita itu karena sudah lancang membawa-bawa bangsa nya.

Mariam, adik angkat Ranti yang baru berusia 13 tahun, yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran mereka hanya mberingsut di belakang semua orang, ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan apalagi dengan kedatangan petinggi Nippon.

"Kau punya otak untuk berpikir kan? Harus nya kau berpikir! adakah orang yang memakai pakaian bersimbah darah selama tujuh hari. Aku tidak punya pakaian kalian! jadi apa harus ku suruh dia bertelanjang saja?."

Maza merasa jengkel karena perempuan bernama Narsih itu sangat bodoh dan tidak bisa berpikir jernih.

Meskipun pasukan Dai Nippon sudah terkenal dengan para gundiknya tapi tidak dengan Maza Nishimura.

Meskipun hasratnya menggebu-gebu ingin mencicipi tubuh wanita, tapi urung ia lakukan karena memang hatinya tak ingin.

Lagi pula ia terbiasa melampiaskan nya sendiri, tugasnya sebagai petinggi Nippon juga sudah banyak sekali, bahkan untuk menenggak minuman keras saja belum kesampaian karena stok miras di Jawa sangat sedikit dan datangnya juga lama sekali.

"Kalau seandainya aku menjadi gundik Tuan Maza memang kenapa? Dia juga tidak memiliki istri atau pun kekasih! Tidak seperti mu! Bahkan calon suami orang pun kau embat!."

Ranti semakin emosi mendengar Narsih yang dengan lantang tak tahu malu menyebut dirinya sebagai simpanan petinggi Nippon yaitu Maza Nishimura.

Ia menyindir kelakuan Narsih hingga wanita itu terdiam dan menunduk malu.

Sementara Sarwono dan Ningsih menghela nafas lega, akhirnya pikiran yang sedari tadi mereka takutkan tidak terjadi, ternyata Maza hanya meminjamkan kimono pada Ranti. Mata Sarwono kemudian menatap Narsih dengan tatapan kebencian.

"Kau akan dihukum karena sudah lancang membawa nama bangsa Nippon dan bahkan sudah mencelakai orang."

Suara bariton Maza Nishimura membuat semua mata yang ada di sana membulat.

Tak ada yang berani membantah ataupun mengeluarkan argumen barang sedikitpun. Ranti yang masih mempunyai hati tak tegaan menatap Maza dengan seksama.

"Jangan meminta pada ku untuk melepaskan nya! Karena masalah nya bukan lagi dengan mu tapi dengan kami."

Kami yang dimaksud oleh Maza adalah Nippon. Seharusnya Narsih bisa menjaga ucapan nya karena sedikit saja salah berucap maka nyawa taruhan nya.

"Tuan.. Tuan Maza tolong ampuni saya Tuan." Narsih gegas bersimpuh di hadapan Maza Nishimura agar ia mau memaafkan nya.

Tap

Tap

Suara langkah kaki sepatu terdengar dari arah luar yang ternyata adalah tiga orang kempetei.

Mereka tanpa ampun langsung menyeret Narsih yang terus memohon pada Maza, jika mulutnya itu tak tajam dengan mengatai bangsa Nippon maka hal itu tak akan pernah terjadi.

Para kempetei yang dari tadi sudah mengamati keributan yang terjadi di rumah Sarwono langsung saja masuk setelah petinggi pasukan Nippon itu mengucapkan kata hukuman pada wanita pribumi itu.

Terpopuler

Comments

🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸

🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸

tiba udh kayak gini baru mohon²

2023-06-18

0

🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸

🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸

haha keren Ranti

2023-06-18

0

🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸

🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸

waduh udah lama banget

2023-06-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!