BAB 3

"Terimakasih Tuan Maza.. jika bukan karena anda mungkin saya sudah tiada."

Setidaknya Ranti masih ingat untuk berkata terimakasih pada orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.

"Hmm."

Maza Nishimura langsung melangkah keluar dan segera naik ke Jeep untuk segera ke markas besar.

"Terimakasih Tuan Maza." Ucap pak Sarwono beserta Ningsih. Mereka sangat lega tatkala Maza Nishimura pergi dan ketakutan mereka tak terjadi.

***

Selang tiga bulan setelah kedatangan Maza Nishimura ke rumah Sarwono, tersiar kabar bahwa Nippon akan mengumpulkan para pemuda untuk menjalankan Romusha dan beberapa perempuan yang akan di berikan hak sekolah serta pembentukan grup paduan suara untuk menyanyikan lagu propaganda Nippon.

"Apa pengumuman itu benar pak? Akan ada beberapa perempuan yang akan disekolahkan Nippon?."

Ranti baru saja mendengar bahwa beberapa anak perempuan akan disekolahkan pihak Nippon dan ada juga yang menjadi paduan suara untuk bernyanyi mars Romusha.

Bekerja! Bekerja! Bekerja!

Tenaga semua sudah bersatu!

Mesin pabrik berputar terus!

Palu Godam suara gemuruh!

Semua bekerja giat gembira

Tenaga pekerja teguh bersatu

Gugur hancur kaum sekutu

Bekerja bekerja bekerja

Tiada satu bertopang dagu

Di tengah sawah penuh berlumpur

Tani membajak mengayun cangkul

Semua petani giat gembira

Tenaga pekerja teguh bersatu

Gugur hancur kaum sekutu

Bekerja bekerja bekerja

Tiada satu duduk termenung

Kaum nelayan melayar laut

Melawan badai ombak gemuruh

Semua nelayan riang gembira

Tenaga pekerja teguh bersatu

Gugur hancur kaum sekutu

(Lirik lagu Romusha dengan Ejaan yang telah di sempurnakan)

"Iya nak, bagaimana ini. Bapak tak ingin jauh dari anak bapak yang cerdas ini. Tapi jika tidak, mungkin Nippon akan memberikan hukuman yang berat untuk kami."

"Tidak apa-apa pak, aku mau ikut, pasti teman-temanku disana banyak yang seumuran dengan ku."

Ranti malah girang bukan kepalang karena bisa ikut bergabung belajar bersama teman-teman wanita seusianya.

***

"Ayo cepat."

Para gadis yang sudah bersiap itu langsung diangkut menggunakan truk termasuk Ranti, ia lalu menoleh ke kanan dan kekiri serta menikmati pemandangan.

Ckitttttt

Kendaraan berhenti tatkala sebuah Jeep menyalip truk yang berisi para siswa paduan suara.

"Kamu! Turun kemari!."

Seorang prajurit Nippon menunjuk Ranti, sementara gadis itu kebingungan karena di tunjuk.

"Ss-saya?."

"Ya!."

Ranti pun turun dengan perlahan.. saat sudah sampai bawah ia dibawa menuju ke arah Jeep yang menyalip di depan.

"Tuan Maza, apa dia yang anda minta?."

"Ya!."

"Baiklah. Kalau begitu kami akan melanjutkan perjalanan lagi.!"

"Tu-tunggu Tuan, apa maksudnya ini? Saya kan harus ke sekolah bersama mereka. Saya mau sekolah Tuan."

Maza yang mendengar itu langsung menarik lengan Ranti dan menyeretnya ketempat sepi untuk diajak bicara sebentar.

"Jika kamu mau selamat ikuti aku! Truk itu sebenarnya bukan mengarah ke tempat sekolah atau paduan suara."

"Apa maksud anda Tuan? Saya masih tidak mengerti."

Ranti jelas kebingungan dengan kedatangan Maza Nishimura yang malah menariknya.

"Dengar! Aku pernah menyelamatkan mu sekali, kau harus dengarkan aku, Truk itu tidak akan pergi ke tempat tujuan. Melainkan akan menuju barak-barak militer."

Tap

Tap

Tap

Seorang prajurit Nippon memberanikan diri untuk menghadap Maza Nishimura.

"Sumimasen.. Anda harus segera kembali ke markas besar."

Ucap prajurit itu dengan cepat, ia tak mau atasannya itu terlambat menemui pimpinan tertinggi pasukan Nippon di wilayah Rembang itu.

"Baik. Pergilah dulu."

"Haik."

Prajurit itupun pergi meninggalkan Maza Nishimura dan Ranti yang sedang bengong karena tak paham dengan apa yang mereka maksud.

"Sekarang ikuti aku. Akan aku jelaskan nanti di tempat yang aman. Kenapa aku sampai membawamu pergi dari truk itu."

Ranti terpaksa mengangguk dan mengikuti Maza Nishimura yang berjalan menuju Jeep nya.

"Masuk."

Maza Nishimura menyuruh gadis pribumi itu untuk segera naik ke dalam.

Ranti terlihat begitu ketakutan dan gelisah, bagaimana dia bisa menjelaskan kepada kedua orangtuanya jika dia mengikuti Maza Nishimura.

Sementara Maza Nishimura sendiri merupakan salah satu petinggi Nippon yang menduduki wilayah Rembang dan sekitar nya.

Selama di perjalanan Ranti dan Maza Nishimura saling diam, ujung mata Maza melirik pada wajah Ranti yang terlihat tegang dan gelisah.

Saat Jeep sudah sampai di kediaman Maza, pria itu menyuruh Ranti untuk turun dan mengganti pakaiannya dengan menggunakan Kimono.

