Priyanti pun bergegas menoleh ke arah Takuro Yamamoto yang diikuti oleh sejumlah petinggi Nippon termasuk Maza Nishimura dan Ryu Nakanishi.
"Maaf.. kami habis mengambil ini di dapur. Kami kelaparan Tuan."
Ucapan Priyanti langsung membuat wajah Takuro Yamamoto sedikit melunak.
Krukkkkk
Suara perut Ranti tiba-tiba berbunyi, hingga membuat Maza Nishimura menahan suara tawanya.
"Ehhh tuh kan berbunyi lagi, sudah makan saja sekarang.. tidak apa-apa kan Tuan?."
suara perut Ranti membuat keadaan menjadi lebih baik, Priyanti langsung bergegas menyusun kebohongan agar pemimpin pasukan Nippon itu percaya.
"Tentu.. makan saja. Dia ini gundik Maza Nishimura bukan? Cantik sekali."
Ucapan Takuro Yamamoto sukses membuat Priyanti memelototkan matanya, ia bahkan takut jika Ranti malah diminta oleh pemimpin pasukan Nippon itu. Ranti pasti akan stress jika menjadi gundik Takuro Yamamoto yang berusia paruh baya dan terlihat seperti kakek tua.
"Aku hanya memujinya Hanako.. jangan cemburu.. dia milik Maza Nishimura, mana berani aku memintanya, bisa-bisa aku di ajak berduel dengan Maza besok pagi." Ucap Takuro dengan pongah.
Maza Nishimura hanya memutar malas bola matanya, jika sudah berkaitan dengan wanita cantik maka Takuro Yamamoto pasti akan memelototkan matanya.
"Akiko.. ayo kembali.."
Maza Nishimura lalu menggandeng tangan Ranti dan buru-buru mengajaknya pergi dari sana.
"Sebentar Tuan, saya akan mengantar makanan ini dulu untuk Niluh dan juga Minah."
Ucap Ranti dengan sejuta kepolosannya, tentu saja Maza tak akan mengijinkan Ranti membawa sendiri piring kue itu.
"Sudah. Biar Ryu yang membawanya."
Perkataan Maza langsung disambut anggukan kepala oleh Ryu Nakanishi, ia dengan senang hati akan membawakan piring kue itu pada Niluh karena ia memang akan menemui Niluh.
Ranti pun menyerahkan piring kue itu pada Ryu dan bergegas kembali ke arah Maza Nishimura.
Maza lalu bergegas menggandeng tangan Ranti menuju ke arah kamar yang sudah di persiapkan untuk beristirahat sebelum besok pagi mereka akan kembali menuju Rembang.
"Tuan.."
Panggil Ranti pada Maza yang hendak melepas seragamnya.
"Hmm.. kenapa?."
"Maaf tadi saya lancang ke dapur soalnya saya lapar sekali.. Tuan tidak marah kan?."
"Hahaha Akiko.. Akiko.. mana mungkin saya marah.. saya lebih marah lagi kalau kamu tidak makan. Sekarang makanlah, habiskan kue itu, kalau kamu lapar minta lagi, suruh saja penjaga yang ada di sana."
Tunjuk Maza pada beberapa prajurit yang sedang duduk santai di pos yang berada tak jauh dari kamar mereka.
"Tidak usah Tuan.. ini saja sudah cukup."
Maza lalu menganggukkan kepalanya dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Hari semakin larut, tanpa sadar Ranti tertidur begitu saja dengan posisi duduk, kepalanya pun menempel pada kepala ranjang, piring bekas kue pun masih ia pegang sedari tadi.
Maza yang baru saja keluar dari kamar mandi pun menyipitkan matanya hingga semakin tak terlihat.
"Mengapa kamu bisa tidur dalam posisi seperti ini?."
Tanya Maza dengan lirih tanpa membangunkan Ranti. Ranti masih tetap tertidur pulas walau tangan kekar Maza menaikkan kedua kakinya dan membuat tubuh Ranti tertidur dengan benar di atas kasur.
