Episode 20

Disisi lain Herwan, Pandi, Rayan, Bayan, dan 2 temannya Herwan Adi dan Indra sedang berunding untuk mencari Araf.

"Lebih baik Rayan loh pulang saja sama Bayan, Takutnya Ayah Ruben nanti curiga kalau kita semua gak ada dirumah." Ucap Pandi.

Rayan dan Bayan pergi pulang naik ojek.

Herwan, Pandi, Adi, dan Indra sedang berunding untuk mencari Araf kemana kaburnya.

"Kita ber 4 berpencar, Pandi dan Adi pergi ke arah barat, sedangkan Guwe dan Indra ke arah timur." Ucap Herwan berbagi tugas.

"Okey, Yuk kita cari!"

Pandi dan Adi ke arah Barat.

"Pan kita tanya sama orang yang jualan tuh, siapa tau ia liat Araf." Ucap Adi menunjukkan jari telunjuknya ke Abang yang jual buah buahan.

"Bentar, Guwe cari dulu foto Araf.

Nah ini ada foto Araf dihp Guwe."

Pandi dan Adi bertanya tanya pada orang yang jualan buah buahan sambil menunjukkan Poto Araf dihpnya, namun orang itu tidak melihat Araf.

"Coba ke Abang disana siapa tahu liat!" Ucap Adi.

Mereka berdua bertanya lagi pada orang yang jualan sepatu dipinggir jalan, Pandi bertanya melihat Araf atau tidaknya dengan menunjukkan lagi Poto Araf dihpnya, namun pedagang itu menggelengkan kepalanya dan tidak melihat.

Disisi lain Herwan dan Indra mencari ke arah timur. mereka berdua melewati pasar malam.

"Nah, ini tempat yang bisa jadi persembunyian Araf nih!" Ucap Herwan sambil menunjukkan nunjuk ke pasar malam.

"Disini, Araf sembunyi ditempat ramai gitu?" Tanya Indra.

"Iya, biasanya kalau orang yang sembunyi dari kejaran begal itu larinya ke tempat ramai, kayak pasar malam ini." Ucap Herwan dengan cerdik.

"Berarti kita begal dong?" Ucap Indra dengan konyol.

"Dasar bego, gwe kan anak sultan! ngapain begal. kita kan lagi jalani rencana. loh gimana sih?" Ucap Herwan dengan kesal sambil mendorong jidat Indra.

"Ya kan loh bilang begal. jadi loh yang membandingkan kita dengan begal."

"Sudah sudah, kita cepetan cari Araf sampai ketemu." Ucap Herwan sambil mendorong badan Indra untuk masuk kedalam pasar.

"Didalam pasar kan rame! susah temuinnya wan!" Ucap Indra mengeluh sambil jalan.

"Gak usah protes ayo cari, tenang gwe bakal bayar loh kalau rencananya berhasil." Ucap Herwan.

"Lagi pula ngapain harus jebak Araf dengan cara begini! emang gak ada cara lain gitu untuk menjatuhkan harga diri Araf sebagai anak kandung Bapak Ruben." Indra masih protes karena rencananya jadi berantakan.

"Ini rencana Pandi bukan rencana Gwe, kalau mau ngeluh, loh ngeluh aja tuh sama Pandi."

"Jadi kita itu ngikutin rencana adik loh gitu? kirain ini rencana loh!" ucap Indra sambil memalingkan wajahnya.

"Iya, ini semua rencana Pandi, gwe sih percaya sama rencana Pandi, karena keluarga gwe bisa masuk ke rumah mewah milik Bapak Ruben itu karena rencana dari Pandi juga." Ucap Herwan sambil jalan.

Amira dari jauh mengetahui bahwa ada Herwan dan Indra yang sedang berjalan menuju tempatnya. sedangkan Herwan dan Indra lagi berdebat.

Amira mengangkat badan Araf dan bersembunyi ditumpukkan baju yang sedang dipajang Ditoko baju itu.

"Apa mungkin Araf bersembunyi ditumpukkan baju yang seperti itu?" Ucap Indra sambil menunjukkan ke toko baju tempat persembunyian Amira dan Araf.

Hati Amira mulai gelisah, ia takut mereka berdua menemuinya.

"Menurut loh Araf sembunyi disana gitu, Ha ha gak mungkin lah! ngapain coba masuk ke pasar cuman hanya sembunyi tempat penjualan gitu!"

"Terus Araf sembunyi nya dimana?"

"Pokoknya kita cari tempat ramai, dimana orang orang pada ngumpul, hati gwe mengatakan Araf ada diantara orang orang ramai." Ucap Herwan dengan dirinya yang merasa cerdik.

"Tuh wan, Ada banyak orang yang lagi ngumpul, siapa tau ada Araf yang sedang bersembunyi dibalik orang orang yang sedang mengumpul itu." Indra menunjukkan ketempat permainan yang dimana ramai yang menonton.

