BAB 7

Di pagi hari, Ranti bersiap untuk pergi ke markas Jepara bersama Maza dan beberapa prajurit Nippon lainnya, di tengah perjalanan Ranti meminta berhenti sebentar sebab jalanan yang mereka lalui sangatlah rusak.

"Sampai dimana ini Tuan?."

Tanya Ranti saat mereka masuk ke kawasan Pati Syuu (Karesidenan Pati).

"Kita masuk ke wilayah Pati Syuu. Apa kamu lelah?."

Ranti pun hanya menggelengkan kepalanya, ia bahkan amat bersemangat karena ini misi pertamanya. Setelah beberapa jam melewati Pati, kini mereka telah sampai di Jepara tepatnya di wilayah Bangsri dan menuju ke Keling Jepara.

Banyak hutan-hutan Pinus yang masih asri di sekitar kawasan Keling Jepara.

Kondisi saat mereka tiba di Jepara sudah masuk sore hari, mereka tiba di kawasan Keling Jepara pukul 15.30.

"Tuan.. bisakah kita berhenti sebentar?."

Pinta Ranti pada Maza Nishimura, ia sedikit pusing dan ingin beristirahat sejenak.

"Kamu lelah?."

Tanya Maza sekali lagi, Maza memandangi Ranti yang tadinya terlihat sangat antusias ketika melewati hutan Pinus yang terletak di sepanjang jalan menuju Keling kelet.

"Tidak Tuan."

"Lalu mengapa kamu minta berhenti?."

"Saya hanya pusing Tuan, jalanan begitu rusak dan banyak lubang."

Maza lalu mengambil nafas dalam-dalam, ia kemudian menyuruh prajurit yang mengendarai Jeep itu menepi sebentar bersamaan dengan rombongan tentara Nippon yang mengikuti di belakang nya.

"Sudah ku bilang, perjalanan kali ini sangat berat, jalanan rusak parah, tapi kamu nekat ingin ikut."

Sejenak mereka berhenti, Maza menangkap siluet hitam pada ujung matanya. Ia pun segera turun dari jeep dan berlari menuju ke arah hutan yang berada di sisi kiri jalan.

"Kejar dia!!!."

Suara bariton Maza berkumandang memerintahkan seluruh pasukan yang ikut dengannya untuk mengejar bayangan hitam yang sempat tertangkap oleh nerta Maza Nishimura.

Ranti yang melihat kejadian itu segera turun dari jeep untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Sebaiknya Nona Akiko disini saja."

Cegah salah seorang tentara Nippon yang masih berada disana, setelah itu mereka bergegas berlari ke arah barisan yang mengikuti Maza Nishimura.

Ranti yang juga penasaran segera mengikuti kemana mereka pergi meskipun ia memakai kimono, ia menjinjing kimono itu dan berlari menuju ke arah yang di tuju para prajurit Nippon.

Duarrr

Suara letusan senjata membuat suasana hutan menjadi mencekam. Ranti yang sedari tadi berada di belakang para prajurit Nippon itu berhenti saat netranya menangkap pemandangan yang sangat tidak ingin ia lihat.

"Berani sekali kamu!."

Suara kemarahan Maza Nishimura membuat nyali Ranti menciut, ia memperhatikan setiap gerak gerik yang akan Maza lakukan selanjutnya.

Kini di depan para prajurit Nippon, seorang lelaki dengan postur tubuh yang gagah tinggi besar, dan berhidung bangir tengah tertunduk dan berlutut di depan Maza Nishimura. Ia menahan sakit di kakinya akibat tembakan yang baru saja Maza letuskan.

"Ampuni saya Tuan.."

Ucap lelaki Londo itu dengan tatapan memelas, namun tatapan itu bahkan tidak dipedulikan oleh Maza Nishimura yang tetap menodongkan senjata ke arah kepala lelaki Belanda itu.

