Maza Nishimura kembali menuju kediaman dengan perasaan yang belum bisa ia artikan, kepalanya justru di selimuti oleh ucapan para pribumi yang tadi ia dengarkan.
Sesampainya di kediaman, ia segera masuk ke dalam, namun alangkah terkejutnya ia saat melihat Ranti menunggui dirinya di ruang tamu.
Maza lalu melirik ke arah jam di dinding, sudah pukul 01.00 dini hari. Ia lalu memandangi Ranti dengan ulasan senyum di wajahnya, baru kali ini ia merasa diperhatikan oleh seorang wanita setelah ibunya.
"Mengapa kamu menungguku disini sampai ketiduran?."
ucapan Maza Nishimura begitu lirih, ia takut membangunkan wanita yang paling ia sayangi.
Maza Nishimura bergerak mendekati wajah Ranti yang tertidur pulas, wanita bangsawan itu sebetulnya menunggu Maza sejak tadi karena ingin meminta sedikit gulden tapi ia malah ketiduran dalam posisi duduk.
Jemari Maza Nishimura segera menyelipkan anak rambut Ranti ke belakang hingga membuat tidur gadis itu terganggu.
"Emhhhh.."
Ranti menggeliat, ia lalu mengerjapkan matanya, ia juga kaget karena Maza Nishimura sudah berada di dekat wajahnya sekarang.
"Tuan.. sejak kapan anda disini? kenapa saya tidak dengar suara Jeep anda?."
Maza Nishimura lalu menarik sebuah senyuman di wajahnya, ia menatap Ranti dengan tatapan memuja.
"Kenapa kamu tidur disini?."
Alih-alih menjawab pertanyaan Ranti, Maza justru kembali bertanya pada perempuan itu dengan wajah yang penuh kasih sayang.
"Sa.. saya memang menunggu Tuan kembali."
Ucapan Ranti sukses membuat Maza tersenyum lebar hingga membuat gadis pribumi itu keheranan.
"Tuan.. kenapa? apa anda sakit?." Tanya Ranti dengan wajah penasaran.
Maza lalu menggeleng dengan cepat, ia lalu menyuruh Ranti untuk beranjak dari duduknya.
"Ikutlah denganku sebentar.. ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Ranti pun mengangguk dan segera mengiyakan ajakan Maza Nishimura. Ranti mengikuti kemana langkah kaki petinggi Nippon itu hingga berhenti di depan kolam ikan.
Sesampainya disana, Maza Nishimura lalu membalikkan badan dan memeluk Ranti yang sedari tadi tengah berdiri di belakangnya.
"Tuan kenapa? apa ada masalah?."
Ranti mencoba memancing Maza Nishimura agar ia mau menceritakan masalahnya, siapa tahu ini berhubungan dengan para pejuang yang tertangkap tadi pagi.
"Ya.. aku bingung dengan diriku sendiri."
Maza lalu menghela nafas berat, ia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Ranti lekat-lekat.
"Bingung?."
"Ya. Besok mereka di penggal beserta dengan keluarganya."
Deghh
Ranti membulatkan kedua matanya, jantungnya berdegup kencang.
"Mereka? para pemberontak?."
Hati Ranti tersulut emosi, matanya sedikit memerah, namun ia berhasil menahannya agar ia tak menangis atau bahkan marah kepada Maza Nishimura.
"Iya. Orang-orang Hindia Belanda itu.. Sejujurnya aku tak suka melihat mereka ikut Romusha, mereka bisa mati karena penyakit dan juga kelaparan. Tapi aku tak mungkin bisa membela mereka, aku tak mungkin berkhianat terhadap Tenno Heika."
"Tenno Heika?."
"Iya.. Kaisar kami. Aku tak mungkin melawan perintahnya. Meskipun orang-orang mengenalku sebagai seorang yang kejam tapi aku juga masih punya hati.. Ranti.."
Ranti kembali membelalakkan matanya saat Maza Nishimura memanggilnya dengan Nama Ranti bukan Akiko seperti biasanya.
"Ranti Pitaloka.. itu nama aslimu kan?."
Ranti mengangguk, ia masih terperangah dengan ucapan Maza Nishimura. Ia masih kaget dengan semua kejujuran yang Maza ungkapkan dihadapannya.
"Iya Tuan Maza Nishimura.."
"Aku mengajakmu berbincang disini karena ada satu hal yang mengganjal di pikiranku."
Ranti lalu mendongak dan menatap Maza Nishimura dengan jarak yang begitu dekat.
"Apa Tuan? tolong katakan saja."
Maza Nishimura lalu menarik nafas dalam-dalam, pria itu menangkup kedua pipi Ranti dan mengusapnya dengan lembut.