"Istirahatlah Akiko.."
Pria itu kemudian menarik selimut agar Ranti tetap hangat, ia lalu bergegas berbaring di sebelah Ranti, ia sangat bahagia hari ini entah mengapa sejak kedatangan Ranti di sisi nya, Maza selalu tersenyum bahkan saat sendirian.
Beruntungnya tiada seorang pun yang tahu saat ia tersenyum bahkan tertawa sendiri saat mengingat kepolosan Ranti, jika ada yang tahu, sudah di pastikan Maza Nishimura pasti akan sangat malu sekali.
****
Di Rembang, kelompok pemberontak yang menamai diri mereka Kolojengking Ireng, menyerang markas Nippon, Abah Sutoyo dan kawan-kawan menyerang markas Nippon sejak pagi buta, mereka ingin agar Samsul dibebaskan.
Tuan Nagano yang berada di markas pun membidik satu persatu pribumi yang memberontak itu, ia tak segan menembaki mereka dengan senapan api miliknya. Ia juga memakai Katana yang secara turun temurun di wariskan oleh keluarganya.
"Tidak bisa dibiarkan!!!."
Nagano kemudian langsung bertarung dengan para pemberontak pimpinan Sutoyo. Meskipun sedikit kewalahan namun Nagano yang memang sudah mahir dan terbiasa berada di medan perang pun memenangkan pertempuran sengit itu. Sutoyo dan kawan-kawan termasuk Karto memilih untuk mundur dan menyelamatkan diri, korban tewas dari pihak pribumi mencapai 30 orang dan pihak Nippon 10 orang.
"Yarou!!!!. Berani sekali orang Hindia Belanda itu menyerang markas besar!."
Sebagai pimpinan tertinggi markas Rembang, Nagano begitu kesal dan marah karena para pribumi yang menunjukkan aksi pemberontakan nya secara terang-terangan.
Sementara itu, Nagano kembali memanggil bawahnya untuk segera datang menghadap, ia ingin memberikan ancaman kepada para pribumi yang akan dan ingin memberontak.
"Saya datang Tuan Nagano."
"Ah kau rupanya. Aku ingin para pembangkang itu diadili besok pagi Matsuda! Biar mata orang Hindia Belanda itu tau bahwa ancaman kita tidak main-main!."
Ucap Nagano dengan wajah yang berapi-api, ia merasa kecolongan kali ini sebab Maza Nishimura yang sedang berada di Jepara. Jika pemberontakan terjadi Maza Nishimura lah yang akan menghalau serangan sebelum sampai ke markas besar.
"Baik Tuan Nagano. Apa Nishimura belum kembali?."
"Dia belum kembali Matsuda, kemungkinan nanti malam dia baru sampai."
"Jika saja ada Nishimura pasti para pemberontak itu tak akan memasuki markas besar! Suruh para prajurit untuk berjaga dan memeriksa setiap orang yang berlalu-lalang Matsuda. Jangan sampai kamu kecolongan lagi!."
Tunjuk Nagano pada Matsuda yang langsung di angguki oleh pria itu, ia pun segera undur diri dan menuju ke arah penjara yang terletak di sisi belakang markas.
Saat melihat wajah-wajah pribumi yang terluka cukup parah itu, Matsuda langsung memicingkan matanya.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk memberontak kemari!."
Tanya Matsuda kepada para pribumi yang sedang menahan luka di tubuh mereka. Walaupun tiada seorang pun yang mengobati mereka, namun orang-orang itu bahkan tak gentar untuk menatap salah satu petinggi Nippon yang paling bengis setelah Maza Nishimura.
"Jawab!! Bakaaa!! Jangan diam saja!."
Meskipun Matsuda meneriaki mereka dengan ucapan kasar, namun para pejuang itu tetap diam seolah meremehkan Matsuda.