"Ampun? Setelah semua ulahmu yang menyusahkan kami kau meminta ampun? Mungkin di markas Surabaya kau bisa lolos tapi disini aku sendiri yang akan membunuhmu!."

Maza Nishimura seperti menyimpan dendam pada lelaki ini, selain karena memang perintah untuk menghabisi setiap keturunan Belanda yang masih ada di negeri ini, ia juga menyimpan dendam pada lelaki yang bernama Isaak

Isaak merupakan seorang perwira militer Netherland yang saat ini masih berada di Nusantara, ia menjadi buronan tentara Nippon karena sudah merusak strategi militer dan juga menghasut para pribumi untuk menentang pemerintahan Dai Nippon.

"Tiada ampun untukmu Isaak!."

Duarr

Satu tembakan itu sukses menembus kepala Isaak hingga ia tumbang seketika. Ia dinyatakan tewas usai diperiksa oleh bala tentara Nippon.

Ranti yang melihat kejadian itu langsung syok dan hampir terjerembab, beruntungnya salah seorang prajurit Nippon lainnya sadar akan keberadaan nya dan gegas memanggil Maza Nishimura.

Maza lalu berjalan menuju ke arah Ranti dan mengajaknya untuk segera menuju ke arah Jeep. Mereka pun melanjutkan perjalanan lagi setelah membuang mayat Isaak ke arah tengah hutan.

"Mengapa kamu tadi ikut turun?."

Tanya Maza pada Ranti yang masih diam saja, ia syok dengan adegan pembunuhan yang terjadi di depan matanya, ia yakin setelah ini pasti masih banyak adegan mengerikan yang akan ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

"Kamu tidak apa-apa?."

Ranti hanya menggeleng saja, ia lalu menatap Maza Nishimura yang juga menatapnya.

"Saya tidak apa-apa Tuan.. saya hanya kaget saja tadi. Maaf tadi saya hanya mengkhawatirkan Tuan jadi saya ikut turun."

Ucapan Ranti seolah menaburkan bunga setaman di hati Maza Nishimura, walaupun yang di ucapkan Ranti adalah sebuah kebohongan.

"Lain kali jangan di ulangi lagi. Aku tidak akan kenapa-kenapa, lagi pula bahaya jika kamu turun seperti tadi. Bisa saja ada mata-mata sekutu yang bertindak nekat."

Ranti pun hanya menganggukkan kepalanya, perjalanan mereka telah sampai di sebuah markas dimana sudah banyak para tentara Nippon yang berkumpul terutama petinggi-petinggi Nippon.

"Sementara tunggulah di ruangan ini bersama dengan para wanita. Jangan kemana-mana, karena aku akan berdiskusi dengan para petinggi lainnya."

Ranti pun mengangguk dan memutuskan untuk duduk di ruangan tertutup bersama dengan para wanita yang memakai kimono seperti nya. Awalnya mereka hanya diam dan menatap Ranti dengan segan, hingga akhirnya seseorang dari mereka pun berani mengajak Ranti bicara.

"Sumimasen.. Nihonjindesu ka?."

(Maaf.. Apa kamu orang Jepang?.)

Seorang wanita yang duduk di pojok ruangan bertanya pada Ranti, Ranti sendiri tak mengerti apa yang wanita ini ucapkan.

Melihat diam nya Ranti cukup membuat perempuan yang bertanya tadi tersenyum senang.

"Kamu pribumi?."

Tanya nya lagi, Ranti hanya mengangguk kan kepalanya dan menyunggingkan senyuman.

"Iya saya pribumi, saya ndak tau apa maksud ucapanmu tadi."

"Oalah mbak mbak.. tak Kirani sampean orang Nippon, ternyata pribumi juga."

Sahut salah seorang wanita yang duduk agak jauh dari tempat Ranti duduk.

"Hehe memang wajah saya seperti orang Nippon ya mbak?."

Gurau Ranti pada mereka, hingga menimbulkan suara tawa renyah.

"Iya loh.. mbak e ini mirip sekali dengan Geisha."

