Di pagi hari Ranti terbangun dalam keadaan yang masih sama seperti tadi malam, sementara Maza Nishimura sudah tak terlihat lagi di kamar itu.
"Sshhhh."
Saat Ranti menggeliat bagian bawahnya terasa ngilu sekali, ia lalu melihat bercak-bercak darah di sprei.
Cklek
"Nona Ranti.. anda baik-baik saja?."
Suara mbok Nem membuat Ranti menoleh seketika.
"Sudah Non, sabar ya Non.. maaf semalam mbok Ndak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Non."
"Dimana dia mbok?."
"Tuan Maza pagi-pagi sekali sudah pergi ke markas besar Non."
"Tolong bantu saya mbok..."
"Yawis ayo Non, saya temani ke kamar mandi."
Mbok Nem lalu menemani Ranti menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia berjalan dengan langkah yang aneh dan menahan kengiluannya.
"Non.. sebaiknya non menurut saja pada Tuan Maza, jangan membantah ucapannya Non karena itu bisa membahayakan keselamatan Non sendiri."
Ranti lalu memicingkan matanya ke arah mbok Nem.
"Apa mbok juga bagian dari mereka?."
"Tidak Non. Mbok juga kecewa dengan janji manis mereka saat datang kemari. Katanya mereka saudara lama Dan berjanji akan mengusir Londo dari sini. Tapi sekarang banyak perempuan yang dipaksa untuk melayani nafsu mereka Non, saya mendengar sendiri dari mulut Tuan Maza saat dia mendengar laporan dari beberapa anak buahnya."
"Namun begitu sebaiknya Non tidak menunjukkan ketidaksukaan Non secara terang-terangan. Ini demi keselamatan Non sendiri." Lanjut mbok Nem.
"Aku malah khawatir dengan kondisi adikku mbok.. dia ikut dalam barisan paduan suara yang akan menyanyikan lagu Romusha."
"Sepertinya adik Non dalam bahaya jika terus dibiarkan disana. Bisa saja suatu saat barisan paduan suara itu akan dibawa ke barak-barak tentara untuk jadi pemuas nafsu mereka Non."
"Lantas saya harus bagaimana lagi mbok.. saya harus menyelamatkan mereka apapun resikonya."
"Sebaiknya Non dekati saja Tuan Maza, setahu mbok hanya Tuan Maza yang memiliki sifat yang lebih lembut dibandingkan petinggi Nippon yang lain."
"Non bisa memanfaatkan Tuan Maza untuk mendapatkan informasi mengenai perintah dari markas besar."
Ranti yang mendengar penuturan mbok Nem langsung menganggukkan kepalanya, namun ia juga merasa ragu, apa ia bisa melakukannya atau tidak.
"Tapi dia juga kepercayaan markas besar kan? Apa mungkin aku bisa?."
"Non harus percaya takdir Gusti Allah.. Percayalah usaha Non tidak akan sia-sia."
"Kamu betul juga mbok. Aku bahkan tidak takut mati, aku hanya takut keluarga ku disiksa jika sampai mereka tahu."
"Saya juga begitu Non, sebetulnya saya juga berkomunikasi dengan para pejuang yang ada di sekitaran Lasem Non, saya tidak bisa membiarkan para Nippon itu berkuasa lebih lama disini."
"Kenapa mbok jujur sama saya? Seharusnya mbok malah harus merahasiakan nya kan?."
"Non Ranti adalah seorang pribumi, seorang bangsawan, apa mungkin Non tega melihat para pribumi disiksa dengan beratnya Romusha? Atau Non akan membiarkan adik Non sendiri menjadi Jugun ianfu seperti Non?."
Kalimat mbok Nem membuat Ranti langsung menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tak tega jika haru melihat rakyat yang d tindas secara semena-mena, apalagi adik angkatnya, ia tak akan membiarkan adiknya itu menjadi seperti dirinya.
"Tidak mbok! Tentu tidak! Saya tidak akan membiarkan adik saya menjadi pemuas nafsu mereka apapun yang terjadi."
"Saya disini yang akan menjadi mata-mata dan mbok yang akan menyampaikan pada para pejuang tentang apa rencana Nippon selanjutnya. Karena tubuhku ini sudah tak ada harganya lagi, aku berjanji akan melakukan apapun agar para pejuang itu berhasil mbok." Lanjut Ranti
Mbok Nem terharu dengan ucapan Ranti, ia tak menyangka seorang bangsawan Jawa itu akan membulatkan tekad nya untuk menjadi mata-mata yang resikonya adalah kematian.
"Non Ranti.. tubuh Non memang sudah dikuasai oleh Tuan Maza. Tapi bagi saya, anda adalah seorang pahlawan yang sesungguhnya."
"Kamu bisa percayakan itu padaku mbok."
Ranti menggenggam tangan mbok Nem dengan erat, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa membantu setidaknya agar negeri ini bebas.
"Baik Non. Mulai sekarang kita harus bekerjasama dan juga waspada.. saya akan mengajari pada Non Ranti mengenai tata cara menyajikan teh dan lain sebagainya terutama untuk melayani Tuan Maza agar dia bisa percaya dan tidak curiga pada Non."
Ranti hanya mengangguk saja, ia yakin usahanya kali ini tidaklah sia-sia, saat tubuhnya dijamah oleh Maza ia sudah tak memiliki semangat hidup lagi, namun saat mendengar cerita Mbok Nem ia kembali bersemangat untuk menjadi seorang mata-mata pejuang, jika ia mati di tangan Maza nanti, ia tak akan pernah menyesali apa yang sudah ia putuskan karena demi tanah airnya sendiri ia akan melakukan apa saja agar tanah ini terbebas dari penjajahan.