Disaat Herwan dan Indra pergi menuju ke tempat yang ramai, Amira mempunyai kesempatan untuk kabur dari tempat itu, lalu ia membawa Araf untuk kembali ketempat PSK tadi.

"Aku harus berhati-hati, aduh aku takut ada Pandi." Ucap Amira dengan jiwa yang gelisah dibaluti dengan gemetaran karena ketakutan pada dirinya yang tak terkendali.

Amira dan Araf yang masih belum stabil pelan pelan menemui mobil Pak Oni. hingga Akhirnya Amira berhasil menemui mobil Pak Oni, Amira langsung membuka mobil Pak Oni dan masuk bersama Araf. Posisi mobil Pak Oni yang terhalang oleh mobil lain, Sehingga Herwan Pandi, Rayan, dan Bayan tidak sempat menemui dan mengenali Mobil Pak Oni.

Pak Oni masih tertidur pulas.

"Untung mereka tidak melihat mobil ini." Ucap Amira sedikit lega.

Amira berusaha masuk kedalam mobil yang ditumpanginya bersama Pak Oni tadi. Ia berusaha membangunkan Pak Oni hingga pak Oni kebangun dan terkejut setelah mendengar Aden Araf dan langsung menengok ke belakang.

"Aden, mbak ketemu Aden dimana mbak?" Tanya Pak Oni dengan terharu.

"Entar saja ceritanya Pak Oni, Sekarang lebih baik kita pulang sebelum mereka menemukan kita." Ucap Amira dengan gelisah dan jiwa yang ketakutan.

"Oh baik mbak!" Pak Oni langsung menghidupkan mobilnya dan melaju pulang.

Disisi lain Pandi dan Adi masih kewalahan mencari Araf gak ketemu ketemu.

"Gwe rasa Araf kaburnya bukan ke arah sini deh." menurut pendapat Adi.

"Kalau gwe sih pilingnya Araf itu meloloskan diri naik taksi atau naik Ojeg terus pulang." menurut pendapat Pandi.

Pandi dan Adi kembali lagi ke tempat PSK untuk mengambil motor mencari Araf.

"loh yakin kalau Araf naik taksi. kalau memang benar berarti dia udah sampai rumah dong."

"Kita cari taksi atau angkot yang sedang melaju ke arah barat, siapa tau Araf ada didalamnya."Ucap Pandi sambil membawa motornya dengan melaju cepat.

Amira telah berhasil membawa Araf pulang ke rumahnya. Sedangkan Nyonya Sintia lagi sibuk mencari benda yang berharga bisa disebut mutiara yang bersinar.

"Penasaran bentuk mutiara itu, sampai saat ini Aku tidak bisa menemukan benda Ajaib itu, Aku sudah bosen hidup bersama Ruben lagi." Sintia berusaha cari tempat yang tersembunyi yang diyakini tempat tersimpannya mutiara.

Sintia pengen cepat cepat menemukan benda Ajaib itu supaya ia bisa lepas dari ikatan pernikahannya.

"Tanganku geram melihat muka suamiku rasanya pengen membunuhnya. Tapi Aku harus sabar, sebelum aku menemukan mutiara sakti itu, Aku gak bisa membunuh Ruben." Ucap Sintia dengan kejam.

Sintia memiliki niat jahat kepada suaminya. Sintia menikahi Ruben itu karena keinginan Ayahnya yaitu Bah Rajam. Supaya bisa mendapatkan Mutiara yang bentuknya masih misteri.

Waktu menunjukkan sore hari menuju Magrib.

anak anak semua belum pada pulang. Suara mobil terdengar ditelinga Sintia menandakan Ruben sudah pulang.

"Aduh, suamiku sudah pulang lagi! Besok aku cari lagi benda itu!" Ucap Sintia sambil keluar dari Ruangan kantornya.

Ketika Sintia keluar! Ternyata mobil yang pulang itu Pak Oni.

"Loh kok Pak Oni sih, bukan Ruben yang pulang." Sintia merasa aneh.

"Pak Oni, Dimana saja kok baru pulang?" Tanya Sintia dengan tegas.

Pak Oni tidak menjawabnya ia langsung membuka pintu mobil belakang. Dibawanya Araf yang lagi pingsan di pangkuan Pak Oni sambil diikuti Amira.

"Astaga, itu Araf kok bisa sama Pak Oni dan Amira." ucap Sintia pelan sambil menggeleng kepalanya ke anehan.

"Bu bos, maaf ini Araf pingsan! Saya bawa ke kamarnya yah Bu bos." Ucap Pak Oni sambil ngos ngosan menggendong Araf.

"Iyaa iyaa sana!" Wajah Sintia mulai memerah dipenuhi amarah kekecewaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!