Bughhh
Tendangan keras dari kaki Matsuda langsung mengenai kepala salah seorang pejuang, namun begitu ia masih diam dan tak membuka mulut sama sekali.
"Masih tak mau bicara!."
Bughhh Bughhh
Matsuda kemudian menendang lagi salah seorang di antara mereka hingga darah mulai bercucuran dari kening pejuang itu.
Namun mereka seolah diam dan tak menggubris sedikitpun ucapan Matsuda yang seolah bersiap akan membunuh mereka. Matsuda yang jengkel kemudian berbalik dan meninggalkan mereka yang masih di dalam penjara.
****
Sementara itu di tempat lain, Abah Sutoyo dan Karto serta para pejuang lainnya yang sempat melarikan diri, kini berada di sebuah bangunan kosong yang dipenuhi oleh ilalang.
"Bagaimana ini Bahh, banyak anggota kita yang tertangkap Nippon."
"Ini semua karena kita terlalu grasa-grusu Karto."
Ucap Abah Sutoyo sambil menghela nafas berat, setelah ini keamanan di Rembang akan di perketat dan tidak menutup kemungkinan ia beserta para pejuang yang tersisa akan kesulitan kembali pulang ke rumah masing-masing.
"Siapa disana!."
Ucap Abah Sutoyo saat melihat bayangan seseorang yang berada di balik tembok.
"Maaf ini saya. Saya bawakan obat untuk kalian. Saya juga pejuang jadi kalian tidak perlu khawatir."
Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Tinem, setelah mendengar kabar penyerangan di markas besar, para tentara Nippon yang berjaga di kediaman Maza Nishimura bergegas menuju ke markas. Ia lalu mencari para pejuang yang berhasil meloloskan diri dari markas besar, karena Tinem yakin mereka masih ada di sekitaran Rembang.
"Kulo Tinem, sebaiknya kalian ikut saya sebelum para prajurit Nippon itu mencari kalian di setiap sudut kota."
Tinem memperkenalkan dirinya kepada para pejuang yang tengah terluka itu, namun Abah Sutoyo dan yang lainnya masih tetap ragu dengan ucapan Tinem.
"Percayalah pada saya, saya ini pribumi. Pantang bagi saya untuk berkhianat, sebaiknya kalian ikuti saya jika masih ingin selamat."
Abah Sutoyo dan kawan-kawan segera mengikuti kemana perginya Tinem, mereka tidak punya pilihan lain selain mengikuti Tinem, mereka tak ingin mati sia-sia di sana.
Mereka juga menghapus setiap darah yang bercecer di tanah agar para Nippon itu tidak bisa mengendus keberadaan mereka, bisa berbahaya jika Nippon mengikuti jejak darah yang bercecer di tanah yang akan mereka lewati.
Tanpa banyak bicara, Tinem menuju ke arah rumah yang berada di area perkebunan jati, disana merupakan markas para pejuang daerah Rembang yang bernama Singo barong.
Tok tok
Tok tok
Tok tok
Tinem mengetuk pintu itu sebanyak 6 kali sebagai tanda kedatangannya. Rumah yang mereka datangi ini tampak biasa seperti rumah-rumah pada umumnya.
Cklek
"Kau rupanya Nem."
"Siapa mereka?."
Tanya Kyai Fuad kepada Tinem, ia begitu kaget saat melihat beberapa pria yang terluka di belakang Tinem.
"Mereka ini pejuang dari Karesidenan Pati yang menyerang markas besar tadi pagi kyai."
"Astaghfirullah.. Ayo ikuti saya."
Kyai Fuad langsung menghela nafas panjang, ia kemudian menyuruh mereka semua untuk ikut ke dalam rumah, tepatnya ruang bawah tanah yang mereka jadikan sebagai tempat persembunyian para pejuang Rembang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
վմղíα | HV💕
KK yunia hadir lagi
2023-06-12
1