"Hah? Opo iku?."

"Geisha itu wanita Nippon mbak e.. biasanya nyanyi sama menari di depan petinggi Nippon." Jelas wanita yang kini mengalihkan tempat duduknya ke dekat Ranti.

"Oalah.. baru tahu aku."

"Mbak e mesti gundik baru ya."

Ranti hanya mengangguk saja, sejujurnya ada rasa sedikit sakit hati saat mereka menyebut kata gundik yang begitu sangat hina di mata masyarakat. Namun, Ranti harus bisa menerima dan ia akan mendedikasikan hidupnya untuk membantu para pejuang.

"Siapa namamu mbak? Kalau saya Niluh."

Niluh mengulurkan tangannya ke arah Ranti, Ranti pun menyambut uluran tangan itu dengan senang.

"Saya Ranti.. Niluh? Seperti nama orang Bali."

"Iya loh mbak.. saya orang Bali, saya gundiknya Tuan Ryu Nakanishi."

"Saya Minah mbak Ranti, saya berasal dari Semarang."

Ucap Minah dengan wajah bahagianya.

"Kalau saya Priyanti mbak, saya berasal dari Surabaya."

Ucap Priyanti sambil mengulurkan tangannya, Ranti pun menjabat tangan Priyanti dengan perasaan lega, akhirnya ia memiliki teman yang satu nasib dengannya.

"Dia ini gundiknya pemimpin pasukan Nippon yang bernama Takuro Yamamoto mbak Ranti."

Ucap Minah dengan lirih.

"Wahh bukannya dia sudah tua.. kenapa kamu mau-mau saja?."

Tanya Niluh yang tanpa sadar suaranya sangat kencang hingga membuat mereka semua khawatir.

"Pelankan suaramu itu Niluh.. takutnya mereka mendengar."

Ucapan Ranti langsung di angguki semua orang yang ada disana.

"Oiya Ranti.. kamu gundik Tuan Maza Nishimura? Wahh pasti kamu sangat bahagia."

"Hah?? Bahagia teko ngendi?."

(Bahagia dari mana?.)

"Tuan Maza Nishimura itu terkenal dengan ketampanan nya loh Ranti.. banyak wanita pribumi yang mencuri-curi pandang pada Tuan Maza. Lagi pula dari semua petinggi Nippon, hanya Tuan Maza Nishimura yang memiliki sifat lembut bahkan aku tak pernah melihat nya menggandeng seorang wanita sebelum dirimu."

Penuturan Priyanti langsung membuat Ranti salah tingkah, meski mereka menyebut kan kebaikan-kebaikan Maza, tapi di mata Ranti, Maza tetaplah penjajah apalagi pembunuhan pria Netherland tadi sore cukup membuat kebencian Ranti meningkat.

"Kamu sedang sedih Ranti? Kenapa?."

Tanya Niluh yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Ranti yang tampak masam.

"Hari ini di Rembang akan ada acara pemenggalan kepala orang-orang yang di anggap pengkhianat oleh pemerintah Dai Nippon."

Ucapan Ranti sukses membuat Niluh, Minah, dan juga Priyanti menutup mulutnya. Mereka merinding dengan apa yang barusan Ranti ceritakan.

"Ya Allah gustiii.. jahat sekali mereka itu."

"Pelankan suaramu Minah.. mereka bisa mendengar pembicaraan kita."

Ucapan Priyanti langsung membuat Minah menutup mulutnya rapat-rapat.

"Ranti, sebaiknya kita cari tahu dulu, apa yang akan mereka lakukan kedepannya. Jujur saja aku juga sudah tidak tahan dengan sikap mereka yang semena-mena terhadap kaum kita."

"Yasudah, ayo mbak.. kita tidak punya waktu banyak."

"Berhati-hati kalian berdua, aku akan mendoakan kalian dari sini." Ucap Minah pada Ranti dan Priyanti

Ranti dan Priyanti langsung membuka pintu dan bergegas menuju ke arah ruang pertemuan para petinggi Nippon.