"Jangan pernah berkhianat dengan Dai Nippon. Aku tak ingin melihatmu berada di barisan para pengkhianat yang siap di penggal tanpa ampunan."
Maza lalu menetaskan air matanya, ia sungguh serius dengan ucapannya kali ini, ia tak ingin Ranti menjadi tawanan dan berakhir dengan kematian.
"Mengapa Tuan mengatakan ini semua?."
"Aku tidak berfikir menuduh dirimu, aku hanya takut kamu terpengaruh dan berkhianat terhadap Dai Nippon. Aku tak ingin kehilanganmu, wanita yang paling saya cintai."
Deghh
Jantung Ranti yang sedari tadi berdegup kencang kini seperti berhenti berdetak, ia kaget dengan ungkapan cinta dari Maza Nishimura.
"Mengapa anda mencintai saya? bukankah saya ini tidak cantik? saya juga bodoh, bahkan jika di bandingkan dengan gadis bangsawan lain saya yang paling rendah."
Ranti mengabsen satu persatu kekurangan yang ada pada dirinya agar Maza Nishimura menjadi tidak suka.
"Apa kamu pikir saya peduli dengan itu semua? Saya bahkan tidak peduli dengan penilaian seseorang apalagi menyangkut dengan urusan perasaan."
Maza Nishimura lalu mendongak dan melihat langit yang dipenuhi oleh taburan bintang-bintang, suara gemericik air yang ada di kolam melengkapi suasana hangat yang tercipta antara dirinya dengan gadis pribumi yang begitu ia sayangi.
Ranti tenggelam dalam perasannya sendiri, ia bingung dengan ungkapan cinta yang baru saja Maza ucapkan, disisi lain ia begitu menyambut perasaan Maza Nishimura, tapi disisi lainnya, ia begitu membenci Maza Nishimura karena ia merupakan sosok petinggi Nippon yang banyak melukai pribumi.
"Sudah.. jangan di pikir terlalu keras, aku kasihan dengan tempurung kepalamu, untung saja kuat, jika tidak mungkin detik ini juga akan meletus."
Ejekan Maza sukses membuat Ranti membulatkan bibirnya, baru saja ia merasa terbang ke angkasa karena ungkapan cinta dari petinggi Nippon itu, kini ia seperti di hempas menuju ke dasar lautan yang paling dalam.
"Tuan sangat menjengkelkan sekali.."
Maza yang mendengar itu bahkan langsung tertawa terbahak-bahak. Ia lalu memeluk Ranti dengan erat seolah tak ingin kehilangan wanita itu.
"Jangan pernah pergi dari sisiku apapun yang terjadi nanti."
Ranti lalu mendongak menatap wajah Maza Nishimura yang hanya berjarak beberapa senti di atasnya. Ranti lalu mengangguk dengan patuh dan segera melepaskan pelukan Maza.
"Yasudah ayo tidur."
Maza Nishimura lalu berbalik dan menggenggam tangan Ranti untuk segera istirahat karena besok dirinya harus melihat orang-orang yang akan di adili oleh tentara Dai Nippon.
Saat memasuki kamar Ranti teringat akan sesuatu yang selama ini mengusik hati dan pikirannya.
"Tuan.. bisakah saya meminta tolong kepada anda.. sekali saja."
Ucap Ranti dengan nada memohon dan memelas, berharap Maza Nishimura akan luluh dan mau mengiyakan permintaannya.
"Apa yang ingin kamu minta?."
"Tolong selamatkan adik saya Tuan.. saya sangat tidak tega melihat dia disana, saya yakin mereka pasti akan di bawa ke barak-barak militer suatu saat nanti kan Tuan.."
Ranti menggenggam tangan Maza Nishimura.
"Maaf... sepertinya aku tidak bisa menolongnya."
Deghh
Wajah Ranti berubah pias, ia sangat tidak terima jika adik angkatnya itu menjadi seperti dirinya yang hanya tahu memuaskan lelaki.
Ranti pun tak ingin menyerah begitu saja, ia langsung berlutut di depan Maza Nishimura, ia memegangi kaki petinggi Nippon itu dengan penuh pengharapan, nasib adiknya harus diselamatkan apapun yang terjadi.
"Apa yang sedang kamu lakukan. cepat berdiri!."
"Tidak! sebelum anda mengabulkan permintaan saya Tuan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Takaa
huwaaaaaahhhhhhhh, bisa gitu lohhhh
2023-06-05
0
Zea
semangat nulisnya ~ tetep terus berkarya yaaa 🫶✨️
2023-06-01
0