"Mbok Nem.. kenapa saya harus memakai ini."

"Iya Non, sebaiknya ikuti saja perintah Tuan Maza, mungkin setelah ini Non akan dibawa ke markas besar Nippon."

Deghh

Jantung Ranti seperti berhenti berputar, dibawa ke markas besar? Untuk apa?? Apa aku melakukan kesalahan?.

Pertanyaan negatif itu terus menghantui pikiran Ranti.

"Apa masih lama?. Cepat sedikit!"

"Sudah selesai Tuan."

Ucap Mbok Tinem setelah berhasil menjepitkan jepit rambut berbentuk bunga di kepala Ranti.

"Sughoiii."

Tanpa sadar Maza memuji kecantikan Ranti yang di dandani layaknya seorang Geisha.

"A-apa artinya Tuan? Saya tidak paham bahasa kalian."

"Jelek sekali."

Maza langsung melengos dan menyembunyikan senyumannya.

Sementara Mbok Tinem yang sedikit banyak tahu bahasa orang-orang Nippon langsung ingin tertawa namun ia tahan, rupanya Tuannya itu sedang berbohong pada Ranti.

Ranti yang dibilang jelek pun langsung mengerucutkan bibirnya. Namun ia sedikit aneh, tadi saat Maza bilang ia jelek kenapa ekspresi nya berbanding terbalik, ekspresi Maza bahkan menunjukkan kekaguman pada Ranti.

"Ayo cepat! Kau membuatku terlambat!."

"I-iya iya sabar Tuan.."

Maza dan Ranti langsung bergegas menuju markas besar Nippon, saat tiba disana Maza dan Ranti bertemu dengan beberapa petinggi lainnya yang juga membawa seorang perempuan memakai kimono seperti yang Ranti pakai.

"Bersikap lah seolah kamu adalah gundik ku."

Mata Ranti membulat seketika saat Maza bilang Gundik.

"A-apa maksud Tuan??."

"Saat dirumah nanti akan aku jelaskan. Untuk sekarang ikuti saja perintah ku."

Mau tak mau Ranti hanya mengikuti perintah Maza, ia masih sayang dengan nyawanya, jika Maza berniat macam-macam ia tak segan akan membunuh petinggi Nippon ini walau resikonya adalah kematian nya sendiri.

"Percayalah. Aku tidak akan menyuruhmu melayaniku. Saat di dalam nanti berperan lah sebagai seorang wanita yang memang terbiasa melayaniku."

Walaupun masih bingung, Ranti memilih mengangguk saja dan mengikuti langkah Maza. Maza sendiri juga sangat jengkel saat ada pertemuan seperti ini di markas, biasanya ialah yang akan di ejek para petinggi yang lain karena tak membawa seorang wanita pun ke sana.

"Maza Nishimura.. akhirnya dirimu datang juga."

Ucap salah seorang pemimpin pasukan Nippon yang bernama Nagano Taniguchi. Ia adalah seorang jenderal Nippon wilayah Jawa tengah dan juga seorang pimpinan tertinggi di markas Rembang.

"Wah! sekarang kau sudah mau menyentuh wanita rupanya."

Ucap Nagano dengan sedikit melirik ke arah Ranti yang sedikit terpaku karena sorot mata tajam yang dimiliki pria paruh baya itu.

"Jangan menakuti nya begitu Tuan Nagano."

"Hahaha baiklah.. baiklah.. sekarang nikmati jamuan teh ini dengan baik."

Nagano dan Maza langsung masuk disusul Ranti yang berada di belakangnya. Didalam sana Ranti benar-benar kaget, banyak sekali petinggi Nippon yang datang ditemani oleh perempuan disampingnya. Sudah pasti mereka adalah gundik dari para petinggi militer itu.

"Woahhh Tuan Maza Nishimura.. sepertinya ada kemajuan sekarang.. hahaha."

Seorang pria bertubuh agak pendek itu seolah mengejek Maza Nishimura.

Namun Ranti bisa menangkap ketenangan dari Maza walaupun ia sudah di ejek oleh rekannya.

"Ya dia gundik ku."

"Wahhhh cantik sekali. Dari mana kau dapatkan gadis secantik itu Tuan Maza? Bisakah saya memakai nya juga?."

Hati Ranti seolah sedang di remas-remas bak pakaian yang baru saja di cuci saat Maza menyebut bahwa ia adalah gundiknya.

"Boleh. Tapi akan kupenggal kepalamu dulu!."

Maza lalu berjalan menuju ke tempat duduknya disusul Ranti yang terus mengekor di belakang pria itu. Ia lalu duduk berdampingan dengan petinggi Nippon itu.

"Nona.. Wahh anda cantik sekali. Tuan Maza pasti akan betah di ranjang bersama mu terus. Hahahaha."

Tentara Nippon bertubuh gempal itu kembali mengejek urusan ranjangnya dengan Maza, hingga Maza mengeluarkan sorotan tajam dan ingin segera menyumpal mulut penasaran tentara itu.

Ranti hanya terdiam sembari mengumpati para petinggi bermulut sampah itu dalam hatinya.

Setelah acara minum teh selesai, pertunjukan selanjutnya adalah paduan suara yang akan dinyanyikan oleh barisan murid.

Alangkah terkejutnya Ranti saat mendapati sosok yang tak asing di barisan paduan suara yang ada di depan.

Terpopuler

Comments

AGDHA LY

AGDHA LY

udah nurut aja, nyawa nih taruhannya 😅

2023-06-18

1

AGDHA LY

AGDHA LY

lah tsunderr kwkwkwk jujur aja atuh haha

2023-06-18

1

AGDHA LY

AGDHA LY

bener bgt, kalo ada kesempatan tuh harus diambil

2023-06-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!