"Mau kemana kalian?"
tanya seorang penjaga di kediaman Maza Nishimura.
"Kami akan ke pasar Tuan, kebutuhan dapur sudah habis. Pasar juga dekat dari sini Tuan jadi tidak perlu di antar."
Penjaga itu pun tampak sedikit berpikir.
"Tidak apa-apa Tuan, lagi pula ada Mbok Tinem yang mengantar, saya akan membuat masakan enak untuk Tuan Maza."
"Baiklah, kalau begitu cepat kembali dan berhati-hati lah Nona.. jika terjadi sesuatu pasti kami yang akan di salahkan oleh Tuan Nishimura."
"Baik, terimakasih Tuan.."
Ranti dan Tinem pun keluar dari kediaman menyusuri jalanan menuju ke pasar, disana mereka sempat membeli ikan dan juga beberapa kebutuhan lain agar tidak terlalu menyita waktu.
setelah selesai berbelanja, Ranti dan Tinem bergegas menuju ke arah tempat tinggal kyai Fuad yang berada di tengah kebun jati.
"Rumahnya masih jauh ya mbok?."
Ranti sedikit meremang saat memasuki area perkebunan jati yang begitu rapat seolah menampakkan kesan mistis walaupun keadaan masih pagi.
"Tidak non, sebentar lagi kita akan sampai."
"Hmm baiklah mbok, maaf saya agak sedikit trauma jika berada di hutan seperti ini saya takut kejadian yang dulu menimpa saya terulang lagi."
"Non tenang saja, selama ada mbok Non akan baik-baik saja karena disini merupakan markas para pejuang Non.."
Ranti pun mengangguk, mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah rumah kyai Fuad. Setelah lama berjalan akhirnya mereka sampai di depan rumah Jawa kuno, Tinem pun mengetuk pintu rumah sebanyak 6 kali.
*Tok Tok
Tok Tok
Tok Tok*
Saat ketukan terakhir barulah seseorang membuka pintu rumah itu dengan lebar.
"Assalamualaikum pak kyai."
"Waalaikumsalam, masuk Nem."
Tinem dan Ranti pun masuk ke dalam rumah kyai Fuad.
"Apa ini Nona Ranti yang pernah kamu ceritakan Nem?."
"Njih kyai.. Nona Ranti yang selama ini membantu kita."
Ucapan Tinem membuat Ranti tersenyum, ia bangga kehadirannya bisa sedikit meringankan beban para pejuang.
"Terimakasih Nak Ranti.. Bantuan nak Ranti sangat berarti untuk kami, saya hanya berpesan agar nak Ranti tetap setia kepada negeri ini dan juga berhati-hati, karena Maza Nishimura adalah orang yang kejam dan juga cerdik."
ucap kyai Fuad dengan wajah khawatir, ia khawatir jika suatu saat Ranti akan ketahuan dan diberikan hukuman.
"Njih Kyai, saya akan mengingat pesan kyai.. Ini, saya juga membawakan obat-obatan beserta bahan makanan untuk kalian, saya yakin ini sangat berguna."
Kyai Fuad pun tersenyum lalu mengangguk pada Ranti, ia juga berterimakasih atas bantuan yang Ranti bawa kemari.
"Lalu bagaimana nasib dari para pejuang yang seharusnya di penggal hari ini nak Ranti? apa para kempetei sudah melaksanakan hukuman nya?."
"Belum kyai, tadi malam saat saya akan tidur, Tuan Maza bilang kalau hukuman untuk mereka di undur karena hari ini markas besar sedang kedatangan tamu penting dari Surabaya."
Ranti menceritakan semua yang ia ketahui kepada kyai Fuad supaya mereka bisa menyusun rencana untuk membebaskan para pejuang yang masih tertinggal di markas. Jika di biarkan disana, keselamatan mereka pasti akan terancam apalagi hukuman Dai Nippon tidaklah main-main, setiap orang yang dianggap sebagai mata-mata, pemberontak, maka hukuman penggal yang akan mereka terima.
"Begitu ya, jadi kita masih ada waktu rupanya."
"Tapi setelah insiden penyerangan markas besar, para kempetei sudah memperketat pengamanan kyai bahkan tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam."
Kyai Fuad pun menganggukkan kepalanya, ia kemudian mengajak Ranti untuk bertemu dengan para pejuang yang kini masih berada di ruang bawah tanah, saat masuk ke sana terlihat rona kebahagiaan terpancar dari wajah Ranti dan juga para pejuang.