Selama hampir tiga jam, Ranti belajar bersama mbok Nem, ia diajari cara menyeduh teh, menyajikannya, hingga menari tarian Jepang. Ia juga diajarkan untuk menyiapkan air hangat, serta menyambutnya saat pulang. Ia juga diajari memakai Kimono dengan benar serta berdandan ala wanita Jepang.
"Melelahkan sekali mbok!."
Ranti menghela nafas panjang, jujur saja ia sudah tak kuat lagi jika harus melakukan kegiatan melelahkan seperti itu, ia lebih baik membaca 100 buku dari pada harus melakukan itu semua. Tapi janji adalah janji, ia harus melakukannya agar semua berjalan lancar. Ia harus terlihat polos di depan Maza agar langkahnya semakin mudah.
Grungggg
Suara mobil jeep berhenti di depan kediaman Maza Nishimura, sudah pasti pria itulah yang saat ini sedang menuruni Jeep.
Ranti bergegas membuka pintu dan menyambut kedatangan Maza dengan kimono serta wajahnya yang tampak bersinar karena bedak yang di berikan oleh mbok Nem.
"Tuan Maza.."
Ranti membungkuk hormat pada Maza, walaupun ia enggan melakukannya namun dengan berat hati ia harus laksanakan supaya Maza bisa luluh padanya.
"Ranti.. apa yang sedang kamu lakukan?."
"Saya sedang menyambut kepulangan Tuan.. saya juga sudah memasakkan sup untuk anda."
"Sup??."
Kedua mata Maza membulat sempurna, ia merasakan keanehan pada Ranti yang baru saja menyambut kepulangan nya.
"Iya Tuan, tadi mbok yang mengajari saya semua ini."
"Ahhh begitu rupanya."
Maza hanya manggut-manggut, ia memilih untuk membiarkan saja tingkah aneh Ranti.
"Ayo Tuan.."
Dengan cepat Ranti meraih tangan Maza Nishimura yang masih berdiri mematung itu dengan semangat. Ia lalu bergegas mengambilkan semangkuk nasi dan juga sup serta ikan kukus.
"Selamat makan Tuan.. Itada.. Itada.. Apa ya tadi."
Ranti lalu menoleh ke arah mbok Nem yang sudah menepuk jidatnya sendiri.
"Itadakimasu.. itu artinya selamat makan."
Ucap Maza dengan sebuah senyuman diwajahnya. Ia begitu tergoda oleh tingkah polos seorang Ranti.
"Ah iya Tuan.. maaf saya belum hafal.."
Maza hanya mengangguk kan kepalanya dan bergegas makan. Di tengah-tengah ia menyantap makanan, Ranti tiba-tiba mengupas kan kulit udang rebus itu dan menaruhnya di sendok yang akan Maza lahap.
"Makanlah yang banyak Tuan.."
Maza begitu terpesona saat melihat perhatian kecil dari Ranti, setelah ia memakannya ia lalu menaruh sendok yang telah kosong itu ke mangkuk. Tangan kanan pria itu dengan cepat membelai lembut rambut Ranti dan menatanya ke belakang telinga.
"Kamu juga harus makan.. oh iya, aku sudah menyiapkan Nama baru untukmu.. bagaimana kalau namamu sekarang Akiko."
"Akiko?."
"Iya.. Akiko.. bagaimana?."
'Demit!. Main ganti-ganti nama seenak udel. Dipikir dia Bapakku opo?.'
Ranti mengumpati Maza dalam hati, namun wajahnya tersenyum lebar seolah sangat menyukai nama pilihan Maza.
"Baik Tuan, saya suka panggilan itu.."
Tap
Tap
"Sumimasen.. Tuan Maza, maaf mengganggu waktu makan anda. Saya ingin melaporkan bahwa rakyat yang menentang pemerintahan Nippon dan enggan untuk menjadi tenaga Romusha akan di penggal besok pagi."
Deghh
Jantung Ranti seolah berhenti berdetak saat itu juga. Apa katanya tadi? Dipenggal? Segampang itu kah membunuh manusia?. Tak terasa bulir air mata Ranti menetes, mendengar ucapan prajurit Nippon barusan.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?."
Maza menatap Ranti dengan cepat, ia lalu menangkup kedua pipi gadis itu dan mengusapnya dengan perlahan.
"Sa-saya.. hanya takut dengan kata-kata itu.. saya takut mendengar kata-kata yang amat mengerikan itu."
Ranti harus terlihat polos di depan Maza, sesungguhnya tangannya mengepal kuat di bawah meja makan. Pemerintahan Nippon memang benar-benar kejam, orang dilarang makan nasi, kain-kain bagus juga di ambil, semuanya yang menurut mereka berguna juga diambil, sekarang dengan gampangnya nyawa orang akan di penggal besok pagi.
"Sudah jangan menangis, yang akan di penggal adalah orang yang berkhianat pada Nippon, bukan dirimu."
Ucap Maza menenangkan Ranti, petinggi Nippon itu langsung menyuruh prajurit tadi untuk pergi agar Ranti tak ketakutan.
'Andai saja kamu tahu kalau aku juga salah satu penghianat Nippon, apa kamu masih bisa berkata begitu? Maza Nishimura?.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
AGDHA LY
kamu masih berharga ran 😭 jangan ngomong gitu ih
2023-06-19
0
AGDHA LY
semangat ranti 💪🏻 kamu pasti bisa
2023-06-19
0
AGDHA LY
😢😢
2023-06-19
0