"Mau kemana kalian?."

Ucap salah seorang prajurit Nippon dari arah belakang mereka.

"Kamu harus tenang Ranti.." lirih Priyanti, ia sudah sering menghadapi situasi semacam ini, jika terpergok oleh tentara Nippon yang harus mereka lakukan adalah menjawab dengan tenang agar mereka tak curiga.

"Maaf sebelumnya Tuan.. kami berniat ingin ke dapur, sedari tadi kami lapar, ini sudah masuk jam makan malam bukan? Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda makanan akan datang ke ruangan kami."

"Betul Tuan, lagi pula saya menahan kencing sedari tadi."

Ucap Ranti dengan santai, walaupun hatinya dag dig dug tak karuan tapi ia harus bisa tenang agar prajurit itu tidak curiga.

"Baiklah. Segera kembali Nona, jangan membuat masalah yang bisa membuat kalian sendiri di hukum."

"Baik Tuan.. terimakasih.."

Setelah prajurit tadi berlalu, Ranti dan Priyanti bergegas menuju ke arah dapur berharap ada sedikit makanan untuk mereka bawa. Setidaknya jika mereka terpergok lagi masih ada alat bukti yang mereka bawa.

"Lohh Nona-Nona.. kenapa ada disini?."

Tanya seorang wanita yang sudah sepuh itu pada Ranti dan juga Priyanti.

"Ini mbok.. kami lapar.. sedari tadi belum ada makanan yang masuk ke ruangan kami jadi kami berinisiatif kemari untuk menjemput makanan itu."

Priyanti mengalihkan pandangannya ke arah Kue-kue yang sudah ditata di dalam piring.

"Ealahhh maaf Non.. yasudah ini kalian bawa sendiri ya, simbok mau antar kue ini ke ruangan pertemuan dulu."

Ucapan simbok diangguki oleh Ranti dan juga Priyanti, mereka memilih untuk diam-diam mengikuti langkah simbok dari kejauhan.

Setelah sampai di dekat ruangan pertemuan itu, Ranti dan Priyanti bergegas memasang telinganya baik-baik.

"Kita harus bisa menyuruh pribumi itu untuk mengikuti Romusha, dan juga ikut menjadi barisan pertahanan untuk berperang melawan sekutu!!."

"Tuan Takuro, di Surabaya banyak pemberontak yang enggan mengikuti perintah."

"Bakaaa! Penggal saja mereka."

Ucapan Takuro Yamamoto sukses membuat Ranti dan Priyanti terbelalak.

"Satu lagi, kumpulkan sebanyak-banyaknya wanita untuk di kirim ke barak-barak militer. Mereka juga butuh semangat dan perhatian dari pemerintah Dai Nippon."

Tangan Ranti mengepal kuat, ia tak terima dengan ucapan Takuro Yamamoto barusan.

Priyanti lalu bergegas mengajak Ranti menjauh dari sana sebelum mereka tertangkap basah karena sedang menguping.

"Kenapa mbak menarikku?."

"Kamu harus tenang Ranti.. bahaya jika kamu meluapkan emosi mu disana, yang ada kita berdua yang akan di penggal besok pagi! Ingatlah kamu dan aku juga berjuang untuk pembebasan negeri ini, jangan sampai kamu salah langkah."

Ranti pun menarik nafas dalam-dalam, ia kemudian menenangkan dirinya sendiri, setelah tenang, ia pun mengajak Priyanti untuk kembali ke ruangan mereka. Namun baru beberapa langkah, mereka dikejutkan dengan sebuah suara dari arah belakang.

"Sedang apa kalian disini!."

Teriak Takuro Yamamoto menatap tajam ke arah Priyanti dan Ranti yang badannya mulai membeku.

Terpopuler

Comments

◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔

◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔

saya tunggu kelanjutannya kk 🙏 ( ꈍᴗꈍ)

2023-05-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!