Mereka lalu bekerjasama dengan menyusun strategi untuk membebaskan para pejuang yang sedang menjadi tawanan di markas.
...****************...
Ditempat lain, Maza Nishimura berjalan dengan senyum yang mengembang diwajahnya, entah mengapa hari ini dia sangat ingin sekali tersenyum sampai ia tak sadar jika Tuan Nagano memperhatikan raut wajahnya.
"Nishimura? kenapa kamu tersenyum sendiri? apa karena wanita?"
Tebak Nagano dengan sedikit senyum yang tersungging, baru kali ini ia melihat seorang Maza Nishimura tersenyum sendirian.
Maza yang mendengar suara Nagano langsung gelagapan dan merubah ekspresi wajahnya dengan cepat, ia kembali menjadi sosok petinggi Nippon yang dingin dan kejam.
"Maaf Tuan."
"Tidak masalah Nishimura.. lagi pula aku senang melihatmu menjadi normal kembali."
Ucapan Nagano sontak membuat alis Maza Nishimura terangkat satu.
"Memangnya selama ini saya tidak normal Tuan?."
pertanyaan Maza justru membuat Nagano semakin ingin tertawa lebar.
"Ya. Kau sangat tidak normal sebelum bertemu dengan gundikmu itu. Kau bahkan seperti mayat hidup yang tanpa ekspresi dan juga terkenal dengan sikap kejam."
Maza lalu tertegun sejenak, ia kembali mengingat saat dirinya baru pertama kali menginjakkan kakinya di bumi Hindia-Belanda. Ia begitu kaku, dingin, bahkan kejam pada semua orang, bahkan disaat petinggi Nippon lainnya mencari para wanita untuk dijadikan gundik, ia lebih memilih untuk minum alkohol sendirian.
"Kenapa kamu diam saja? sedang mengingat masa lalu?"
Nagano lalu terkikik geli, ia tak menyangka perubahan Maza Nishimura sangatlah cepat hingga membuatnya terkagum dengan sosok Ranti, wanita yang berhasil membuat seorang Maza Nishimura tersenyum.
"Sudahlah Tuan Nagano, saya datang kemari karena ingin menanyakan satu hal."
Maza menyudahi bercandaan Nagano sebelum melebar kemana-mana, ia tak ingin aibnya terbongkar satu persatu.
"Baiklah, apa itu?"
"Apa saya bisa menikahinya?"
Pertanyaan Maza justru membuat Nagano memelototkan matanya. Pemimpin pasukan Nippon itu langsung bertanya ulang kepada Maza karena tak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.
"Saya serius Tuan, saya ingin menikahinya."
"Saya juga serius Nishimura, pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa dipermainkan Nishimura.. Apalagi statusmu yang seorang petinggi Nippon, tentu tidaklah mudah menikahi seorang pribumi sepertinya. kau juga harus memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi saat kau menikah dengannya."
Nagano menarik nafas dalam-dalam, ia lalu melanjutkan ucapannya lagi.
"Kau harus bisa memikirkan jika suatu saat dia akan berbalik arah dan malah menikam dirimu dari belakang. Dia seorang pribumi Nishimura, kau bahkan mengambilnya paksa, jangan sampai kelengahan mu itu menjadikan bumerang untuk dirimu sendiri. Selain itu ada tembok besar yang akan menghadang niatmu itu, yaitu kepercayaan kalian berbeda. Dia seorang pribumi yang mempercayai adanya Tuhan, dan kita? Sama sekali bukan orang yang mempercayai adanya Tuhan."
Maza Nishimura lalu menundukkan kepalanya, ia berpikir keras mengenai penjelasan Nagano, tapi di hati kecilnya mengatakan kalau ia harus bertanggungjawab penuh terhadap Ranti.
"Sudahlah Nishimura! lebih baik kau urusi saja para pembangkang itu dari pada memikirkan hal yang tidak pasti."
Nagano kemudian berlalu sambil menepuk pundak Maza Nishimura. Pria itu agak sedikit kacau usai berbicara dengan Nagano, ia begitu mencintai Ranti dan ingin menikahinya secepat mungkin, tapi justru keadaan yang tidak mendukungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Takaa
wkwkwkwk full senyum beliau ini.
2023-06-06
0